
Semua orang yang berada di ruangan itu membisu menunggu apa yang akan dikatakan Rahma. Hanya suara anak-anak yang terdengar saling berbisik sambil menikmati camilan di sofa karena tidak ingin mengganggu Athaya yang sedang tertidur pulas.
"Katakanlah Nak, jangan sungkan" Pak Hakim akhirnya bersuara, memecah keheningan yang tercipta beberapa saat.
"Sebelumnya saya minta maaf..." Rahma kembali menjeda ucapannya, dia menarik nafas dalam sebelum kembali berbicara.
"Selama ini ada seseorang yang dengan gencar mendekati saya, dan beberapa hari yang lalu dia melamar saya" Rahma mengedarkan pandangannya ke wajah setiap orang yang ada di hadapannya.
Budi, kakak ipar dan Maya menjadi orang yang paling menunjukan wajah herannya. Sepertinya mereka memiliki pikiran yang sama, mengapa Rahma baru mengatakannya sekarang.
Pak Hakim dan istrinya pun terlihat tegang, ada raut kekecewaan di wajahnya ketika Rahma mengatakan itu. Namun berbeda dengan Yusuf yang tampak tenang tidak terpengaruh.
"Hampir seminggu ini saya terus memohon petunjuk secara khusus kepada Allah untuk masalah ini" Rahma menghela nafas,
"Dan beberapa jam yang lalu, saya sudah membuat keputusan untuk menerima dia menjadi pendamping saya" ucap Rahma lega, sebelumnya dia begitu gugup untuk mengatakan semuanya.
Kekecewaan langsung terlihat di wajah Pak Hakim dan istrinya. Dia tidak menyangka keinginannya untuk menjadikan Rahma sebagai menantu hanya sebatas harapan.
"Dek" Budi dan istrinya langsung berseru kompak, mereka tidak mengetahui sebelumnya jika sudah ada yang mendatangi Rahma dan melamarnya.
"Maafkan aku A, Kak, sebelumnya aku tidak bilang sama Aa dan Kakak" Rahma menunduk merasa bersalah,
"Jadi maksud kamu waktu itu ini?" tanya kakak ipar Rahma, dia ingat beberapa hari yang lalu adik iparnya itu sempat bertanya tentang seandainya dia menikah lagi. Tentu saja mereka semua akan mendukung asalkan Rahma bahagia.
"Kenapa kamu tidak bilang jika sudah menerima lamaran seseorang Dek?" tanya Budi lembut, dia kaget sekaligus bahagia ternyata sang adik akhirnya mau membuka hati.
"Maafkan aku A" ucap Rahma marasa bersalah, dan Budi bisa melihatnya.
"Tidak, maksud Aa bukan seperti itu. Aa justru malu sama kamu karena membawa kamu pada pertemuan ini, seandainya kakak mengetahui lebih awal tentang ini tentu kakak akan secara tegas menolak permintaan Pak Hakim untuk memperkenalkan putranya padamu" jelas Budi yang juga merasa bersalah, sebenarnya dia tidak ingin terlalu intervensi terhadap kehidupan sang adik karena dia tahu sendiri seperti apa trauma yang dirasakan Rahma pasca perpisahannya dengan Anggara.
Budi tahu Rahma yang diam-diam selalu menangis sendiri di tengah malam di atas sajadah, bukan karena meratapi perpisahannya dengan Anggara tapi merasa bersalah karena kepergian kedua orang tuanya tepat setelah mengetahui permasalahan rumah tangganya. Namun saat hari berganti, sang adik selalu tampak ceria, menebar senyum tanpa beban sedikitpun padahal mentalnya sedang dibantai habis-habisan oleh realita yang menyakitkan.
"Teteh, aku bahagia......akhirnya teteh mau membuka hati" Maya menjadi orang yang paling ekspresif menunjukan kebahagiaannya tentang berita yang disampaikan Rahma, dia berdiri dari tempatnya duduk dan berhambur memeluk Rahma dari belakang.
__ADS_1
Melihat kebahagiaan anak-anak sahabatnya Pak Hakim pun turut mengembangkan senyum, walaupun keinginannya tidak tercapai setidaknya hatinya tenang melihat mereka tersenyum.
"Yaaah.....ibu gak jadi punya mantu kamu dong mbak" Bu Hakim tak kalah ekspresif menunjukan kekecewaannya, wajahnya terlihat sedih membuat kakak beradik itu langsung memudarkan senyumnya.
Keheningan kembali tercipta...
"Maaf Bu, orang....."
"Nak Rahma, maafkan ibu. Tapi jika kalian berkenan bolehkah kami menganggap kalian semua anak-anak kami?" Pak Hakim menjeda ucapan Rahma karena merasa tidak enak dengan perkataan istrinya.
"Tentu saja Pak, dengan senang hati kami akan menganggap bapak dan ibu juga sebagai orang tua kami. Kami memang sangat berharap agar silaturahmi ini tetap terjalin walaupun kita tidak terikat karena pernikahan" kali ini Budi sebagai anak tertua yang menjawab, dia mewakili adik-adiknya yang juga turut berbahagia dengan permintaan Pak Hakim.
