Belenggu Akad

Belenggu Akad
Menunggu


__ADS_3

Meninggalkan pengantin baru dengan pemanasannya yang tertunda.


Seorang pemuda dengan usia yang sudah cukup matang untuk menikah namun masih memilih sendiri dengan alasan ada yang ditunggunya kini tengah menikmati kesendiriannya di penghujung senja tepat di pinggir kolam renang yang tidak jauh dari kamar tempatnya menginap.


Kepulan asap rokok membumbung tinggi ke angkasa, seiring wajahnya yang mendongak menatap langit jingga yang mulai pamit. Selepas shalat maghrib, dia memilih menuju tempat itu sekedar untuk mencari udara segar.


"Liani Salsabila" gumamnya sembari memejamkan mata, pikirannya menerawang membayangkan sosok yang selama ini bertahta dalam hatinya.


Dua tahun berlalu sejak kepergian gadis itu dia merasakan kehampaan yang luar biasa dalam hatinya. Berusaha mengelak dari rasa yang tumbuh di hatinya begitu saja untuk gadis itu, namun semakin berusaha mengelak justru rasa itu semakin menggebu di dalam dada.


"Kak Ahsan, sedang apa?" suara yang tak asing di telinganya mengurai lamunan Ahsan tentang gadis itu. Mereka rekan bisnis sekaligus sahabat Tama.


"Num" sapanya dengan helaan nafas yang terdengar lelah, Shanum mengira perubahan sikap laki-laki itu karena sosok yang di lihatnya tadi siang di acara resepsi.


Mereka datang rombongan dari Garut sengaja hadir di acara resepsi karena akan sekalian liburan akhir pekan. Saat ini mereka pun menginap di hotel yang sama, tempat dilaksanakannya acara resepsi Rahma dan Tama.


"Kangen ya?" pertanyaan Shanum menggoda sekaligus terdengar mengejek bagi Ahsan,


"Apaan sih kamu" Ahsan mengelak, gengsi jika harus mengakui jika dirinya memang merindukan gadis itu. Dia merubah posisi duduknya menjadi tegak karena di hadapannya sudah duduk Shanum.


"Heummm, masih aja gengsi" sahut Akhtar, suami Shanum yang memilih mengikuti sang istri setelah sebelumnya terlebih dahulu menerima telepon dari kolega bisnisnya menyahut. Selepas shalat maghrib berjamaah si kembar kembali bermain bersama Athaya dan keponakan-keponakan Rahma di area bermain yang memang disediakan khusus oleh hotel itu. Jadilah Akhtar dan Shanum tinggal berdua dan dari balkon kamar mereka melihat Ahsan yang duduk sendiri di pinggir kolam.


"Sialan lu!" Ahsan melempar tisu pada Akhtar yang digunakannya mengelap tangan selepas mematikan rokoknya karena kehadiran Shanum. Pria yang semakin terlihat tampan dan dewasa setelah menikah itu duduk di samping istrinya dan merangkulkan tangannya di bahu sang istri.


"Lagian, jadi cowok masih aja labil" Akhtar kembali mengejek sepupunya itu.


"Aku tidak labil, semakin aku berusaha mengabaikan perasaan ini semakin kuat untuk dia" Ahsan mulai berbicara serius, hanya pada dua orang itu dia bisa bebas berbicara semua yang dipendam dalam hatinya.


"Kalau begitu kejar dia, raih hatinya" Akhtar menyemangati, dia tahu seperti apa keadaan sepupunya itu selama dua tahun ini. Ahsan selama ini selalu berusaha menutupi kegalauan hatinya dengan sifatnya yang humoris, dia bahkan menyibukkan diri dengan banyak pekerjaan seolah tak mengenal lelah.


"Aku hanya sedang menunggu dengan cara tidak mengganggu" balas Ahsan dengan kalimat puitisnya, namun Akhtar hanya mencebikkan bibirnya mendengar ungkapan sepupunya itu.


"Kak Ahsan mencintainya" pertanyaan Shanum begitu polos, dia ingin memastikan perasaan laki-laki itu untuk sahabatnya.

__ADS_1


"Sangat, aku sangat mencintainya, Num" jawab Ahsan tulus,


"Bagaimana dengan Kak Suraya?" Shanum yang mengetahui jika Ahsan masih sering berhubungan dengan Suraya walau hanya urusan bisnis, wanita yang pernah menjadi kekasih Ahsan namun lantas mengecewakannya sepupunya itu.


"Aku dan dia hanya sebatas urusan pekerjaan Num, aku sudah tidak ada rasa untuk dia" elak Ahsan membuat Shanum tersenyum,


"Tapi tidak buat Kak Suraya" Shanum kembali menimpali perkataan Ahsan,


"Maksud kamu?" Ahsan mengerutkan dahinya.


"Kak Ahsan masih belum sadar jika yang membuat Liani pergi adalah karena kedekatan kakak dengan Kak Suraya" jelas Shanum gemas sendiri. Sepupu suaminya itu terlalu polos hingga begitu mudah dikelabui oleh mantan kekasihnya yang sok simpati berkedok persahabatan.


"Aku sudah pernah menjelaskan pada dia dulu Num, kalau aku dan Suraya hanya berteman" Ahsan membela diri,


"Tapi tidak dengan Kak Suraya Kak" bela Shanum pada sahabatnya, mendengar penuturan Ahsan Shanum gemas sendiri dan kembali menegaskan jika mantan kekasih sepupunya itu selalu memanfaatkan kebersamaannya dengan Ahsan untuk memanas-manasi Liani.


