Belenggu Akad

Belenggu Akad
Pertemuan Keluarga (1)


__ADS_3

Mobil Rahma yang dikendarai Tama sudah terparkir di parkiran salah satu restoran mewah di Jakarta. Tama menghembuskan nafasnya kasar, sejak mendengar jika ternyata Rahma juga ada yang mendekatinya membuat Tama merasa resah. Hatinya tidak tenang, selama perjalanan mereka berdua bahkan lebih banyak diam.


"Terima kasih Pak" Rahma membuka seatbelt dan bersiap untuk keluar dari dalam mobinya, dia bermaksud akan menggendong Athaya yang ditidurkan di kursi belakang.


"Tunggu" refleks Tama menahan lengan Rahma yang akan membuka pintu mobil.


"Pak" Rahma pun tersentak karena jarak mereka saat ini begitu dekat. Tama menyadari kekagetan Rahma tapi dia seolah tidak peduli.


"Aku mohon, jangan goyah" ucap Tama penuh penekanan, membuat Rahma mengernyitkan dahinya,


"Maksud Bapak?" tanya Rahma,


"Jangan berpaling dariku, jangan menerima laki-laki itu apapun yang terjadi" jawab Tama mengungkapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hatinya.


Rahma tersenyum, sekarang dia mengerti jika Tama benar-benar resah memikirkan pertemuannya dengan keluarga sahabat almarhum Bapak.


"Menurut Bapak, saya akan semudah itu goyah?" Rahma balik bertanya, dia merasa Tama masih meragukan keputusannya.


"Aku hanya takut" jawab Tama jujur, dia tidak ingin hal yang sama beberapa tahun silam terulang kembali.


"Kalau begitu, yakinkan dulu hati bapak, apakah sepenuhnya sudah percaya pada saya atau belum." Pertanyaan Rahma sontak membuat Tama membulatkan matanya, dia merasa sedikit tersentil dengan kalimat yang baru saja dilontarkan Rahma.


"Maksud aku..."


"Harusnya bapak sudah yakin dengan hati dan pikiran bapak ketika meminta saya menjadi penyempurna setengah agama bapak. Karena ketika keyakinan itu sudah tertancap di hati maka kepercayaan pun akan tumbuh dengan sendirinya. Yakin bahwa saya adalah pilihan yang tepat, dan ketika dayung bersambut seharusnya kepercayaan itu turut tumbuh. Bahwa komitmen yang kita buat bukanlah main-main" Rahma berbicara panjang lebar, dia hanya ingin menegaskan jika apa yang sudah menjadi keputusannya adalah hal besar dalam hidupnya. Sudah dipertimbangkan dan siap menjalaninya.


"Maafkan aku, aku terlalu mencintaimu dan takut kehilanganmu lagi" tatapan Tama tiba-tiba sendu, dia merasa bersalah karena ketakutannya membuat Rahma merasa jika dirinya meragukan Rahma.


"Sudahlah Pak, kita sudah dewasa untuk bertanggungjawab pada apa yang telah kita putuskan. Sekali lagi terima kasih sudah mengantar kami"


Rahma pun keluar dari dalam mobilnya seiring dengan bunyi ponsel yang ada dalam tasnya, dan di saat bersamaan ponsel milik Tama pun berdering. Mereka pun saling menatap dengan tatapan seolah saling meyakinkan.


"Assalamu'alaikum" sapa Rahma saat menerima panggilan teleponnya,


"...."


"Iya, teteh sudah di parkiran"


"...."


"Iya, Athaya tidur"


"...."

__ADS_1


"Baiklah, teteh tunggu."


Sementara Tama....


"Assalamu'alaikum"


"...."


"Iya, aku sudah di dekat lokasi Pa"


"...."


"Fajar akan menjemputku, aku akan shareloc"


"...."


"Iya, segera!"


Percakapan Tama pun berakhir, dia pamit menuju tempat yang sudah ditentukan untuk bertemu Fajar. Orang kepercayaan yang mengelola yayasan keluarga yang ada di Jakarta sekaligus menjadi orang terdekat Tama yang akan mengurus segala sesuatu jika Tama berada di Jakarta.


