
Melihat tidak ada perkembangan dari keadaan istrinya, Anggara akhirnya berinisiatif untuk membawa Rahma ke rumah sakit. Tapi dia bingung harus meminta bantuan siapa, kalau dia menelepon keluarga Rahma mereka pasti akan bertanya-tanya penyebab sakitnya Rahma. Apalagi mata sembabnya masih sangat terlihat jelas, menandakan jika semalaman dia menangis.
Tuutt....tuutt....tuut.....
"Wa'alaikumsalam, sorry ganggu. Aku mau minta tolong, bisa gak kamu datang ke rumah Rahma?" Anggara akhirnya berinisiatif untuk menelepon Lisna teman sekolahnya sekaligus sahabatnya Rahma.
"........."
"Nanti aku ceritakan, kalau bisa segera ya. Terima kasih" Anggara mengakhiri panggilannya, dia kembali mengganti kompres Rahma.
"Sayang, kamu mendengarku?" tidak ada reaksi apapun dari Rahma, setelah melaksanakan shalat subuh di atas tempat tidur dia kembali memejamkan matanya.
Kurang dari tiga puluh menit Lisna sudah tiba di rumah Rahma, suasana pagi yang masih remang-remang membuat jalanan cukup lenggang sehingga dia bisa lebih cepat sampai di rumah Rahma. Lisna buru-buru turun dari motornya dan memasuki rumah Rahma yang kebetulan tidak dikunci karena Anggara memang sudah menunggunya.
Lisna kaget melihat keadaan Rahma, tanpa banyak bertanya dia pun membantu membereskan perlengkapan yang akan dibutuhkan Rahma di rumah sakit. Sementara Anggara menggendong Rahma dan ditidurkan di pangkuan Lisna di jok kedua. Dia sendiri memutari mobilnya dan duduk di kursi kemudi.
Tidak ada percakapan apapun selama dalam perjalanan, Lisna terus menatap dan mengusap kepala Rahma yang ada di pangkuannya. Ditatapnya wajah cantik yang tampak pucat itu, Lisna menduga pasti ada sesuatu yang terjadi sebagai penyebab sakitnya Rahma. Kemarin hari terakhir sekolah Lisna melihat Rahma baik-baik saja bahkan Rahma tampak ceria memberitahunya jika suaminya akan pulang.
Sesampainya di klinik terdekat yang melayani rawat inap, Rahma langsung mendapat tindakan. Keadaan tubuhnya sangat lemah, suhu tubuhnya juga tinggi membuat dokter jaga meminta persetujuan pihak keluarga untuk melakukan uji laboratorium agar segera diketahui penyakit yang diderita Rahma.
Anggara menganggukan kepala tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan dokter. Rahma masih berada di ruang instalasi gawat darurat. Anggara dan Lisna masih menunggu hasil pemeriksaan dokter selanjutnya.
"Ada apa dengan kalian?" Lisna memulai percakapan, mereka tengah duduk di kursi panjang yang biasa digunakan untuk menunggu pasien yang sedang mendapat tindakan.
"Apa maksud kamu?" tanya Anggara tidak faham dengan pertanyaan Lisna.
"Oke, aku perjelas. Apa yang kamu lakukan sampai Rahma sakit seperti ini?" Lisna pun mengulangi pertanyaannya, kali ini lebih menjurus untuk Anggara.
"Atas dasar apa kamu bertanya seperti itu, aku merasa pertanyaan kamu menyudutkanku" Anggara menyatakan pembelaannya karena merasa terintimidasi dengan pertanyaan temannya itu,
"Apa harus aku perjelas kalau selama ini Rahma selalu terlihat baik-baik saja dan mengatakan rumah tangga kalian juga baik-baik saja padahal sebenarnya dia begitu banyak menderita?" sentak Lisna yang mulai terpancing dengan pernyataan Anggara,
"Lis, apa maksud kamu?" Anggara memiringkan badannya, kini sedikit menghadap Lisna yang duduk di sampingnya.
