Belenggu Akad

Belenggu Akad
Cemburu


__ADS_3

Setelah menghabiskan makan siang dan bercengkrama dengan kedua orang tua Tama, Rahma memutuskan untuk berpamitan terlebih dahulu karena dia harus menjemput Athaya dan kembali ke toko. Dengan berat hati Bu Hakim pun melepas calon menantu kesayangannya itu.


"Kalau begitu saya pamit, Assalamu'alaikum" Rahma mencium tangan kedua orang tua Tama dengan takzim, tidak lupa dia pun bercipika cipiki dengan Bu Hakim yang sempat memeluknya erat, mengapresiasikan kebahagiaannya karena akan segera memiliki menantu.


Tama yang sejak kembali dari toilet tidak banyak bicara, kini pun diam menunggu Rahma yang sedang mengobrol tidak jauh dari mobilnya terparkir. Saat akan menuju parkiran Rahma bertemu dengan seorang wanita yang katanya adalah salah satu teman mengajarnya.


"Maaf harus menunggu" Rahma memasuki mobil, aura dingin langsung menyergap hatinya setelah memasuki mobil itu karena seseorang yang duduk di balik kemudi masih menunjukan sikap dinginnya.


Selama sepuluh menit perjalanan, tidak ada satu pun yang bersuara di antara mereka. Tama masih mengikuti hatinya yang disergap cemburu saat melihat kebersamaan Rahma dengan Anggara. Sementara Rahma pun sedang menguji sampai dimana Tama akan mendiamkannya.


Dua puluh menit berlalu, saat melewati jalanan yang tidak terlalu ramai Tama mendadak menghentikan mobilnya membuat Rahma pun heran.


Setelah mobil itu berhenti di pinggir jalan, Tama merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Dia tampak akan menghubungi seseorang.


"Wa'alaikumsalam" ucapnya, dia sudah terhubung dengan orang yang diteleponnya.


"Kamu tolong hubungi Guru Athaya, bilang kalau Bundanya akan terlambat menjemput. Tolong jaga dia, pastikan dia baik-baik saja dan tidak kurang satu apapun." perintah dengan nada yang tidak mungkin akan mendapat bantahan membuat Rahma yang mendengar juga melihat langsung bagaimana Tama memberi perintah itu hanya bisa melongo dibuatnya.


"Oke, terima kasih. Wa'alaikumsalam" pungkas Tama mengakhiri sambungan teleponnya.


"Mas, kenapa kita..."


"Ada yang mau kamu jelaskan?" pertanyaan Rahma langsung dijegal oleh Tama dengan nada interogasi dan tatapan dalam.


"Maksud Mas?" Rahma berpura-pura tidak mengerti padahal dia sudah tahu kemana arah pertanyaan Tama.


"Pertemuanmu dengan mantan suamimu" jawab Tama to the point dengan tatapan yang masih tajam.


"Belum" jawab Rahma santai,


"Belum?" Tama mengerutkan keningnya,


"Bukannya aku tidak akan bercerita, tapi belum sempat" jelas Rahma dengan senyum terkulum karena melihat Tama yang menatapnya dengan tatapan berbeda.


"Kenapa?" tanya Tama gemas sendiri melihat tingkah Rahma, namun dia masih bertahan dengan wajah datarnya.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa kamu malah tersenyum kaya gitu?"


"Siapa yang senyum?" Rahma berkilah, dia semakin tak kuasa menahan tawanya.


"Tuh kan, malah tertawa" Tama semakin gemas dibuatnya,

__ADS_1


"Kalau mau tertawa, tertawa aja. Kenapa harus ditahan begitu?" ucapnya lagi,


"Beneran?" tanya Rahma dengan mata berbinar, dia sebenarnya sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Dari tingkah dan ucapan Tama, Rahma yakin jika calon suaminya itu cemburu.


"Hahaha......" tawa Rahma pun meledak saat Tama menganggukan kepalanya.


Bukannya marah melihat Rahma tertawa lepas seperti saat ini, Tama justru terpana dengan calon istrinya itu yang terlihat semakin cantik saat tertawa lepas seperti itu. Ini adalah kali pertama Tama menyaksikan Rahma begitu terlihat bahagia, pemandangan indah yang ada di hadapannya sungguh tidak dia sia-siakan begitu saja.


"Upss....maaf" Rahma seketika menghentikan tawanya, dia menutup mulut dengan tangan kanannya saat tersadar jika dirinya lepas kendali.


