Belenggu Akad

Belenggu Akad
Di Depan Mata


__ADS_3

Pertemuan pertama Tama dengan Naura Rahmania memberikan efek positif dalam hatinya. Perlahan dia bisa melepas rasa cintanya pada Shanum. Apalagi Tama menyadari jika Shanum kini sudah jadi milik orang, dia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Bukankah salah satu hal mulia yang dapat dilakukan seseorang adalah dengan tidak menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain?.


Mencari tahu tentang gadis yang bernama lengkap Naura Rahmania adalah misi Tama selanjutnya dan ternyata takdir kembali berpihak padanya. Orang yang sudah berhasil mengalihkan pikirannya berada di dekatnya, bekerja sebagai pendidik di salah satu sekolah yang berada di bawah naungan yayasan keluarganya.


Keberadaan Tama sebagai ketua yayasan menjadi dukungan tersendiri untuk bisa lebih dekat dengan gadis itu, setiap kesempatan yang mengharuskan dirinya datang ke kantor yayasan di Garut dia manfaatkan untuk melepas rindu yang perlahan namun pasti hadir di hatinya walaupun hanya dengan melihatnya.


Dalam kurun waktu yang cukup lama, akhirnya Tama menyadari dan meyakinkan hatinya jika gadis yang selalu hadir di sela hari-harinya telah membuatnya kembali merasakan indahnya jatuh cinta. Meskipun awalnya dia melihat gadis itu sebagai obsesinya pada Shanum, namun semakin lama Tama menyadari dia menyukai gadis itu karena apa adanya seorang Naura Rahmania karena memang mereka adalah orang yang berbeda.


Pesona Naura dengan segala kesederhanaan dan kekhasannya telah membuat hatinya benar-benar melepas semua tentang Shanum. Namun lagi-lagi sebuah kenyataan kembali menghantam semua harapan yang sudah disusun menjadi banyak rencana, hari ini dia mendapati kenyataaan jika sang pujaan ternyata telah menjadi milih orang lain.


Untuk kedua kalinya Tama kembali merasakan kehilangan, cintanya layu sebelum launching. Dia kembali harus menerima kenyataan pahit jika dirinya kalah cepat dengan takdir.


Tak banyak yang bisa dilakukannya setelah mengetahui jika Rahma ternyata benar sudah menikah. Dia kembali diam dalam kesendirian, mencoba mencari hikmah dari setiap kejadian. Dalam benak timbul banyak pertanyaan, benarkah cintanya akan selalu berakhir sebelum dimulai?


Lelah adalah rasa yang tengah menyergap hati Tama. Merasa takdir belum juga berpihak padanya untuk mendapat kebahagiaan. Usia yang telah cukup untuk membina rumah tangga, tak menjadi jaminan dirinya mampu dewasa dalam menghadapi kenyataan.


Rapuh? ya....dirinya sebenarnya rapuh, kisah pilu yang kini kembali terulang membuatnya merasakan trauma untuk mencintai. Namun sejujurnya, di hatinya masih ada cinta yang sulit untuk ditanggalkan untuk seorang wanita yang kini telah menjadi istri orang dan diam adalah kembali langkah tepat untuknya menghindari masalah baru sambil berusaha menata hati, pasrah dengan ketentuan Sang Pencipta untuknya sambil terus menyelipkan do'a berharap semua luka dan air mata akan berganti dengan bahagia dan tawa.


*


*


Rahma keluar dari ruangan Tama dengan kebingungan yang masih menyelimuti. Tidak menyangka dia akan dihadapkan pada kenyataan yang sungguh miris menurutnya.


Sempat terbesit di ingatan, seandainya Tama hadir sebelum dirinya bertemu Anggara mungkin akan lain lagi cerita hidupnya.


Haruskan dia menyerah dan mencari kebahagiaannya sendiri? Mengatakan kebenaran tentang rumah tangganya pada kedua keluarga yang menganggap hubungannya dengan suaminya baik-baik saja dan pergi mencari kebahagiaannya sendiri dan berharap kembali hadir sosok yang mencintainya begitu dalam.


