
Malam semakin larut, Athaya sudah terlihat sangat mengantuk di atas sofa private room yang khusus didesain menjadi ruang makan plus ruang keluarga itu. Kedua keluarga besar ditambah para sahabat yang berkumpul tampak menunjukan wajah bahagia atas kebahagiaan Tama dan Rahma. Kedua mempelai itu tidak henti-hentinya digoda. Rahma hanya diam tersipu, dan sesekali menutup wajahnya dengan tangan saat digoda oleh saudara dan sahabatnya. Berbeda dengan Tama yang justru sering menimpali godaan dari sahabat-sahabatnya itu.
Athaya sudah diajak sepupu-sepupunya untuk tidur bersama mereka. Semua orang pun bersiap kembali ke kamarnya masing-masing, mengistirahatkan raga yang lelah namun bahagia karena acara hari ini.
"Lu, baik-baik saja kan?" Tama menghampiri sahabatnya Ahsan, dia tahu sejak mengetahui tentang ustadzah Liani wajah sahabatnya itu tidak seceria sebelumnya.
Walaupun Ahsan juga menimpali menggoda pengantin baru itu namun tak urung, Tama bahkan yang lainnya sering menangkap Ahsan yang melamun dan sering tidak fokus saat mereka mengobrol.
"It"s oke, gue baik-baik saja. Sudah sana nikmati malam pengantin lu." usir Ahsan dengan mengibaskan tangannya mengusir Tama agar pergi, dia menunjuk dengan tatapan matanya ke arah pintu keluar.
"Oke, gue do'akan yang terbaik buat lu" pungkas Tama sambil beradu tos dengan Ahsan. Dia pun berlalu meninggalkan lelaki itu yang memilih untuk berada di balkon. Tama pun menuju pintu keluar ruangan itu mengikuti sahabat-sahabatnya yang lain yang sudah lebih dulu menuju kamar mereka setelah mereka semua memastikan jika Ahsan baik-baik saja.
Tama pun berjalan cepat menuju lift, dia sudah tidak sabar untuk sampai ke lantai teratas bangunan itu dimana kamarnya berada. Tama berharap Rahma sudah berada di kamar pengantin mereka, karena istrinya tadi minta izin pamit lebih dulu untuk mengantar Athaya ke kamar lain bersama sepupu-sepupunya.
Ting...
Bunyi pintu lift pun terdengar, pertanda jika dirinya sudah berada di lantai sesuai tujuannya. Tama bergegas keluar, pintu lift itu langsung menghadap pintu kamar miliknya.
"Assalamu'alaikum" ucapan salam menjadi pembuka saat Tama memasuki kamarnya,
Tama mengedarkan pandangannya, dia tidak mendapati sang istri berada di sana. Tama pun segera memasuki kamar tidurnya, masih belum nampak sosok wanita yang sejak tadi sudah dirindukannya padahal berpisah hanya beberapa menit, sungguh dia tidak bisa berlama-lama jauh dari istrinya sekarang. Untunglah dari arah kamar mandi terdengar gemericik air pertanda seseorang berada di dalamnya, Tama pun tersenyum senang. Saat terdengar sahutan Rahma setelah dirinya memanggil istrinya itu tentu saja dengan panggilan yang romantis.
Tama memilih duduk di sofa yang ada di kamar tidurnya, dia meraih ponsel dan mengutak-atiknya. Deretan pesan membanjiri aplikasi pesannya, banyak teman dan kolega yang memberikan ucapan selamat atas pernikahannya. Tama memilih mengabaikan pesan-pesan itu, dia belum ingin membalasnya saking banyaknya pesan yang masuk. Namun saat ingin menutup aplikasi pesan itu setelah sempat scroll-scroll tiba-tiba satu pesan kembali masuk.
Nomor yang tidak dikenalnya namun sekilas Tama dapat membaca jika si pengirim pesan memanggilnya dengan sebutan Mas.
Melihat ke arah pintu kamar mandi belum ada tanda-tanda sang istri akan keluar. Tama memutuskan membuka pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya itu.
'Mas, selamat ya atas pernikahannya semoga jadi keluarga samawa. Maaf aku tidak hadir, suamiku tidak mengizinkan. Andai aku dulu memilih bersama Mas Tama, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Sekali lagi selamat ya Mas.'
