
"Rahma" teriak Anggara, dia beranjak dari tempatnya dan berlari kecil mengejar Rahma yang pergi meninggalkannya menuju pintu belakang gedung untuk mencari keberadaan Athaya di Villa tempat mereka menginap semalam. Saat ini mereka sudah berada di belakang gedung jauh dari keramaian.
"Maafkan aku" ucap Anggara saat langkahnya sudah menyamai langkah mantan istrinya itu. Tidak ada jawaban dari Rahma dia tetap berjalan dengan mata yang terus berkeliling mencari keberadaan Athaya di area belakang gedung dan halaman Villa.
"Rahma..." Anggara kembali memanggil namanya membuat yang dipanggil akhirnya berhenti dan menatap sekilas pada mantan suaminya itu dan segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Maafkan aku... selama ini aku tidak mampu menjadi ayah yang baik untuk Athaya" ucap Anggara dengan suara bergetar, dia akhirnya mendapat kesempatan untuk mengungkapkan permintaan maafnya secara langsung di sela-sela pertemuan tidak sengaja mereka.
Selama ini Anggara sangat sulit untuk menemui Rahma dan Athaya, bukan karena Rahma yang selalu menghindar atau menghalangi pertemuan ayah dengan anaknya itu. Tetapi masalahnya lebih pada Anggara sendiri yang ruang geraknya untuk berkomunikasi dan menjalin silaturahmi dengan anak dan mantan istrinya dibatasi oleh Friska istrinya.
Setelah meresmikan pernikahan mereka secara hukum pasca perceraian Anggara dengan Rahma, Friska semakin menunjukkan karakter aslinya. Dia berubah semakin posesif dan ambisius. Keposesifannya semakin merajalela jika itu menyangkut Rahma dan anaknya. Anggara menyadari jika Friska berubah menjadi sangat egois, dia sangat membatasi interaksi antara dirinya dengan putra kandungnya dengan Rahma. Setiap kali Anggara datang menemui Athaya dan diketahui Friska pasti selalu berakhir dengan perdebatan yang tak berujung antara suami istri itu.
Kecemburuan Friska yang tidak beralasan pada Anggara jika berkomunikasi atau bertemu dengan Rahma dan ketakutannya yang berlebihan jika Anggara menemui Athaya membuat pertengkaran kerap terjadi jika Anggara nekad menemui putranya dari Rahma itu. Bahkan suatu hari Friska sampai mengancam akan bunuh diri jika Anggara tidak menuruti keinginannya.
Sudah sering Anggara memberinya pengertian jika dia hanya ingin menjalankan kewajibannya sebagai ayah dari Athaya dengan baik. Dia ingin Athaya merasakan perlakuan yang sama seperti anak-anaknya dari Friska. Tapi, Friska selalu tidak bisa menerima penjelasan yang Anggara berikan. Kecemburuan telah membutakan mata dan hatinya. Ketakutannya jika Rahma kembali merebut Anggara dari sisinya sangat mendominasi pikiran Friska.
"Kamu tahu kan Friska....." ucapan Anggara terjeda saat Rahma kembali menatapnya dengan tatapan sedikit tajam,
"Sudahlah Mas, jangan dilanjutkan. Sejujurnya aku tidak marah pada siapapun, atas apapun yang pernah mereka lakukan padaku. Justru mereka sedang menunjukkan diri mereka yang sebenarnya. Dan aku membutuhkan itu" ucap Rahma akhiri dengan senyuman tipis di bibirnya,
__ADS_1
Dia pun hendak berlalu meninggalkan Anggara yang mematung seketika setelah mendengar perkataan Rahma yang menampar hatinya dengan sangat keras. Ada penyesalan dan kesedihan yang terlihat jelas dari wajahnya.
"Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin pertemuan dan kebersamaan kita adalah untuk selamanya. Maafkan aku Rahma..." batin Anggara, menatap sendu punggung wanita yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkannya,
"Bunda...." teriakan Athaya yang berlari ke arah Rahma sontak membuat Anggara tersadar dari lamunannya, dia menatap lurus ke dapan. Melihat sang putra yang sudah tumbuh dengan baik selama ini tanpa dirinya.
Athaya berlari dengan membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Rahma. Sontak Rahma pun berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuh Athaya, dia tidak menyadari seseorang yang berjalan di belakang Athaya dengan tersenyum lebar melihat kebersamaan ibu dan anak itu.
"Kamu dari mana sayang, Bunda mencari Thaya lho dari tadi?" Rahma mengurai pelukannya, dia mengusap kening sang anak yang tampak berkeringat.
"Thaya tadi main sama dari taman Bunda, di sana tamannya bagus, banyak bunga-bunga...Bunda pasti suka kalau ke sana" Athaya berbicara dengan antusias menyampaikan temuannya hari ini, semalam mereka tiba dari Jakarta cukup larut hingga belum sempat berkeliling area villa.
"Dia bersamaku" Tama yang sejak tadi hanya menjadi penonton dari interaksi ibu dan anak itu akhirnya buka suara.
"Hah....Pak Tama..." Rahma berdiri dan menatap orang yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celananya,
"Athaya bersama Bapak?" ulang Rahma yang langsung salah tingkah,
"Iya..." jawab Tama singkat, dia mengacak rambut Athaya yang hitam lebat
__ADS_1
"Maaf jadi merepotkan Bapak, tadi saya sedang berfoto dengan para alumni. Tidak sadar Thaya pergi..." Rahma meminta maaf karena sudah merepotkan Tama, dia masih bersikap sama seperti saat Tama menjadi atasannya dulu.
"Tidak masalah, aku yang mengajaknya" jawab Tama dengan senyum menyeringai, membuat Rahma seketika membulatkan kedua matanya,
"Jadi...."
"Kamu sedang sibuk berfoto, aku hanya ingin menemaninya bermain" sambar Tama cepat sebelum Rahma melanjutkan kata-katanya.
Perbincangan mereka pun berlanjut, Athaya menceritakan bagaimana Tama menjaganya saat bermain di taman tadi. Rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah Tama. Meskipun dia mengangguk angguk saat mendengar cerita Athaya yang sesekali meminta persetujuannya tapi tatapan Tama tetap fokus pada wajah cantik wanita yang selalu menjadi bidadari di hatinya itu.
Ada kehangatan yang tiba-tiba menjalar di hatinya, menyadari saat ini mereka tengah duduk bertiga. Kebersamaan yang sangat indah yang dirasakan Tama. Azzam hatinya untuk menghalalkan Rahma dengan segera semakin kuat, kali ini dia tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan yang datang untuknya.
Sementara Anggara yang melihat kebersamaan tiga orang itu hanya bisa menarik nafas panjang dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia pun memilih berlalu dari sana tanpa kata.
Selalu ada hikmah di balik musibah, bisa jadi Allah memberi kita takdir buruk untuk membuka takdir terbaik yang layak untuk kita.
Batalnya pernikahan Tama dengan Tasya, perceraian Rahma dengan Anggara, disimpulkan Tama sebagai awal dari takdir baik yang akan mendatanginya.
Pada akhirnya yang kita pelajari dari hidup adalah tentang bagaimana menerima keadaan tanpa harus menyalahkan kenyataan.
__ADS_1