Belenggu Akad

Belenggu Akad
Bertemu Kembali (2)


__ADS_3

"Pak Tama...." gumam Rahma setelah membalikan badannya, berhadapan langsung dengan orang yang memanggil namanya beda dari yang lain.


"Apa kabar?" Tama berbicara dengan wajah datar, namun matanya menyiratkan kerinduan yang dalam. Dia menatap perut Rahma yang terlihat jelas membuncit karena usia kandungannya yang sudah bulan ke sembilan dan hampir mendekati hari taksiran persalinan.


"Alhamdulillah baik Pak" jawab Rahma berusaha menutupi kegugupannya, ingatannya melayang ke beberapa jam yang lalu. Baru saja hatinya merasakan getaran ketika untuk pertama kalinya membuka kembali akun media sosial miliknya dan mendapati foto seseorang di halaman beranda yang dulu pernah membuat hatinya bergetar karena ungkapan cinta yang tak pernah dia jawab.


Dan saat ini orang yang sama dengan foto yang ditatapnya beberapa waktu itu sedang berdiri nyata di hadapannya. Masih sama, gagah dan berwibawa dengan sejuta pesona seorang Pratama Ardhan. Hatinya pun tak bisa mengelak semakin berdebar kala menyadari pertemuan mereka kali ini adalah nyata.


"Kamu sedang mengandung?" tanya Tama melanjutkan perbincangannya dengan topik yang sebenarnya tidak ingin dia bahas, Tama bahkan memalingkan wajahnya saat Rahma mengangguk sambil mengusap perut dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang gelas minuman yang baru saja diambilnya.


"Bapak di sini juga?" Rahma berusaha menghilangkan kecanggungan yang tercipta di antara keduanya, Adrian yang sejak tadi berbincang dengan Rahma pun pamit karena ada teman yang memanggilnya.


"Iya, sudah berapa bulan?" seolah kehabisan topik bahasan, lagi-lagi tentang kehamilan Rahma yang Tama tanyakan,


"Sudah ...."


"Mas..." Rahma yang hendak menjawab pertanyaan Rahma pun urung saat melihat seseorang mendatangi mereka dan memanggil Tama dengan sebutan Mas.


Wanita cantik berhijab maroon, senada dengan baju koko yang dikenakan Tama itu datang dan langsung menggandeng tangan Tama dengan mesra, membuat Rahma sedikit tersentak melihat apa yang terjadi di hadapannya.


"Rupanya Pak Tama sudah menikah" batinnya membuat kesimpulan.


"Ini siapa Mas?" tanya Tasya yang semakin erat memegangi lengan Tama karena dia tahu Tama berusaha melepaskannya,

__ADS_1


"Dia ...." Tama tampak ragu menjawab, membuat Tasya mengerutkan keningnya karena Tama tak kunjung melanjutkan jawabannya,


"Saya mantan guru di sekolah milik yayasan Pak Tama di Garut Bu, perkenalkan nama saya Rahma" Rahma menyodorkan tangan ke hadapan Tasya karena Tama tak kunjung melanjutkan ucapannya dia berinisiatif untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Tama menatap tajam pada Rahma saat mendengar apa yang Rahma tuturkan dalam perkenalannya dengan Tasya.


"Oh begitu, saya Tasya. Calon istrinya Mas Tama" ucap Tasya dengan bangganya,


"Oh iya Bu, senang bertemu dengan ibu" balas Rahma ramah, dia pun sempat melirik ke arah Tama yang masih diam mengamati interaksi mereka,


"Mas...." panggilan Tasya kali ini membuat Tama sedikit terhenyak dari lamunannya, laki-laki itu tampak kehilangan kata-kata setelah kedatangan Tasya yang memperkenalkan diri sebagai calon istrinya,


"Aku panggil apa ya, sepertinya usia kita cukup beda. Bagaimana kalau aku panggil Mbak Rahma aja ya? Mbak Rahma jangan panggil aku ibu dong aku kan lebih muda dari Mbak " ujar Tasya berkata dengan ceria, fokusnya kembali ke Rahma setelah menegur Tama yang tiba-tiba diam. Pembawaan Tasya memang seperti itu, selalu ceria, bersama orang yang baru bertemu pun terlihat sudah seperti saling mengenal lama.


