Belenggu Akad

Belenggu Akad
Gangguan Sang Mantan


__ADS_3

"Sepertinya kalian sudah semakin dekat?" suara yang tidak asing sampai ke telinga Rahma saat berjalan di lorong yang merupakan persimpangan antata toilet wanita dan pria.


Suara yang tidak asing itu membuat Rahma menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke sumber suara untuk memastikan.


"Mas Anggara..." ucap Rahma tampak biasa, benar dugaannya bahwa seseorang yang berbicara tadi adalah Anggara dan perkataannya itu pasti tertuju padanya.


"Apa kabar Mas?" Rahma bersikap ramah seperti biasanya. Sejak beberapa tahun yang lalu setiap berhadapan dengan Anggara hatinya sudah tidak merasakan sakit atau apapun.


Rahma masih bersikap baik dan ramah pada Anggara maupun keluarganya. Walaupun tak jarang terkadang istri baru mantan suaminya itu masih bersikap ketus padanya. Namun Rahma mengabaikan, itu adalah urusannya.


Dia hanya berusaha berdamai dengan dirinya sendiri, tidak ingin rasa kecewa dan sakit terus bersemayam dalam hatinya. Apapun yang sudah terjadi antara dirinya dengan Anggara itu adalah takdir terbaik yang sudah Allah atur untuknya.


"Baik, kamu?" tatapan Anggara berubah melembut, dia pun merubah intonasi bicaranya. Berbeda dengan tadi yang terdengar ketus saat menyapa Rahma.


"Alhamdulillah, aku dan Athaya baik. Kalau begitu aku permisi duluan ya Mas, salam buat Mbak Friska" ucap Rahma ramah, dia berbalik untuk meninggalkan tempat itu.


"Rahma, tunggu" Anggara yang sadar untuk apa dia berada di sana pun mencoba menahan Rahma.


Pagi ini niatnya adalah untuk menemui Athaya di sekolahnya. Dia berangkat lebih pagi dari rumahnya. Namun pemandangan Tama dan Rahma yang bersama mengantar putranya sekolah membuat moodnya seketika memburuk.


Anggara memutuskan untuk mengikuti kemana Tama akan membawa mantan istrinya itu selanjutnya. Perkiraannya salah, awalnya Anggara mengira Tama akan mengantar Rahma ke toko. Dia pun penasaran, terus mengikuti mobil Tama hingga berada di tempat ini sekarang.


"Ada apa Mas?" tanya Rahma yang kembali menghentikan langkahnya, dia menarik nafas dalam karena sepertinya apa yang Anggara akan tanyakan sesuai perkiraannya.


"Kamu bersama dia ke sini?" tanya Anggara to the point.


"Maksud kamu?" tanya Rahma polos,


"Laki-laki mantan atasan kamu waktu mengajar di Garut.

__ADS_1


"Maksud Mas Anggara Pak Tama?" tanya Rahma memastikan, dan dijawab anggukan kepala oleh Anggara.


"Iya Mas" jawab Rahma singkat, tidak ada kepentingan untuknya menjelaskan hal apapun selain menjawab pertanyaan Anggara dengan singkat.


"Kamu sepertinya semakin dekat dia?" Anggara semakin berani menanyakan hal yang seharusnya bukan urusannya.


"Alhamdulillah, insya Allah sebentar lagi kami akan menikah" akhirnya Rahma menjelaskan alasan kedekatan mereka, dia merasa ini saat yang tepat untuknya memberi tahu Anggara karena memang tidak ada yang perlu disembunyikannya.


"Apa?" sontak Anggara menunjukan wajah keterkejutannya, Rahma pun menautkan kedua alisnya. Heran, merasa reaksi Anggara terlalu berlebihan.


"Maksudku, apa kamu sudah yakin?" Anggara yang tersadar dengan raut wajah Rahma yang tiba-tiba berubah melihat keterkejutannya, langsung meluruskan.


"Insya Allah Mas. Aku duluan ya..." jawab Rahma, dia pun membalikan badan untuk meninggalkan tempat itu, sadar saat ini ada orang-orang yang sedang menunggunya.


"Rahma, tidak bisakah kamu memikirkannya lagi? Aku ..." perkataan Anggara seolah tercekat, dia tak kuasa untuk melanjutkannya.


"Mas, aku rasa kamu tidak ada urusan untuk mencampuri keputusanku. Tapi aku hargai, terima kasih atas sarannya, Insya Alloh aku sudah memikirkannya dengan sangat baik" jawab Rahma tegas, lama-lama dia jengah juga menanggapi sikap mantan suaminya itu.


"Insya Allah Athaya juga sudah menerimanya, salah satu kemantapan hatiku untuk menikah lagi adalah atas dukungan Athaya" jelas Rahma kembali tegas, dia tidak ingin menimbulkan spekulasi negatif Anggara. Walau pun sebenarnya itu tidak berpengaruh apa-apa tapi Rahma hanya ingin menegaskan apa yang perlu ditegaskan.


