
Pratama Ardhan, perjalanan waktu telah mengantarkannya menjadi orang dewasa. Semua pencapaian dia persembahkan untuk kedua orang tuanya. Mengabaikan setiap hal yang menurutnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka di masa lalu dan fokus meraih cita-cita sesuai harapan orang tua.
Tidak sia-sia, hasil tidak pernah mengkhianati proses. Dia tumbuh menjadi pria dewasa yang sukses, mapan dalam segala hal baik finansial maupun mental serta keilmuan. Pencapaiannya dalam studi telah mengantarkannya di posisinya saat ini. Sang ayah memercayakan sepenuhnya perusahaan yang dirintisnya pada sang putra kebanggaan, sebagai satu-satunya anak laki-laki dia memiliki tanggung jawab lebih dibanding kakak dan adiknya yang keduanya perempuan.
Apa yang diharapkan kedua orang tuanya menjadi kenyataan. Tama mendulang kesuksesan di usia muda. Perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan yang dirintis sang ayah dan kini beralih kepemimpinan kepadanya semakin tumbuh dan berkembang.
Di masa kepemimpinannya yang baru beberapa tahun Tama sudah bisa melebarkan sayapnya dengan mendirikan hotel cabang di beberapa daerah di negeri ini. Banyak inovasi yang dirilisnya mampu mendobrak kepercayaan pasar untuk menjadikan hotel miliknya sebagai hotel yang recomended untuk berbagai acara dan tempat yang nyaman untuk sekedar bersantai bersama keluarga.
Tama kini tengah membidik bisnis kuliner untuk dikembangkan di hotelnya. Setiap ide yang terlahir begitu fresh dan penuh perhitungan, sehingga setiap keputusan yang diambilnya menjadi keputusan yang tepat terbukti dengan lahirnya hasil yang memuaskan. Sungguh pencapaian yang luar biasa di usianya yang terbilang masih muda saat ini.
Namun sayang pencapaian studi dan karir yang membanggakan itu tidak berbanding lurus dengan kehidupan percintaannya. Pernah mencoba menjalin hubungan dengan wanita yang dengan bangganya menyatakan cinta padanya pasca mengalami keterpurukan karena wanita yang dicintainya telah menjadi milik orang lain.
Namun ternyata tidak membuat Tama merasakan bahagia. Wanita yang hadir tidak mampu menyentuh hatinya, bahkan di hatinya semakin melekat nama seseorang yang seolah sudah terpatri permanen di relung hatinya.
Naura Rahmania, nama yang masih melekat itu. Wanita yang tak pernah bisa hilang dari pikirannya padahal waktu sudah berlalu cukup lama, bahkan tahun pun telah berganti. Memutuskan untuk tidak terjun langsung mengurus yayasan dimana wanita itu berada tidak lantas membuat Tama mampu mengikis perasaannya pada gadis itu.
Perasaannya yang tumbuh alami itu justru semakin dalam, saat dia tak mampu menemukan wanita lain seperti yang diharapkannya.
"Bagaimana bisa aku mengatakan kehilangan, sedangkan aku tidak pernah memilikimu" ucapnya lirih, memandangi sebuah pas foto berukuran 4x 6 yang selama satu tahun ini menjadi benda setia yang berada di dompetnya.
Tanpa sengaja saat kedatangannya ke yayasan untuk terakhir kalinya satu tahun yang lalu Tama melihat-lihat deretan dokumen pribadi pendidik dan karyawan di yayasan yang didirikan sang ayah di Garut sebagai wujud baktinya pada tanah kelahiran setelah sukses merantau di negeri orang.
Saat itu pandangannya langsung tertuju pada bindek yang bertuliskan Naura Rahmania dengan wajah yang terpampang jelas di foto berukuran 4 x 6 menempel di atas ukiran nama itu. Tanpa sepengetahuan siapapun Tama mengambilnya dan sampai saat ini masih menyimpannya dengan baik, menjaganya melebihi apapun sebagai benda berharga dalam hidupnya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu membuatnya tersadar dari lamunan tentang masa lalu. Tama mendongak dan menyimpan kembali foto itu dengan rapi pada tempat biasanya.
