
"Semampunya saja, jangan terlalu memaksa. Memang butuh waktu yang lama untuk kembali percaya dan berdamai dengan rasa kecewa. Tapi jangan kelamaan juga ya, kasian dia keburu karatan, hihi..." Lisna tak bisa menahan tawanya, ucapan terakhirnya membuat dia terkikik sendiri, sementara Rahma membulatkan matanya. Refleks dia akan mencubit lengan sahabatnya yang masih melingkar di pinggangnya, namun Lisna sudah lebih dulu menghindar dan berlalu menuju halaman depan.
"Lisna...awas ya" teriak Rahma tertahan karena sahabatnya itu keburu menjauh. Tanpa mereka ketahui seseorang yang berada di balik pintu wajahnya seketika memerah.
☘️☘️☘️
Tepat pukul delapan pagi rombongan yang terdiri dari lima mobil karena bertambah mobil Tama yang datang semalam konvoi menuju arah Garut Selatan. Mobil sepupu Shanum dan keluarganya berada di urutan paling depan, suaminya yang memang orang Pameungpeuk menjadi penunjuk arah. Diikuti mobil Shanum yang dikemudikan suaminya Akhtar berada berada di urutan kedua.
Selanjutnya mobil Rahma yang diikuti mobil Tama dan Regy di urutan paling belakang. Sengaja mereka mengatur formasi seperti itu karena Rahma yang bersikeras menolak saat Tama menawarkan diri menjadi sopir membuat mereka memastikan keadaan Rahma aman saat berkendara. Pantai Sayang Heulang menjadi tujuan liburan mereka selanjutnya.
Pantai Sayang Heulang merupakan sebuah pantai yang ada di Garut Selatan, tepatnya di Kecamatan Pameungpeuk, Desa Mancagahar. Pantai ini memiliki bentangan sekitar 3,5 km dengan hamparan pasir yang dihiasi batuan karang, air lautnya bersih dengan deburan ombak yang cukup kencang.
Di Pameungpeuk sendiri sebenarnya memiliki beberapa pantai yang dapat di kunjungi, diantaranya ada Pantai Santolo, Pantai Karang Paranje, Pantai Cijeruk Indah, Pantai Manalusu dan lainnya. Hampir semua pantainya memiliki deburan ombak yang cukup kuat, namun hamparan alamnya yang masih alami dan asri sungguh memikat.
Rahma dan Shanum sengaja lebih memilih Pantai Sayang Heulang untuk perjalanan wisata mereka selanjutnya. Berdasarkan berita terupdate wajah baru Pantai Sayang Heulang kini lebih menarik untuk dikunjungi.
Terdapat spot selfie pantai sayang heulang yang sudah wara-wiri di berbagai media sosial, membuat dua ibu muda ini sepakat untuk berlibur di pantai Sayang Heulang. Selain itu, keberadaan gazebo, dan jalur pejalan kaki, spot jembatan, spot kuliner kekinian dan menara pandang benar-benar menjadi wajah baru Pantai Sayang Heulang yang sayang jika tidak dikunjungi.
Rute menuju Pantai Sayang Heulang, jika berangkat dari Garut kota dengan mengarahkan kendaraan menuju Cikajang kemudian Pameungpeuk hingga melihat tanda Bukit Teletubies masuk ke gapura gang tersebut. Namun perjalanan mereka terasa lebih cepat karena berangkat dari Cisurupan, setelah menuruni jalanan gunung Papandayan mereka langsung menuju arah Cikajang.
Rahma tampak bersemangat karena untuk pertama kalinya dia membawa mobil sendiri menyusuri jalanan berkelok Garut selatan ini. Di sampingnya Athaya setia menemani dengan beberapa bungkus cemilan di pangkuannya.
"Bunda, hati-hati ya...jalannya belok-belok kayak ular" dengan mulut yang penuh dengan makanan putranya itu memperingatkan saat jalanan yang mereka lalui semakin berkelok.
"Siap sayang, jangan berhenti berdo'a dalam hati ya" ucap Rahma dengan senyum senang karena perhatian putranya itu.
Dari arah gapura rombongan terus masuk ke arah pemukiman warga, kemudian melewati area pesawahan. Di tengah perjalanan ada pos dengan beberapa petugas yang mengondisikan tiket masuk menuju Pantai Sayang Heulang. Sambil menunggu sepupu Shanum melakukan pembayaran empat mobil di belakangnya memilih menepi untuk beristirahat sejenak.
"Are you okay?" Tama menjadi orang pertama yang memburu mobil Rahma setelah terparkir di bahu jalan.
"Yes I'm okay..." Athaya yang menyahut menunjukan deretan gigi putihnya yang terawat. Dia melepas seatbell dan meregangkan tangannya, pipinya memerah karena cuaca cukup panas siang ini, terlihat sangat lucu. Sementara Rahma menyenderkan punggungnya di kursi kemudi dia memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menerpa wajah putihnya yang memerah dengan bulir keringat di keningnya.
