
Waktu berlalu begitu cepat, hari-hari yang dijalani Rahma lebih kini lebih berwarna. Enam bulan berlalu sejak Anggara meminta kesempatan kepada Rahma untuk memperbaiki hubungan dan rumah tangga mereka. Jalinan komunikasi antara dirinya dengan sang suami semakin membaik, walau bagaimana pun komunikasi yang baik adalah kunci kelanggengan suatu hubungan dan sepertinya Anggara menyadari itu.
Tiada hari tanpa memberi kabar pada istrinya, ucapan selamat pagi yang dibubuhi kata-kata manis menjadi rutinitas mengawali hari mereka. Rahma kadang masih merasa sungkan, dia hanya membalas dengan emot setiap chat romantis yang dikirim suaminya setiap pagi.
Bukan hanya mengawali hari dengan saling berkirim pesan romantis dan penuh motivasi di setiap paginya. Anggara juga memiliki jadwal tersendiri untuk bervideo call dengan sang istri menjelang tidur. Sesibuk apapun dia, selama enam bulan ini semua aktivitas sederhana itu dia selalu lakukan dan menjadi perekat hubungan mereka sehingga semakin baik.
Setiap sebulan sekali Anggara pulang ke Garut, saat itu adalah waktu yang sangat dinantikan oleh Rahma. Sebagai seorang istri yang baik dia tentu selalu mempersiapkan semuanya agar terlihat istimewa saat suaminya pulang. Dari mulai membersihkan rumah, menyiapkan makanan kesukaannya dan hal lainnya selalu dia siapkan menjelang kepulangan Anggara setiap bulannya.
Semenjak dirinya memberikan kesempatan pada Anggara, Rahma melihat perubahan pada diri Anggara sangat signifikan. Anggara bahkan sudah tidak pernah lagi membahas tentang kekasihnya begitupun sebaliknya, Rahma tidak pernah menanyakan perihal itu. Biarlah itu menjadi urusan Anggara pikirnya. Seperti apa cara Anggara untuk berpisah dengan kekasihnya, Rahma hanya akan berusaha untuk percaya bahwa Anggara akan memperbaiki rumah tangga mereka. Semenjak Anggara meminta kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga mereka Friska tidak pernah sekalipun muncul.
Hingga saat ini Rahma masih mengamati kesungguhan Anggara, dia memegang kata-kata suaminya itu bahwa dirinya akan berubah dan perlahan akan memutuskan hubungannya dengan Friska. Walau pun semuanya tidak mudah tapi Anggara meyakinkan Rahma agar percaya dan memberinya waktu untuk menyelesaikan semuanya.
Hari yang ditunggu Rahma pun tiba, tidak bisa dipungkiri jika dirinya selalu menantikan hari ini. Setiap awal bulan Anggara akan pulang mengunjunginya dan tinggal dua sampai tiga hari di sana. Walau pun mereka masih tidur di kamar yang berbeda tapi kehangatan hubungan mereka semakin terasa.
Dukungan keluarga dan juga mertua yang selalu menghubunginya membuat Rahma semakin mantap untuk menetapkan hati, menerima Anggara seutuhnya. Rahma memang jarang bertemu dengan mertuanya karena mereka masih sibuk dengan tugas sang ayah mertua yang juga sebagai salah satu pejabat di kepolisian. Mereka masih harus berpindah-pindah sesuai dengan tugas yang diberikan pada ayah mertuanya. Tapi komunikasi tetap terjalin dengan baik.
Tepat pukul tujuh malam terdengar suara deru mobil di halaman rumah Rahma, segera Rahma beranjak dari atas sejadah. Rutinitasnya selepas shalat maghrib adalah tadarus hingga waktu Isya menjelang.
Dengan masih berbalut mukena, Rahma berjalan membuka pintu depan rumahnya. Dia yakin itu adalah suara mobil suaminya, dan benar saja saat Rahma membuka pintu Anggara sudah keluar dari mobil dan tampak tersenyum ke arahnya dengan tas kerja di bahunya dan beberapa buah tangan di tangannya.
