
Adzan Isya sudah berlalu, semua aktivitas terhenti seketika dan beralih menuju masjid luas dengan desain yang begitu indah membuat nyaman siapa saja yang berada di dalamnya.
Seperti biasa, ketika tiba waktu shalat semua aktivitas di yayasan diberhentikan serentak dan semua mengikuti shalat berjamaah di masjid.
Kegiatan hiburan penampilan kreasi dari siswa-siswi berbagai jenjang pendidikan yang berada di bawah naungan yayasan yang sama masih terus berlanjut. Athaya yang awalnya ingin segera pulang pun teralihkan karena keseruan malam itu. Alhasil Rahma masih berada di yayasan hingga shalat berjamaah Isya pun usai.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Kakak ipar Rahma terus mengiriminya pesan sejak ba'da Maghrib. Mengingatkan Rahma agar tidak lupa dengan acara malam ini dan Rahma pun membalas akan datang dan langsung menuju restoran yang sudah ditentukan untuk pertemuan itu.
"Bunda, aku ngantuk" Athaya yang memang terbiasa tidur awal sebelum jam sembilan, kini sudah merasakan kantuk berat karena tadi siang hanya sempat tidur sebentar. Mereka baru saja keluar dari masjid dan masih berada di terasnya. Rahma pun menggendong Athaya dari masjid akan menuju parkiran mobil.
"Sini aku yang gendong" baru saja Rahma hendak berdiri, sosok yang sejak maghrib tadi tidak lagi dilihatnya kini sudah muncul dihadapannya.
"Tidak usah Pak, saya bisa kok" jawab Rahma setengah kaget karena Tama yang datang tiba-tiba.
"Aku bantu" Tama keukeuh, di mengulurkan tangannya bersiap menerima Athaya dalam gendongannya. Namun Rahma masih tampak ragu. Melihat hal itu Tama pun berinisiatif untuk mengambil Athaya langsung dari gendongan Rahma. Beberapa orang yang masih berada di area masjid pun sempat melirik ke arah mereka.
"Eh ... " Rahma terhenyak,
"Kamu lama" tukas Tama, langsung memangku Athaya.
"Maaf ya Pak, jadi merepotkan. Maafkan juga Athaya berat" akhirnya Rahma membiarkan Tama mengambil Athaya dari pangkuannya.
"Aku masih kuat, kalau bundanya juga mau digendong, ayo..." ajak Tama menggoda Rahma dan dibalas dengan pelototan mata Rahma yang tampak lucu di hadapan Tama.
"Ish..." desis Rahma sebagai ekspresi kekesalannya karena Tama yang menggodanya.
"Haha....." Tama hanya tergelak tanpa suara saat Rahma berjalan mendahuluinya.
"Aku yang akan bawa mobil" Tama kembali merebut kunci mobil yang ada di tangan Rahma, dia baru saja mengeluarkannya dari dalam tas selempang yang dipakainya. Athaya sudah ditidurkan di jok belakang dengan nyaman.
"Hah....Pak, gak usah" Rahma berteriak hendak menyusul Tama yang langsung memutari mobil menuju pintu kemudi.
"Masuklah, aku akan mengantar kalian" titah Tama sebelum dirinya masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi Rahma tidak bisa menolak, dia pun kembali menuju pintu samping dan duduk di kursi samping kemudi.
Setelah memastikan Rahma masuk dan duduk, Tama pun menyusul. Sebuah senyum terbit di bibirnya, namun seketika hilang setelah dia pun duduk di bangku kemudi.
__ADS_1
"Pak sebenarnya...." Rahma yang merasakan mobil tak kunjung bergerak, menolah dan membuka suara bersamaan dengan Tama yang juga akhirnya buka suara setelah sejenak berpikir tentang apa yang akan dikatakannya.
"Ada yang harus kamu tahu" ucap Tama tanpa menoleh, dia tahu saat ini Rahma sedang melihat ke arahnya.
"Malam ini aku akan menuruti keluargaku untuk bertemu dengan gadis yang mereka ingin jodohkan denganku" ucap Tama akhirnya,
Deg......hati Rahma tersentak, bukan karena Tama yang akan dijodohkan tapi kenapa bisa bersamaan dengannya yang malam ini juga akan menerima tamu keluarga laki-laki yang ingin berta'aruf dengannya.
"Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa apapun yang akan terjadi malam ini tidak akan merubah sedikitpun keputusanku. Aku akan memperjuangkanmu, malam ini untuk yang terakhir kalinya aku akan mengikuti keinginan kedua orang tuaku" jelas Tama sejujurnya, dia ingin mulai membiasakan komunikasi terbuka sejak awal. Tidak ingin terjadi salah faham tentang apa yang akan dilakukannya malam ini.
"Aku harap kamu mengerti dan mau bersabar" Tama kembali berbicara karena Rahma masih terdiam dengan pandangan lurus ke depan.
"Naura, percayalah sayang......apapun tidak akan mempengaruhi rencana yang sudah aku buat bersamamu" sontak Rahma menoleh, panggilan sayang yang terucap dari bibir Tama berhasil membuat hatinya tersentuh.
