Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kamu adalah Sumber Bahagiaku


__ADS_3

Sebuah rumah berlantai dua tengah dibangun di kawasan yayasan Baitur Rahmah, masih di kompleks yang sama namun pintu akses yang berbeda. Pembangunan rumah itu sudah tahap finishing, dalam dua bulan terakhir para pekerja bekerja keras agar rumah itu selesai tepat pada waktunya.


Rumah itu akan dijadikan hadiah pernikahan oleh kedua orang tua Tama untuk putra semata wayang mereka. Semua sudah diperhitungkan, saat Tama menikah rumah diperkirakan sudah selesai. Namun karena pernikahan dipercepat alhasil rumah pun belum bisa menjadi hadiah kejutan saat ini. Masih butuh waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikannya, tentu saja dengan kerja keras para tukang dan arsitek yang bertanggung jawab dalam hal ini.


Pak Hakim berdiri dari balkon gedung kantor yayasan, memantau langsung para pekerja yang menyelesaikan rumah untuk hadiah sang putra.


"Insya Alloh minggu ini selesai, Pak. Mudah-mudahan Senin pekan depan semua perlengkapan furniturenya juga sudah bisa dilengkapi. Pak Akhtar bilang semuanya sudah dibuat sesuai pesanan dan siap dikirim minggu ini" Fajar, orang kepercayaan Pak Hakim menemaninya memantau pembangunan rumah itu.


"Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan lancar." jawab Pak Hakim tanpa mengalihkan pandangan.


"Bagaimana denganmu?" tanya Pak Hakim mengalihkan pembahasan,


"Maksud Bapak?" tanya Fajar hanya memastikan,


"Hubunganmu dengan Ustadzah itu" jawab Pak Hakim santai, dia seolah sudah tahu apa yang terjadi dengan karyawan yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.


"Alhamdulillah sudah ada perkembangan Pak, dia mulai mau membuka hati tapi untuk ke jenjang yang lebih serius saya masih harus meyakinkan dirinya atas kesungguhan saya" jawab Fajar jujur, semenjak Pak Hakim membahas masalah pribadinya Fajar pun jadi semakin terbuka, dia merasa menemukan sosok ayah di diri Pak Hakim. Walaupun statusnya hanya sebagai karyawan namun Pak Hakim tak sungkan memperlakukan dia sama seperti Tama putranya.


"Syukurlah, jangan terlalu lama menunda niat baik. Kencangkan lagi ikhtiyarnya, Allah maha membolak balikan hati. Jika sudah siap, katakan pada Bapak. Bapak dan Ibu akan mempersiapkan pernikahan kalian, sama seperti Tama." ujar Pak Hakim, beliau pun berlalu masuk ke dalam ruangannya.


Sementara Fajar berdiri mematung, dia masih meresapi ucapan Pak Hakim. Rasa haru seketika menyelimuti hatinya, bagaimana bisa dirinya disamakan dengan Tama di mata Pak Hakim, anak kandungnya sendiri.


Di waktu yang bersamaan namun tempat yang berbeda, tepatnya di hotel mewah tempat berlangsungnya pernikahan Tama dan Rahma, mereka berdua sudah siap untuk check out pagi ini.


"Sudah siap, sayang?" Tama yang baru memasuki kamarnya langsung menghampiri Rahma yang tampak sudah merapikan bawaannya. Setelah sarapan tadi, Tama pamit meminta izin untuk mengurus sesuatu katanya sementara Rahma memilih memeriksa kembali barang-barang miliknya.


"Sudah Mas, semuanya sudah aku bereskan. Mas Tama hanya satu koper kan?" Rahma menunjuk koper kecil yang terakhir dibereskannya. Di dalamnya berisi pakaian suaminya yang hanya beberapa stel.


"Iya, yang lainnya biar saja tetap di sini. Mungkin satu waktu nanti kita mendadak datang ke sininya" jawab Tama sambil merengkuh bahu sang istri dan mengecup pipinya sekilas.


"Mas, boleh aku bertanya?" Rahma seakan ragu, untuk menanyakan sesuatu yang sejak awal kedatangannya ke kamar itu mengganjal hatinya.


"Tentu sayang, katakanlah" raut wajah Tama pun berubah serius, dia mengubah posisinya hingga mereka pun berhadapan duduk di sisi tempat tidur.


"Kenapa di lemari kamar hotel ini banyak sekali pakaian Mas. Dan itu...." Rahma menunjuk satu lemari pakaian yang berisi aneka baju tidur dengan berbagai model dan warna yang pas ditubuhnya.


Tama tersenyum ramah menanggapi pertanyaan istrinya, dia tahu jika istrinya memang tidak tahu banyak hal tentang dirinya. Berbeda dengan Tama yang selalu menjadi stalker setiap hal tentang Rahma.

__ADS_1


"Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang lebih baik kita segera pergi. Athaya sudah menunggu kita di rumah mama. Setelah itu kita akan pamit ke rumah A Budi dan langsung ke apartement" jelas Tama, Rahma pun menurut. Dia menyimpan kepenasarannya, biarlah nanti sang suami yang akan menjelaskan dengan sendirinya.