"Angga, aku yang mengenalkan kamu pada Rahma, jangan dikira aku akan diam saja tidak mencari tahu tentang kamu. Kita adalah teman dan kamu tahu? aku sebenarnya menyesal sudah mengenalkan kamu pada Rahma setelah mengetahui seperti apa kamu sebenarnya. Dan yang paling membuat aku sakit hati selama ini Rahma selalu menyembunyikannya dariku" Lisna akhirnya merasa punya kesempatan untuk meluapkan kekesalannya pada temannya itu.
__ADS_1
Selama ini Lisna tahu jika rumah tangga Anggara dan Rahma tidak baik-baik saja, dia selalu berusaha mengorek informasi itu langsung dari Rahma. Tapi sahabatnya itu terlalu baik untuk menjadi seorang istri yang hanya dimanfaatkan suaminya.
Bukan tidak ingin Lisna membantu Rahma, perasaan bersalah karena telah mengenalkan laki-laki itu sangat besar dirasakan Lisna. Tapi sahabatnya itu terlalu baik, dia menelan sendiri pil pahit pernikahan yang membelenggunya dan tidak membiarkan orang lain mengetahui penderitaannya.
"Apa maksud kamu?" Anggara pun menaikan intonasi bicaranya, entah dia benar-benar tidak mengerti apa yang Lisna bicarakan atau hanya berpura-pura bodoh,
"Friska, setelah menikah kamu masih menjalin hubungan dengan dia kan? kalian bahkan menjadikan pernikahan kamu dengan Rahma sebagai perisai untuk melindungi hubungan kalian yang tidak mendapat restu orang tuamu kan?" Lisna akhirnya mengatakan apa yang diketahuinya,
"Darimana kamu mengetahui itu?" Anggara sudah tidak bisa mengelak, dia memalingkan wajahnya tidak berani menatap Lisna yang menatapnya tajam,
"Tidak penting darimana aku tahu semua itu, hanya yang jelas bukan dari Rahma. Dia selalu mengatakan kalau kamu adalah laki-laki yang baik, suami idaman, imam dunia dan akhiratnya. Nyatanya semua itu dia katakan untuk menutupi penderitaan yang kamu buat dalam hidupnya.
"Itu dulu Lis, aku sudah berubah" akhirnya Anggara jujur, dia tidak punya alibi lagi untuk mengelak.
"Terus sekarang apa yang kamu perbuat sampai Rahma seperti ini hah?" Lisna menghela nafas menjeda ucapannya, dadanya sesak menahan kesal terhadap Anggara.
"Aku senang kamu berubah, dan aku tahu jika perubahan kamu ada hubungannya dengan kepergian wanita itu. Dan sekarang dia sudah kembali, apakah kalian menjalin hubungan lagi? itu yang membuat Rahma bisa sakit seperti ini kan?"
Anggara terbelalak, dia terkejut Lisna mengetahui fakta tentang rumah tangga dan hubungannya dengan Friska. Selama ini dia cukup apik menyembunyikan semuanya, hanya teman-teman kuliahnya yang mengetahui tentang hubungannya dengan Friska, itu pun dulu. Sekarang mereka sudah jarang berkomunikasi, lantas darimana Lisna bisa mengetahui semua itu, heran Anggara.
"Keluarga Ibu Rahma..." Anggara yang akan berbicara terhenti saat mendengar seorang perawat memanggil keluarga Rahma. Sontak mereka berdua pun berdiri dan mendekati perawat yang memanggil tadi.
"Kami keluarga Rahma, Bu" Lisna lebih dulu mendekati perawat perempuan itu,
"Saya suaminya, suster" Anggara menyela Lisna,
"Bapak, Ibu, Ibu Rahma sudah mendapat tindakan dan hasilnya akan keluar siang ini. Beliau juga sudah sadar, untuk sementara Bu Rahma harus di rawat di sini karena kondisi tubuhnya yang lemah. Petugas sudah menyiapkan kamar rawat yang kosong, silahkan Bapak dan Ibu mengurus administrasi dan petugas akan membantu memindahkan Bu Rahma ke kamar perawatan" jelas perawat itu dengan ramah,
Anggara dan Lisna pun berbagi tugas, setelah menemui Rahma terlebih dahulu. Anggara mengurus administrasi sementara Lisna membantu Rahma untuk dipindahkan ke kamar perawatan.
