Belenggu Akad

Belenggu Akad
Permohonan Friska


__ADS_3

Tangis Friska semakin menjadi, memikirkan kehidupannya selama satu tahun terakhir ini benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.


"Sekarang, dengan tidak tahu malunya aku datang menemuimu. Aku bersujud meminta pengampunanmu, dan aku pun tidak akan menyerah sampai kamu memaafkan aku dan bersedia menolong Mas Anggara" pungkas Friska mendongakkan kepalanya, menatap Rahma dengan tatapan memohon.


Rahma kembali terkejut dengan kalimat terakhir yang diucapkan Friska.


"Aku tahu jika aku sudah tidak punya hak apa-apa atas diri Mas Anggara, secara agama kami sudah resmi bercerai sejak Mas Anggara mengucapkan kata talak untukku. Tapi aku hanya ingin berusaha memperbaiki semuanya, semoga masih ada kesempatan untukku melakukannya."


"Aku hanya ingin Mas Anggara kembali hidup normal seperti dulu, terserah dia mau memaafkanku atau tidak. Aku hanya ingin dia melanjutkan hidupnya dengan baik, aku tidak akan egois lagi. Aku akan bahagia jika dia bahagia walau bukan bersamaku, biarlah apa yang aku alami saat ini menjadi balasan atas seriap perbuatanku padamu di masa lalu." masih dengan isak tangis Friska berbicara dengan nada memohon agar Rahma mau memaafkannya dan membantu Anggara dari keadaannya saat ini.


Rahma kembali menarik nafas panjang, dia mengisi setiap rongga paru-parunya yang beberapa saat yang lalu membuat dadanya sesak saat mendengar dan menyaksikan apa yang dilakukan mantan madunya itu.


Pikiran Rahma masih menerka-nerka sebenarnya apa yang sudah terjadi pada mantan suami dan keluarganya itu. Dia terus menimbang, haruskan dia membantu atau mengabaikan dan tidak peduli lagi.


Tanpa mereka berdua sadari, dari balik pintu yang sedikit terbuka sepasang telinga sudah menguping semua pembicaraan meraka sejak tadi.


Sudah dua puluh menit yang lalu Tama sampai di toko milik istrinya itu, saat melihat dari celah pintu apa yang dilakukan tamu istrinya itu, dia pun memilih menghentikan langkah dan menguping untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Tama kenal betul dengan tamu istrinya itu, dia adalah putri salah satu teman sekaligus rekan bisnis papanya, beberapa kali pernah bertemu membuat Tama tidak menyangka jika mereka kembali akan dipertemukan dalam suasana seperti ini.


"Memangnya apa yang terjadi dengan Mas Angga?" akhirnya pertanyaan yang sejak tadi berputar di benak Rahma terucap juga.


Friska mendongak dengan wajah terkejut, dia mengira kedatangan ibu mertuanya beberapa waktu yang lalu menemui Rahma untuk mengabarkan perihal keadaan Anggara namun nyatanya Rahma malah menanyakan apa yang terjadi pada Anggara saat ini.


"Mama tidak memberitahumu?" Friska balik bertanya, dia masih belum percaya jika Rahma benar-benar tidak mengetahui keadaan Anggara saat ini.


Rahma hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban, dia pun memilih diam menunggu jawaban apa yang akan diberikan Friska tentang keadaan mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Sejak menerima kabar pernikahanmu dengan Tama, Mas Anggara langsung menutup diri. Dia tidak pernah sekalipun keluar dari kamarnya, di tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Perusahaan, mama, pap bahkan putri kami pun dia abaikan. Dia sudah tidak peduli dengan dunia di sekitarnya, dia hanya diam dan mengurung diri dalam kamar"


"Aku sudah berulang kali mengunjunginya dan meminta maaf. Awalnya dia menolak dan mengusirku, namun semakin ke sini dia seolah tidak peduli dengan siapapun yang sa di sekitarnya. Saat aku dan putri keduaku datang pun Mas Anggara hanya melirik sekilas, selanjutnya dia kembali asyik dengan dunianya."


Jantung Rahma berdetak semakin cepat mendengar apa yang dikatakan Friska perihal keadaan mantan suaminya. Dia tidak menyangka Anggara akan mengalami hal seperti itu.


"Sesekali papa dan mama mendengar dia tertawa sendiri seperti orang yang sangat bahagia, namun kemudian terdengar tangis yang menyayat hati dan perlu kamu tahu tangisnya akan berhenti setelah dia lelah dan berakhir setelah berkata ...." Friska menghentikan ucapannya, dia tampak ragu mengatakan apa yang pernah didengarnya dari kedua mertuanya.


"Berkata apa?" tanya Rahma penasaran,


"Tangisnya akan berhenti setelah dia mengatakan, 'Rahma aku pulang'..hiks..." tangis Friska kembali pecah bayangan mantan suaminya yang seperti bukan dirinya kembali melintas di benaknya. Dia tahu dirinya memiliki andil yang besar dalam perubahan Anggara, karena keegoisan dan kebohongannya Anggara harus menanggung luka itu sendiri. Dia yang membuat pria yang dicintainya itu kehilangan kebahagiaannya. Kehilangan cintanya, dan kini Friska menyadari jika cintanya untuk Anggara hanya keegoisan yang membuat laki-laki itu pada akhirnya menderita. Dan kini rasa bersalah semakin menggunung dalam dadanya, Friska tidak sanggup melihat Anggara seperti itu.


