
"Mama yakin akan menjodohkan mereka?" Papa Tama kembali mengulang pertanyaannya pada sang istri, saat ini mereka tengah duduk di teras belakang rumah menghadap sebuah taman yang sangat indah dengan aneka bunga yang tertata rapi, hasil karya mama Tama dalam mengisi hari-harinya. Memutuskan menjadi ibu rumah tangga setelah menikah dengan pria asal Garut yang meminangnya adalah hal yang tepat, dia selalu mengisi harinya dengan hal-hal yang menyenangkan, salah satunya berkebun.
"Pa, ini ketiga kalinya lho papa bertanya begitu" mama menghentikan aktivitasnya mengupas buah yang akan menemani santai mereka di pagi menjelang siang hari minggu ini.
"Papa hanya ingin yang terbaik untuk Tama" ujar papa,
"Papa pikir mama tidak menginginkan itu?" intonasi mama tiba-tiba meninggi mendengar perkataan suaminya,
"Pasti, papa percaya mama pun pasti menginginkan hal yang sama untuk putra kita" jawab papa santai, dia menusuk buah yang sudah dipotong sang istri dengan garpu dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Justru papa ragu sama mama" lanjut papa Tama,
"Ragu kenapa? ada apa dengan mama?" tanya mama heran, beliau pun melanjutkan aktivitas mengupas buahnya.
"Mama yakin dengan pilihan mama? bukankah anak itu sangat manja" jelas papa seolah mengingatkan sang istri jika dirinya pernah berharap memiliki menantu seperti dirinya, ibu rumah tangga yang selalu siap mendampingi sang suami kapan pun dan dimana pun.
Selama mereka berumah tangga, bisa terhitung berapa kali papa makan di luar tanpa mama, itu pun karena urusan bisnis. Papa lebih sering makan di rumah atau dibawakan bekal makan ke kantor. Bagi papa masakan mama adalah makanan terbaik yang wajib dia nikmati setiap harinya. Dia sangat beruntung beristrikan wanita yang begitu menjunjung tinggi kedudukannya sebagai seorang istri dan ibu. Mama begitu begitu menikmati perannya, padahal sebelum bertemu papa mama adalah seorang wanita karir dengan pendidikan yang cukup tinggi. Tapi setelah menikah, dia lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang siap membersamai suami kapanpun dan dimanapun. Memastikan semua kebutuhan sang suami terpenuhi dengan baik.
__ADS_1
Sementara Tasya gadis itu terlihat sangat manja, beberapa kali dia datang ke rumah mereka jangankan bisa memasak seperti istrinya dapur saja sepertinya menjadi tempat yang sangat jarang dikunjungi, itulah penilaian papa terhadap gadis itu.
Mama menarik napasnya panjang dan menghembuskannya sedikit kasar setelah mendengar alasan sang suami kembali mempertanyakan perihal rencananya untuk menjodohkan putra satu-satunya dengan anak dari temannya itu.
"Mama bingung pa, beberapa kali mengenalkan anak gadis teman-teman mama pada Tama, tidak ada satupun yang membuat Tama tertarik. Sampai kapan anak itu akan terus melajang, teman-temannya bahkan sudah banyak yang mempunyai anak. Dia malah keasikan melajang dan lebih memilih sibuk bekerja" mama kembali berkeluh kesah tentang putranya yang masih asik dengan status lajangnya, wajahnya berubah sendu jika sudah memikirkan tentang putra satu-satunya itu.
"Mah, pernikahan itu bukan hal yang sepele. Bukan untuk diperlombakan, bukan seberapa cepat namun seberapa tepat. Semua ada waktunya, Allah sudah menciptakan segala sesuatu dengan pasangannya. Begitupun jodoh Tama, Allah sudah menyiapkannya. Kita hanya perlu maksimalkan ikhtiyar tapi dengan cara yang tepat. Papa yakin Tama juga tidak tinggal diam, kita bantu dengan do'a yang kuat. Pada saatnya nanti Allah pasti memberikan Tama pendamping yang terbaik. Papa hanya tidak mau Tama salah pilih pasangan hidup jika terburu-buru, karena jalan pernikahan itu panjang. Bahkan pernikahan adalah ibadah terpanjang, maka harus berakhir di surga bukan di pengadilan agama atau tidak bahagia" papa berbicara panjang lebar namun dengan nada lembut tidak terkesan menggurui apalagi memarahi, sekedar mengingatkan agar sang istri tidak terlalu terburu-buru bahkan terkesan memaksakan.
Mama hanya diam mendengarkan, kekhawatiran menyergap hatinya. Beliau pun takut nanti Tama justru tidak bahagia jika dirinya memaksakan kehendak. Mama yakin Tama akan menuruti apa yang diinginkannya, selama ini putranya itu selalu menjadikan mereka sebagai prioritas.