Tama mengerutkan keningnya, dia berpikir mungkin Tasya yang mengiriminya pesan seperti itu, mengingat selama ini hanya wanita itu yang pernah dekat dengannya. Namun Sekilas Tama kembali membaca pesan itu, tersirat ada penyesalan dalam pesan yang dikirimnya, namun Tama tidak mau berpikir terlalu jauh. Dia memilih untuk fokus pada ucapan selamat yang diberikan padanya. Terima kasih pun menjadi kata yang paling efektif untuk membalas pesan itu. Dia pun berlanjut membalas ucapan selamat dari yang lainnya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tama mendongak, beralih dari ponselnya. Seketika pandangannya terkunci pada sosok yang keluar dari kamar mandi. Wanita yang selama ini hanya Tama lihat berbalutkan pakaian longgar dan kerudung lebar, saat ini dia melihatnya tengah memakai daster rumahan tanpa lengan dan hanya selutut. Tali yang diikat pas di pinggang Rahma membuat bentuk tubuhnya terlihat jelas.
"Mas, sudah datang?" tanpa ragu Rahma berjalan ke arah Tama dengan senyum menghiasi wajahnya, dia tergelak kecil saat melihat laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya itu tidak menjawab dan hanya fokus memandangnya.
"Mas?" Tama terkesiap,
"Sayang..." dia langsung meraih tangan sang istri dan menarik tubuh ramping itu hingga terjatuh tepat di pangkuannya.
Tama masih betah menatap wajah cantik itu, dia tidak mengira di balik pakaian longgar dan jilbab lebar yang selama ini dipakai Rahma tersimpan keindahan yang luar biasa.
Dengan tatapan yang masih terkunci pada wajah cantik itu, perlahan satu tangan Tama terulur, membelai pipi Rahma, beralih pada dagu dan bibir yang diusap dengan ibu jarinya sementara satu tangan yang lainnya menggamit erat pinggang sang istri.
"Mas...." Rahma kembali menyapa, sejak tadi tak ada satupun kata yang keluar dari mulut suaminya itu. Tama tidak menyadari sudah semerah apa wajah istrinya saat ini karena terus ditatapnya.
"Sayang, aku menginginkanmu malam ini" kalimat itu yang langsung terucap dari lisan Tama, dengan sigap dia memboyong tubuh ramping itu menuju tempat tidur.
"Kamu tunggu di sini, aku membersihkan diri dulu. Lima menit, ya" Tama buru-buru beranjak dari atas tempat tidur setelah membaringkan Rahma, dia akan segera ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum menikmati malam ini.
"Ya sayang" jawab Tama berbalik,
"Sekalian wudhu, kita shalat sunnah dulu" ujar Rahma dan dibalas anggukan kepala dengan semangat oleh Tama yang segera menghilang di balik kamar mandi.
Dia tas dua sajadah yang sudah digelar oleh Rahma, dua insan yang baru beberapa jam menyandang status halal itu pun tengah bermunajat.
Ungkapan do'a dan syukur terucap tulus di hati keduanya. Teringat perjalanan hidup yang sudah mereka lalui selama ini, sungguh semuanya tidak ada yang kebetulan, Allah sudah mengatur skenario kehidupan mereka begitu apik hingga akhirnya di pertemukan dan dibersatukan saat ini.
Sungguh semuanya tidak ada yang perlu dicemaskan, karena sejatinya hidup adalah tentang sabar tanpa tepi dan ikhlas tanpa tapi.
"Sayang" Tama berbalik, dia menerima uluran tangan Rahma yang mencium punggung tangannya penuh takzim, rasa hangat kembali menyeruak dalam dadanya Tama pun melayangkan kecupan di kening Rahma, lama.
"Bolehkah?" tanya Tama menjauhkan wajahnya, dia menatap dengan tatapan penuh cinta dan gairah pada istrinya yang hanya menjawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Tanpa menunda lagi, Tama perlahan membuka mukena yang membalut tubuh sang istri dan langsung menggendongnya menuju tempat tidur luas mereka.
