
"Bunda....lets go...." pekik Athaya bersemangat, membuyarkan fokus Rahma yang tampak memegang erat kemudi dengan nafas yang belum teratur. Dia sedang menetralkan rasa di hatinya, kata-kaya Tama dengan jarak yang begitu dekat berhasil membuat jantungnya berdetak kencang.
"I...iya..sayang, ayo kita berangkat" jawab Rahma terbata karena merasa terciduk sedang memikirkan sesuatu yang membuat hatinya bergemuruh.
"Gimana semuanya sudah siap? aman kan?" suara Lisna di samping jendela mobil kembali membuat Rahma terkaget,
"Ishhh...kamu, bikin kaget saja" umpat Rahma dengan wajah memerah,
"Kenapa? kamu kenapa? emang lagi mikirin apa aku datang langsung kaget gitu?" tanya Lisna semakin menggoda Rahma, dia tahu jika tadi sempat terlihat sahabatnya itu mengobrol dengan Tama.
"Enggak!" jawab Rahma dengan cepat, menghindari kecurigaan sahabatnya yang pasti akan terus menggodanya.
"Cieee......ayo ngaku ada apa? pasti ada something with someone, ya kan?" Lisna semakin mendekatkan wajahnya ke arah Rahma, dia sedikit menunduk mencermati wajah sahabatnya yang semakin memerah.
"Bunda...let's go" Athaya yang melihat perbincangan Bundanya dengan Lisna semakin menjalar kemana-mana kembali mengajak sang bunda untuk segera pergi. Dia sudah ingin segera sampai di objek wisata gunung Papandayan, semalam dia bervideo call dengan si kembar putra dan putri Shanum dan Akhtar. Mereka berdua menceritakan keseruan di objek wisata gunung Papandayan karena pernah beberapa kali berkunjung ke sana.
"Iya sayang kita pergi sekarang" ujar Rahma, dia membenarkan posisi duduknya dan menghidupkan mobilnya.
"Maaf boy, tante introgasi dulu bunda kamu" sahut Lisna sambil terkekeh melihat Athaya merajuk ingin segera pergi.
"Yakin kan bawa mobil sendiri ke sana?" Lisna kembali beralih pada Rahma, dia mengungkapkan kekhawatirannya karena belumnya sahabatnya itu belum pernah ke sana.
"Insya Allah, kan sekarang mau nyoba" jawab Rahma santai.
"Oke, kalau begitu aku masuk mobil ya" Lisna pun pamit menuju mobilnya. Regy sudah menunggu dan melambaikan tangan ke arah mereka.
"Enggak apa-apa kan kalian pergi berdua?" Tama yang baru selesai berbincang dengan Regy kembali menghampiri, dia benar-benar khawatir setelah mengetahui jika sebelumnya Rahma belum pernah mengunjungi tempat itu membawa mobil sendiri.
Jalur perjalanan yang cukup menantang menuju gunung papandayan membuat Tama ragu membiarkan Rahma membawa mobil sendiri. Andai saja klien yang akan ditemuinya bukan klien penting yang sudah membuat janji temu jauh-jauh hari dan dia terlanjur menyanggupi mungkin Tama akan lebih memilih untuk memercayakan pertemuan itu pada sang asisten dan dia akan membersamai Rahma berwisata.
"Insya Allah Pak" jawab Rahma singkat tanpa menatap Tama yang menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Bismillah...." gumam Rahma,
"Permisi Pak, Assalamu'alaikum" ucap Rahma pamit, dia mengikuti mobil Regy yang sudah lebih dulu melaju meninggalkan pelataran villa itu.
"Daah Omm...." teriak Athaya melambaikan tangannya,
"Wa'alaikumsalam, hati-hati boy, jaga bunda ya" balas Tama yang dijawab anggukan oleh Athaya dengan senyum mengembang menghiasi wajahnya. Mereka pun meninggalkan Tama yang masih berdiri membeku, ada perasaan tidak rela harus melepas wanita pujaan hatinya itu berkendara seorang diri.