"Masuk!" titahnya,
"Permisi Pak, di lobi ada tamu yang mengatakan ingin bertemu bapak tapi belum ada janji" Meira, sekretaris Tama menyampaikan informasi yang didapatnya dari bagian resepsionis hotel yang berada di lobi.
"Siapa?" tanya Tama, karena merasa tidak ada janji temu dengan siapapun hari ini.
"Assalamu'alaikum" belum sempat Meira menjawab, suara seseorang terdengar dari arah pintu membuat bos dan sekretarisnya itu menoleh ke arah sumber suara.
"Wa'alaikumsalam...." pekik Tama dengan senyum mengembang di bibirnya, dia pun memberi kode pada sekretarisnya untuk pergi meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
"Kamu, tamu yang dimaksud resepsionis di bawah?" tanya Tama sambil beradu tos dilanjut berpelukan dengan saling menepuk bahu dengan kawan lamanya,
"Iya, mereka bilang kamu ada jadi aku langsung ke sini saja" ucap kawan lama Tama yang tidak lain adalah Ahsan.
"Mau minum apa?" Tama menawarkan minuman pada Ahsan, saat ini mereka sudah duduk saling berhadapan pada sofa yang ada di ruangan Tama.
"Apa aja boleh" jawab Ahsan singkat,
"Secangkir kopi sepertinya bisa menyegarkan kita" tawar Tama dengan alis yang sengaja dibuat naik turun.
"Tentu" jawab Ahsan dengan senang hati.
"Ada apa nih, tumben-tumbennya datang tanpa berkabar terlebih dahulu? sudah lama di Jakarta?" Tama memulai obrolan,
"Sudah seminggu, ada beberapa urusan di sini yang harus aku tangani sendiri" sahut Ahsan, membuatkan tama mengernyit.
"Kenapa baru sekarang kabari aku?" tanya Tama dengan nada meninggi,
"Baru selesai semua urusannya" jawab Ahsan santai.
"Begitulah" Ahsan menjawab sambil mencebikkan bibir dan mengangkat bahunya,
"Sudah move on Bung? syukurlah" Tama tersenyum mengejek menatap sahabatnya yang tengah menyeruput kopi yang sudah dihidangkan office boy.
"Susah bro, ternyata benar kata pepatah kalau sudah tiada baru terasa" suasana Ahsan berubah mendung saat mengatakannya, kerinduan akan sosok wanita yang begitu tulus mencintainya namun dia sia-siakan kembali menyeruak dalam dadanya bercampur dengan perasaan bersalah.
"Kan ada Suraya, bukannya dulu kamu cinta mati sama tuh cewek?" Tama masih belum menyadari perubahan mood Ahsan yang tiba-tiba sendu karena mengingat seseorang
"Dia lebih layak untuk jadi ibu dari anak-anakku dibanding Suraya. Aku sedang menunggu keajaiban, semuanya aku serahkan pada yang di atas. Aku akan menunggunya kembali, semoga kami berjodoh" jawab Ahsan mengatakan rencana yang ada di hatinya selama ini.
"Kamu? gimana? sudah ada gantinya?" Ahsan yang juga mengetahui kisah cinta Tama lebih parah darinya, Tama bahkan dianulir tidak mempunyai kesempatan untuk bisa meraih gadis pujaannya.
"Setahu ini adalah waktu yang tidak mudah untukku, aku ...." ucapan Tama terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar di telinga keduanya.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" titahnya, sejenak menghentikan obrolannya dengan Ahsan.