"Assalamu'alaikum" ucap Anggara menyapa istrinya, dia mengulurkan buah tangan yang sengaja dibawanya dari Bandung.
"Wa'alaikumsalam, Mas" jawab Rahma dengan wajah ceria dan mata berbinar, menunjukkan betapa bahagianya dia menyambut kedatangan suaminya.
"Kamu cantik sekali malam ini" posisi mereka masih berada di teras, tapi Anggara sudah meluncurkan kata-kata romantisnya. Tidak lupa dia pun melayangkan kecupan hangat di kening Rahma usai istrinya itu mencium tangannya.
Sejenak Rahma memaku mendengar pujian dari suaminya, dia pun sudah tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang langsung merona saat Anggara yang tiba-tiba mengecup keningnya dan menatapnya penuh cinta.
Setelah shalat isya berjamaah dan makan malam bersama. Rahma dan Anggara kini tengah duduk berdua di depan televisi. Sepiring pisang goreng dan teh hijau hangat menjadi pelengkap kebersamaan mereka malam ini.
" Ini Mas, hati-hati masih agak panas" Rahma menyerahkan secangkir teh hijau pada suaminya, Anggara dengan sigap menerimanya. Pandangannya beralih dari televisi yang sedang menayangkan berita ke wajah sang istri yang tepat ada di hadapannya.
__ADS_1
Rahma yang akan duduk di sofa lain yang berdampingan dengan Anggara menghentikan gerakannya karena satu tangannya dicekal oleh Anggara,
"Duduklah di sini" Anggara menepuk ruang kosong sofa tepat di sampingnya,
Rahma masih belum beranjak, namun tangannya kembali di tarik oleh suaminya itu hingga tubuhnya pun terjatuh tepat di samping Anggara. Kini mereka pun duduk berdampingan tanpa ada jarak yang memisahkan.
Satu tangan Anggara merangkul bahu Rahma setelah dirinya menyimpan teh di atas meja yang baru saja diseruputnya perlahan.
"Mendekatlah, aku merindukanmu" Anggara menggiring kepala Rahma agar bersandar di dadanya, tangan kirinya mendekap Rahma sementara tangan kanannya meraih remote televisi dan mengecilkan sedikit volume televisi.
"Aku merindukanmu, apa kamu juga merindukanku?" tanya Anggara dengan suara yang lembut,
"Heumm, itu...." Rahma tampak malu-malu menjawab, dia pun melanjutkan jawabannya dengan menganggukan kepalanya yang masih bersandar di dada bidang suaminya.
"Aku bahagia sekali, tidak menyangka ternyata seindah ini pacaran setelah menikah" ucap Anggara kembali, tangannya beralih mengusap kepala Rahma penuh kasih sayang.
"Mungkin karena itulah Allah melarang berpacaran sebelum menikah. Karena bagi orang yang mampu bersabar, dapat menguasai hati dan hasratnya di saat belum halal, maka Allah memberinya tidak hanya pahala di akhirat tapi juga ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan di dunia"
"Persahabatan diatur dalam Islam. Bersahabat dengan lain jenis kelamin tidak dibenarkan. Sebagai jalan lurus dalam menjalin persahabatan dengan lain jenis, Islam mengajarkan pernikahan yang sebaiknya dilakukan dengan lebih dahulu mempelajari kualitas kepribadian bakal calon pasangan" deg....Rahma tersentak dengan kalimat terakhir yang diucapkannya sendiri.
Hingga pada akhirnya, mencari ridho Allah atas segala keputusannya menjadi penguat untuk memantapkan menikah saat itu. Walau pun pada akhirnya Rahma sempat menerima kenyataan pahit di awal pernikahannya.
"Mengapa bersahabat dengan lain jenis dilarang?" sela Anggara,
"Karena dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah dan penyakit hati. Namun, interaksi antar jenis tetap dapat dilakukan dalam koridor ketentuan syariat Islam" jawab Rahma, dia pun menghentikan ucapannya saat menyadari dari tadi dirinya sudah terlalu banyak bicara.
"Kamu benar sayang" ucap Anggara lirih, dia pun membenarkan penjelasan Rahma tentang konsep hubungan antara laki-laki dewasa dengan wanita dewasa yang dirundung rasa saling mencintai. Hatinya merasa tercubit mendengar ucapan istrinya itu.