☘️☘️☘️
Menyusuri jalanan Kabupaten Garut yang memiliki cukup banyak gunung, sejauh mata memandang kota dodol ini dikelilingi oleh gugusan bukit dan juga pegunungan. Beberapa gunung di Garut sering dijadikan destinasi wisata bahkan tujuan hiking bagi para pecinta alam. Gunung Papandayan menjadi salah satu gunung yang sangat populer, dan legendaris di Kabupaten Garut. Bahkan Gunung Papandayan pernah dijadikan lokasi syuting film.
Dari pusat kota Garut tinggal menuju ke arah Cisurupan, dan merupakan arah yang sama ketika hendak menuju Pantai Santolo dan pantai lainnya di kawasan Garut Selatan yang akan menjadi destinasi wisata yang akan dikunjungi Rahma selanjutnya. Dia benar-benar ingin mengekplore Garut dalam seminggu liburannya kali ini.
__ADS_1
Athaya bernyanyi riang mengikuti lagu kesukaannya yang diputar sang bunda, setelah memperdengarkan murottal Muhammad Thaha Al-Ghamidi versi anak, Rahma mengalihkan pemutar musik di mobilnya dengan lagu anak-anak. Athaya pun sesekali bertanya tentang apa yang dilihatnya sepanjang jalan.
"Bunda, berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Athaya tidak sabar, dia benar-benar penasaran dengan objek wisata yang satu itu setelah mendengar cerita si kembar.
"Tidak lama lagi sayang, sabar ya" jawab Rahma,
Dapat dibilang berwisata di Taman Wisata Alam Gunung Papandayan cukup lengkap, mata kita akan dimanjakan dengan berbagai pemandangan alama yang sangat indah, apalagi saat ini semuanya sudah tertata dengan sangat baik. Tidak hanya Athaya, Rahma pun sangat merindukan tempat itu. Taman Edelweiss adalah salah satu tempat yang ingin dikunjungi Rahma saat ini, dulu dia pernah mengunjungi taman itu saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Selain itu Pondok Saladah, Hutan Mati dan Kawah Papandayan menjadi objek alam yang akan semakin membuat betah para wisatawan untuk menikmati dinginnya udara Garut di sana.
Rahma melajukan mobilnya perlahan, setelah bertemu dengan Shanum dan keluarganya di titik kumpul yang sudah mereka sepakati. Kini empat buah mobil berjalan beriringan menuju daerah Cisurupan yang merupakan kecamatan tempat Gunung Papandayan berada.
Akses jalannya sudah bagus, hanya saja sedikit curam. Rahma sudah memastikan kendaraan yang digunakan dalam kondisi prima. Yusuf sudah membawanya terlebih dahulu ke bengkel sebelum mereka berangkat ke Garut.
Kurang dari tiga jam perjalanan mereka sudah sampai. Semua bernafas lega karena kini sudah sampai di area parkir papandayan. Kekhawatiran semua orang karena Rahma menyetir sendiri akhirnya hilang sudah, semua berucap syukur sudah sampai dengan selamat di tempat tujuan.
"Alhamdulillah.....akhirnya kita sampai di sini" Shanum memulai percakapan, mereka baru saja turun dari mobil masing-masing.
"Iya Teh Alhamdulillah, aku senang akhirnya kesampaian juga ke tempat ini.." balas Rahma dengan senyum bahagia,
"Aku deg degan tahu tadi pas jalan nanjak, makanya bilang ke Mas Regy buat tetep di belakang kamu" Lisna yang baru bergabung pun tersenyum lega melihat sahabatnya berhasil melalui jalanan yang cukup curam.
"Alhamdulillah, aku juga tenang soalnya banyak bodyguard" ujar Rahma dengan diakhiri gelak tawa semua.
Fasilitas yang ada di sekitar Taman Wisata Alam Gunung Papandayan sudah sangat lengkap. Area parkir yang luas, toilet, warung-warung makanan dan minuman, Mushola, penginapan, menara pandang dan gazebo.
Akhtar, suami dari Shanum sudah membooking penginapan untuk mereka. Rencananya mereka akan menginap dua hari di sana sampai Rabu siang.
Kumandang adzan dzuhur bertepatan dengan selesainya mereka membereskan barang-barang ke penginapan. Setelah shalat akan dilanjutkan dengan makan siang dan setelahnya barulah memulai petualangan mengeksplore Gunung Papandayan.
