Belenggu Akad

Belenggu Akad
Acara Syukuran 2


__ADS_3

Rahma tertegun melihat adegan di hadapannya. Friska terlihat kelelahan setelah menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir pada acara syukuran itu.


Tamu yang diundang sangat benyak, keluarga dekat juga keluarga jauh semuanya hadir. Karyawan dan relasi bisnis orang tua Anggara banyak pula yang hadir. Bahkan mereka yang berasal dari luar kota Bandung pun turut hadir.


Anggara mengusap keringat yang muncul di kening Friska dengan tisu di tangannya atas permintaan Friska, dia bilang dirinya kegerahan karena banyak orang. Anggara menuruti permintaan istrinya itu dengan senang hati.


“Mas, aku haus” ucap Friska, dia sekilas melirik ke arah Rahma yang tengah memainkan ponsel sesekali ketika tamu lenggang.


“Sebentar” Anggara mengedarkan pandangan mencari seseorang yang dapat dimintai tolong untuk mengambilkan minuman untuk Friska, sayangnya semua orang tampaknya sedang sibuk melayani para tamu. Dia pun beranjak untuk mengambil sendiri minuman untuk istri keduanya itu,


“Mas, kamu mau kemana?’ tanya Friska meraih tangan Anggara yang sudah berdiri dari duduknya,


“Katanya kamu haus, aku akan mengambilkan minuman” jawab Anggara,


“Jangan sama kamu dong, kamu di sini aja jangan tinggalin aku, pasti tamu berdatangan lagi nanyain kamu” cegah Friska, lagi-lagi ujung matanya melirik Rahma yang anteng dengan ponselnya.


“Minta Rahma aja yang ngambilin” ucap Friska tanpa ragu,


“Tapi…” Anggara merasa tak enak hati jika harus meminta bantuan Rahma,


“Mas...”


“Kenapa sayang?” mama Anggara yang sudah selesai mengobrol dengan tamu yang merupakan temannya memastikan keadaan Friska,


“Ini ma aku haus, tapi mereka sedang sibuk” ucap Friska dengan wajah lugunya,


“Aku akan ambilkan, kamu di sini dulu sama mama” ucap Anggara,


“Mas, jangan. Nanti kalau tamu datang gimana?” Friska masih berusaha mencegah Anggara yang akan mengambilkan minuman untuknya,

__ADS_1


“Ya sudah, minta bantuan Rahma aja” bisik mama mendekati telinga Anggara,


“Huftt…..”Anggara membuang nafasnya, sebenarnya dia sangat segan untuk berbicara pada Rahma hari ini. Dia tahu berada di rumah ini pada hari ini sangat tidak mudah buat Rahma, Anggara tahu jika istri pertamanya itu sedang berusaha menguatkan dirinya,


“Sayang…” ucap Anggara menatap Rahma sendu. Rahma pun mendongakkan kepalanya, dia tahu panggilan itu untuknya. Sejak tadi Rahma pun mendengar percakapan antara mereka tapi dia berpura-pura sibuk dengan ponselnya, berbalas pesan dengan Lisna yang mengetahui dirinya sedang berada di Bandung menghadiri syukuran empat bulanan madunya.


“Sayang, aku boleh minta tolong?” Anggara pun mendekati Rahma,


“Ada apa Mas?” tanya Rahma acuh, pura-pura tidak mendengar obrolan mereka yang tidak sebelumnya,


“Friska haus, dia mau jus yang ada di ujung stand minuman. Boleh aku minta tolong untuk mengambilkannya?" ucap Anggara ragu, matanya menyiratkan jika dirinya sangat merasa bersalah dengan keadaan yang harus dihadapi Rahma.


Sebenarnya Anggara sudah berusaha membujuk Friska untuk tidak meminta agar Rahma hadir pada hari ini, dia tidak ingin Rahma semakin terluka. Tetapi lagi-lagi Friska memaksakan kehendaknya, dia Kembali meminta bantuan mama Anggara untuk mewujudkan keinginannya itu. Dan di sinilah sekarang, Rahma berada dalam keadaan yang pasti membuatnya sangat terluka, tapi sikap yang ditunjukkan wanita itu adalah ketegaran.


Dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya dia menyapa semua keluarga dan tamu yang hadir. Angga semakin merasa bersalah telah membuat wanita sebaik Rahma terluka karenanya.


“Baik, Mas” jawabnya tanpa banyak bertanya, Rahma beranjak dari tempat duduknya melangkah meninggalkan mereka menuju meja yang menyajikan aneka minuman.


“Kenapa memangnya? Tidak ada yang salah kan?” Anggara balik bertanya membuat Friska semakin mengerucutkan bibirnya, sementara mama Anggara hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan kecil mereka.