Sebuah ruangan yang cukup luas sudah di booking untuk pertemuan keluarga yang spesial malam ini. Budi sudah membawa serta seluruh anggota keluarganya untuk hadir. Maya dan keluarga kecilnya bahkan belum diizinkan kembali ke Yogya setelah mengetahui akan diadakan pertemuan ini. Sebagai sahabat dari almarhum orang tuanya dia sangat menghormati tamunya itu.


Berbuat baik dengan memperpanjang silaturahmi pada sahabat dari almarhum adalah salah satu bentuk baktinya kepada kedua orang tua yang sudah lama meninggalkannya.


Budi mulai resah karena orang yang paling penting dalam pertemuan ini tak kunjung datang padahal dia sudah meminta istrinya untuk mewanti-wanti Rahma agar tidak lupa untuk datang ke pertemuan malam ini.


"Assalamu'alaikum" ucapan salam Rahma yang memasuki ruangan sontak mengalihkan perhatian semua orang yang sudah berada di ruangan itu.


Di belakangnya ada Yusuf yang mengikuti, dia pun menuju sofa yang ada di ruangan itu untuk membaringkan Athaya yang masih tertidur pulas dalam gendongannya.


Ruangan yang di booking untuk pertemuan malam ini adalah ruangan yang khusus untuk pertemuan keluarga lengkap dengan fasilitasnya yang akan memberikan kenyamanan untuk anak-anak. Budi sengaja memilih tempat ini karena memang sangat nyaman.


"Wa'alaikumsalam" serempak semua orang menjawab ucapan salam Rahma.


Rahma pun tersenyum ramah pada semua orang. Dia menyalami satu persatu anggota keluarganya dan terakhir berakhir di tamu yang saat ini sudah hadir.


"Bapak apa kabar?" tanya Rahma pada Pak Hakim, di acara yayasan tadi Rahma hanya bisa melihatnya dari jauh saat Pak Hakim sebagai pemilik yayasan memberikan sambutan.


"Alhamdulillah Bapak baik" jawab Pak Hakim menerima uluran tangan Rahma dan mengusap kepala putri sahabatnya itu yang berbalut hijab.


"Maaf saya terlambat Pak, tadi menghadiri dulu acaranya Athaya di sekolahnya" Rahma menjelaskan alasan keterlambatannya datang ke pertemuan itu.


"Jadi tadi kamu ke yayasan?" tanya Pak Hakim antusias, memastikan kembali kabar yang baru diterimanya dari saudara-saudara Rahma,

__ADS_1


"Iya Pak, tadi saya hanya melihat Bapak saat memberikan sambutan di atas panggung" Rahma terkekeh saat berkata demikian,


"Lho....kenapa kamu tidak menegur saya. Maaf kalau saya tidak tahu kamu datang. Saya turut bangga dengan prestasi putramu, dia sungguh berbakat. Kenapa kamu tidak bilang jika menyekolahkan anakmu di sana?"


Pak Hakim memuji dengan tulus Athaya, dia pun menegur Rahma yang tidak pernah mengatakan jika putranya bersekolah di sana. Padahal mereka pernah beberapa kali bertemu saat mengikuti ta'lim di masjid Baitur Rahmah.


Dia pun baru mengetahui secara pasti setelah tadi sempat berbincang dengan anggota keluarga Rahma jika keterlambatan Rahma datang karena masih berada di sekolah putranya, tepatnya di yayasan milik Pak Hakim.


Dia tidak menyangka jika anak yang tadi sore tampil memukau di atas penggung adalah putra Rahma. Selama ini Pak Hakim tidak mengetahui jika Rahma menyekolahkan putranya di sana karena dia hanya berkunjung sesekali ke yayasan, itupun lebih memerhatikan urusan manajemen yayasan.


"Alhamdulillah, terima kasih Pak atas pujiannya. Athaya yang mau sekolah di sana. Bapak datang bersama ibu? ibu dimana?" Rahma mengalihkan pembicaraan, sejak dirinya memasuki ruangan itu dia hanya melihat Pak Hakim tamu yang hadir. Sebelumnya dia pun belum kenal dengan istrinya Pak Hakim, karena saat bertemu di Garut dulu ketika bapaknya meninggal dia tidak terlalu fokus pada orang-orang yang datang.


