
"Maafkan aku A" suara Rahma memecah keheningan, setelah beberapa menit suasana hening menerpa ruangan yang mereka tempati, mereka larut dalam pikirannya masing-masing, Rahma akhirnya mulai bersuara.
Tama tersentak saat mendengar panggilan yang Rahma sematkan untuknya. Ada sesuatu yang hangat terasa menyeruak dalam dadanya. Sesederhana itu, hanya dengan mendengar panggilan sederhana dari Rahma mampu membuat hatinya berbunga-bunga.
Tama menatap lekat gadis yang berwajah teduh itu, wajah yang selalu menari-nari diingatannya. Wajah yang berbicara namun masih belum mengarahkan pandangannya pada Tama.
"Maafkan aku terlambat mengetahui apa yang Aa rasakan terhadapku dan maafkan aku jika aku tidak bisa membalas perasaan Aa. Insya Allah Aa akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari yang Aa harapkan. Allah akan menyiapkan pendamping hidup terbaik untuk Aa" Rahma menarik napasnya panjang, dia memalingkan wajahnya ke arah lain saat matanya tiba-tiba menghangat, sementara Tama terus menatapnya.
"Sudah siang A, sudah terlalu lama aku meninggalkan kelas. Kasihan murid-muridku terlalu lama menunggu. Aku permisi kembali ke kelas" Rahma mengakhiri kebersamaannya dengan Tama pagi itu, dia berdiri dan melangkah menuju pintu keluar.
"***...."
"Rahma..." ucapan salam Rahma terputus saat Tama memanggilnya lagi, dia pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Tama.
Tama berdiri dari duduknya, memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya. Dia menatap Rahma yang tampak menunggu apa yang akan dikatakannya.
"Ada apa?" tanya Rahma akhirnya,
"Aku mencintaimu" ucap Tama dengan lantangnya membuat Rahma tersentak mendengarnya, dia memaku ditempatnya berdiri saat ini membalas tatapan Tama tak kalah dalam.
"Akhirilah sampai di sini" balas Rahma diiringi senyuman tipis Rahma berikan sebagai respon dari pernyataan cinta Tama untuknya. Dia pun memilih berlalu dan meninggalkan Tama seorang diri setelah mengucapkan salamnya secara lengkap.
☘️☘️☘️
Tepat pukul dua siang Anggara sudah berada di parkiran sekolah khusus guru dan karyawan yayasan. Dia memakai outfit serba hitam yang dipadu dengan jaket warna coklat terlihat keren dan macho. Untuk mendukung penampilannya yang casual itu, Anggara menggunakan sneaker berwarna putih yang netral.
"Sayang, aku sudah berada di parkiran"
Pesan yang dikirimkan Anggara pada Rahma dan tidak menunggu lama langsung mendapat balasan dari Rahma yang memang sedang menunggunya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Mas, maaf lama ya nunggunya?" Rahma datang menghampiri suaminya setengah berlari, setelah mendapat pesan dari Anggara jika dia sudah berada di parkiran Rahma langsung meluncur dari ruang guru menuju parkiran setelah sebelumnya pamit pada Lisna dan teman-teman guru lainnya yang masih berada di sekolah.
"Wa'alaikumsalam" jawab Anggara, sambil mengulurkan tangan menyambut uluran tangan kanan Rahma yang kemudian menyalami dan mencium punggung tangannya.
"Enggak ko, aku juga baru nyampe dan langsung chat kamu. Gimana, sudah siap?" tanya Anggara penuh perhatian,
"Iya Mas, aku sudah siap"
"Sebentar" Anggara turun dari motor dan membuka joknya, dia mengeluarkan paper bag dari dalam bagasi motor itu dan ternyata berisi jaket milik Rahma yang dibawanya dari rumah.
"Ini, aku bawain kamu jaket. Tadi pagi aku lihat kamu gak pakai jaket takut pulangnya kemaleman nanti masuk angin. Pakailah" Anggara mengulurkan jaket yang sudah dikeluarkannya dari paper bag itu, dia kembali memasukan paper bagnya ke dalam bagasi motor setelah Rahma menerima jaket itu.
"Ouh....terima kasih mas" ucap Rahma sedikit gugup, dia masih belum terbiasa dengan berbagai perhatian yang diberikan suaminya itu. Perubahan yang cukup drastis terjadi dari cara Anggara memperlakukan Rahma selama seminggu ini,
"Sini, aku pasangin" setelah melihat Rahma selesai memakai jaketnya, Anggara kembali memperlihatkan perhatiannya pada Rahma dengan mengulurkam helm dan hendak memakaikannya pada Rahma.
Rahma tidak menolak, dia menerima semua perlakuan hangat dari suaminya. Sampai saat ini Rahma masih berharap jika pernikahan yang dijalaninya adalah pernikahan yang akan membawanya hingga ke surga.
"Sama-sama sayang, ayo naik" Anggara mulai menyalakan motornya, dia sudah siap untuk membonceng istrinya menuju tempat sesuai agenda mereka tadi pagi. Anggara tidak tahu jika saat ini pipi Rahma semakin merona setelah mendengar kembali dirinya dipanggil sayang oleh Anggara.
