
Memang ego wanita itu besar, tapi kalau kamu kira dia hanya memikirkan dirinya sendiri itu salah.
Ketika seorang perempuan telah menjatuhkan hati pada satu nama. Maka dia telah menimbang ribuan kali sebelum menerima rasa. Terkadang dia menjadi bodoh hanya karena cinta. Dengan tulusnya dia masih bisa mencintai walaupun pernah tersakiti.
Rahma berpikir untuk membangunkan Anggara di kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempatinya. Setelah percakapan yang cukup panjang semalam, Rahma memutuskan untuk memberi kesempatan pada Anggara untuk memperbaiki rumah tangga mereka.
Anggara berjanji akan memberikan pengertian pada Friska secara perlahan, semuanya tidak akan mudah untuk dilakukan, akan memerlukan waktu yang tidak sebentar tapi Anggara memohon dengan penuh ketulusan agar Rahma bisa memberikan kesempatan itu padanya.
Sebagai istri yang baru dinikahi beberapa bulan, Rahma pikir tidak ada salahnya jika dia mencoba memberi kesempatan pada Anggara untuk memperbaiki semuanya. Diapun mengajukan syarat agar Anggara terlebih dahulu bisa membuktikan janjinya sebelum benar-benar menjadikan dirinya istri seutuhnya, dan Anggara menyanggupinya.
Baru saja Rahma akan beranjak menuju kamar yang ditempati Anggara, ternyata Anggara sudah berada tepat di belakangnya.
"Selamat pagi" ucap Anggara penuh senyum, dia menatap Rahma lembut.
"Pagi, Mas. Aku kira belum bangun" jawab Rahma, dia kembali duduk di kursinya.
"Maaf, setelah shalat shubuh aku melanjutkan tidur, rasanya ngantuk sekali" Anggara pun memberi alasan keterlambatannya bangun.
"Oh, kalau begitu ayo kita sarapan" ajak Rahma, dia mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi goreng buatannya pagi ini.
Rahma melayani Anggara dengan senang hati dan Anggara pun tampak bahagia dengan keadaannya saat ini.
"Ternyata sebahagia ini memiliki seorang istri" batin Anggara saat menikmati sarapannya dengan tatapan yang tak lepas dari Rahma,
☘️☘️☘️
Seminggu sudah berlalu, hubungan Rahma dan Anggara semakin dekat. Walaupun mereka tidur terpisah karena Rahma yang belum siap jika harus tidur bersama, tapi dia melaksanakan kewajiban lainnya sebagai istri.
Walau bagaimana pun Rahma masih perlu pembuktian dari ucapan suaminya itu, dia tahu akan menjadi dosa jika dirinya menolak untuk disentuh suaminya, dia pun sadar jika dirinya adalah wanita yang halal untuk Anggara, tapi Rahma masih harus memastikan kesungguhan suaminya itu. Untunglah Anggara tidak mempermasalahkan hal itu, dia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Rahma dalam setiap momennya.
__ADS_1
Selama seminggu ini Anggara dibuat nyaman dan semakin mengagumi istrinya. Di hatinya terbersit penyesalan, mengapa tidak sejak awal dia tidak seperti ini. Rahma selalu memanjakan perutnya, setiap masakan Rahma seolah menjadi pelet untuk Anggar, membuat dia semakin jatuh cinta.
Setiap pagi, sarapan bersama menjadi rutinas mereka berdua. Anggara tidak segan melakukan pekerjaan rumah membantu Rahma. Mencuci piring, menjemur pakaian, menyapu dan mengepel sampai menyapu halaman rumah semua menjadi aktivitas yaang menyenangkan untuk Anggara selama beberapa hari ini.
Mengantar dan menjemput Rahma ke sekolah adalah aktivitas kedua yang menyenangkan untuk Anggara. Rahma pun selalu pulang tepat waktu karena sudah ada yang menunggunya.
Mengunjungi rumah keluarga Rahma selepas pulang sekolah menjadi hal menyenangkan ketiga yang Anggara rasakan. Kehangatan keluarga yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan kini dia dapatkan. Sebagai anak tunggal dari orang tua yang dua-duanya sibuk membuat Anggara tidak betah di rumah. Tapi bersama keluarga Rahma dia merasakan indahnya kebersamaan dengan keluarga.
Setelah mengantar Rahma ke sekolah, Anggara lantas pergi mengunjungi rumah kedua orang tua Rahma. Bapak Rahma yang sudah pensiun senang melihat menantu ketiganya berkunjung dan menemaninya beraktivitas di kebun maupun sawah.