Namun kembali logikanya berperan, sungguh pikiran itu tidak layak. Walau bagaimanapun pernikahannya dengan Anggara sah di mata agama dan hukum, Allah sudah merestui ketika takdir untuk menjadi istri seorang Anggara menyapa dirinya. Rahma bertekad untuk bertahan dalam pernikahannya, selama dia mampu itulah komitmen yang dia bangun di hati dan pikirannya.

__ADS_1


"Sudah ketemu Pak Tama ganteng?" sapa Lisna sahabatnya membuat Rahma tersadar dari lamunannya, dia tidak menyadari jika kini dia sudah sampai di ruang guru. Berjalan tanpa sadar karena tengah melamun mengingat semua kenyataan yang baru saja dihadapinya.


"Hah? kamu bikin kaget saja" Rahma menepuk bahu sahabatnya cukup keras karena kaget dengan sapaan itu.


"Idih, siapa yang bikin kaget. Cuman nanya, lagian jalan kok sambil ngelamun sih untung aja nyampenya ke ruang guru coba kalau ke sungai di belakang sekolah, pasti hebohlah ngagejebur" ledek Lisna yang tidak terima dibilang mengagetkan Rahma,


"Ishhh...kamu mah malah mendo'akan yang jelek buat aku teh" balas Rahma yang masih tidak terima dengan ejekan sahabatnya itu.


"Makanya jangan ngelamun melulu, nanti kesambet lho" Lisna semakin membuat Rahma geram dengan ejekannya.


"Iihhh, malah nyingsieunan (menakut-nakuti)" Rahma kembali memukul pelan bahu Lisna.


"Sudah ah, aku mau pulang" Rahma mengalihkan pembicaraan, dia melangkah menuju mejanya dan mengambil tas juga goodie bag yang berisi pesanan brownies kukus yang dipesannya dari Lisna, Ibunya Lisna suka menerima pesanan aneka kue dan Rahma paling suka dengan brownies kukus buatan ibu sahabatnya itu.


"Eh lupa, belum bayar" Rahma mengambil dua lembar uang lima puluh ribuan dari tas selempangnya dan diberikan pada Lisna untuk membayar pesanan brownies kukusnya.


"Eumhh, paling bisa kamu mah muji ibu dia suka klepek-klepek kalau dipuji sama kamu teh, dibeja-beja ka sasaha 'saur neng Rahma ge brownies kukus ibu mah raos pisan' (dikasih tahu ke setiap orang 'kata neng Rahma juga brownies kukus ibu enak sekali') " Lisna memperagakan gaya bicara ibunya yang juga menyayangi Rahma seperti menyayangi dirinya.


"Love pisan pokoknya mah buat Ibu. Udah ya, aku pulang duluan. Assalamu'alaikum" Rahma terkekeh, dia pun melenggang pergi menuju parkiran khusus motor di lingkungan sekolah itu.


Rahma mengambil kunci motor yang dititipkannya pada pak satpam sekolah tadi pagi karena dia buru-buru, tak lupa dia pun mengucapkan terima kasih dan menyisipkan uang dua puluh ribu di tangan pria yang sudah tak lagi muda itu.


"Buat jajan gorengan, Pak" ucapnya sambil menerima kunci dan helm yang diberikan satpam itu.


"Eh neng Rahma mah, suka repot-repot nuhun Neng (terima kasih Neng)" ucapnya setelah menerima uang pemberian Rahma.


Berjalan sedikit gontai karena masih kepikiran dengan pengakuan seorang Pratama Ardan, Rahma menuju parkiran motor untuk mengambil motornya. Perlahan melajukan motornya masih dalam keadaan mati, menuju jalan keluar dari area parkiran itu.


Dia menaiki motor matic kesayangannya tak lupa helm pun menjadi alat wajib tatkala dirinya mengendarai motor walaupun berjarak dekat. Setelah menghidupkan motornya, perlahan Rahma pun melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah. Tanpa sepengetahuannya, semua gerak-geriknya sejak dia sampai di parkiran itu hingga dia pergi dipantau sepasang mata yang masih tampak penuh luka dan kecewa.