"Kalau gitu, sekarang teteh kasih tahu dong sama kita semua siapa seseorang yang sudah berhasil mencairkan gunung es ini?" canda Maya yang masih mengalungkan tangannya di leher Rahma.
"Iya, siapa laki-laki beruntung itu Nak" Pak Hakim tak kalah penasaran,
Rahma mengulas senyum, dia menatap Bu Hakim yang sejak tadi masih menunjukan wajah sedihnya.
"Tidak apa-apa Mbak Rahma, katakan saja" masih dengan panggilan yang sama Bu Hakim mulai tersenyum menutupi kekecewaannya.
"Seseorang yang saya terima untuk menjadi pendamping hidup saya dan Athaya adalah laki-laki yang menjemput Ibu waktu pertama kali kita bertemu di toko" ucap Rahma ragu, dia ragu jika Bu Hakim masih mengingat pertemuan pertama mereka waktu itu.
Benar saja..... Bu Hakim tampak menautkan kedua alisnya. Dia berpikir cukup keras untuk mengingat pertemuan pertamanya dengan Rahma karena peristiwa itu sudah cukup lama berlalu.
"Dia mantan atasan saya di yayasan tempat saya mengajar di Garut Bu, Pak Tama" akhirnya Rahma mengungkapkan fakta yang sebenarnya karena Bu Hakim terlihat cukup kesulitan mengingat.
"Maksud kamu dia...."
"Maksud kamu Tama anak saya?" Bu Hakim memotong ucapan suaminya yang juga kaget dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Iya" jawab Rahma menganggukan kepala dengan seulas senyum di bibirnya.
"Kamu serius?" Bu Hakim langsung berdiri dan berjalan mendekati Rahma, dia mengguncang bahu Rahma sampai-sampai Maya mundur karena kaget.
__ADS_1
"Iya Ibu, maaf....tanpa izin ibu saya sudah menerima lamaran putra ibu. Dia memberi saya waktu yang sebentar, sepulangnya dari luar negeri saya harus sudah memberinya jawaban" jelas Rahma, dia berusaha memberi pemahaman pada Bu Hakim, takut jika wanita paruh baya itu merasa tersinggung karena ulahnya.
"Aaa.....Papa......akhirnya" Bu Hakim berteriak menyebut suaminya tetapi sambil memeluk Rahma, dia benar-benar bahagia mendengar penuturan Rahma. Saking bahagianya, Bu Hakim beralih ke pelukan suaminya dengan tangis haru bahagia.
"Alhamdulillah, terima kasih Nak Rahma, terima kasih" Pak Hakim pun tak kuasa menahan rasa bahagianya, dia terlihat mengusap sudut matanya hang mulai berair.
"Sama-sama Pak, saya tidak menyangka jika Pak Tama adalah putra Bapak" Rahma tersenyum ke arah Budi dan kakak iparnya yang masih bengong,
"Jadi A, Kak Tama yang menemui Aa ke kantor itu adalah putranya Pak Hakim yang mau dijodohkan sama teteh hari ini" Yusuf turut bersuara memberi kesimpulan untuk menjawab kebingungan kedua kakaknya.
"Ouh jadi...." Budi pun manggut-manggut faham, setelah semuanya mengerti dengan mereka pun tertawa bersama karena kebetulan yang sangat indah.
"Jadi Mas Tama pun belum tahu jika wanita yang akan dikenalkan malam ini adalah Rahma?" tanya Budi dengan masih menyisakan tawa di antara mereka.
"Belum, anak itu tadi menelepon mama, Pa" giliran bu Hakim yang kini berbicara, dia kembali duduk di dekat Rahma dan tak lupa menggenggam satu tangan Rahma.
"Tadi Tama menelepon agar kita membatalkan pertemuan ini, dia bilang dia sudah mempunyai pilihan dan akan membawanya ke hadapan kita besok" jelas Bu Hakim antusias, sekarang dia pun menertawakan kelakuan anaknya ketika menelepon tadi.
Flash back on...
"Mas, ayo....saya parkir di sana" Fajar datang menghampiri, dia sudah mengubah panggilan formalnya agar tampak lebih akrab atas permintaan Tama.
"Kok lama?" tanya Tama dengan wajah sedikit kesal,
"Maaf Mas tadi saya disuruh mengambil dulu pesanan Ibu yang belum diambil katanya. Jadi saya bolak-balik" jawab Fajar sejujurnya,
"Pesanan apa?" tanya Tama penasaran, dia sedikit curiga mamanya bertindak terlalu jauh, sependek pengetahuannya dia sudah sepakat bahwa ini hanya pertemuan biasa.
"Saya kurang tahu Mas, tapi dari tulisan di kemasannya sepertinya itu perhiasan" Fajar mulai menyalakan mobil dan siap meluncur ke tempat yang sudah ditentukan oleh Pak Hakim.
"Tunggu dulu, aku harus harus menelepon Mama" Tama menghentikan Fajar yang sudah hampir akan melajukan mobilnya, dia meminta berhenti dan keluar mencari tempat yang nyaman untuk menelepon.
"Assalamu'alaikum, Ma"
__ADS_1