"Iya Pa, mama tidak akan memaksa. Mama hanya khawatir, selama ini Tama terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mama takut dia terbiasa dengan kesendiriannya" mama akhirnya berbicara setelah keluar dari lamunannya, papa hanya tersenyum menanggapi. Dia tahu istrinya sangat berpikiran terbuka untuk masalah seperti ini.
"Ya" jawab mama tanpa menoleh, beliau masih terus mengupas buah yang tak kunjung kelas di tangannya,
"Mama tahu tidak jika Tama pernah jatuh cinta?" pertanyaan papa sontak kembali menghentikan aktivitas mama, beliau menyimpan buah dan pisau itu di atas meja kecil yang ada di hadapan mereka dan dengan segera membersihkan tangannya,
Mama menggeser kursinya, duduk lebih merapat pada papa.
__ADS_1
"Pa, katakan, katakan jika papa mengetahui sesuatu tentang putra kita" mama dengan serius meminta penjelasan papa membuat pria dengan usia kepala lima itu terkekeh, sejak dulu istrinya tidak berubah selalu antusias dengan hal-hal yang diceritakannya. Itulah salah satu yang menjadi kunci keharmonisan rumah tangga, mama selalu menjadi pendengar yang baik saat papa berbicara, tidak jarang mama bahkan menjadi sumber inspirasi dan solusi untuk beberapa masalah yang papa hadapi di perusahaan.
Begitupun sebaliknya, papa selalu menjadi pendengar yang baik setiap kali mama bercerita tentang aktivitas yang dilakukannya sepanjang hari. Sebagai suami, papa tahu pilihan mama menjadi ibu rumah tangga setelah menikah bukanlah hal yang mudah. Mama mengubur cita-cita dan keinginannya menjadi wanita karir yang sukses dengan bisnisnya, tapi demi keluarga mama rela melakukannya dan papa sangat mengapresiasi apa yang mama telah putuskan.
Komunikasi adalah salah satu kunci dalam langgengnya suatu hubungan, dan dalam komunikasi bukan hanya keterampilan berbicara yang diperlukan tetapi juga keterampilan dalam mendengarkan.
Papa masih ingat betul apa yang pernah dikatakan wanita hebat di hadapannya ini sehari setelah mereka menikah, saat itu mama mengatakan keputusannya untuk berhenti mengelola perusahaan dan menyerahkan sepenuhnya pada papa.
"Aku ingin sakinah bersamamu, tak apa jika harus mengorbankan masa mudaku untuk berbakti kepadamu. Jika orang lain menganggap masa muda sebagai masa meraih kesuksesan dunia dan sebagai masa untuk membebaskan diri menikmati hidup, maka kuputuskan kesuksesan masa mudaku bukan hanya sekedar di dunia namun di akhirat pula. Dengan menikah seorang wanita yang berbakti pada suaminya, menjalankan shalat dan menunaikan puasa, dan menjaga kehormatannya, maka Allah perkenankan dia memilih masuk surga dari pintu mana saja. Dan aku ingin menikmati hidup di masa muda sebagai istri dan ibu dari anak-anak kita, rasanya dengan itu masa mudaku akan sangat bermanfaat. Dengan itu pula kelak aku bisa menjawab ketika Allah menanyakan dengan apa kuhabiskan masa mudaku"
Sejak saat itu, papa berjanji dalam hatinya jika dirinya tidak akan pernah menyakiti dan akan menjadi suami yang baik untuk wanita yang selalu tampak cantik di hadapannya itu.
Cup....papa malah mengecup sekilas bibir yang sudah berhenti berbicara dan siap mendengarkan itu, membuat mama seketika membulatkan matanya.
"Papa...." tidak berhenti sampai di sana, papa kembali membungkam mama yang sudah berteriak dengan ciuman yang lebih lama,
"eummmm...." mama berusaha berontak, dia menyadari betul jika suaminya seperti ini pasti menginginkan sesuatu. Dan mama pun sadar jika saat ini mereka sedang berada di teras belakang rumah.
__ADS_1
"Hah.... papa" sentak mama setelah papa akhirnya melepaskan ciumannya, dua sejoli yang sudah menjalani rumah tangga hampir tiga puluh lima tahun itu pun tetap selalu romantis dan menikmati cinta mereka yang tak surut oleh waktu.
"Hahaha....." akhirnya tawa papa pecah melihat mama dengan wajah bersemu merah setelah menikmati ciuman papa yang bercampur dengan rasa malunya. Istrinya memang tidak pernah berubah dan wajah itu yang selalu dirindukannya.