"Kamu tidak marah kan kalau aku malam ini aku datang ke pertemuan itu? Aku akan menyelesaikan semuanya" tanya Tama diiringi penjelasan tujuan utama kedatangannya.
"Kalau kamu keberatan, aku..." ucapan Tama terhenti,
"Tidak Pak, saya tidak keberatan. Lakukan apapun yang sudah bapak rencanakan. Saya mengerti" ucap Rahma menjawab semua kekhawatiran Tama, sekarang giliran dia yang bingung dari mana harus memulai mengatakan bahwa dirinya pun sekarang harus datang ke pertemuan keluarga yang bermaksud meminangnya.
"Kamu marah?" ekspresi bingung Rahma.diartikan Tama sebagai bentuk kemarahan wanita itu. Tama tahu betul diamnya wanita adalah marah dengan cara yang paling meresahkan.
"Kalau kamu tidak suka aku datang, katakan saja. Aku....."
Derrrttt ....derrrt.....derrttt......
Getaran ponsel Rahma seketika menghentikan Tama yang sedang berbicara, dia melihat Rahma hanya penelepon di layar ponselnya tanpa menerima panggilannya.
"Siapa?" tanya Tama penasaran,
"A Budi" jawab Rahma cepat dengan wajahnya yang terlihat panik,
"Kenapa tidak dijawab?" Tama penasaran.
"Mereka pasti sudah menungguku" jawab Rahma, dirasa Tama tidak nyambung dari pertanyaannya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum A?" kepenasaran Tama terjeda karena Rahma memilih untuk menerima telepon terlebih dahulu sambil menempelkan telunjuk di bibirnya, pertanda meminta Tama untuk tidak bersuara.
"Iya, aku sedang di perjalanan. Sebentar lagi sampai ke sana" ucap Rahma menjawab pertanyaan A Budi di telepon,
"Iya A, aku akan hati-hati. Assalamu'alaikum" pungkas Rahma mengakhiri sambungan teleponnya dengan kakaknya.
"Ada apa?" tanya Tama setelah Rahma selesai dengan teleponnya,
"A Budi menanyakan keberadaan saya dan Athaya. Malam ini kami ada acara makan malam keluarga, jadi saya tidak akan dulu pulang ke rumah" jelas Rahma akhirnya, dia pun memilih untuk mengatakan sejujurnya.
"Acara keluarga?" Tama menautkan kedua alisnya, dia membaca raut keraguan di wajah Rahma saat mengatakan ada acara keluarga.
"Iya, acara keluarga" ucap Rahma terhenti, dia berpikir jika ini kesempatan yang tepat untuk menjelaskan perkara sebenarnya.
"Beberapa hari yang lalu A Budi menerima kedatangan Tamu, sahabat almarhum bapak kami. Dia bermaksud bersilaturahmi sekaligus mengenalkan putranya padaku, A Budi tidak ada alasan untuk menolak. Dia pun mempersilahkan niat baik mereka, adapun keputusannya seperti apa semuanya akan diserahkan padaku dan Athaya" jelas Rahma akhirnya, dia berkata dengan pandangan lurus ke depan dan kemudian menoleh ke samping untuk mengetahui ekspresi Tama setelah mendengar penjelasannya.
"Maksud kamu, kamu juga akan dijodohkan?" todong Tama tidak sabar, hatinya memanas setelah mendengar penjelasan Rahma.
"Bersilaturahmi Pak, silaturahmi keluarga" ulang Rahma menjelaskan,
"Cihh...." Tama memalingkan wajahnya,
"Itu kedoknya saja" ucapnya pelan dengan wajah kesal,
Bukannya kesal Rahma malah tergelak tanpa suara melihat respon Tama yang merajuk.
"Jadi karena itu yang membuat kamu dari tadi melamun?" Tama mulai mengembalikan kewarasannya yang sempat tidak terkendali karena hatinya yang memanas,
"Iya" jawab Rahma diiringi anggukan kepala.
"Mulai sekarang, jika ada masalah jangan bilang tidak ada apa-apa. Sebab itu akan membuat kita tidak dekat dari hati ke hati. Sebab itu pula yang akan membuat salah faham." ucap Tama tegas, dia memiringkan tubuhnya menatap Rahma lekat. Hal yang sama pun dilakukan Rahma, dia sedikit mundur dan memiringkan tubuhnya.
"Mulai sekarang, jangan pernah menyimpan masalah sendirian. Biar hati dan perasaanmu tidak tersiksa. Berbagilah denganku, bukankan kita sepakat untuk sama-sama berjuang?" tanya Tama masih dengan tatapan mendalam,
"Iya" jawab Rahma dengan senyum yang menunjukan ada kelegaan di hatinya setelah mengatakan kebenaran yang sempat meresahkannya.
__ADS_1
Mereka pun saling beradu tatap, mendalami perasaan masing-masing.
"Naura, percayalah.....dari semua yang pernah singgah hanya kamu yang ingin kujadikan rumah" ucap Tama mantap.