__ADS_1
Tama menatap wajah lelah yang sedang terpejam itu, buliran keringat terlihat olehnya. Ingin sekali mengusapnya namun itu tidak mungkin dia lakukan. Tama pun menyodorkan sapu tangan yang ada di saku belakang celananya ke depan wajah Rahma.
"Wajahmu berkeringat, usaplah, ini bersih" tangan Tama terulur, dia sedikit menundukkan kepalanya saat menyerahkan sapu tangan miliknya pada Rahma,
Jalur dari Garut menuju Pameungpeuk sudah sangat baik dan beraspal, jalannya pun cukup lebar. Hanya saja jalurnya dipenuhi dengan kelokan khas daerah pegunungan. Hal itu cukup membuat Rahma kelelahan mengemudi.
"Bunda, sini aku usapin" Athaya yang mengambil sapu tangan dari tangan Tama yang terulur melewati wajahnya. Dia pun mengusap peluh di wajah sang bunda yang berkeringat dengan penuh kasih tanpa menunggu persetujuan sang bunda. Tama tersenyum melihat perhatian Athaya pada bundanya.
"Terima kasih sayang" ucap Rahma akhirnya, dia tidak sempat menolak perlakuan manis sang putra, dia mengusap kepala Athaya penuh kasih.
"Maaf Pak sapu tangannya jadi kotor, Insya Allah nanti saya cuci" Rahma merasa tak enak hati karena Athaya mengusap keringat di keningnya menggunakan sapu tangan Tama. Padahal dia awalnya akan menolak, toh di sampingnya tissue tersedia masih banyak. Tama hanya tersenyum menanggapi ucapan Rahma, dia membukakan pintu mobil bermaksud mengajak Athaya ke luar.
"Ayo keluar dulu, anginnya lebih seger di luar" ajak Tama menyodorkan tangan hendak menggendong Athaya, tentu saja disambut dengan senang hati oleh anak itu.
Setelah membayar tiket masuk dan beristirahat sejenak, rombongan kembali meneruskan perjalanan.
Perjalanan berlanjut hingga mereka melewati persimpangan jalan menuju Bukit Teletubies. Mereka memutuskan untuk mampir dan menikmati angin segar di bukit Teletubies sebelum ke penginapan. Meskipun cuaca panas, tapi angin yang menyegarkan mengimbangi panasnya mentari siang itu.
Fasilitas yang ada di Pantai Sayang Heulang cukup lengkap, area untuk memakirkan kendaraan, kamar mandi umum, warung-warung makanan dan minuman, mushola dan penginapan.
Bersamaan dengan kumandang adzan dzuhur mereka sudah sampai di penginapan, sebuah rumah yang cukup besar sengaja disewa untuk menampung mereka semua. Ada enam kamar, satu ruang tengah yang cukup luas, dapur dan dua kamar mandi. Area samping rumah itu pun terdapat halaman berumput sintetis, ada ayunan dan kursi taman juga yang langsung menghadap pemandangan hamparan laut nan luas. Sangat cocok untuk bersantai, dari sana bahkan katanya sunset akan terlihat dengan jelas. Tidak sia-sia membayar dengan harga lebih tempat ini karena viewnya memang memanjakan mata.
Mereka pun memutuskan untuk beristirahat dan makan siang dengan menu ikan bakar yang aromanya sudah mengusik perut mereka. Sebelumnya sepupu Shanum memang sudah meminta penjaga penginapan untuk menyediakan menu makan siang spesial untuk menyambut mereka. Selepas Ashar barulah mereka berencana akan memulai mengeksplore pantai sayang heulang.
Banyak ragam wisata yang seru dan menarik di Pantai Sayang Heulang, di antaranya bersantai di pantai. Pantai Sayang Heulang memiliki hamparan pasir yang dihiasi dengan batuan karang dengan beragam ukuran, duduk-duduk di batuan karangnya sambil menikmati angin laut yang khas akan menjadi sensasi tersendiri untuk para wisatawan.
Deburan ombaknya cukup kencang sehingga menjadi pusat perhatian telinga, air lautnya yang bersih dan berwarna biru menjadi daya tarik tersendiri. Di sekitar pantai terdapat sebuah saung yang juga bisa digunakan untuk bersantai dan menikmati alam yang tersaji, apalagi ditambah dengan menikmati air kelapa yang menyegarkan.
Rencananya mereka akan berada di sana selama dua hari. Eksplor Gumuk Pasir Tungtung Karang Sayang Heulang adalah wisata kedua yang akan dilakukan esok hari sambil menikmati sunrise.
Garut ternyata memiliki sebuah gurun sahara, biasa juga disebut sebagai “Sahara Van Garut”. Gumuk pasir tersebut berada di ujung Pantai Sayang Heulang, dan diberi nama Gumuk Pasir Tungtung Karang Sayang Heulang.