Sikap Ahsan yang gak enakan jika menolak, sehingga memperlakukan Suraya dengan baik layaknya teman justru dimanfaatkan oleh mantan kekasihnya itu dan tentu saja Liani sahabatnya akan memilih pergi dari pada berada dalam ketidakpastian. Dia tahu pasti seperti apa Liani.


"Itu karena Kak Ahsan tidak tegas dan tidak memberinya kepastian. Sebenarnya hubungan kalian seperti apa dan mau dibawa kemana" jelas Shanum menegaskan.


"Aku salah Num?" pertanyaan bodoh yang pernah Shanum dengar dari sepupu suaminya sekaligus seniornya di kampus dulu.


"Salah" Akhtar yang menjawab, sejak tadi dia hanya mendengarkan obrolan istri dan sepupunya itu sambil memainkan ponselnya dengan satu tangan tetap merangkul istrinya.


"Lalu aku harusnya bagaimana?" tanya Ahsan terdengar putus asa.


"Jaga jarak dengan mantan kakak, kalau bisa jangan lagi berhubungan apapun alasannya. Kejar Liani, berikan dia kepastian, yakinkan dia jika Kak Ahsan memang layak untuk menjadi jodohnya. Tapi itu pun kalau Liani belum menemukan pria lain untuk menjadi pendamping hidupnya." tegas Shanum dengan menggebu.


"Kamu sudah mendapat informasi tentang dia Num?" tanya Ahsan setelah menarik nafas dalam mendengar saran Shanum yang serasa ada angin segar di awal namun mengerdilkan harapannya dengan kalimat terakhirnya.


"eummmh...." Shanum tampak ragu mengatakannya.


"Katakan saja sayang, biar dia tahu" Akhtar mengusap bahu istrinya yang terdengar ragu untuk mengatakan kebenaran tentang sahabatnya itu.

__ADS_1


"Apa?" tanya Ahsan penasaran.


"Yang tadi itu adalah ustadzah di salah satu yayasan milik Kang Tama, dia ustadzah baru yang baru selesai dengan pendidikannya di luar negeri atas beasiswa yang disponsori perusahaan Kang Tama" Shanum menghela nafas dia merasa berat mengatakan informasi yang baru didapatkannya dari seseorang yang berseragam yang sama dengan wanita yang Ahsan kira Liani.


"Terus?" Ahsan tampak penasaran karena Shanum tiba-tiba menghentikan bicaranya.


"Katanya wanita yang Kak Ahsan lihat memang bernama Ustadzah Liani, tapi ....." Shanum kembali menghentikan bicaranya, sementara Ahsan menatap Shanum menunggu dia melanjutkan bicaranya.


"Tapi apa? kamu jangan dikredit dong ngomongnya, aku kan jadi makin penasaran" protes Ahsan,


"Tapi dia adalah calon istri Ustadz Fajar, pimpinan harian yayasan keluarga Tama" jelas Shanum akhirnya,


Ahsan menarik nafasnya berat, ada sesuatu yang membuat hatinya serasa tercubit. Dia tidak mengantisipasi jika kemungkinan yang dikatakan Shanum benar adanya. Liani telah menemukan pelabuhan cintanya.


Selama ini Ahsan terlalu percaya diri jika wanita yang sudah menguasai hatinya itu hanya akan fokus untuk menuntut ilmu, dia berpikir sekembalinya gadis itu mereka akan kembali seperti dulu.


Malam terus merangkak melenyapkan senja yang dan berganti menjadi langit gelap yang mulai berhiaskan bintang.


Kumandang adzan Isya kembali memanggil setiap insan untuk kembali menghadap pada sang pemilik waktu.


Tepat pukul delapan malam, keluarga inti Tama dan Rahma juga para sahabat sudah berada di area resto untuk makan malam. Mereka masih asik mengobrol dengan aneka topik, semakin akrab menciptakan suasana kebersamaan dan kekeluargaan yang semakin rekat.


Aneka makanan sudah terhidang di meja, namun mereka tak kunjung memulai acara makan malam itu karena masih menunggu. Menunggu dua sejoli yang menjadi selebritis hari ini. Siapa lagi kalau pasangan pengantin baru.


Karena merasa tidak enak dengan teman-teman Tama yang juga belum memulai makan malam, Bu Hakim memutuskan untuk menelepon sang putra. Hingga panggilan ketiga, teleponnya masih belum terhubung. Bu Hakim sampai berdecak kesal karena teleponnya tak kunjung diangkat.


"Teleponnya gak diangkat Pa" seru Bu Hakim pada suaminya dengan wajak kesal,


"Mama seperti gak pernah muda aja, mereka pengantin baru Ma. Sudah biarkan saja kalau lapar mereka juga pasti makan sendiri" ujar Pak Hakim yang disambut tawa anggota keluarga yang lain.


Sementara di kamar yang dihuni sepasang pengantin baru itu, sang pria tengah berbaring di atas pangkuan wanita halalnya. Selepas menjalankan shalat Isya berjama'ah, shalat kedua kalinya yang dilaksanakan secara berjamaah oleh sepasang pengantin itu, Tama memilih merebahkan kepalanya di atas pangkuan Rahma, dia menenggelamkan wajahnya pada perut wanita yang sudah halal untuknya dengan tangan yang melingkar di pinggang wanitanya itu. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya, hingga beberapa kali teleponnya berdering dia memilih mengabaikannya padahal sang istri sudah mengingatkannya. Dia masih enggan beranjak dari posisi nyamannya itu.


"Mas...." mereka pasti menunggu kita,

__ADS_1


__ADS_2