"Maaf Mas, aku harus pergi" Rahma harus segera mengakhiri pertemuannya tidak sengaja nya dengan Anggara,


"Tidak bisakah kamu mempertimbangkannya lagi? Walau bagaimana pun kita pernah bersama, tidak kah kamu..." dengan tidak tahu malunya Anggara masih memprovokasi keputusan Rahma, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang yang pasti dia kembali tampil menjadi laki-laki egois.


"Mas, kita memang ditakdirkan hanya sebatas itu, sebatas pernah bersama. Kisah singkat yang tak kerap lengkap, kisah sementara yang kini tidak berpengaruh apa-apa. Jadi, tolong tidak membahas apapun tentang masa lalu kita karena semuanya sudah selesai. Urusan kita saat ini hanya tentang Athaya, aku masih menghargaimu sebagai ayah kandung Athaya, tidak lebih." ucap Rahma tegas,


"Justru karena aku ayahnya Athaya aku memikirkan jika putra kita akan terabaikan setelah kamu menikah, dan aku tidak ingin itu terjadi" Anggara masih beralibi seolah dia menjadi yang paling benar,


"Apa kamu bilang? Athaya akan terabaikan? maksud kamu aku akan mengabaikan Athaya setelah aku menikah?" sorot mata Rahma tak lagi teduh, ada kemarahan yang terpendam tatapannya kali ini.

__ADS_1


"Tidak, maksud aku..." Anggara yang melihat perubahan Rahma jadi gelagapan sendiri, dia sadar sudah menyinggung perasaan mantan istrinya itu.


"Rahma, aku pikir tidak harus menikah pun kamu dan Athaya tidak akan hidup susah. Aku akan memenuhi semua kebutuhan kalian, jadi tolong jangan buat aku kecewa" ucapnya lagi dengan wajah sendu seolah menunjukan jika dirinya sangat kecewa dengan keputusan Rahma yang akan menikah lagi.


Walau sudah menyadari jika kata-katanya menyinggung Rahma tapi Anggara bersikeras dengan usahanya, entah apa maunya namun yang jelas kali ini Anggara kembali menunjukkan keegoisannya.


"Tidak usah bertingkah kecewa, sudah enam tahun berlalu Mas, waktu aku menunggu kamu kemana? Kenapa sekarang setelah aku bahagia kamu datang dan bersikap seolah aku yang membuatmu terluka? Istighfar Mas, tolong jangan lagi mencampuri urusan pribadiku. Ingat anak dan istrimu menunggu di rumah. Assalamu'alaikum" Rahma langsung meninggalkan tempat itu tanpa kembali menoleh dan mempercepat langkahnya karena tidak ingin Anggara kembali menjegalnya.


Tanpa Rahma ketahui, seseorang tengah berdiri di balik tembok pembatas lorong itu dan mendengar semua yang mereka perbincangkan.


"Maaf Bu, Pak lama menunggu..." ucap Rahma canggung saat kembali ke tempat semula mereka makan bersama, dia mendapati kursi yang diduduki Tama kosong.


"Mama, papa, Mbak Rahma... tolong biasakan" Bu Hakim memilih untuk meralat panggilan Rahma yang kembali memanggilnya dengan sebutan formal.


"Eh...maaf ma, pa" Rahma menutup mulutnya sambil terkekeh karena tidak fokus dengan ucapannya. Sepertinya dirinya memang belum terbiasa dengan panggilan pada calon mertuanya itu.


"Mas Tama kemana, Ma?" Rahma mengalihkan pembicaraan, dia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya sudah menunjukan pukul tiga belas, artinya satu jam lagi Athaya sudah pulang.


"Dia tadi juga ke toilet" jawab Bu Hakim, dia masih menikmati sisa dessertnya,


"Toilet..." deg, perasaan Rahma seketika tidak menentu, sejak tadi dia berada di lorong yang akan dilewati laki-laki maupun wanita yang akan ke toilet, tapi dia tidak melihat Tama masuk ke sana.


"Apa mungkin..." pikiran Rahma menerka mungkin Tama melihat kebersamaannya dengan Anggara. Hatinya tiba-tiba resah, takut jika Tama salah faham dengan apa yang dilihatnya.


"Kamu sudah kembali?" orang yang ada di pikirannya pun muncul, dia melirik ke arah Rahma masih dengan senyum manisnya. Namun terasa menyesakkan untuk Rahma.


"Kenapa aku jadi merasa seperti ketahuan selingkuh?" Rahma membatin, dia terlihat salah tingkah setelah kedatangan Tama namun berusaha menutupinya dengan bersikap setenang mungkin.


"Iya Mas, Mas juga dari toilet?" tanya Rahma pada Tama,

__ADS_1


"Heumm" jawabnya tanpa menoleh, deg...Rahma merasakan perubahan sikap Tama padanya.


"


__ADS_2