Belenggu Akad

Belenggu Akad
Adikku Sudah Besar


__ADS_3

Dua orang kakak beradik tengah duduk berdua di sebuah ruangan yang cukup sepi. Setelah terjadi perdebatan antara adik dan suaminya di depan tamu, Rahma memutuskan membawa sang adik ke tempat yang lebih nyaman untuk berbicara berdua memberinya pengertian.


Mau tidak mau kali ini saatnya dia untuk jujur dengan keadaan rumah tangganya yang sebenarnya.


Bughhh......Yusuf meninju dinding ruangan itu, kemarahan yang terpendam membuat dadanya terasa sesak. Marah dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya jika kakak iparnya sudah menikah lagi dan dengan teganya membiarkan sang kakak kandungnya berada di antara kebahagiaan mereka. Kecewa pun dirasakan terhadap kakaknya, dengan santainya dia meladeni keinginan suami dan istri barunya. Padahal Yusuf tahu jika posisi Rahma saat ini sangat menyakitkan.


Rahma menceritakan semuanya pada Yusuf. Setelah apa yang terjadi hari ini dia tidak bisa menyembunyikannya lagi. Rahma tahu betul karakter adik laki-lakinya itu. Jika merasa masih ada kejanggalan dia akan terus mengusutnya sampai tuntas.


"Dek..." pekik Rahma kaget saat mendengar suara dentuman cukup keras, dia semakin kaget saat melihat darah menetes dari punggung tangan Yusuf.


Rahma beranjak dari duduknya, segera merogoh tas selempangnya untuk mengambil tisu. Dia raih tangan kanan sang adik, dengan pelan mengusap darah di tangan sang adik.


"Kenapa teteh diam saja?" ucap Yusuf ketus membiarkan Rahma membersihkan darah di tangannya, dia tidak habis pikir mengapa sang kakak memilih diam dan menerima begitu saja perlakuan suaminya dan keluarganya.


"Dek, setinggi apapun ego seorang perempuan dia tetap tidak akan memikirkan dirinya sendiri" Rahma kembali membuka suara sambil membersihkan darah di tangan sang adik.


"Tapi teh...."


"Dek, bapak sakit. Baru saja beliau melewati masa kritis. Menurutmu apa yang akan terjadi jika mengetahui masalah yang sedang teteh hadapi?" ucap Rahma dengan suara yang lembut,


"Ibu juga punya riwayat jantung. Kamu tahu kan bagaimana dulu ibu sakit ketika calon suami Teh Maya meminta untuk pernikahan mereka dipercepat dan teteh saat itu belum mendapatkan jodoh?" Rahma menggulung tisu yang berlumur darah dan memasukkannya ke dalam tempat sampah kecil yang berada di depan pintu ruangan itu.


"Tolong untuk kali ini bantu teteh dengan bersabar dengan keadaan ini. Teteh juga tidak diam Dek, bermunajat pada Sang Pemilik kehidupan juga selalu teteh lakukan. Teteh serahkan semuanya pada Sang Pemberi Hidup, semoga secepatnya diberikan solusi terbaik"

__ADS_1


"Teteh.....sampai kapan teteh mengorbankan kebahagiaan teteh sendiri? aku tahu sejak dulu teteh selalu mengalah, selalu menuruti keinginan dan harapan ibu dan bapak. Aku tahu teteh tidak pernah membantah mereka, tapi tolong teh kali ini perjuangkan kebahagiaan teteh...." Yusuf benar-benar tidak tahan dengan apa yang dialami kakaknya, dia berkata dengan suara serak karena tak mampu lagi menahan sesuatu yang merangsek ingin keluar dari pelupuk matanya,


"Aa harus tahu ini Teh, Aa pasti bisa berbicara baik-baik sama ibu dan bapak" ujar Yusuf lagi, dia memalingkan wajahnya setelah satu tetes air mata berhasil lolos jatuh di pipinya. Aa yang dimaksud Yusuf adalah kakak pertama mereka.


"Dek, semua orang sedang berjuang. Entah itu untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya ataupun untuk orang-orang yang dia jaga bahagianya" ucap Rahma lembut, dia masih berusaha meredam kemarahan sang adik yang masih terlihat begitu menggebu,


"Ckkk.....hebat banget ya tetehku yang satu ini, paling kuat di depan orang tua dan keluarga. Selalu tertawa dan menampakkan wajah bahagia, padahal bahunya makin berat, hatinya hancur dan aku yakin waktu tidur teteh pun berantakan",


"Dari luar kelihatan utuh padahal dalamnya hilang separuh. Kelihatan tangguh padahal aslinya rapuh. Aku tahu dari dulu setiap ada masalah teteh lebih memilih diam dan menangis sendirian. Teh, aku bukan anak kecil lagi, kali ini tolong dengarkan aku" Yusuf memutar badannya menghadap Rahma, berbicara masih dengan intonasi meninggi.


"Terkadang kebaikan hanya dijadikan permainan untuk orang yang tidak tahu arti ketulusan, mau sampai kapan teteh mau jadi manusia bodoh? Hahh...?" Yusuf mengguncang bahu Rahma, sebagai adik laki-laki dia merasa punya tanggung jawab untuk melindungi dan menjaga kakak perempuannya. Mendengar semua kisah rumah tangga kakaknya dia benar-benar marah pada dirinya sendiri karena merasa tidak mampu melindungi saudara perempuannya.