__ADS_1


"Naura...." gumam Tama yang menatap kepergian Rahma yang semakin menjauh.


Dua puluh menit waktu yang diperlukan Rahma untuk sampai di rumahnya. Rumah tempatnya menumpahkan segala rasa yang dialaminya setelah pernikahannya satu bulan yang lalu.


Rahma memarkirkan motornya di luar garasi tempat menyimpan motornya, pasalnya di halaman rumahnya ada dua mobil yang berjejer menghalangi pintu garasi sehingga Rahma tak bisa memasukkan motornya. Rahma membuka helm dan menaruhnya di bagasi motor, dia heran dengan mobil yang baru dilihatnya. Satu mobil memang milik suaminya, tapi satu lagi sungguh asing bagi Rahma. Dia pun berpikir positif, mungkin ada teman Anggara yang datang mengunjunginya.


"Assalamu'alaikum" Tanpa mengetuk pintu Rahma memasuki rumah yang pintunya tidak terkunci.


Ucapan salamnya tidak mendapat respon, suasana rumah tampak sepi. Rahma pun berjalan menuju kamarnya, mandi dan berganti baju dengan baju kebangsaan rumah adalah keinginannya saat ini.


Namun alangkah terkejutnya Rahma saat melihat di sofa ruang tamunya ada sebuah tas yang sepertinya milik perempuan. Rahma pun memelankan langkahnya, beralih menuju ruang tengah yang biasa dia gunakan untuk bersantai sambil menonton televisi atau sekedar bermain handphone. Semakin dekat Rahma dengan ruang tengah yang hanya dibatasi dengan tirai kerang itu, Rahma semakin dibuat gugup karena mendengar suara-suara yang mengontaminasi telinganya.


Perlahan Rahma membuka tirai kerang itu sedikit demi sedikit dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati dua insan yang berlawanan jenis tengah bercumbu di atas sofa yang biasa digunakannya untuk bersantai.


Seketika matanya berembun, dadanya terasa sesak, tenggorokannya seakan menyempit, lidahnya kelu. Rahma membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Laki-laki yang sudah menikahi dan berstatus suaminya itu tengah bercumbu dengan wanita lain di depan matanya sendiri.


Tangan Rahma mengepal sudah beberapa menit Rahma berdiri di tempat itu sepertinya dua orang itu tidak juga menyadari keberadaan Rahma, mereka anteng dengan aktivitas yang menjijikan di mata Rahma.


Rahma menarik nafasnya panjang, dia berusaha kembali menguasai dirinya agar tidak terprovokasi oleh keadaan. Walau bagaimana pun hal ini sudah disampaikan suaminya, jika dirinya mempunyai kekasih dan Rahma memilih tidak peduli. Tapi walau bagaimanapun dia manusia biasa dengan kapasitas hati yang terbatas, Rahman pun merasakan hatinya sakit, kecewa kenapa suaminya harus melakukan hal menjijikan itu di rumahnya.


"Eheumm..." Rahma berdehem untuk menyadarkan mereka yang tengah berkabut gairah akan keberadaannya.


Sontak Anggara dan kekasihnya terperanjat, Anggara segera melepaskan pagutan bibirnya dari kekasihnya dia bahkan langsung berdiri dan mengabaikan kekasihnya yang terjatuh dari pangkuannya.


"Sayang, apa-apaan kamu?" sentak kekasih Anggara.


"Rahma" Anggara membulatkan matanya, menatap ke arah Rahma yang berdiri dengan ekspresi wajah yang sudah kembali tenang.


"Assalamu'alaikum, Mas. Aku sudah pulang" Rahma berjalan mendekati suaminya dan mengulurkan tangan untuk menyalami Anggara, dengan wajah panik dan bersalah Anggara menerima uluran tangan Rahma yang kemudian berjalan melewati Anggara masuk ke dalam kamarnya. Rahma tidak sedikit pun menoleh ke arah perempuan yang berdiri tepat di samping Anggara.

__ADS_1


__ADS_2