"Maaf" ulangnya lagi, Rahma menjadi tidak enak hati karena melihat Tama hanya diam menatapnya,


"Maafkan aku Mas, bukan maksud menertawakan kamu. Aku hanya merasa kamu sedang cemburu dan itu terlihat lucu buatku. Sekali lagi maafkan sikapku yang kurang berkenan" Rahma mulai berbicara serius, dia sadar sudah berlebihan bersikap. Walau bagaimanapun mereka belum dekat, pasti perlu adaptasi untuk saling lebih mengenal, memahami dan mengerti diri masing-masing.


"Aku akan bercerita tentang pertemuanku dengan Mas Anggara" Rahma menarik nafas dalam untuk mengisi paru-parunya, dia seperti akan mempresentasikan menu baru di hadapan calon kliennya.


"Mas Anggara....." Rahma pun menceritakan semua yang terjadi selama pertemuan dirinya dengan Anggara, tidak ada satupun yang dia lewatkan. Walau bagaimana pun, hubungan yang akan dibinanya bersama Tama kelak bukanlah hubungan biasa. Maka sudah seharusnya dia mengawalinya dengan kejujuran, agar tidak menimbulkan kesalahfahaman di masa mendatang.


Tama tak pernah mengalihkan pandangannya sedetik pun, dia bahkan tak mengubah posisinya sama sekali. Fokus pada Rahma, ya...Tama hanya fokus pada bibir yang sedang bergerak mengucapkan setiap kata dengan intonasi serius itu, dia sepertinya tidak terlalu mendengarkan karena sebenarnya sudah mendengar langsung obrolan mantan pasangan itu.


"Sekarang terserah Mas Tama, mau berpikir kembali, silahkan. Aku akan menghargai keputusanmu, apapun itu. Inilah resiko menikahi orang yang bercerai hidup, bayang-bayang mantan pasti akan selalu hadir. Apalagi kami dihubungkan oleh Athaya, walau bagaimanapun Mas Angga adalah ayahnya. Maaf jika aku tidak bisa memutuskan hubungan dengannya begitu saja. Meskipun demikian, selama ini aku cukup tahu diri kapan waktunya kami harus berkomunikasi" Rahma yang berbicara sambil menatap lurus ke depan kini menoleh ke samping, dia memberanikan diri menatap mata yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tak mampu diartikannya,


"Kenapa? butuh waktu untuk berpikir dan memutuskan?" Tama yang kunjung merespon kini kembali mendapat pertanyaan dari Rahma,


Klik...terdengar suara pintu mobil terkunci, Rahma pun kembali menoleh ke arah Tama. Menghentikan aksinya yang berusaha membuka pintu mobil.


"Mau kemana?" tanya Tama santai,


"Aku harus menjemput Athaya, tolong buka pintunya" pinta Rahma dengan suara datar,


"Tidak mau" jawab Tama semakin memancing emosi Rahma,


"Lalu apa mau mu?" tanya Rahma akhirnya, dia kembali menyandarkan tubuhnya dan menatap lurus ke depan,


"Aku mau segera menghalalkan kamu, aku tidak sabar. Bisa tidak kita percepat pernikahan kita jadi minggu depan atau kalau bisa besok juga lebih baik" dari rentetan penjelasan Rahma yang dirasa panjang kali lebar, ternyata respon Tama hanya itu. Dia langsung pada inti yang justru di luar pembahasan mereka saat ini.


"Mas..." Rahma membulatkan matanya,


"Kenapa kaget gitu? kamu meminta aku untuk berpikir kembali kan? Jadi setelah aku pikir-pikir sebaiknya rencana pernikahan kita dipercepat agar aku bisa dengan leluasa menjaga kamu dan Athaya" jelas Tama dengan sorot mata penuh harap,


"Heummmh.... Aku memintamu agar berpikir ulang untuk menikahiku. Aku tidak mau ada penyesalan yang kamu rasakan setelah kita menikah. Walau bagaimana pun pasti keadaannya akan berbeda ketika kamu menikahi seorang janda yang sudah mempunyai anak dengan menikahi seorang gadis. Apalagi aku adalah janda cerai hidup, sudah pasti masih akan berhubungan dengan mantan suami karena ada anak di antara kami. Tolong pikirkan lagi, aku tidak mau kamu bersikap seperti tadi, membuatku menyimpulkan jika kamu menyesal dengan keputusanmu untuk menikah denganku." Rahma masih belum keluar dari mode serius dan wajah datarnya, apa yang Tama katakan sama sekali tidak merubah moodnya, bahkan panggilan aku kamu pun kini berlaku bagi Rahma membuat Tama sedikit bergidik tidak menyangka sikap Rahma akan berubah seratus delapan puluh derajat dalam tempo yang cukup singkat.


"Sayang, bukan begitu maksudku" Tama kelabakan sendiri melihat perubahan sikap Rahma, niatnya untuk menggoda pun kini buyar sudah.

