Belenggu Akad

Belenggu Akad
Berita Duka


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang antara suami dan adiknya yang bersikeras untuk membawa Rahma pulang akhirnya Anggara menyerah. Rahma bahkan baru mengetahui jika selama ini Yusuf sudah menaruh curiga pada suaminya. Yusuf mengatakan bahwa sebelum hari ini dia sudah pernah melihat kebersamaan Anggara dengan istri keduanya di sebuah pusat perbelanjaan di Bandung.


Dia yang punya banyak kenalan di Bandung meminta bantuan teman-temannya untuk mencari informasi tentang kakak iparnya. Beberapa bukti sudah dia dapatkan, niatnya untuk mengklarifikasi hal itu pada sang kakak langsung terealisasi saat dirinya diajak salah satu sahabatnya untuk menemani kakaknya menghadiri undangan syukuran empat bulanan.


Yusuf yang sudah tidak bisa lagi menahan dirinya membombardir Anggara dengan kata-kata yang sangat menampar. Bukannya tidak sopan, namun sebagai adik laki-laki dari kakak perempuan yang diperlakukan tidak adil Yusuf merasa perlu melakukan apapun untuk membela kakaknya.


Entah apa yang dikatakan Yusuf hingga Akhirnya Anggara menyerah dan mengizinkan istri pertamanya untuk dibawa pulang oleh adik iparnya.


Beberapa hari sejak peristiwa itu Anggara pulang ke Garut, dia meminta maaf dan berjanji akan berlaku adil walaupun Rahma sendiri tidak tahu versi adil yang dimaksud Anggara.


Flashback off


Dua bulan berlalu, Rahma masih bertahan dengan pernikahannya karena mengingat bapaknya saat ini masih dalam proses penyembuhan. Dia tidak mau menambah beban pikiran kedua orang tuanya dengan masalah rumah tangga yang tengah di hadapinya. Pilihan berpisah selalu terlintas di benak Rahma, namun lagi-lagi sang ibu yang selalu membanggakan anak-anak dan menantunya yang selalu akur dan harmonis di sela-sela obrolan mereka membuat Rahma sungkan dan khawatir jika dirinya harus jujur dan memutuskan untuk berpisah.


Untuk saat ini, biarlah dirinya menelan sendiri pil pahit dari takdir yang sedang menyapanya. Untunglah kehadiran sang adik dan sahabatnya Lisna yang mengetahui kenyataan pahit yang tengah dihadapinya cukup memberinya kekuatan untuk dirinya lebih tegar dalam menghadapi ujian hidupnya. Aktivitas mengajar pun cukup menjadi pelampiasan diri dari kepenatan pikirannya, walau pun akhir-akhir ini Rahma sering merasa cepat lelah karena pengaruh kehamilannya sehingga dia pun memutuskan untuk resign dari sekolah tempatnya bekerja, tentunya karena alasan lain yang hanya Rahma dan Allah yang tahu. Namun demikian untunglah dirinya tidak mengalami mual dan muntah sebagai kondisi alami yang sering dirasakan wanita saat hamil muda.


Anggara semakin sering mengiriminya pesan menunjukkan perhatiannya, walaupun hanya dibalas singkat oleh Rahma. Uang bulanan yang biasa dikirimnya ke rekening Rahma bahkan meningkat tiga kali lipat dari biasanya. Mungkin ini yang dimaksud adil versi Anggara, pikir Rahma. Dia hanya tersenyum miris saat mendapat notifikasi di mobile bankingnya.


Selama sebulan setelah kejadian di rumah mertuanya Anggara seminggu sekali datang mengunjungi Rahma walaupun sepertinya hal itu dilakukannya tanpa sepengetahuan istri keduanya. Sayangnya itu pun hanya bertahan satu bulan. Sekarang benar yang dikatakan adiknya jika sudah satu bulan ini suaminya tidak pernah pulang dan berkabar sedang berada di luar kota karena ada urusan bisnis.


"Dek, bagaimana keadaan Bapak?" maaf teteh belum sempat ke rumah lagi, " ucap Rahma mengalihkan pembicaraannya dengan sang adik sore itu di taman kota yang tidak jauh dari komplek rumahnya,


"Bapak semakin baik teh, Alhamdulillah. Teteh...... beneran sudah mengundurkan diri dari sekolah?" Yusuf balik bertanya, dia yang mendapat kabar dari Lisna sahabat Rahma bahwa kakaknya mengundurkan diri dari sekolah kaget dan segera menanyakan langsung pada sang kakak, itulah inti pertemuan mereka sore ini.


"Heummm....kamu tahu dari Lisna?" Rahma menolah sekilas ke arah adiknya,


"Iya teh Lisna yang bilang ke aku, dia juga meminta agar aku membujuk teteh untuk membatalkan pengunduran diri teteh dari sekolah. Kalau mau istirahat ambil cuti aja katanya jangan langsung mengundurkan diri." Yusuf berkata panjang lebar, sesuai informasi yang didapatnya dari Lisna.