__ADS_1
Area gumuk pasirnya cukup luas, dengan hamparan pasir bak di gurun sahara. Dari atas kita dapat melihat Pantai Sayang Heulang dengan ombaknya yang cukup kencang. Angin di sekitar gumuk pasir cukup kencang, lokasi ini biasa digunakan oleh para pengunjung untuk menanti kehadiran sunset atau sunrise serta spot untuk berfoto.
Tama mengulurkan tangannya yang memegang ponsel dengan layar yang sudah siap menangkap gambar. Rahma yang sedang duduk sendiri di saung karena yang lain memilih untuk bermain air tidak di sia-siakan oleh Tama. Rasa lelah karena menyetir sendiri membuat Rahma ingin mengistirahatkan tubuhnya hanya dengan menikmati pemandangan laut. Athaya sudah dia titipkan pada Shanum, Rahma tenang karena si kembar bekerja sama menjaga putranya.
"Ishhh....Bapak mau apa?" Rahma yang sedang anteng mengawasi Athaya seketika tersentak karena kehadiran Tama yang tidak disadarinya. Di tangannya masih ada semangkuk cuanki yang belum habis, hampir saja terjatuh.
"Haha......cuman mau ngajak foto, kaget amat" ucap Tama santai, dia kembali mengarahkan ponselnya ke arah wajah mereka berdua.
"Aaaa...enggak ah, bapak saja sini saya fotoin" Rahma memilih berdiri dan menyimpan mangkuk yang ada di tangannya, dia mengulurkan tangan meminta ponsel Tama untuk memotret.
"Aku mau berswafoto dengan kamu, Naura" Tama berkata dengan nada serius,
"Maaf Pak, saya tidak bisa" jawab Rahma menundukkan pandangannya,
"Kenapa?"
"Saya tidak percaya diri harus berswafoto, keadaan wajah saya terlalu glowing sekarang, hehe..."jawab Rahma dengan nada bercanda dan diakhiri kekehan, dia memang belum sempat mandi dan berganti pakaian sejak mereka datang karena Athaya yang ingin buru-buru bermain di laut. Berbeda dengan Tama yang sudah tampak segar, bajunya pun berbeda dengan baju yang tadi dipakai. Tubuh atletisnya terlihat semakin sempurna dengan balutan kaos putih yang pas dengan tubuhnya.
"Kamu jangan beralasan, ayo sini. Jangan suka mengada-ada dan jangan menyalahkan keadaan" Tama bersikukuh mengajak Rahma untuk berswafoto, namun sama halnya seperti Tama Rahma pun keukeuh menolak.
"Maaf Pak, saya tidak menyalahkan keadaan hanya sadar dengan segala kekurangan" balas Rahma penuh makna masih diakhiri kekehan, namun membuat Tama sedikit mengernyit. Tapi apa yang dikatakan Rahma seolah memantik Tama untuk kembali meyakinkan hati pujaannya itu,
"Aku tidak peduli dengan kekuranganmu. Kamu cukup selalu ada di sampingku, menjadi partner terbaik dalam setiap misi hidupku. Aku tidak akan menuntut banyak padamu karena melengkapimu adalah tugasku." balas Tama dengan senyum penuh makna pula, wajah Rahma pun terlihat sedikit merona.
"Heummmm...." Rahma tampak berpikir,
"Tapi Pak biasanya yang selalu ada suka kalah dengan yang serba ada" Rahma tergelak melihat raut wajah Tama yang sepertinya kehilangan kata-kata. Rahma pun memilih duduk kembali di bibir saung sejajar dengan Tama tapi masih berjarak.
"Naura, dulu aku memilih menghilang, aku bahkan menutup semua akses tentang dirimu. Tapi aku sadar aku adalah orang yang paling mudah merindukan. Dan kamu tahu? aku menjadi orang yang paling menyedihkan ketika merindukanmu" Tama berbicara lebih serius, wajahnya bahkan terlihat sendu. Rahma bisa merasakannya ada penyesalan dan kerinduan dalam ucapan laki-laki itu, dia memilih diam, menunggu apa yang akan Tama katakan selanjutnya.
"Terkadang Allah mematahkan hati kita karena ingin menyelamatkan kita dari orang yang salah. Aku rasa aku dan kamu pernah berada di posisi itu, terselamatkan dari orang-orang yang salah. Jadi alangkah baiknya jika kita merapatkan barisan. Aku ingin kamu menjadi tempatku pulang. Ayo kita berjalan bersama menuju satu tujuan, Syurga-Nya" pungkas Tama, dia menoleh ke samping dimana Rahma tengah menatapnya, tatapan mereka pun kembali bertemu, kali ini bahkan lebih lama seolah sedang mendalami perasaan masing-masing. Kerinduan jelas terlihat di mata mereka, ada cinta yang dulu tak sempat saling tercurah.
__ADS_1
Semburat jingga di langit Sayang Heulang menjadi saksi dua insan yang masih saling menahan rindu.