"Sekarang aku hanya meminta, bahkan aku akan memohon, tolonglah Mas Anggara, temuilah dia, aku yakin hanya kamu yang akan bisa mengembalikan dia dalam kehidupan normalnya"


Ada rasa iba dalam hati Rahma mendengar kabar tentang mantan suaminya, selama hidup dengannya Rahma bisa menyimpulkan jika suaminya adalah laki-laki yang baik, justru karena dia sangat baik terkadang dia rela mengorbankan kebahagiaannya untuk orang-orang yang disayanginya.


Walaupun pernikahan mereka diawali oleh Anggara dengan niat tidak baik tapi Rahma yakin jika dalam hati laki-laki itu sebenarnya tidak ada niat untuk mempermainkan pernikahan. Namun, lagi-lagi keadaan mengharuskannya untuk memilih dan berkorban.


Rahma pun kembali tersentak mendengar penuturan Friska tentang keadaannya.


"Aku sudah memaafkanmu, aku juga sudah memaafkan Mas Anggara. Aku hanya bisa berdo'a semoga keadaannya segera membaik. Aku sudah menikah dan mempunyai suami yang harus aku hargai dan jaga hatinya, maaf, aku tidak bisa jika harus menemuinya. Tapi aku akan coba memberi pengertian pada Athaya agar mau menemui ayahnya, mungkin nanti ada kakak atau adikku yang akan mengantar, itupun jika Mas Tama mengizinkan" jelas Rahma panjang lebar,


Sebagai seorang wanita yang bersuami dia tahu batasan, apalagi orang yang akan ditemuinya adalah mantan suaminya. Walaupun mereka masih terhubung dengan adanya anak di antara mereka, tapi Rahma sebisa mungkin akan menghindar untuk bersua secara sengaja dengan mantan suaminya. Walau bagaimanapun prioritas utama saat ini adalah Tama, laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya dan ayah sambung Athaya.


"Assalamu'alaikum" ucapan salam dari suara yang tidak asing di telinga kedua wanita itu berhasil memecahkan keheningan di antara mereka yang masing-masing larut dalam tangis dan lamunannya.


"Wa'alaikumsalam" jawab keduanya kompak.

__ADS_1


Rahma terlihat sedikit kaget, begitupun dengan Friska yang semakin menundukkan kepala tak kuasa beradu tatap dengan Tama.


Tama melangkah memasuki ruang pribadi istrinya itu, sekilas dia melirik ke arah Friska yang masih duduk bersimpuh di lantai, sementara Rahma segera dia berdiri saat kedatangan suaminya dengan senyum yang menghiasi wajah sendunya.


"Mas, sudah pulang?" Rahma melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, masih jam kantor, bahkan makan siang pun belum waktunya.


"Aku mengkhawatirkanmu, sayang" seolah sudah mengetahui kedatangan Friska membuat Rahma mengerutkan keningnya dengan jawaban sang suami.


"Fris, berdirilah dan duduklah dengan benar. Silahkan!" ucap Tama, Rahma membantu memapah Friska yang bersimpuh di lantai dan mengarahkannya untuk duduk di sofa.


"Mas..." Rahma bermaksud menjelaskan kedatangan Friska saat ini.


"Aku sudah mengetahuinya sayang" Rahma terperangah mendengar jawaban suaminya, dia hendak memberi penjelasan, takut jika sang suami salah faham namun lagi-lagi Tama memberi isyarat untuk tidak mengatakan apapun.


"Aku akan mengizinkan istriku menemui Anggara" ucap Tama mengejutkan seketika membuat Friska mendongak dan menatap Tama dengan binar bahagia.


"Benarkah?" tanya Friska memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Tama,


"Mas..." Rahma merasa tidak enak hati, dia tidak ingin suaminya terpaksa memberinya izin. Apalagi Rahma tahu seposesif apa suaminya semenjak peristiwa beberapa hari ke belakang.


"Dengan satu syarat" potong Tama,


"Apa?" tanya Friska penasaran.


"Aku akan menemani istriku, kedatangan kami ke sana hanya untuk memantau keadaanya, jika ternyata berbahaya untuk istriku maka aku akan langsung membawanya pulang. Tidak ada kontak fisik, maupun momen mengobrol berdua" tegas Tama menunjukkan kepemilikannya,


"Baik, aku setuju" jawab Friska mantap, kebersediaan Tama untuk mengizinkan Rahma menemui Anggara saja sudah merupakan suatu keberuntungan bagi Friska. Dia benar-benar berharap kali ini Anggara akan memberi respon, dalam hati berdo'a semoga dengan kedatangan Rahma peluang sembuhnya Anggara semakin besar.

__ADS_1


"Baiklah, dimana kami harus menemui Anggara?" tanya Tama tidak ingin menunda lagi, dia ingin segera menyelesaikan urusannya.


"Dia ada rumah sakit jiwa XYZ" jawab Friska membuat Tama dan Rahma saling beradu tatap, tidak menyangka keadaan Anggara sudah separah itu.


__ADS_2