Tidak butuh waktu lama untuk Rahma dan Anggara sampai ke pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota Garut. Supermarket menjadi tujuan mereka kali ini.
Setelah memarkirkan motornya di area basement supermarket itu pun mereka berdua bersiap menuju lantai supermarket yang menyediakan bahan makanan dan kebutuhan dapur lainnya. Tidak lupa Anggara menggenggam erat tangan Rahma saat mereka berjalan keluar dari area parkir.
Grep....." Ayo sayang" Anggara meraih tangan Rahma dan menuntunnya berjalan bersama, lagi-lagi perlakuan Anggara membuat jantung Rahma berdetak lebih cepat dari biasanya. Sungguh dia masih belum terbiasa untuk itu.
Tanpa suara, Rahma pun mengikuti kemana suaminya itu melangkah, genggaman tangan Anggara barulah terlepas saat mereka sampai di lantai tujuan dan membawa troli belanja.
Seperti pasangan suami istri layaknya, Anggara mendorong troli dan membersamai Rahma menyusuri setiap lorong antara deretan rak yang berisi aneka kebutuhan dapur dan rumah tangga lainnya.
__ADS_1
Seiring waktu, Rahma mulai terbiasa dengan perhatian kecil yang diberikan suaminya. Dia pun mulai tidak sungkan lagi saat harus meminta tolong pada suaminya untuk membawa barang-barang belanjaannya.
Setelah selesai berbelanja semua kebutuhan rumah tangga, Rahma dan Anggara memutuskan untuk makan. Saking asiknya berbelanja mereka tidak menyadari jika waktu sudah lewat dari shalat Ashar.
"Mas sudah jam empat lebih, kita belum shalat Ashar" Rahma mengingatkan sang suami yang sedang ikut mengantri dengannya di kasir.
"Iya, setelah ini kita ke mushala ya" jawab Anggara dengan senyum,
"Sayang, pakai ini saja" Anggara mengeluarkan kartu debit miliknya dan menyerahkannya pada Rahma saat melihat Rahma akan membayar belanjaan dengan kartu debit miliknya.
"Tapi mas...." ucapan Rahma terhenti saat Anggara memberi kode dengan sorot matanya agar Rahma tidak menolak, dia pun menerima kartu debit Anggara dan menyerahkannya pada kasir setelah sebelumnya memasukkan kembali kartu debit miliknya ke dalam tas.
Kegiatan belanja yang diakhiri dengan acara makan berdua selesai menjelang magrib. Rahma dan Anggara sampai kembali di rumah mereka tepat saat adzan magrib berkumandang.
Rahma pun membawa belanjaannya ke dalam rumah, sementara Anggara memarkirkan motornya.
"Sayang biar mas yang bawa, kantong kresek yang itu berat" Anggara mengintruksi agar Rahma menyimpan kembali kantong kresek berisi sembako yang sudah ditentengnya untuk dibawa masuk ke dalam.
"Iya mas" tanpa mendebat, Rahma pun menyimpannya di teras rumah, dia lebih dulu membuka kunci.
Kebersamaan mereka kembali berlanjut dengan momen shalat berjama'ah dan bersama membereskan barang-barang belanjaan di dapur setelah shalat isya
Rahma meminta Anggara untuk tidak usah membantunya dan menyuruhnya menunggu di ruang tengah tapi Anggara keukeuh ingin membantu Rahma.
Selama satu minggu ini Anggara berubah seratus delapan puluh derajat. Hal-hal kecil yang menyangkut Rahma tidak luput dari perhatian Anggara, dia selalu memastikan jika istrinya tidak kekurangan sesuatu apapun. Anggara selalu ada dan membatu Rahma dalam setiap pekerjaan rumah yang dilakukan istrinya.
Perubahan sikap Anggara pada awalnya membuat Rahma merasa aneh, dalam beberapa hari Rahma bakan masih merasakan kecanggungan di antara mereka berdua. Hingga akhirnya setelah banyak hal yang mereka lewati berdua selama seminggu ini akhirnya membuat Rahma semakin terbiasa.
Ada rasa bahagia dalam hatinya saat melihat perubahan sikap Anggara, konsep pernikahan sakinah mawaddah warahmah mulai Rahma rasakan. Baginya, tidak sulit untuk menumbuhkan rasa mawaddah untuk pasangan halalnya. Sejak dulu, itulah keinginannya. Jatuh cinta pada laki-laki yang halal untuk dicintainya serta melabuhkan hati dan baktinya hanya untuk imamnya.
__ADS_1
Rahma menatap lekat Anggara yang sedang memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam kulkas. Dia memilih menurut pada suaminya yang menyuruhnya duduk dan hanya mengarahkan Anggara dimana dia harus menyimpan barang-barang belanjaan itu.
"Mas, semoga kamu istiqamah dengan sikapmu. Semoga hatiku selalu terjaga hanya umtukmu pasangan halalku. Bantu aku untuk selalu taat pada dirimu. Karena selepas menikah denganmu surgaku ada pada keridhoanmu" gumam Rahma dalam hatinya,