__ADS_1


"Lalu apa?" tanya Rahma masih dengan nada ketus,


"Aku hanya cemburu sayang, aku cemburu melihat kamu bersama dengan dia. Apalagi dari pembicaraan dan tatapan matanya aku yakin dia masih sangat mencintai dan mengharapkanmu" Tama akhirnya berkata jujur,


"Jadi mas melihat kami bersama?" sontak Rahma meninggikan intonasi bicaranya dan dijawab anggukan cepat oleh Tama,


"Mas juga mendengar pembicaraan kami?" tanya Rahma lagi masih dengan intonasi yang sama,


"Iya" Tama kembali mengangguk cepat, wajahnya bahkan berubah penuh kekhawatiran melihat reaksi Rahma,


"Lalu kenapa tidak menghampiri kami?"


"Karena aku takut mengganggu kalian berdua, mungkin apa yang kalian bicarakan adalah hal yang privasi. Apalagi saat ini aku masih bukan siapa-siapa kamu secara resmi. Makanya aku ingin segera menghalalkanmu" kali ini Tama pun berbicara tegas,


"Lalu kalau mas sudah mendengar pembicaraan kami, mas sudah tahu dong jawaban apa yang aku berikan pada mas Anggara?" kali ini balik Rahma yang menginterogasi,


"Iya, aku sudah tahu, aku mendengarnya sendiri" jawab Tama masih dengan wajah khawatir,


"Terus kenapa dari tadi diam saja? Apalagi tadi ada mama dan papa, apa yang mereka pikirkan dengan perubahan sikap kamu mas?" Rahma pun mengungkapkan kekhawatirannya, dia khawatir kedua orang tua Tama salah faham.


"Karena aku cemburu, saat itu aku ingin sekali memelukmu dan tidak pernah melepaskanmu. Akan aku dekap kamu dan tidak pernah aku lepaskan" jawaban Tama yang kekanak-kanakan membuat Rahma membuang nafasnya kasar. Dia benar-benar dibuat kesal dengan tingkah calon suaminya itu.


"Maaf..." kali ini Tama merengek, dia bahkan mengerjapkan matanya agar Rahma kembali mau tersenyum.


"Mas, mas....kamu ini ada-ada saja, kita bukan lagi anak remaja yang kalau ada masalah diam-diaman gitu" ujar Rahma masih dengan nada kesalnya,


"Iya, maaf. Janji lain kali tidak akan terulang lagi. Makanya buruan kita nikah, biar aku lebih leluasa menjaga kamu" Tama kembali merajuk dengan keinginannya, lagi-lagi solusi itu yang ditawarkannya.


"Dua minggu lagi mas, sebentar lagi. Lagian persiapannya juga belum selesai" Rahma geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan Tama, dia tidak menyangka jika Tama lucu juga saat merajuk. Sisi lain seorang Pratama Ardhan yang baru Rahma ketahui.


"Tapi aku gak sabar" rajuk Tama lagi,


"Ini waktunya untuk kita semakin saling memantaskan mas, semoga Allah mudahkan semua urusan kita" ucap Rahma lembut, dia sudah kembali ke mode normal.


"Iya sayang, maafkan aku" blusshh....panggilan sayang yang Tama sematkan untuknya kali ini kembali membuat pipi Rahma merona,


"Mas, ada yang perlu kamu ketahui" Rahma merubah posisi duduknya jadi berhadapan dengan Tama,


"Ketika seorang perempuan, salah satunya aku, sudah menjatuhkan hati pada satu nama, maka dia telah menimbang ribuan kali sebelum menerima rasa. Terkadang dia menjadi bodoh hanya karena cinta, dengan polosnya dia tulus mencintai meski terkadang tidak ditakdirkan untuk bersama, aku sudah mengalaminya. Dan sekarang setelah kembali menimbang ribuan kali, memohon petunjuk dan berserah diri pada sang Pembolak-balik Hati, aku kembali menjatuhkan hatiku pada satu nama. Dan kamu tahu, jika namamulah yang menjadi pilihanku, jadi jangan pernah mengecewakan ketulusanku"


"Beberapa tahun yang lalu, aku hampir dibuat menyerah oleh keadaan Mas.Tapi untunglah dibuat pantang menyerah oleh impian, kehadiran Athaya dan segala harapanku untuknya menjadi amunisi untukku kembali mengeksekusi visi hidupku. Hingga akhirnya dirimu hadir dan menggoyahkan benteng yang sudah aku bangun tinggi dalam hatiku" Rahma menundukkan kepalanya, bulir bening jatuh membasahi pipinya.


"Sayang....rasanya aku ingin sekali memelukmu saat ini" ucap Tama sontak membuat Rahma mendongakkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2