
Lima tahun berlalu....
Seorang anak laki-laki berteriak-teriak senang mengendarai sepeda roda dua berwarna biru yang tampak masih baru. Dia baru saja menerimanya sebagai hadiah kedatangan seseorang yang sering menghubunginya melalui sambungan internasional selama ini.
Jika selama ini hanya berkomunikasi secara tatap maya, kini mereka berhadapan langsung dengan jarak hanya beberapa langkah, bahkan pertemuan haru itu langsung membuat keduanya merentangkan tangan dan saling memeluk. Laki-laki itu selalu meminta agar anak kecil itu menyebutnya Daddy namun dilarang oleh sang Bunda karena itu tidak seharusnya katanya.
"Hati-hati Thaya....." teriak sang Bunda yang melihat kedua laki-laki beda generasi itu dari kejauhan.
Hari yang cerah untuk sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu di akhir pekan. Anak laki-laki itu sudah mulai menguasai sepeda barunya dengan baik, dia bermain sendiri sambil sesekali melambaikan tangannya ke arah sang bunda yang kini tengah duduk di bangku taman tempatnya bermain bersama omm pemberi hadiah sepeda yang dipakainya.
"Setelah berkali-kali bumi mengelilingi matahari, aku senang akhirnya ibu bersedia bertemu denganku secara langsung" ucap pemuda tampan dengan penampilan casual yang semakin menampakan jika umurnya masih muda itu, Rahma hanya tergelak mendengarnya. Setiap kepulangannya ke tanah air, pemuda yang dulu pernah menjadi muridnya itu selalu meminta untuk bertemu namun Rahma selalu menolak.
"Ibu senang kamu sudah menuntaskan pendidikan kamu dan bisa membanggakan kedua orang tuamu, Adrian" balas Rahma dengan tatapan tidak lepas dari sang putra yang masih anteng dengan sepeda barunya,
Lima tahun sudah Rahma melewati hari-harinya dengan menjadi singleparent. Kepiluan dan kesepian tak jarang dia rasakan saat menyadari dia melalui hari-harinya mengandung, melahirkan dan mengurus putranya itu tanpa seorang suami.
Untunglah, kehadiran keluarga terkasih yang selalu ada di saat-saat rapuh dirinya tidak membuatnya larut dalam keterpurukan. Dan semuanya pun berlalu, Rahma bisa melaluinya dengan baik dengan kehadiran orang-orang terkasih di sekitarnya.
Kakaknya menjadi figur ayah untuk putranya, sehingga dia tidak terlalu kehilangan sosok ayah di masa pertumbuhannya. Begitupun dengan kakak ipar yang memperlakukan putranya seperti anaknya sendiri bahkan lebih. Bayi laki-laki yang dilahirkan Rahma lima tahun silam itu diberi nama Athaya yang artinya hadiah, berkah, anugerah dari Allah Subhanahu wata'ala tumbuh dengan baik dengan limpahan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Rahma sendiri yang memberi nama itu, dengan banyak harapan jika sang putra bukan hanya menjadi anugerah untuk dirinya saja tapi kelak dia menjadi berkah dan anugerah untuk umat, agama dan bangsa.
Sepupu-sepupunya sangat menyayangi dan menjaga Athaya dengan baik. Rahma tidak khawatir dengan perkembangan psikis putranya yang terlahir dan tumbuh tanpa seorang ayah di sampingnya. Karena kasih sayang yang diberikan kakaknya, kakak ipar dan adiknya Yusuf sudah melampaui kasih sayang yang diberikan ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
Selama lima tahun ini Rahma tidak pernah menutup akses Anggara sebagai ayah kandung putranya itu, tetapi entah karena kesibukan atau hal apa Anggara lebih sering mengiriminya pesan untuk menanyakan kabar putranya itu dibanding menemuinya langsung. Momen lebaran mungkin adalah momen dimana mereka bertemu itu pun hanya beberapa menit.
"Apa ibu belum move on dari ommku?" Adrian kembali memulai obrolan mereka, dia berkali-kali meminta bertemu setiap kepulangannya dari luar negeri meneruskan sekolahnya namun Rahma selalu menolak dengan berbagai alasan.
Adrian sudah mengetahui tentang status Rahma, dia lun mengetahui seperti apa kronologis perpisahan guru SMA nya dengan mantan suaminya. Dia tidak menyangka jika yang menjadi istri kedua mantan suami gurunya itu adalah tantenya sendiri, dari sang mama cerita itu pun mengalir.
Rasa iba seketika menyelimuti hatinya tatkala mengetahui guru kesayangannya harus terkorban, rasa kesal terhadap tantenya pun tumbuh di hatinya. Sejak mengetahui tentang hal itu Adrian ingin selalu hadir dan ada untuk Rahma, pertemuannya di acara peresmian sebuah mesjid lima tahun lalu berhasil membuat Adrian mengetahui nomor ponsel terbaru Rahma. Sejak saat itu dia rutin menghubungi dan menanyakan kabar dari putra gurunya itu.