"Lis, darimana kamu tahu aku di sini?" Rahma memulai obrolan setelah semuanya selesai, mereka masih berdua di ruang perawatan itu karena Anggara belum selesai mengurus administrasi,
"Suami kamu yang menghubungiku. Sekarang bagaimana perasaan kamu, apa sudah lebih baik?" Lisna menggenggam tangan sahabatnya itu erat, sungguh dia sangat merasa bersalah jika benar perkiraannya bahwa sakitnya Rahma ada hubungannya dengan kembalinya Friska.
"Alhamdulillah sudah lebih baik, maaf ya jadi merepotkan"
__ADS_1
"Apa sih, enggak juga. Kamu jangan begitu, aku gak merasa direpotkan. Kita masih sahabat kan?" Lisna balik bertanya, dan dijawab anggukan lemah oleh Rahma dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Kalau begitu, jangan sungkan. Aku siap mendengar apapun tentang kamu dan siap membantu semampuku" tegas Lisna mengatakannya, dan Rahma hanya tersenyum menanggapi sahabatnya itu.
"Sayang, kamu sudah baikan" Anggara memasuki ruang rawat Rahma dan langsung mendekat ke arah ranjang tempat Rahma terbaring, Lisna perlahan menjauh memberi ruang pada Anggara,
"Iya Mas..." jawab Rahma pelan dan datar,
Perawat datang membawakan sarapan yang khusus disiapkan untuk pasien, dengan telaten Anggara menyuapi Rahma yang sempat menolak untuk disuapi.
"Mas aku bisa sendiri" tolak Rahma saat Anggara akan menyuapinya,
"Buka mulutnya sayang, biarkan aku yang menyuapimu" Rahma pun mengalah, dia membuka mulutnya tanpa bantahan lagi.
Lisna memerhatikan gerak gerik Anggara, dia bersikap selayaknya seorang suami idaman. Tidak ada tanda-tanda mereka bermasalah, entah siapa yang pandai berakting, pikir Lisna yang sudah mengetahui kebobrokan kelakukan temannya itu.
Bunyi notifikasi pesan masuk dan panggilan terus terdengar dari ponsel yang berada di saku Anggara, beberapa kali dia mengabaikannya namun lagi-lagi notifikasi panggilan itu berbunyi.
"Angkat mas, siapa tahu penting" ucap Rahma tanpa memandang ke arah Anggara,
"Sayang ini...."
"Angkat Mas, berisik aku mendengarnya" ucap Rahma tegas,
"Biar aku yang menyuapi Rahma, kamu angkat saja teleponnya" Lisna mengambil piring yang berada di tangan Anggara.
"Aku...."
"Pergilah mas..." Rahma menjeda ucapan Anggara yang hendak meminta izin untuk keluar ruangan.
Lisna pun mengambil alih untuk menyuapi Rahma,
"Biar aku saja Lis" Rahma berusaha meraih piring yang ada di tangan Lisna setelah Anggara keluar namun Lisna menepisnya.
"Naw, aku sudah tahu semua yang kamu sembunyikan tentang keadaan rumah tanggamu selama ini. Maaf jika aku turut andil dalam permasalahan yang kamu hadapi saat ini, mulai sekarang tolong jujurlah padaku. Bicaralah, jangan kamu nikmati sendiri rasa sakitmu. Biarkan aku menjadi teman yang baik, walau hanya sekedar menjadi pendengar" Lisna sudah tidak tahan dengan sikap sahabatnya yang selalu berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja, hal itu sontak membuat Rahma menatapnya dan secara tiba-tiba dia memeluk Lisna dan menangis sejadi-jadinya di pelukan sahabatnya itu menumpahkan segala sesak di dadanya.
__ADS_1