
Sebuah ruangan sudah didekorasi indah sesuai konsep pesta yang diusung yaitu keluarga. Semua fasilitas yang tersedia juga sangat cocok untuk semua usia, area makan keluarga besar dibuat lesehan, tidak jauh dari sana fasilitas karaoke juga tersedia selain itu di pojok ruangan tersedia juga area bermain anak yang tentunya aman dan nyaman.
Rahma hanya bisa bengong ketika memasuki ruangan itu. Dia dan Tama dituntun sang putra yang meminta turun dari gendongan sang papi saat mereka akan berbelok ke restoran hotel tempat mereka menginap.
Sesuai arahan uwa dan tantenya Athaya justru mengarahkan kedua orang tuanya ke arah yang berlawanan dengan restoran hotel.
"Kita mau kemana sayang?" pertanyaan yang langsung terucap tidak sabar dari Rahma, dia hanya memanyunkan bibir saat sang putra hanya menggelengkan kepala dengan mata yang dipejamkan, tidak mau memberi tahu sang bunda kejutan yang sudah disiapkan untuk pengantin baru itu.
"Assalamu'alaikum" teriak Athaya, dia langsung membuka pintu sebuah ruangan yang Tama ketahui jika itu adalah room yang biasa dijadikan rapat internal staf direksi.
Gelap, suasana ruangan itu tampak gelap. Tidak ada jawaban dari ucapan salam yang dilayangkan Athaya membuat bocah itu pun kembali mendur beberapa langkah.
"Kenapa ke sini sayang?" tanya Tama yang langsung mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra yang tampak kaget dan sedikit ketakutan karena memasuki ruangan yang gelap gulita.
"Tadi kata ateu Maya...." ucapan Athaya langsung terhenti saat tiba-tiba lampu ruangan itu menyala dan suara riuh menyambut mereka langsung menggema.
"Wa'alaikumsalam" kompak semua orang menjawab, seluruh anggota keluarga dan sahabat-sahabat sudah siap dengan kostum santai namun pas untuk pesta yang berkonsep keluarga itu.
Dan di sinilah sekarang mereka berada, sebuah ruangan yang sudah disulap menjadi indah dan intim. Arga dan kawan-kawan menjadi inisiator acara ini. Sebagai sahabat yang sudah lama mengarungi kebersamaan dalam suka dan duka mereka tentu ingin memberikan momen yang tidak terlupakan atas pernikahan sahabat mereka itu.
"Sebuah lagu kami persembahkan khusus untuk pengantin yang baru saja belah duren...." gelak tawa kembali menggema mengisi setiap sudut ruangan, Arga sudah berada di area panggung untuk menyanyikan sebuah lagu yang khusus dipersembahkan untuk kedua pengantin.
Aku takkan pernah berhenti
Mencintaimu sampai aku mati
Aku akan selalu setia
Menemanimu setiap waktu
Tama dan Rahma masih terlihat kaget sekaligus bahagia mendapat kejutan indah di pagi menuju siang ini. Sarapan yang seharusnya sudah dilakukan sejak sejam yang lalu pun kini mulai dinikmati sebagian orang yang ada di sana.
__ADS_1
Athaya menjadi yang paling heboh, dia benar-benar bahagia kini sudah memiliki orang tua lengkap yang akan selalu membersamainya.
Tama menghentikan gerakannya saat hendak duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya dan Rahma. Dia terlihat memikirkan sesuatu, seperti sedang mengingat-ingat.
"Sayang, tunggu di sini" ucap Rahma, sekilas mencium pelipis sang istri yang sudah duduk berhadapan dengan kedua mertua dan kakaknya.
"Mas, mau kemana?" tanya Rahma refleks, dan hanya mendapat kedipan mata dari Tama yang berlalu menuju tempat Arga yang sedang berdiri sambil memegang mic menikmati alunan musik lagu yang sedang dinyanyikannya.
Rahma pun mengikuti kemana suaminya melangkah dengan pandangannya. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat Tama mengambil alih mic yang sedang dipegang Arga.
"Ini harusnya lagu gue buat istri gue" ketus Tama yang menatap tajam ke arah Arga yang hanya tersenyum usil.
Aku takkan pernah berhenti
Mencintaimu sampai aku mati
Aku akan selalu setia
Menemanimu setiap waktu
Suara Tama yang memang merdu langsung menghipnotis semua orang yang ada di sana, senyum bahagia terlihat di wajah setiap.orang saat Tama menyanyikan lagu itu dengan tatapan tertuju pada istrinya.
"Lagu ini mewakili isi hatiku untuk istriku tercinta, Naura Rahmania" ucap Tama tanpa ragu, tatapannya hanya fokus pada Rahma yang kemudian menunduk malu karena menjadi pusat perhatian semua orang.
"Hore, Bunda I love you" dengan lantang Athaya berteriak, membuat semua orang tertawa karena tingkahnya. Dia terlihat sangat bahagia melihat perlakuan sang ayah sambung terhadap bundanya.
Tak pernah terpikir olehku
Untuk mengkhianati cintamu
Engkau satu-satunya wanita
__ADS_1
Yang selalu aku rindu
Tama berjalan ke arah Rahma, dia mengulurkan tangannya meminta Rahma agar berdiri, namun Rahma hanya diam saja dia menggelengkan kepalanya kemudian menatap sekeliling yang ternyata tatapan semuanya sedang tertuju padanya.
"Ayo Teh, nyanyi, keluarkan suara emasnya." Maya berteriak, meminta sang kakak agar bernyanyi, dia tahu jika kakaknya memiliki bakat dalam dunia tarik suara.
"Maju Naw Naw...tunjukkan aksimu" teriak Lisna yang sedang menikmati sarapannya bersama Regy di meja paling pojok tak kalah menjadi pusat perhatian. Dia sampai menghentikan sejenak makannya dan berdiri meneriaki Rahma.
Sayang aku takkan pernah
Pergi meninggalkanmu
Aku bernafas untukmu
Percayalah padaku
Tama kembali bernyanyi, dia mengarahkan mic ke hadapan Rahma namun Rahma menggelengkan kepala. Akhirnya dia hanya bernyanyi sendiri sembari satu tangan tetap melingkar di pinggang ramping sang istri yang tidak dibiarkan menjauh sejengkal pun darinya.
Sayang aku akan selalu
Membuatmu bahagia
Aku bernafas untukmu
Duhai kekasihku
O uh
Nyanyian kembali diulang, Tama begitu menghayati setiap kata dalam lagu itu. Semua kata yang diucapkannya melalui lagu itu seolah mewakili isi hatinya yang sangat mencintai dan menyayangi Rahma.
Sementara Rahma, senyum bahagia terus menghiasi wajah cantiknya pagi ini. Aura bahagia jelas terpancar dari wajahnya, semua bahagia, tidak hanya saudara namun juga para sahabat yang selama ini mengetahui perjuangan Rahma dalam menapaki takdir kehidupannya. Semua sepakat, jika apa yang didapatkan Rahma saat ini adalah hadiah dari semesta atas buah dari kesabarannya yang tanpa tepi dan keikhlasannya yang tanpa tapi.
__ADS_1