"Apaan sih kamu? enak aja!" jawab Rahma dengan intonasi meninggi mendengar pertanyaan murid SMA nya itu.
"Haha....."tawa Adrian pecah dia senang jika mode galak Rahma kembali, dirinya seakan melihat semangat yang sama dari gurunya seperti saat SMA dulu.
"Aku senang ibu sudah move on, tapi kenapa belum memberi Athaya papa baru? Omm Angga sudah mau punya anak dua lho Bu" tanya Adrian dengan nada mengejek,
"Aku mau lho Bu jadi papanya Athaya" ucap Adrian santai membuat Rahma semakin tergelak lebih keras kali ini,
"Ibu, aku serius!" sentak Adrian dengan wajah kesal karena Rahma malah menertawakannya,
"Uppss...maaf" ucap Rahma sambil menutup mulutnya dengan tangan,
"Aku serius Bu, aku mau jadi papanya Athaya" ucap Adrian lagi,
__ADS_1
"Aku sekarang sudah dewasa, sudah pas untuk menikah dan berkeluarga. Mama Papaku bahkan susah pingin menimang cucu. Aku tahu usia kita berbeda jauh tapi aku rasa itu bukan masalah, lagian Athaya juga sudah sangat nyaman denganku. Ibu harus ingat ya walau bagaimanapun Athaya itu butuh sosok papa untuk melengkapi hidupnya, Bu" Adrian kembali berkata panjang lebar, dia melamar dengan terang-terangan untuk menjadi papanya Athaya dengan mode serius.
Rahma menarik nafasnya dalam, mendengar pembicaraan Adrian yang semakin serius membuat Rahma menghentikan tawanya. Ini yang dia takutkan jika bertemu langsung, pemuda yang dulu pernah jadi muridnya dan selalu memberi perhatian itu, sejak awal mengetahui statusnya sebagai singleparent sudah menunjukkan gelagat sukanya dengan terang-terangan, perhatiannya yang lebih dari biasanya dan semua hal yang dilakukannya membuat Rahma berusaha membangun tembok tinggi antara mereka.
"Adrian, Athaya sudah punya papa" tegas Rahma membuat Adrian yang sedang menunduk seketika menegakkan kepalanya.
"Ibu, aku ...."
"Dan ibu belum berniat untuk menikah lagi, lagian kalau pun suatu saat Allah memberi jodoh pada ibu, ibu harap dia adalah orang yang benar-benar tepat dari segala sisi. Kamu itu murid ibu, perbedaan di antara kita terlalu jauh, bukan hanya sekedar usia tapi juga status dan banyak hal lain yang harus dipertimbangkan" Rahma memotong Adrian yang akan melanjutkan perkataannya, dia sudah menebak kemana arah pembicaraan pemuda itu. Oleh karenanya lebih baik Rahma bersikap tegas dari sekarang.
"Kalau perhatian kamu dan kebaikan kamu selama ini pada Athaya karena ingin menjadi papanya tolong lupakan itu, dan hentikan semuanya. Ibu tidak ingin kamu terus berharap, masih banyak di luaran sana gadis yang tepat untuk kamu yang sekufu denganmu dalam segala hal. Dan kita tidak usah bertemu lagi" tegas Rahma, dia benar-benar harus tega daripada pemuda iru terus berharap yang lebih darinya,
"Bu...."
"Athaya, ini sudah siang sayang. Kita pulang yuk...." Rahma berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tempat putranya bermain,
"Bu, Bu Rahma...bukan begitu Bu" Adrian tampak panik dengan sikap Rahma dan segera berdiri mengikuti gurunya itu,
Rahma menatap tajam ke arah Adrian, memberi kode agar tidak membahas apa yang menjadi topik obrolannya barusan di hadapan Athaya dan Adrian mengerti arti sorot mata itu, dia pun diam dan kembali berusaha menetralkan perasaannya.
"Bunda, kapan-kapan kita bermain lagi di sini ya" Athaya sedikit merajuk saat diajak pulang karena masih ingin bermain di sana,
__ADS_1
"Tentu sayang, kapan-kapan kita akan bermain lagi. Sekarang sudah siang, mama pasti sudah menunggu kita" bujuk Rahma agar mood putranya itu kembali ceria, mama adalah panggilan Athaya pada kakak iparnya. Bagi kakak iparnya Athaya sudah seperti putranya sendiri.
"Oke Bunda, let's go kita pulang" ajak Athaya dengan wajah cerianya kembali dan bergaya dengan lucunya membuat Rahma tertawa lega, sejak awal kehadiran putranya yang kini sudah menduduki bangku play group itu selalu menjadi sumber tawa dan kebahagiaan untuknya. Seperti namanya Athaya adalah hadiah, anugerah dan berkah yang Allah berikan untuk Rahma dalam hidupnya.