Setelah obrolan keduanya semalam, Tama memutuskan untuk membawa anak dan istrinya ke apartemen miliknya yang sesekali suka dia tempati jika berkunjung ke Jakarta. Walaupun seringnya Tama tinggal di rumah kedua orang tuanya atas permintaan sang ibu, namun Tama tetap membiarkan apartemennya kosong dan hanya sesekali disinggahinya.


Sebelumnya Tama sudah meminta petugas kebersihan gedung untuk membersihkan apartemennya dan memastikan siap dihuni saat dirinya dan keluarga kecilnya tiba.


"Sebenarnya mama ingin sekali kalian tinggal di sini, tapi semua keputusan ada ditangan kalian" dengan wajah sendu Bu Hakim akhirnya melepas kepergian putra dan menantu serta cucunya, kehadiran Athaya walau hanya satu malam sudah memberikan warna berbeda di rumah itu. Bu Hakim sangat senang dengan kehadiran Athaya.


"Kami akan sering berkunjung Ma, atau kalau mama berkeluangan waktu mama juga bisa mengunjungi kami" Tama berusaha memberi pengertian kepada sang mama, dan tentu saja keputusannya itu diterima dengan baik oleh kedua orang tuanya.


"Tentu saja nak, mama pasti akan sering mengunjungi kalian. Mama pasti akan merindukan kalian, apalagi sama si ganteng ini, mama akan sering culik kamu ya" Bu Hakim menjawil gemas hidung mancung Athaya, yang hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya yang terawat.


Keluarga kecil yang sedang diliputi kebahagiaan itu pun pamit, mobil yang dikemudikan Tama perlahan keluar dari komplek perumahan elit itu, membelah jalanan ibu kota menuju kediaman kakak iparnya.


Tidak butuh waktu lama, karena jalanan yang cukup lenggang di jam kerja seperti ini membuat perjalanan mereka lancar dan sampai dengan cepat ke rumah Budi.


Tidak menunggu lagi, setelah membawa beberapa barang dan pakaian Athaya dan dirinya Rahma pun pamit pada sang kakak ipar. Budi sedang di kantor, diapun sempat melakukan komunikasi via video call.


Empat puluh menit berlalu, Tama sudah memarkirkan mobilnya di basement gedung. Mereka sampai setelah sebelumnya mengantarkan Athaya ke sekolah, hari ini kebetulan dia masuk siang dan kembali akan dijemput pukul lima sore nanti.


"Ayo" Tama lebih dulu keluar, dia membukakan pintu mobil Rahma dan mengulurkan tangannya. Mereka pun berjalan bergandengan tangan.


"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah pengantin baru sudah kembali. Selamat datang!" seru petugas keamanan itu saat menerima kunci mobil Tama.


Mereka pun terlibat obrolan sekilas, setelah saling menanyakan kabar dan memberitahukan apa saja yang harus diantar oleh petugas itu Tama dan Rahma pun pamit.


"Assalamu'alaikum" ucap Tama saat memasuki apartemennya, satu tangannya tetap menggenggam erat tangan Rahma seolah dia takut istrinya itu akan kabur.


Lagi-lagi Rahma dibuat melongo saat memasuki apartemen itu. Apartemen itu sangat luas, bahkan perabotannya sangatlah lengkap untuk ukuran penghuni yang hanya seorang diri. Dalam hati Rahma berbisik, jika Tama pasti sudah mempersiapkan semua ini sebelumnya.


"Di sini hanya ada dua kamar, satu kamar kita" Tama menuntun Rahma untuk menuju pintu kamar utama dan membukanya,


"Dan satu lagi kamar untuk Athaya" belum juga Rahma selesai memindai isi kamar utama yang akan ditempatinya, tangannya sudah ditarik ke arah kamar yang akan ditempati Athaya, tepat di samping kamarnya.


Kamar dengan suasana khas anak laki-laki benar-benar sudah tersedia dan siap untuk digunakan. Lemari, meja belajar, sudut mainan dan pernak-pernik lainnya tertata rapi di kamar itu.


"Mas..." Rahma tak mampu berkata-kata, lagi-lagi terharu melihat kamar yang sudah disediakan Tama untuk Athaya.

__ADS_1


"Sssttt.....apapun untuk kalian, sayang" Tama merengkuh tubuh Rahma. Mata yang sudah berkaca-kaca itu akhirnya kembali meloloskan air mata.


"Aku hanya ingin membuatmu dan Athaya bahagia, jangan menangis sayang" Rahma semakin tak mampu menahan laju air mata yang terus membasahi pipi. Dalam hati tak henti-hentinya merapalkan syukur dipertemukan dengan Tama adalah salah satu anugerah terindah dalam hidupnya.


"Terima kasih, Mas" dengan suara serak, hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Rahma.