"Ibu ada, tadi dia menerima telepon dari putranya" canda Pak Hakim yang mengatakan putranya diiringi dengan tawa semua yang mendengarnya.


Hampir dua puluh menit berlalu, makanan pun sudah terhidang di sana. Istrinya Pak Hakim belum kembali, tadi dia pamit untuk menerima telepon dari putranya yang juga belum datang.


"Duuh...maaf ya lama, pasti semuanya sudah lapar" istri Pak Hakim kembali memasuki ruangan dengan permintaan maaf karena sudah pergi terlalu lama.


"Ibu...." Rahma sontak berdiri saat melihat sosok perempuan paruh baya namun tampak masih cantik dan bugar itu memasuki ruangan tempat mereka berkumpul.


"Hah.....mbak Rahma?" seru wanita itu tak kalah kaget melihat keberadaan Rahma.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanta Pak Hakim dan Budi kompak, dan dijawab anggukan oleh mereka berdua yang langsung saling mendekat serta bersalaman dan saling cipika cipiki.


"Tentu saja Pa, ini Mbak Rahma. Pemilik toko kue kesukaan papa yang suka mama beli" jawab istri Pak Hakim lebih dulu,


"Maksud mama dia yang...." Pak Hakim tidak melanjutkan ucapannya karena istrinya langsung menganggukan kepala dengan senyum mengembang menghiasi wajahnya.


"Wah...wah...wah...ternyata dunia ini sempit ya" ucap Pak Hakim kemudian, dia yang tadi sempat berdiri saat melihat istrinya dan Rahma ternyata saling mengenal kembali duduk di kursinya.


Berbeda dengan Pak Hakim dan istrinya yang tersenyum bahagia, Budi, istrinya dan adik-adiknya justru menatap mereka bingung. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Hahaha.....kalian pasti bingung kan mengapa kami sangat bahagia?" akhirnya Pak Hakim bersuara untuk mengurai kebingungan di wajah anak-anak sahabatnya itu.


"Saya dan istri saya sempat berdebat tentang rencana perjodohan ini. Dia bilang jika dia sudah menemukan wanita yang tepat untuk putra kami dan istri saya sangat terpesona dengan wanita itu. Tapi saya menolak, kali ini putra kami harus mengikuti arahan saya. Sebelumnya dulu istri saya pernah menjodohkan putra kami dengan wanita yang ternyata bukan jodohnya" Pak Hakim menghela nafas menjeda ucapannya,


"Tidak menyangka ternyata kami memperdebatkan wanita yang sama, haha...."pungkas pak Hakim diakhiri dengan tawa yang menunjukan jika dirinya sangat bahagia.


"Maksud Bapak?" Rahma mulai merangkai kepingan kejadian yang dialaminya, yang Rahma tahu jika ibu yang saat ini duduk berdampingan dengannya adalah ibunya Tama. Dia mengetahui itu saat pertama kali bertemu Tama yamg datang menjemput ibunya yang merupakan pembeli langganannya.


"Maafkan Ibu mbak Rahma. Ibu sempat berpikir untuk menjodohkan kamu dengan putra Ibu, bukankah sebelumya kalian susah saling mengenal? dan ibu senang ternyata wanita yang dimaksud papa adalah wanita yang sama dengan harapan ibu, yaitu mbak Rahma" Ibu Hakim mulai mengurai benang kusut yang berputar-putar di kepala keluarga Rahma, termasuk Rahma.


Bu Hakim pun menceritakan pertemuannya dengan Rahma dan niatnya yang akan menjodohkan putranya Pratama Ardhan Hakim dengan Rahma. Semua orang pun mengerti dan turut bersyukur dengan kejadian yang tidak terduga ini.

__ADS_1


"Aa serahkan semuanya pada kamu Dek" Budi mulai memberi ruang pada Rahma untuk memutuskan. Selama mendengarkan cerita Bu Hakim dan Pak Hakim Rahma hanya diam dengan wajah bingungnya dan semua itu tertangkap oleh netra Budi yang selalu memerhatikan hal sekecil apapun yang dilakukan adiknya.


" Saya....." Rahma bingung harus darimana memulainya.


__ADS_2