"Lanjutkan sayang, aku senang mendengarkan banyak ilmu dan pengetahuan darimu" lanjut Anggara,
"Benar Mas mau mendengarkannya?" Rahma mendongak menatap wajah suaminya dengan posisi masih bersandar di dada Anggara.
__ADS_1
Cup....tanpa permisi Anggara mencium Rahma tepat di bibirnya membuat Rahma membulatkan mata dan wajahnya seketika memerah.
"Kenapa sayang?" Anggara terkekeh melihat respon istrinya,
"Mas ih..." Rahma kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang Anggara, membuat Anggara tergelak.
"Ini pertama kalinya untukmu?" tanya Anggara yang dijawab anggukan kepala oleh Rahma tidak berani memperlihatkan wajahnya, dia benar-benar malu, belum terbiasa dengan perlakuan suaminya.
Sementara Anggara tersenyum lebar saat mengetahui jawaban Rahma, ada kebanggaan di hatinya saat tahu jika dirinya menjadi laki-laki pertama untuk istrinya. Walaupun dalam hati kecilnya rasa bersalah tiba-tiba menyergap karena tidak bisa menjaga diri dan hatinya selama ini.
"Lanjutkan sayang" Anggara kembali meminta sang istri melanjutkan penjelasannya tentang persahabatan dalam Islam.
"Islam memiliki sistem sosial yang berisi seperangkat peraturan yang mengatur pergaulan antara pria dan wanita, di antaranya, menutup aurat, menjaga pandangan, tidak berkhalwat atau berdua-duaan di ruang sepi atau tertutup, berbicara seperlunya saja karena takwa kepada Allah dan ada agenda interaksi yang dibolehkan syara', misalnya belajar mengajar di sekolah atau di forum diskusi terbuka"
" Intinya tidak ada obat yang paling manjur untuk dua orang saling mencintai selain pernikahan. Karena dengan ikatan suci itu keduanya bisa saling mencurahkan rasa dengan leluasa. Kalau pun belum ada cinta antara pasangan di awal pernikahan, setidaknya ketika mereka faham ilmu maka niat dan syariat akan menuntunnya ke jalan yang penuh rahmat" pungkas Rahma,
"Terima kasih sayang atas pencerahannya, dan aku minta maaf jika di masa lalu aku tidak bisa menjaga diri" ucap Anggara dengan wajah sendu, andai waktu bisa diulang, dia akan memilih untuk lebih dulu dipertemukan dengan Rahma.
"Masa lalu adalah sesuatu yang sudah terjadi, kita tidak bisa mengembalikannya. Sama seperti halnya tidak mungkin untuk kita bisa membuat Air mengalir ke hulu atau bayi kembali ke dalam perut ibunya. Tugas kita selanjutnya adalah memperbaiki masa kini untuk masa depan yang lebih baik"
"Kamu benar sayang, mmuuaachh...." Anggara mencium puncak kepala Rahma dalam, dia tidak tahu jika degup jantung Rahma semakin meningkat.
"Sayang, mama ada menelepon kamu?" Anggara mengalihkan topik pembicaraan, dia teringat jika kepulangannya kali ini ingin juga ingin menyampaikan amanat sang ibu,
Rahma mengangkat kepalanya, dia membenarkan posisi duduknya agar bisa berbicara sambil bertatap wajah dengan sang suami namun tangan Anggara menahannya.
"Biarkan seperti ini dulu sayang, rasanya nyaman sekali" cegah Anggara dan Rahma pun menurut.
"Kemarin mama meneleponku, beliau katanya sekarang sedang ada di Palembang. Nanyain mau dibawain oleh-oleh apa, minggu depan mau pulang ke Bandung dan mau datang ke sini katanya" jawab Rahma, kemarin ibu mertuanya memang meneleponnya untuk memberitahukan hal itu.
"Mama, tidak bicara hal lain?" tanya Anggara menelisik,
__ADS_1
"Hal lain apa?" Rahma balik bertanya,
"Mama ingin segera menimang cucu"