Belenggu Akad

Belenggu Akad
Pengakuan


__ADS_3

Rahma tertunduk lesu, duduk di salah satu kursi yang berada di ruang perpustakaan. Keadaan ruangan itu tampak sepi karena semua siswa dan guru sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Hanya ada satu petugas perpustakaan yang stand bye di meja resepsionis depan, mempersilahkan setiap pengunjung untuk mengisi daftar hadir terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan itu.


Jam mengajar Rahma selesai pukul sepuluh tiga puluh. Dia memilih pergi ke perpustakaan sebelum melanjutkan jadwal lainnya. Pukul sebelas tiga puluh dia harus mengisi kegiatan keputrian yang dilaksanakan setiap hari Jumat.


Di saat siswa laki-laki mengikuti ibadah shalat Jumat di Mesjid, siswa perempuan diwajibkan mengikuti kegiatan keputrian yang khusus yang diisi oleh pemateri perempuan yang berbeda setiap minggunya, dan Jumat kali ini adalah giliran Rahma menjadi pemateri.


Membaca dan menulis adalah hal yang tidak pernah lepas dari Rahma, dua hal itu seolah menjadi media healing untuknya. Di saat memiliki waktu senggang di sekolah, perpustakaan adalah tempat ternyaman untuknya. Rahma bahkan bisa dengan mudah mengubah moodnya yang sedang tidak nyaman kembali biasa setelah membaca atau menulis.


Tapi tidak untuk kali ini, dia hanya memegang dan membuka buku yang diambilnya dari salah satu rak yang berjejer di ruangan itu tanpa membacanya. Pikirannya tidak fokus selama mengajar tadi. Tiga puluh menit dia terlambat masuk ke kelas setelah terlebih dahulu memberi tugas pada anak-anak didiknya.


Pagi tadi Rahma memutuskan untuk menemui Tama yang memintanya untuk datang ke ruangannya dia ingin mengusir semua kepenasaran di hatinya kenapa ketua yayasan memanggil dirinya di pagi hari saat dirinya harusnya masuk kelas untuk mengajar.


Rahma menarik napasnya dalam, ada air mata yang tiba-tiba menetes saat mengingat kembali percakapannya dengan Tama.


"Assalamu'alaikum" Rahma mengucap salam setelah terlebih dahulu mengetuk pintu ruangan itu. Hanya ada mereka berdua, beberapa staf yayasan yang bertugas sepertinya belum datang karena mereka memang jam kerja kantor yayasan dimulai pukul delapan.


"Wa'alaikumsalam, masuklah" jawab Tama dari dalam, dia sedang mengocek secangkir kopi yang sepertinya dibuatnya sendiri.


"Duduklah" ucapnya lagi lembut, tidak ada kesan atasan bawahan dari nada bicaranya, Tama memperlakukan Rahma layaknya seorang teman.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Rahma formal, walaupun Tama terlihat begitu santai tapi Rahma tetap berperilaku profesional, dirinya berada di kantor yayasan tempat pemilik sekolah tempatnya mengajar berada. Tentu dirinya harus menunjukan profesionalitas dalam bekerja.

__ADS_1


"*Bisa kita bicara sebagai teman?" pertanyaan Tama sontak membuat Rahma yang menundukkan pandangannya, menoleh ke arah Tama.


Sejenak mereka pun beradu tatap. Tama sangat menikmati detik-detik itu, dia menatap dalam netra mata Rahma yang beberapa bulan ini seolah selalu ada di pelupuk matanya. Namun sayang kesadaran Rahma lebih cepat kembali, dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain*.


"Astaghfirullah, apa-apaan ini" gumam Rahma dalam hati.


"Panggil aku Tama" ucap Tama lagi, membuat Rahma kembali mengalihkan pandangannya pada pria itu.


"Mungkin ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan topik yang akan aku sampaikan hari ini. Tadinya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang lebih baik tapi sepertinya kamu akan menolak" ucap Tama memberikan prolog tentang topik pembicaraannya kali ini.


"Rahma, mungkin ini terakhir kalinya aku datang ke sini dan menemuimu. Setelah apa yang akan aku katakan padamu saat ini aku akan pergi" Tama berbicara dengan nada sendu, terlihat jelas gurat kesedihan di wajahnya membuat Rahma heran sekaligus khawatir.


"Rahma, aku tahu ini salah dan aku tahu ini tidak pantas untuk aku sampaikan padamu. Terkadang memang ada sebagian rasa yang lebih baik jika tetap terpendam dalam hati dan tidak pernah terucap sama sekali untuk menjaga banyak hati. Aku pun sudah berusaha untuk itu, tapi nyatanya aku masih tidak mampu"


Tama menjeda ucapannya dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang tiba-tiba terasa kosong.