__ADS_1
"Maaf Pak, ada tamu lagi. Saya sudah bilang kalau Bapak sedang ada tamu, tapi ... " ucap Meira sekretaris Tama ternyata yang mengetuk pintu tidak dilanjutkannya karena Tama memotong,
"Tamu? tamu siapa?" Tama kembali berkerut lagi-lagi merasa tidak punya janji temu dengan siapapun hari ini,
"Aku...." seorang wanita cantik dengan santainya memasuki ruang Tama tanpa ucapan salam, senyumnya merekah saat tatapannya bertemu dengan Tama.
"Tasya?" pekik Tama kaget, dia tidak menyangka Tasya akan datang ke kantornya karena merasa tidak pernah punya janji temu dengan gadis itu.
"Mami yang meminta aku untuk datang ke sini, sekretaris kamu bilang hari ini kamu tidak ada jadwal keluar jadi kita bisa makan siang bersama kan?!" ucap wanita yang dipanggil Tasya oleh Tama itu penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.
Dia berkata begitu santai dengan senyum tetap merekah di bibirnya, pandangannya fokus pada Tama tidak peduli jika saat ini ada orang lain di ruangan itu.
"Rupanya aku datang bukan di waktu yang tepat..." ujar Ahsan dengan senyum penuh arti, dia meneguk habis kopinya.
☘️
☘️
☘️
Sementara di tempat lain, Rahma baru saja keluar dari kelas terakhir. Jadwal mengajarnya hari selesai tepat pukul empat belas. Jam pulang di sekolahnya pukul lima belas, masih ada waktu satu jam untuknya harus tetap berada di sekolah.
Waktu senggang seperti itu biasanya Rahma gunakan untuk menyiapkan pembelajaran esok hari atau sekedar menulis. Perpustakaan menjadi tempat ternyaman untuk Rahma menghabiskan waktunya, ruang guru masih sepi karena kebanyakan guru masih berada di kelas untuk mengajar.
Rahma berbelok, dia kini melangkahkan kakinya ke arah perpustakaan, berjalan gontai. Entah kenapa hari ini dia merasa tubuhnya kurang fit dan tidak bersemangat. Padahal menjelang akhir pekan biasanya menjadi saat-saat yang menyenangkan untuk Rahma karena suaminya akan pulang.
Di dalam perpustakaan Rahma tidak langsung membuka laptopnya, maksud hati saat ini dia akan mereview hasil pembelajarannya hari ini untuk dilengkapi kekurangannya agar besok bisa disampaikan kembali di kelas lain dengan lebih baik.
Sudah sepuluh menit berlalu, namun Rahma masih memaku di tempat duduknya. Menopang dagu di atas meja baca yang ada di perpustakaan. Pandangannya mengarah pada satu bangunan yang tepat berada di depan perpustakaan, kantor yayasan.
Bayangan peristiwa yang sudah berlalu hampir setahun lamanya entah mengapa saat ini tiba-tiba melintas begitu saja di pikirannya. Sejak menerima ungkapan perasaan Tama hari itu, Rahma tidak pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu. Dia tidak pernah lagi datang ke yayasan, acara-acara penting yayasan bahkan hanya dihadiri oleh wakilnya, laki-laki itu benar-benar menepati ucapannya akan menghilang dari hidup Rahma.
Selama ini Rahma benar-benar melupakan perbincangan yang pernah terjadi antara dirinya dengan Tama. Sebagai wanita yang sudah bersuami dia cukup tahu batasannya.
Tidak peduli seperti apa perasaan yang tumbuh dalam hatinya setelah mengetahui perasaan Tama untuknya, dia tetap berusaha menjaga marwahnya sebagai wanita. Walaupun tidak memungkiri pesona Tama sangat besar pengaruhnya, sebagai wanita dewasa dan normal Rahma pun tidak bisa mengelak dari perasaan kagum terhadap laki-laki itu tapi sekuat hati dan jiwa Rahma menahan rasa itu agar tidak semakin tumbuh.
Biarlah hanya dirinya dan Allah yang tahu, karena terkadang ada rasa yang lebih baik hanya tersimpan dalam hati karena tidak layak untuk diucapkan.
__ADS_1