"Mas, nanti sore aku mau pergi ke swalayan. Sabun-sabun dan bumbu-bumbu udah pada habis" Rahma sedikit meninggikan volume suaranya karena mereka sedang berada di atas motor, Jumat pagi ini Anggara kembali mengantar Rahma pergi ke sekolah.
"Iya, hari ini kamu selesai mengajar jam berapa?" tanya Anggara,
"Jam satu, aku harus mengisi kegiatan keputrian dulu di sekolah dari jam sebelas sampai jam satu. Paling jam duaan aku sudah bisa pulang, Insya Allah" jawab Rahma,
"Baiklah, kalau begitu dari sekolah kita langsung aja ke pengkolan ya" usul Anggara,
Kurang dari tiga tiga puluh menit mereka pun sampai di depan gerbang sekolah tempat Rahma mengajar. Mereka berhenti di gerbang khusus masuk guru dan karyawan sehingga tidak berpapasan dengan para siswa yang datang di jam yang sama.
Rahma turun dari motornya, membuka helm dan menyerahkannya pada Anggara. Tidak lupa Rahma mengulurkan tangannya untuk menyalami suaminya itu, dengan penuh rasa takzim Rahma mencium punggung tangan Anggara. Usapan lembut di kepala Rahma Anggara layangkan, dia bahkan sempat sedikit membetulkan jilbab Rahma yang kurang rapi karena baru saja melepas helmnya.
"Terima kasih Mas" ucap Rahma dengan tersenyum manis.
"Sama-sama, sayang. Nanti aku jemput jam dua ya. Semangat mengajarnya" jawab Anggara dengan tak kalah melayangkan senyuman membalas Rahma.
Rahma tertegun saat mendengar panggilan sayang Anggara untuknya, hatinya bertanya-tanya benarkah panggilan suaminya itu ditujukan untuknya.
"Aku pulang ya, sudah janji sama Bapak mau menemani beliau ngontrol kolam ikan" pamit Anggara masih dengan senyuman yang menghias wajahnya,
__ADS_1
"Ah...iya, iya Mas..hati-hati di jalan" ucap Rahma gugup,
"Assalamu'alaikum" pungkas Anggara mengakhiri obrolan mereka pagi itu, dia pun melajukan motornya setelah Rahma menjawab ucapan salamnya,
"Wa'alaikumsalam" jawab Rahma, dia melambaikan tangan saat Anggara sudah memutar arah dan melajukan motornya.
Rahma menarik nafasnya panjang, motor yang dikendarai Anggara pun semakin menjauh. Setelah tidak terlihat barulah dia membalik tubuhnya melangkah memasuki gerbang sekolah tempatnya mengajar.
Senyum tipis menghiasi wajah cantiknya pagi ini. Kebahagian berumah tangga benar-benar dia rasakan hampir seminggu ini, Anggara bersikap selayaknya seorang suami begitu pun Rahma merasa menjadi seseorang yang begitu berharga untuk Anggara.
Tanpa Rahma sadari sejak kedatangannya di gerbang sekolah, sepasang mata terus mengamati semua gerak-gerik dan interaksinya bersama Anggara dari dalam mobil hitam yang terparkir di seberang gerbang sekolah.
Dia pun melajukan mobilnya menyebrang jalan menuju gerbang sekolah.
Tiin....suara klakson mobil menghentikan langkah Rahma, dia pun semakin menyisi karena dikira dirinya menghalangi jalan yang akan dilalui mobil di belakangnya.
Tanpa menoleh, Rahma berhenti sejenak mempersilahkan mobil itu untuk lebih dulu melaju. Namun ternyata mobil itu berhenti tepat di sampingnya.
Rahma mengerjap saat kaca mobil itu terbuka, seseorang yang sudah lama tidak dijumpainya kini berada di hadapannya.
"Aku tunggu di ruang kerjaku" ucapnya, lalu menutup kaca mobil dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan Rahma yang masih berdiri di tempatnya.
"Hey ... bengong aja masih pagi juga" Lisna menepuk bahu Rahma kuat membuat sang empunya kaget, tanpa Rahma sadari Lisna tiba-tiba sudah berada di sampingnya,
"Ishhh ..kamu, bikin kaget aja. Bukannya ucapkan salam gitu" gerutu Rahma yang cukup kaget dengan kedatangan sahabatnya itu.
"Assalamu'alaikum" ucap Rahma santai, dia menggamit lengan kanan Rahma dan menariknya agar berjalan bersama.
"Wa'alaikumsalam" jawab Rahma dengan wajah kesal karena kelakuan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Yang tadi si boss ganteng ya?" tanya Lisna sambil berjalan menuju ruang guru,
"Heumm" jawab Rahma singkat, hatinya bertanya-tanya hal apa yang akan disampaikan Tama hingga menyuruhnya datang ke ruangannya.