"Teteh sadar tidak, Kak Angga itu tidak mampu melihat ketulusan yang teteh miliki. Dia laki-laki egois teh. Teteh tahu siapa manusia yang paling jahat, heumm?" Yusuf berbicara berapi-api dan Rahma memilih diam mendengarkan apa yang ingin dikatakan adiknya. Berharap dengan begitu kemarahan adiknya mereda, namun sayangnya Yusuf masih belum puas melampiaskan kemarahannya,


"Teteh......maafkan aku" Yusuf menyadari dirinya sudah lepas kontrol setelah melihat air mata di pipi rahma, dia pun membawa kakaknya itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat seolah simbol jika dirinya siap melindungi Rahma.


Rahma tak lagi mampu menahan sesak di dadanya, akhirnya tangisnya pecah. Kata-kata yang dilontarkan Yusuf mampu mengobrak-abrik perasaan dan pertahanannya. Pelukan sang adik pun mampu membuat Rahma merasa aman untuk menumpahkan semua sesak yang selama ini hanya dipendamnya sendiri.


"Teh, sekarang aku sudah besar. Tolong jangan semuanya teteh pendam sendiri, jadikan aku adik yang berguna teh dengan menjadi tempat teteh berbagi segala duka. Selama ini teteh hanya berbagi suka dan bahagia denganku dengan kami semua, kali ini tolong buat adikmu ini berguna teh" Yusuf pun tidak mampu lagi menahan air matanya, tangisan Rahma terdengar sangat menyayat hatinya. Baru kali ini dia menyaksikan kesedihan Rahma yang begitu dalam terlihat jelas melalui tangisannya yang terdengar pilu menyayat hati.


"Kali ini tolong percaya padaku teh, jangan selalu berlindung di balik senyum dan kata-katamu. Aku tahu, selama ini teteh selalu melampiaskan segalanya dalam tulisan-tulisan teteh, aku ingat betul dengan catatan yang pernah teteh tulis"


"Aku yakin kamu suami yang setia. Suami yang mampu menjaga dirinya ketika aku tidak ada, yang mampu menjaga namaku, membela namaku, dan selalu mengistimewakan hadirku walau kita tak sedang bersama."

__ADS_1


"Dan sekarang aku tahu kalau kalimat itu teteh tulis hanya untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Kenyataannya teteh adalah orang yang paling tahu seperti apa bejadnya suami teteh" Yusuf kembali emosi ketika berbicara tentang kakak iparnya itu,


Suara tangis Rahma semakin terdengar pilu, hati kecilnya mengakui jika semua yang dikatakan sang adik adalah benar. Haru sekaligus bangga, ternyata adik kecil yang dulu paling suka digendong olehnya itu sudah besar.


"Adik kecilku sekarang sudah besar, terima kasih Dek" batin Rahma.


"Yusuf, Kakak bisa jelaskan" Anggara yang sejak tadi berdiri di balik pintu tempat Rahma dan Yusuf mendengar semua perbincangan kedua kakak beradik itu.


Mendengar semua yang dikatakan Yusuf dirinya benar-benar merasa tertampar. Semua perkataan Yusuf adalah kebenaran dan Anggara menyadari itu. Namun hal yang lebih membuat Anggara sangat merasakan kesakitan yang luar biasa adalah ketika mendengar suara tangisan pilu Rahma untuk pertama kalinya.


Anggara tidak menyangka jika di balik sikap tegar dan kuat yang ditunjukkan istrinya tersimpan kesakitan yang luar biasa. Hal itu terdengar jelas dari suara tangisnya yang memilukan.


Yusuf menatap tajam pada kakak iparnya yang baru saja memasuki ruangan tempat mereka berada. Suara tangis Rahma pun seketika terhenti mendengar suara yang tidak asing di telinganya namun dia tetap pada posisinya berada di pelukan Yusuf.


"Lepaskan teteh Kak!" ucap Yusuf tegas dengan sorot mata yang tegas menunjukan jika dirinya akan menjaga dan melindungi kakaknya dari siapapun yang akan mencoba menyakitinya,


"Tidak, Suf. Kakak tidak bisa melepaskan tetehmu, kakak sangat mencintai Rahma" ucap Anggara tanpa malu,


"Kalau Kak Angga benar-benar mencintai teteh, tolong lepaskan teteh dan biarkan dia bahagia. Teh Rahma berhak untuk itu Kak, bukankah kakak sudah memiliki pengganti yang jauh lebih segalanya dari teteh? itupun menurut kakak" Yusuf memohon dengan nada mengiba namun nada bicaranya kembali berubah ketus saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Tidak Suf, aku sadar Rahma adalah yang terbaik" balas Anggara,


"Ckkk..." Yusuf berdecak kesal mendengar apanya dikatakan Anggara.

__ADS_1


"Sayangnya kakak terlambat menyadarinya" timpal Yusuf telak membuat Anggara tak lagi mampu berkutik.


__ADS_2