"Rahma, kali ini izinkan aku untuk berkata jujur padamu" Tama menatap lekat wajah Rahma yang arah pandangnya tidak tertuju padanya walaupun kini mereka sedang berhadapan. Sementara Rahma masih tetap dengan wajah datarnya, menunggu kelanjutan ucapan Tama, terlihat tenang. Tama tidak tahu jika jantung Rahma berdetak sangat kencang saat ini.


"Sejak awal aku melihatmu di yayasan ini dua tahun yang lalu, sudah ada ketertarikan di hatiku padamu. Aku melihat dengan jelas bagaimana ayah begitu istimewa memperlakukanmu padahal biasanya dia tidak pernah seperti itu. Hingga saat ini beliau masih merahasiakan alasannya kenapa begitu terlihat sangat menghormati dan menghargai kamu"


"Aku berusaha mengabaikan apa yang aku rasakan saat itu. Tidak ingin cepat-cepat mengambil kesimpulan. Di masa lalu aku pernah berbuat kesalahan hingga akhirnya aku terjebak pada rasa yang salah. Saat itu aku memilih memendamnya"

__ADS_1


"Pertemuan kita di reuni membuat aku semakin yakin bahwa aku memang tertarik padamu. Sikapmu yang begitu polos membuatku semakin penasaran untuk mengenal kamu lebih jauh"


"Setelah reuni aku harus pergi ke luar negeri karena ada urusan perusahaan yang tidak bisa diwakilkan. Sepulang dari sana aku berencana untuk melamarmu. Memberimu kejutan dengan datang kepada orang tuamu. Tapi ternyata malah aku yang terkejut dengan berita pernikahanmu"


"Duniaku rasanya runtuh, untuk kedua kalinya aku kembali mengalami peristiwa memilukan. Aku mencintai namun kembali tak mampu memiliki" Tama semakin menundukkan pandangannya tak kuasa menahan sesuatu yang membuat matanya tiba-tiba menghangat.


"Kadang dalamnya rasa sakit dan kecewa membuatku ingin marah, kenapa Tuhan seakan mempermainkan hidupku. Jika memang aku tidak layak untuk memilikinya mengapa Dia menyimpan rasa cinta di hatiku untuk wanita yang tidak bisa ku miliki"


"Aku tahu, salah jika masih memelihara rasa ini dalam hatiku untukmu. Kamu sudah menjadi milik orang lain tapi aku tidak bisa melenyapkannya begitu saja, maafkan aku Rahma aku tidak bisa menahan diri" terdengar kembali tarikan napas panjang Tama, dia sesekali berhenti berbicara, dan menghirup udara untuk mengisi paru-parunya.


"Melihatmu berdiri di pelaminan dengan suamimu di pernikahan adikmu sungguh membuat dadaku sesak. Andai aku bisa, aku ingin menculikmu dan membawamu pergi jauh saat itu juga. Tapi aku tahu itu hanya akan membuatmu membenciku, dan aku tidak mau itu"


"Rahma, aku selalu berusaha mencari momen untuk bisa bersama kamu, walaupun hal itu membuatmu ketakutan dan khawatir. Maafkan jika aku terlalu kekanak-kanakkan dengan mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk bisa dekat denganmu"


"Jujur ... aku bahkan cemburu saat mengetahui ada murid yang memberimu hadiah. Aku tidak rela dia bisa mengagumimu dengan leluasa, bisa bertemu denganmu hampir setiap hari. Memberimu banyak perhatian bahkan untuk hal kecil sekalipun. Sungguh aku cemburu Rahma" Tama mengakhiri ucapannya dengan mengambil kopi yang tadi diseduhnya, dia meminum kopi itu sekaligus.


Suasana hening, Rahma masih menundukkan kepalanya tak kuasa jika harus bertatapan dengan laki-laki di hadapannya. Jantungnya berdetak semakin kencang, Rahma mengakui pesona seorang Pratama Ardhan tidak diragukan lagi. Teman-temannya bahkan terang-terangan selalu memuji dan mendamba laki-laki seperti Tama, tampan, mapan dan dermawan. Tidak dipungkiri hatinya pun sempat terusik sejak kehadiran Tama di yayasan itu. Namun Rahma selalu berusaha menepisnya, membatasi diri dari rasa yang tidak halal untuk dimiliki.


"Setelah ini aku tidak tahu seperti apa penilaianmu padaku, namun sekali lagi aku tegaskan aku hanya ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di hatiku untukmu. Jika setelah ini kamu membenciku aku tidak khawatir karena setelah ini aku akan pergi jauh dan tidak akan kembali"


"Selamat hidup berbahagia dengan suamimu, Rahma. Maaf jika masih terlalu sulit untukku menghapus namamu dari hatiku"

__ADS_1


__ADS_2