"Sayangnya surat pengunduran diri teteh sudah di acc, pihak yayasan juga sudah open rekrutmen guri baru untuk menggantikan teteh" ujar Rahma dengan senyum tipis di bibirnya,

__ADS_1


"Kenapa teteh melakukannya? bukankan sejak dulu menjadi guru dan mengajar di sekolah favorit menjadi cita-cita teteh? kalau bapak tahu pasti bapak juga tidak akan mendukung keputusan teteh"


"Siapa bilang?" tanya Rahma dengan posisi tubuh sedikit menjauh dari sang adik dan memicingkan matanya ke arahnya,


"Maksud teteh?" tanya Yusuf tidak faham dengan apa yang dikatakan kakaknya,


"Teteh melamar menjadi salah satu tutor di tempat bimbel online, Alhamdulillah lulus. Lumayan gajinya juga besar dan bisa dilakukan dimana saja" Rahma memberi tahu sang adik jika keputusannya mundur dari yayasan tempatnya mengajar dilakukan setelah dia diterima sebagai tutor di lembaga lain.


"Syukurlah, apapun yang menurut teteh baik aku akan mendukung. Aku percaya apapun keputusan teteh pasti sudah dipikirkan matang-matang dan aku akan mendukungnya. Kecuali satu..." Yusuf menjeda ucapannya,


"Apa?" tanya Rahma penasaran,


"Keputusan teteh untuk bertahan jadi istrinya si brengsek itu" Yusuf lagi-lagi selalu emosinya terpancing jika membicara kakak iparnya yang satu itu,


"Dek, istighfar....jangan seperti itu. Walau bagaimana pun dia aya dari calon keponakanmu" Rahma mengusap perutnya yang mulai membuncit.


"Ckk.....iya aku tahu" jawab Yusuf masih nada tidak ikhlas, dan Rahma hanya tersenyum menanggapinya.


"Tahu, teteh mau ke sana?" tanya Yusuf mulai mengendurkan urat-urat di rahangnya yang sempat mengeras,


"Iya, kalau kamu ada waktu senggang teteh mau dianter ke sana" ucap Rahma antusias, dia lega adiknya sudah kembali tenang.


"Boleh, gimana kalau besok? Lagian aku juga ada perlu sama Fauzan. Tapi harus dihubungi dulu teh, siapa tahu teh Shanumnya lagi engga ada di rumahnya. Biasanya teh Shanum lebih sering di tempat ibunya, di sana kan dia punya warung nasi teh"


Obrolan mereka pun berlanjut tentang Shanum, orang yang untuk pertama kalinya dia temui dua bulan yang lalu saat tragedi di rumah mertuanya.


Derrrt....Derrrtt... Derrrrt....


Saat tengah asik mengobrol sambil menikmati air kelapa muda yang dibeli dari pedagang yang mangkal di area taman kota. Tiba-tiba ponsel milik Yusuf yang disimpan di saku jaketnya bergetar. Mereka sempat menjadi perhatian beberapa orang yang berada di sana. Tubuh Yusuf yang tinggi dan Rahma yang hanya lebih sedikit dari bahu Yusuf membuat mereka seperti sepasang kekasih.

__ADS_1


"Ada telepon teh, bentar ya" dia izin pada Rahma untuk mengangkat teleponnya.


"Pak RT!" Yusuf mengernyit, melihat nama yang terpampang di layar pipihnya adalah Pak RT.


"Ada apa Pak RT nelepon aku?" ujarnya bingung,


"Angkat aja dek, siapa tahu penting" usul Rahma,


"Iya Teh" Yusuf pun menggeser icon hijau di layar ponselnya,


"Assalamu'alaikum" Yusuf menyapa penelepon setelah panggilannya terhubung.


"...."


"Iya, Pak. Ada yang bisa bantu?" ucap Yusuf santai walau terdengar dari seberang sana penelepon berbicara seakan seperti habis berlari.


"...."


"Apa?" pekik Yusuf, membuat Rahma sedikit terlonjak karena kaget mendengar suara keras sang adik,


"Dek, ada apa?" tanya Rahma dengan wajah cemas, Yusuf hanya menatapnya tajam karena masih fokus mendengarkan si penelepon,


"Baik pak saya akan segera pulang, terima kasih Pa" Yusuf memutuskan sambungan teleponnya dan segera memasukannya ke dalam saku jaket,


"Dek...."


"Bapak pingsan teh, sekarang di bawa ke rumah sakit sama Pak RT. Tadi ada tamu yang datang ke rumah sebelum Bapak pingsan." Yusuf menjelaskan dengan cepat dan buru-buru bersiap untuk pulang,


"Hah? siapa?" tanya Rahma yang juga panik,

__ADS_1


"Enggak tahu, sekarang sebaiknya kita segera menyusul ke rumah sakit. Bapak langsung di bawa ke RSU katanya"


Kedua kakak beradik itu pun segera menuju parkiran taman kota dengan kecemasan di hatinya masing-masing....


__ADS_2