"Sudah sayang, ayo aku tunjukan sesuatu" setelah cukup lama berada di kamar Athaya, Tama kembali membawa Rahma menuju kamar mereka yang bersebalahan.


Rahma duduk di sisi tempat tidur king size di kamar utama. Terlihat Tama membuka lemari lemari yang ternyata tidak hanya berisi pakaian. Di dalamnya Rahma bisa melihat Tama sedang membuka sebuah berangkas.


"Sayang, ini semua yang aku miliki" Tama membawa setumpuk dokumen di tangannya dan meletakkannya di atas tempat tidur tepat di samping Rahma.


"Ini apa Mas?" tanya Rahma heran,


"Ini adalah aset yang aku miliki. Aku memulai usahaku sendiri, secara detail papa dan mama tidak mengetahuinya." jelas Tama, dia pun membuka satu persatu dokumen itu.


"Ini adalah bukti kepemilikan resto yang aku bangun bersama teman-temanku. Kami masing-masing memiliki hak di sana. Alhamdulillah sekarang sudah berdiri di empat kota besar di Indonesia dan tiga kota di Malaysia" jelas Tama, memulai menjelaskan isi setiap dokumen.


"Ini adalah bukti kepemilikan apartemen, ada dua apartemen yang aku miliki. Ini dan satu lagi di Bandung, dan aku menyewakannya"


"Ini sertifikat tanah di Garut, ini kepemilikan saham di perusahaan furniture Akhtar, showroom Arga, perusahaan tekstil Ghifar, dan cafe Ahsan. Ini beberapa tabunganku dan...." Tama menghentikan gerakannya yang kembali akan mengambil dokumen di hadapannya saat tangan Rahma menahan tangannya.


"Ada apa sayang?" Tama beralih menatap Rahma yang sedang menatapnya dengan tatapan lekat.


"Cukup Mas, aku...." Rahma menghentikan ucapannya karena Tama tiba-tiba menempelkan telunjuknya di bibir Rahma.


"Maaf kalau kamu tidak nyaman, tapi aku hanya ingin kamu mengetahui semua hal tentang aku, terutama ini..." Tama menunjuk dokumen-dokumen yang ada di hadapannya,


"Mulai sekarang aku ingin kamu yang menyimpannya, dan kamu yang mengatur semuanya. Jangan sungkan untuk menggunakannya, semua yang aku miliki adalah milikmu, semua yang aku usahakan adalah untukmu dan anak-anak kita." ucap Tama lagi-lagi membuat Rahma terharu.


"Kamu baik sekali Mas, aku terlalu beruntung menjadi istrimu" ucap Rahma lirih, lagi-lagi air mata yak mampu dibendungnya.


"Sssttt.....akulah yang sangat beruntung menjadi suamimu, terima kasih sudah memberiku kesempatan berharga ini" Tama memeluk erat Rahma, dikecupnya mata yang masih mengeluarkan air itu dalam dan lama.


"Kamu tahu sayang, banyak yang mengatakan jika seorang suami memperlakukan istrinya dengan penuh cinta, maka aura cantiknya akan bersinar, aura keibuannya terpancar, rezeki keluarga juga mengalir lancar. Kehangatan dalam keluarga juga akan senantiasa terjaga, karena istri adalah jantung dan nadi dalam rumah tangga. Untuk itu, aku selalu meminta pada Allah, untuk dapat selalu memperlakukanmu dengan penuh cinta, mengalirkan kebahagiaan untukmu di setiap detik dalam kehidupanmu dan rumah tangga kita" Tama berucap penuh ketulusan, Rahma pun semakin mengeratkan pelukannya. Tak ada kata yang mampu menggambarkan kebahagiaannya saat ini, dicintai dengan sepenuh hati, diterima dengan segala kekurangan dan diperlakukan amat sangat istimewa adalah anugerah cinta yang luar biasa untuknya. Tama benar-benar membuktikan ucapannya untuk menghapus setiap kenangan buruk Rahma tentang rumah tangga daan diganti dengan limpahan cinta dan kebahagiaan yang berlimpah ruah.


"Dan aku pun berdo'a agar Allah limpahkan kebaikan dan kecerdasan kepadaku agar aku bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku dan ibu yang hebat untuk anak-anakku. Semoga Allah selalu membimbingku dalam menemukan keseimbangan antara tugas rumah tangga dan kewajibanku lainnya dan ridhomu akan selalu menjadi yang utama untukku." Rahma tak kalah sendu berucap, kalimat panjang yang diucapkannya adalah kalimat yang sama yang selalu dia munajatkan di setiap penghujung sujudnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah..." gumam Rahma dalam hati, dekapan hangat sang suami mengalirkan energi positif yang membuat dirinya semakin bahagia.


"Kamu adalah sumber bahagiaku" pungkas Tama, dia melepas pelukannya dan beralih mengecup bibir ranum sang istri yang kemudian berubah menjadi ciuman hangat hingga di atas ranjang king size itu, untuk pertama kalinya terjadilah apa yang memang seharusnya terjadi.


__ADS_2