Pakaian koko dan kain sarung yang dipakai Tama sudah teronggok di lantai samping tempat tidur, kini dia tengah asik menikmati apa yang sudah halal untuknya.
Kecupan lembut terus menghujani wajah Rahma hingga berakhir dalam ciuman bibir yang dalam dan penuh kelembutan. Bagi Rahma ini bukanlah yang pertama, dia sadar sebelumnya sudah ada lelaki halal yang pernah menyentuhnya. Namun dia berusaha memberikan yang terbaik, perlahan Rahma membalas ciuman suaminya itu, tentu saja hal itu membuat Tama semakin bersemangat.
Tama menghentikan ciumannya, dia beralih pada leher jenjang yang sejak tadi sudah membuatnya menelan saliva berkali-kali. Wangi vanila yang menyeruak dari tubuh sang istri membuatnya semakin bersemangat.
Sejenak Rahma menahan nafas dan kemudian menghembuskannya perlahan. Dia menahan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya karena sentuhan suaminya. Sungguh, Tama sudah membuatnya serasa melayang. Suaminya itu langsung menyerang titik-titik sensitifnya penuh kelembutan. Tidak hanya bibirnya yang terus menyusuri leher jenjang hingga bahu putih itu. Tapi kini tangannya bahkan sudah bergerilia ke tempat yang membuat candu untuknya.
"Mas..." Rahma mendesah, selain dia merasakan sensasi sentuhan suaminya yang memabukkan dari, dia pun tak bisa menahan lagi sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Mas" Rahma menahan tangan suaminya yang terus menjelajah, dia menghentikan sejenak aksi suaminya itu.
"Kenapa sayang?" tanya Tama yang akhirnya menghentikan aksinya, dia mendongak menatap wajah cantik dengan tatapan mata yang sudah sayu karena ulahnya itu.
"Ini bukan yang pertama untukku..." ucap Rahma akhirnya, dia mengungkapkan sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya itu dengan posisi yang masih berada dalam kungkungan suaminya.
"Aku tahu" balas Tama yang kembali mengecup bibir ranum yang semakin memerah karena ulahnya.
"Semoga kamu tidak kecewa" ucap Rahma lagi dengan suara yang lirih, ada kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Sayang.." Tama mengubah sedikit posisinya, dia mengusap wajah dan kepala Rahma penuh kelembutan.
"Aku tahu masih ada trauma di dalam hatimu. Mulai sekarang izinkan aku menghapusnya dan menggantinya dengan kenangan indah yang akan selalu kamu kenang. Aku sudah cukup lama menunggu hari ini tiba, hingga kini saatnya tiba tugasku adalah bersyukur tiada henti. Aku sungguh mencintaimu dan Athaya, kalian adalah sumber bahagiaku. Terima kasih sudah menerimaku dalam kehidupan kalian." Tama mengecup mata Rahma yang tanpa aba-aba mengeluarkan air matanya.
"Aku mencintaimu dan Athaya, aku menyayangi kalian berdua. Aku ingin menua bersamamu, bersama membimbing anak-anak kita dan melihat mereka tumbuh dan berkembang. Mari kita jaga rumah tangga kita, rumah tangga yang akan mengantarkan kita ke surga-Nya. Karena pada akhirnya, keutuhan rumah tangga bukan lagi perkara cinta, melainkan kelapangan hati untuk saling menerima kekurangan dan keluasan hati untuk saling memaafkan kekhilafan pasangan." ucap Tama yang dipungkas dengan ciuman yang dalam.
Bibir Rahma terasa kelu, mendengar apa yang dikatakan suaminya dengan tulus membuat hatinya menghangat. Rasa haru semakin menyeruak dalam dada. Dalam hati terus berucap syukur telah dipertemukan dengan laki-laki yang begitu tulus mencintai dirinya dan putranya.
Rahma membiarkan Tama melakukan apa yang dia inginkan. Malam pun semakin larut, semua orang sudah berada di alam mimpinya masing-masing, namun tidak bagi sepasang pengantin baru ini. Mereka baru saja memulai petualangan malam pertama mereka. Saling menyalurkan cinta dan hasrat yang membara dalam ibadah panjang yang penuh dengan kenikmatan.
__ADS_1