Belenggu Akad

Belenggu Akad
Rumah Mertua Indah


__ADS_3

Keluarga sakinah merupakan dambaan setiap insan dalam memasuki bahtera rumah tangga. Banyak orang yang mendambakan keluarga sakinah, termasuk Rahma yang sejak dulu selalu berusaha menjaga kehormatan dan kemuliaannya sebagai seorang wanita untuk dipersembahkan kepada kekasih halalnya. Rahma percaya dan yakin, jika keluarga sakinah berawal dari dua orang yang saling menjaga dan menjadikan rido Allah sebagai visi menikahnya.


Salah satu tujuan pembentukan keluarga sakinah diantaranya untuk mewujudkan insan bertakwa. Keluarga sakinah menjadi lahan subur untuk tumbuh kembangnya anak agar menjadi insan yang bertakwa.


Bahkan salah satu indikator sakinahnya sebuah keluarga bisa jadi untuk sebagian pasangan adalah karena kehadiran anak di antara mereka sebagai bukti cinta kasih diantara keduanya.


Dua tahun sudah rumah tangga yang Rahma dan Anggara jalani. Setahun terakhir menjadi momen-momen yang indah bagi keduanya dalam menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri pada umumnya.


Kesepakatan konyol yang pernah terjadi di awal pernikahan sudah di buang jauh terutama oleh Anggara. Perubahan sikap yang Anggara tunjukkan pun semakin meyakinkan diri Rahma jika pilihannya memberikan kesempatan kepada suaminya untuk memperbaiki rumah tangga mereka tidak salah.


Kehidupan masa lalu Anggara pun sudah dia asingkan dalam ruang gelap penglupaan. Dia berusaha sekuat hati membuktikan pada Rahma jika dirinya pantas mendapat kesempatan kedua untuk menjadi suami yang baik untuknya.


Semenjak kekasihnya memutuskan untuk pergi dia bertekad dan berjanji pada Rahma untuk tidak pernah lagi mengingatnya dan menjadikan kisah cintanya di masa lalu sebagai catatan kelam yang sudah seharusnya dilupakan.


Kehidupan rumah tangga keduanya berjalan baik sebagaimana mestinya. Tak jarang Anggara meminta Rahma yang mendatanginya ke rumah dinas di saat sang istri libur mengajar. Hubungan kedua keluarga pun terbangun semakin harmonis.


Ayah mertua Rahma yang kini lebih sering bertugas di Bandung membuat mereka lebih sering bertemu. Di hari libur pun Rahma sering menghabiskan waktunya di rumah mertuanya bahkan dapur di rumah mertuanya seakan beralih menjadi wilayah kekuasaannya tatkala berkunjung ke sana.


Kebahagiaan dan kesejahteraan hidup berkeluarga benar-benar Rahma rasakan. Harapan untuk menjadi keluarga sakinah, mawadah wa rahmah, sehidup, sesurga semakin terpampang jelas di depan mata.


"Nak, minggu depan sepupumu menikah. Tantemu mau kamu hadir dan jadi pendamping pengantin prianya" Mamanya Anggara berbicara sambil menikmati secangkir teh yang disiapkan oleh menantu tercinta.

__ADS_1


Saat ini adalah akhir pekan, Anggara dan Rahma tengah berkunjung ke rumah orang tua Anggara. Jumat malam Rahma pergi ke Bandung menggunakan kereta api dan dijemput suaminya di stasiun. Pagi yang masih berembun, Anggara dan kedua orang tuanya tengah menikmati teh yang disediakan Rahma, sementara gadis itu seperti biasa dapur menjadi area kesukaannya. Dia sedang menyiapkan sarapan spesial untuk suami dan mertuanya dibantu Bi Ijah yang sudah lama setia mengabdi di keluarga itu.


"Siapa yang mau nikah Ma?" tanya Anggara tidak tahu jika salah satu sepupunya akan melangsungkan pernikahan. Kesibukan dan perbedaan profesi menjadi salah satu penyebab jalinan silaturahmi mereka jarang terjadi. Anggara pun tidak terlalu aktif di grup whatsapp keluarga besar, sesekali dia mengomentari jika apa yang menjadi bahasan tertuju padanya.