"Saya kira istri Pak Tama jadi saya panggil Ibu, maaf" jawab Rahma meminta maaf dan menganggukkan sedikit kepalanya,


"Sembilan bulan, insya Allah sebentar lagi lahiran" jawab Rahma,


"Waah senengnya sebentar lagi baby nya hadir, semoga lancar lahirannya ya Mbak. Do'ain aku juga bisa segera menyusul punya baby" celoteh Tasya dan direspon dengan anggukan kepala oleh Rahma, Rahma sudah mau berpamitan tapi karena Tasya yang terus mengajaknya mengobrol membuatnya sedikit susah untuk menghindar.


"Mas, nanti mau punya baby berapa kalau kita udah nikah?" pertanyaan Tasya beralih pada Tama yang sejak tadi hanya diam menyimak, Tama pun terlihat gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu dari Tasya.


"Mas..." Tasya sedikit mengguncang lengan Tama yang digandengnya,


"Hah...." Tama benar-benar tidak fokus, sejak Tasya datang dia hanya menjadi pengamat interaksi dua wanita itu.

__ADS_1


Sebenarnya Rahma lebih sering menjadi objek pengamatannya, banyak hal yang ingin ditanyakannya tapi kehadiran Tasya membuatnya bungkam, dia tidak tahu harus berkata apa. Mengungkapkan kerinduannya? tidak mungkin, Tama tahu jika hal itu akan membuat Rahma tidak nyaman. Lagian tidak mungkin juga dia melakukannya di hadapan Tasya, wanita yang jelas-jelas memperkenalkan diri sebagai calon istrinya.


Kumandang Adzan Maghrib menjadi penjeda obrolan mereka, Rahma pun pamit dan pergi meninggalkan mereka.


"Mbak Rahma menyenangkan ya Mas, baru kali ini lho aku bertemu dengan teman wanita kamu. Eh dia kan mantan guru ya di yayasan kamu, pasti dia guru yang menyenangkan, enak banget diajak ngobrol" Tasya terus berceloteh memuji Rahma sambil menatap kepergian Rahma yang semakin menjauh,


"Kamu benar, dia sangat menyenangkan, menenangkan, menyamankan dan selalu membuatku merindukannya" jawab Tama, tapi hanya dalam hati. Terkadang tidak semua kata dapat dilisankan, agar kesuciannya tetap terjaga.


"Mas...." lagi-lagi Tasya menggoyangkan lengan Tama, kali ini lebih keras karena sangat jelas Tama terlihat sedang melamun,


"Kamu lagi mikirin apa sih Mas? dari tadi diajak ngobrol enggak fokus banget" protes Tasya dengan wajah yang mulai kesal,


"Tidak ada" jawab Tama cepat, kali ini dia kembali dengan wajah datarnya tidak sendu seperti sebelumnya.


"Beneran?" tanya Tasya memastikan, dia menatap mata Tama dari jarak yang cukup dekat,


"Jangan begini Tasya, kita bukan mahram" Tama mundur, sejak tadi dia sudah tidak nyaman dengan perlakuan Tasya tapi entah mengapa dia tidak berbuat apa-apa tadi, sempat akan melepas tangan Tasya tapi gadis itu mencengkram lengannya dengan erat, pikiran Tama pun kembali hanya fokus pada Rahma yang sedang hamil.


"Belum Mas, sebentar lagi kita akan menikah, Mas" tukas Tasya dengan manja,


"Tapi tetap saja sekarang kita bukan mahram" ketus Tama, dia pun menunjukan kekesalannya. Berjalan meninggalkan gadis itu menuju Masjid untuk shalat berjama'ah.


"Mas, tunggu aku" Tasya setengah berlari menyusul Tama yang berjalan cepat,

__ADS_1


"Mas...!" serunya lebih keras, suasana di gedung serba guna itu sudah cukup lenggang karena semua orang sudah menuju masjid Baitur Rahmah yang baru diresmikan itu untuk shalat Maghrib berjama'ah yang juga merupakan salah satu agenda inti dari acara hari ini.


__ADS_2