“Sudah, itu ada lagi tamu yang datang” mama pun ikut bicara,


“Assalamu’alaikum, mohon maaf saya datang terlambat” ucap tamu yang baru saja datang,


“Wa’alaikumsalam, tidak apa-apa Bu Shanum, terima kasih sudah berkenan untuk menghadiri undangan kami. Pak Akhtarnya tidak datang Bu?” mama yang menjawab, dia menyambut tamu istimewa yang merupakan rekan bisnisnya itu dengan senyum yang ramah.


“Oh iya, saya minta maaf Mas Akhtar tidak bisa datang karena ada urusan mendadak, dia titip salam dan permohonan maafnya karena tidak bisa datang memenuhi undangan Bapak dan Ibu” tamu yang bernama Shanum pun menjelaskan alasan ketidakhadiran suaminya di acara itu,


“Sayang sekali, tapi tidak apa-apa kehadiran ibu sudah sangat membuat kami senang. Terima kasih Bu Shanum sudah datang. Oya, perkenalkan ini menantu saya Bu, dan ini putra saya” mama pun mengenalkan Friska dan Anggara, keduanya tersenyum ramah dan disambut tak kalah ramah oleh Shanum dengan menyalami Friska, sun pipi kiri dan kanan tetapi hanya menangkupkan kedua tangannya di dada saat menyapa Anggara.

__ADS_1


“Anak saya Anggara yang akan melanjutkan bisnis keluarga Bu, semoga kerja sama perusahaan kita semakin baik setelah dipimpin oleh anak saya” ucap mama memulai pembahasan bisnis, dia pun mengenalkan Shanum sebagai salah satu pemilik perusahaan furniture besar yang selama ini bekerja sama dengan perusahaannya yang bergerak di bidang property.


“Insya Allah” jawab Shanum singkat, dia beralih pada Friska dan mengusap perut ibu hamil itu dengan untaian do’a yang terucap dari bibirnya.


“Semoga kehamilannya lancar, sehat ibu dan bayinya. Persalinannya dimudahkan dan menjadi anak sholeh” ucap Shanum tulus dan diaminkan oleh semua yang mendengarnya, tidak lupa Friska dan Anggara pun mengucapkan terima kasih.


“Mbak berasal dari Garut juga kan?” Shanum mulai mengakrabkan diri dengan keluarga rekan bisnis suaminya, dia mendengar dari suaminya jika menantu rekan bisnis mereka juga berasal dari Garut.


“Oh bukan, saya asli dari bandung” jawab Friska salah tingkah, dia melirik Anggara yang juga menyimak pertanyaan Shanum,


“Istri pertama saya yang berasal dari Garut, itu dia” Anggara menjawab pertanyaan Shanum tanpa ragu, dia menunjuk Rahma yang berjalan ke arahnya membawa dua gelas jus yang diminta Friska,


“Oh…” Shanum sedikit kaget mendengar jawaban Anggara, dia pun membalikkan badannya menatap pada gadis yang berpenampilan tidak beda seperti dirinya. Bergamis dan berjilbab lebar. Dari bahasa tubuhnya terlihat jika Shanum kaget melihat fakta jika ternyata putra rekan bisnisnya itu memiliki dua istri, namun dengan segera dia menguasai dirinya sendiri.


"Ini menantu pertama saya Bu Shanum" ucap mama Anggara mengurai kekagetan Shanum,


"Hah....iya, iya Bu" Shanum masih tampak gugup karena kekagetannya masih bersisa menghadapi situasi seperti ini.


"Rahma" setelah menyerahkan gelas jus di kedua tangannya pada Anggara Rahma pun memperkenalkan dirinya,


"Ibu datang dengan siapa?" mama Anggara kembali mengalihkan perhatian Shanum yang jelas terlihat olehnya keterkejutan dari tamunya itu,


"Saya datang dengan si kembar dan adik saya. Kebetulan dia sedang menunggu temannya di depan. Mereka janjian untuk bertemu di sini" jawab Shanum kembali sudah tampak kembali biasa,


"Nah itu adik saya, Dek....." Shanum melambaikan tangan ke arah dua orang pemuda yang masing-masing menggendong anak kecil laki-laki dan perempuan.


Sontak semua orang mengalihkan pandangan ke arah Shanum melambaikan tangan, dan ...


Deg...

__ADS_1


Seketika jantung Rahma berdetak kencang melihat pemuda yang tengah berjalan ke arah mereka. Semakin mendekat tatapan mereka bertemu, setelah sebelumnya salah satu dari pemuda tersebut terlihat mengawasi keadaan sekitar dengan wajah bingungnya.


"Teteh....." salah satu pemuda yang mendekat itu pun memanggil Rahma dengan tatapan tajam karena di saat bersamaan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kakak iparnya menyuapi wanita yang tengah hamil sementara kakak kandungnya berdiri di depan mereka.


__ADS_2