"Andrea, Alhamdulillah akhirnya si kembar dua duanya sudah menemukan jodohnya" jawab Mama Anggara tanpa menoleh, pandangannya fokus pada majalah yang sejak tadi ada di tangannya. Tidak beda jauh dengan Anggara yang juga fokus pada ponselnya.


"Ouh, Alhamdulillah aku turut senang" jawab Anggara singkat,


"Iya, tante dan omm mu juga sangat senang karena akhirnya Andrea mau menerima gadis yang dijodohkan dengannya. Dia anak relasi teman ommmu" Mama Anggara bercerita tanpa diminta, momen langka ini nampaknya tidak ingin dia sia-siakan.


"Sudah lama aku gak ketemu dia Ma" sela Anggara,


"Iya, makanya nanti kamu harus hadir biar kita bisa sekalian reuni keluarga. Adiya juga sering menanyakan kamu" tukas Mama Anggara,


"Adiya sudah mau dua lho Nak anaknya, istrinya sedang hamil tua sekarang" Mama memberi informasi tentang sepupu Anggara yang dulu sangat dekat dengannya,


"Oya? baru tahu aku" jawab Anggara datar,


"Iya, makanya tantemu seneng banget sudah mau punya cucu lagi" ujar mama,


"Rahma gimana? sudah ada tanda-tanda?" mama Anggara mengalihkan mengalihkan fokus pembicaraan,

__ADS_1


"Tanda-tanda apa Ma? " tanya Anggara pura-pura tidak mengerti,


"Tanda-tanda hamil, kalian kan sudah cukup lama menikah. Mama sudah kangen pingin gendong cucu" sambung mama Anggara,


Anggara yang mendengar perkataan mamanya seketika menghentikan aktivitasnya, dia menatap ke arah sang mama kemudian menarik nafasnya dalam.


"Ma, kami belum dipercaya. Nanti juga kalau sudah waktunya Allah pasti memberi kepercayaan Rahma buat hamil" jawab Anggara lembut, dia tidak ingin pembicaraan ini terus berlanjut. Pasalnya sudah beberapa kali sang mama menanyakan hal ini padanya tanpa sepengetahuan Rahma, mamanya sangat berharap sekali untuk segera memiliki cucu darinya.


"Iya mama tahu, kalau itu memang bukan kemauan kita. Tapi kan coba dong usahanya dikencengin lagi. Kamu sudah ajak Rahma periksa belum?" lanjut mama Anggara yang masih belum mau mengakhiri pembahasan tentang hal itu,


"Belum Ma, iya nanti" jawab Anggara singkat,


"Segeralah Nak, siapa tahu ada masalah di antara kalian berdua. Tapi mama yakin kamu sehat, waktu itu juga kan....." mama menghentikan ucapannya saat melihat Anggara yang menatap tajam ke arahnya, hampir saja dia keceplosan mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan.


"Waktu itu apa Ma?" papa yang sejak tadi hanya diam menyimak sambil membaca koran akhirnya bersuara saat tidak lagi mendengar mama melanjutkan bicaranya.


"Waktu itu.....itu Pa, waktu itu Angga pernah bilang kalau dia pernah diperiksa dan dinyatakan sehat" jawab mama gugup, wajahnya berubah tegang saat melihat tatapan sang anak yang semakin tajam menatapnya.


Mama menarik nafas panjang, berusaha menghilangkan kegugupannya. Dia pun membalas tatapan sang anak dengan arti tatapan yang hanya mereka berdua yang tahu.


"Jangan terlalu menekan mereka Ma, semua sudah ada yang mengatur" seru papa bijak, dia menghentikan aktifitas membacanya dan mengambil cangkir yang ada di atas meja tepat di sampingnya menikmati teh hijau yang biasa disediakan Rahma jika berkunjung ke rumah mertuanya itu.

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, Rahma sudah berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruangan belakang dengan teras tempat ketiga orang itu duduk dan berbincang. Rahma hendak memberi tahu mereka jika sarapan sudah siap namun langkahnya terhenti saat mendengar ibu mertuanya berbicara serius.


Dia mendengar semua obrolan mertua dan suaminya perihal anak. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyeruak ke dalam dadanya. Sungguh sesuatu yang membuat hatinya tercubit, bahasan tentang anak kini menjadi hal yang sensitif untuknya.


__ADS_2