"Bunda, Thaya shalat sama Kakang ya ke Mushola bawah" Kakang adalah panggilan untuk putra Shanum, Athaya sudah siap dengan pakaian koko dan sarung celana yang disiapkan Rahma untuk shalat. Perawakannya yang tegap tinggi membuat dia tidak terlihat seperti anak usia lima tahun pada umumnya. Sepertinya perawakan Anggara sang ayah yang memang mantan seorang polisi benar-benar tumpah padanya.
"Mau Bunda antar?" tanya Rahma memastikan,
"Tidak usah Bunda, Kakang sudah menunggu di depan" jawab Athaya pasti, dia pun meraih tangan sang Bunda yang masih basah karena baru keluar dari kamar mandi untuk berwudhu, dan menciumnya. Rahma tersenyum, selalu putranya itu membuat hatinya terharu dengan perilaku manisnya. Dia pun membenarkan kopiah yang dipakai Athaya sebelum putranya itu keluar dari kamar.
"Masya Allah, tabarakallah. Semoga istiqamah ya Nak" ucap Rahma penuh harap, dan di balas senyuman manis Athaya.
Tempat pertama yang akan dituju oleh Rahma dan rombongan adalah Taman Edelwise. Untuk menuju Taman Edelweiss dari lokasi parkir mobil dengan menuju ke arah kiri, sesuai dengan namanya taman ini memiliki sebuah spot yang penuh dengan bunga keabadian dan sering dijadikan tempat untuk berfoto.
Selain indah, di taman ini juga terdapat beberapa penginapan dan tempat untuk mendirikan tenda. Fasilitas di sekitar Taman Edelweiss juga lengkap, mulai dari toilet hingga gazebo. Berkeliling di sekitar Taman Edelweiss bikin hati jadi adem, bunga-bunga yang cantik ditemani udara yang dingin khas pegunungan.
"Sayang, ayo kita kembali" teriak Rahma melambaikan tangan pada Athaya yang masih berfoto ria dengan teman-teman barunya. Karena hari mulai berkabut, mereka memutuskan untuk berenang.
Tak jauh dari Taman Edelweis terdapat area untuk berenang, suhunya panas dan airnya berasal langsung dari pegunungan. Anak-anak sangat senang berenang disini, meski panas tapi nggak begitu berasa karena udara di Taman Wisata Alam Gunung Papandayan ini cukup dingin.
__ADS_1
Kolam renangnya cukup luas dan terdapat dua jenis, yakni kolam anak dan juga kolam dewasa. Airnya mengandung belerang yang cukup tinggi, sehingga dipercaya bahwa dengan berendam di kolamnya dapat mengobati penyakit kulit dan berbagai penyakit lainnya.
Di sekitar kolam renang Taman Wisata Alam Papandayan terdapat beberapa gazebo yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk bersantai atau hanya sekedar menyimpan barang bawaan. Berenang di sini merupakan pengalaman yang memorable banget, latarnya itu amazing banget. So, Rahma pun nggak mau ketinggalan momen indah itu dengan mengabadikannya dalam sebuah potret berupa foto. Dia lebih memilih menjadi fotografer sambil mengawasi sang putra yang sedang berenang.
"Alhamdulillah ya Allah...." gumam Rahma penuh syukur, membawa Athaya ke tempat ini adalah kebahagiaan yang tak terhingga untuk sang putra. Dua hari ke depan dia akan berada di sana, untunglah ada teman yang menemaninya. Dia dan Shanum sudah sepakat akan mengeksplore Garut seminggu ini, dan tak disangka ternyata pengantin baru pun juga memilih mengikuti rencana mereka ketimbang bulan madu berdua.
Di benak Rahma sudah tersusun rencana untuk esok hari, dia akan mengajak Athaya mengeksplore Kawah Papandayan. Untuk menuju Kawah Papandayan harus melakukan tracking terlebih dahulu, jalur pendakian Gunung Papandayan sudah bagus dan tertata dengan rapih. Dia tinggal menyusuri jalurnya saja, bahkan jika Athaya capek tracking dia akan mengajaknya naik ojeg yang memang sudah tersedia dari gerbang masuk jalur tracking.
Kawah Papandayan menjadi tujuan utama para wisatawan yang tidak camping, merupakan kebanggaan tersendiri jika kita bisa sampai di area kawah.
Selain itu, Hutan Mati pun akan menjadi tujuannya esok hari. Jika masih kuat melangkah, dia berencana akan meneruskan perjalanan menuju hutan mati. Semakin mendekati hutan mati, jalurnya semakin menantang dan cukup curam.
Hutan mati merupakan kawasan hutan yang sudah lama mati karena letusan Gunung Papandayan yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu. Sehingga menghasilkan pemandangan yang tak biasa, dan menjadikannya sebagai salah satu spot berfoto oleh para pengunjung Taman Wisata Alam Papandayan.
Tempat lain yang akan dikunjungi Rahma dan Athaya masih di area wisata alam gunung Papandayan adalah Pondok Saladah. Lokasi Pondok Saladah tak begitu jauh dari Hutan Mati, dan merupakan spot utama bagi mereka yang ingin camping. Fasilitas di sekitar camping ground ini cukup lengkap, warung dan toilet sudah tersedia.
Selain itu, juga terdapat padang edelweiss Tegal Alun yang merupakan salah satu padang edelweiss terluas di Indonesia. Di sana kita bisa melihat pemandangan yang cukup unik; bentangan edelweiss yang luas sekali.
Udara dingin semakin menyapa, makan malam sambil mengelilingi api unggun di samping villa adalah momen kebersamaan yang tidak akan terlupakan juga. Canda tawa menghiasi kebersamaan mereka. Tidak lupa alunan petikan gitar menjadi pelengkap, Athaya bahkan menjadi pusat perhatian karena ternyata dia pandai menyanyi dengan suaranya yang cukup merdu.
"Keren....." pujian dan riuh tepuk tangan mengapresiasi penampilan Athaya malam itu.
"Bagus banget suaranya" puji Shanum untuk Athaya,
"Bundanya juga memang biduan Teh, tapi biduan kamar kost..haha...." ledek Lisna menggoda Rahma yang hanya tersenyum menanggapi, tawa pun semakin membuat ramai kebersamaan kita.
Malam pun merangkak naik, masing-masing sudah berada di kamarnya. Suasana dingin semakin terasa. Rahma memakai jaketnya, dia berniat membuat teh hangat untuk sedikit mengusir hawa dinginnya. Dari kejauhan terdengar suara orang-orang yang bernyanyi. Suasana perkemahan di area itu sedang tampak ramai membuat Rahma tertarik untuk keluar menikmati langit malam.
"Enggak takut sendirian?" suara seseorang yang tiba-tiba membuat Rahma terlonjak, dia tengah menikmati secangkir teh di teras yang menghadap lapangan yang terdapat banyak tenda di sana, dengan kerlap kerlip lampu yang sangat indah.
"Astaghfirullah" pekik Rahma sambil memegangi dadanya, dia menoleh ke sumber suara dan langsung membulatkan mata melihat siapa yang berdiri di sampingnya,
"Pak Tama!" serunya tak percaya,
" Iya, ini aku. Aku datang, kamu merindukanku?" goda Tama dengan senyum menyeringai. Akhir-akhir ini mode gombalnya kembali hadir setelah beberapa tahun membeku.
"Ishhhh...." Rahma mendelik mendengar gombalan Tama, membuat laki-laki itu tergelak.
"Bapak kenapa ada di sini?" tanya Rahma penasaran,
"Beneran kamu enggak takut sendiri? padahal aku jauh-jauh datang untuk menemani kamu Bahkan aku sudah siap menemani hidup kamu" Tama balik bertanya dengan wajah lesu, dia mengabaikan pertanyaan Rahma dan memilih duduk di kursi kosong berdampingan dengan Rahma dan hanya terhalang meja bundar kecil di antara mereka dengan pandangan terus mengarah pada Rahma.
"Aku eggak takut sendiri, cuman sekarang lebih takut kalau salah orang lagi" balas Rahma diakhiri kekehan, bermaksud membalas joke Tama, namun sontak kata-kata itu membuat Tama menegakkan tubuhnya,
"Kali ini kamu bersama orang yang tepat. Asal kamu tahu, sampai saat ini kamu adalah bagian terbaik dalam hidupku yang tidak bisa aku lupakan" ucap Tama membuat Rahma menoleh dan tatapan mereka pun bertemu.
__ADS_1