
Waktu yang dinantikan pun tiba, Rahma sudah bersiap untuk pergi menemani sang putra memenuhi undangan sekolah taman pendidikan al-Qur'an tempat sang anak menuntut ilmu. Athaya akan tampil menjadi salah satu pengisi acara dalam kegiatan yang diadakan TPQ-nya.
Sebelumnya Athaya sudah berhasil menjadi juara pertama pada perlombaan pildacil di TPQ-nya, dan sekarang yayasan yang menaungi TPQ tempat Athaya belajar tengah mengadakan acara besar yayasan.
Dua bulan lagi Athaya genap berusia lima tahun, Rahma pun berencana nanti akan memasukan Athaya ke taman kanak-kanak yang sama di sana.
"Bunda sudah siap? let's go kita berangkat" lelaki kecil dengan wajah tampan dan perawakan tinggi besar yang merupakan warisan dari sang ayah itu sudah berdiri di ambang pintu dengan kostum lengkap seorang da'i cilik.
"Masya Alloh, putra bunda ganteng sekali" puji Rahma menyongsong sang putra sambil merentangkan tangan bersiap untuk memeluk.
"Stop, no no no Bunda. No peluk untuk sekarang" telunjuk lentik di acungkan Athaya sambil digoyang-goyangkan di depan wajahnya ke arah Rahma yang sudah siap akan memeluknya.
"Lho...kenapa?" tanya Rahma heran, dia pun menurunkan kembali tangannya dengan wajah pura-pura kecewa karena penolakan sang putra.
"Kata uwa, untuk sekarang jangan dulu ada yang peluk-peluk Thaya, nanti penampilan Thaya tidak rapi lagi. Uwa sudah merapikannya, kalau mau cium aja dan peluknya nanti setelah Thaya turun panggung" Athaya pun menjelaskan alasan kenapa dirinya menolak dipeluk sang bunda. Rupanya kakak ipar Rahma sudah berperan sangat besar dalam hal ini.
Uwa adalah panggilan Athaya untuk kakak dan kakak iparnya, sengaja perlahan Rahma mengenalkan istilah panggilan dalam bahasa sunda agar Athaya tahu dan tetap menjunjung tinggi bahasa sunda sebagai bahasa ibu tempat asal leluhurnya.
Rahma pun memerhatikan penampilan sang anak dari atas ke bawah, peci yang senada warnanya dengan baju yang dipakai sang putra, bawahan dengan model sarung celana, sorban yang tergantung rapi di lehernya, semuanya tampak serasi dan sempurna. Membuat Rahma berdecak kagum dengan penampilan sang putra yang disiapkan uwa perempuannya khusus untuk hari ini.
"Kalau begitu kita foto dulu ya?" ajak Rahma sambil merogoh ponsel dari tasnya,
"Oke Bunda" Athaya bergaya bak model dan siap berfoto dengan wajah imut bersama sang bunda. Rahma benar-benar dibuat gemas dan ingin sekali mendekapnya dalam pelukan, namun dia tahan karena menuruti perintah sang putra.
"Ayo!" ajak Rahma mengulurkan tangan ke arah Athaya yang disambut sang putra dengan uluran tangan mungilnya yang menggemaskan.
"Sudah siap berangkat?" kakak ipar yang datang dari arah dapur menyapa, dia menenteng goodie bag yang disodorkan ke arah Rahma untuk dibawa,
"Ini apa Kak?" tanya Rahma setelah menerima goodie bag itu. Rahma membukanya untuk mencari tahu isinya.
"Bekal untuk kalian, nanti di sana pasti lama. Jangan sampai lupa makan" ucap kakak ipar penuh perhatian.
Sejak memutuskan untuk tinggal bersama kakak dan kakak iparnya di Jakarta, Rahma merasa tidak kehilangan kasih sayang dan perhatian sang ibu. Kakak iparnya berhasil menjadi peran pengganti, yang selalu mencukupi kebutuhan perhatian dan kasih sayang seorang ibu untuknya dan Yusuf.
__ADS_1
"Kakak, terima kasih" ucap Rahma tulus, dia selalu saja dibuat haru oleh setiap perhatian kecil yang diberikan kakak ipar untuknya dan Athaya juga Yusuf.
Walaupun kini Yusuf sudah tidak tinggal bersama mereka karena memilih menerima fasilitas tempat tinggal dari perusahaannya tempatnya bekerja, tapi kakak ipar tetap tidak lupa untuk memerhatikan Yusuf. Mengingatkannya untuk tidak lupa makan, mengiriminya bekal dan perhatian-perhatian kecil lainnya.
Tidak hanya Rahma dan Yusuf yang selalu berterima kasih pada kakak ipar rasa ibu itu, tetapi Budi kakak mereka yang merupakan suami dari kakak iparnya tak segan-segan untuk berterima kasih dan menunjukan keromantisan di depan adik-adiknya.
"Ayo cepat berangkat, nanti keburu sore. Mau bawa mobil sendiri atau dianterin Mang Ade?" tanya kakak ipar memastikan,
"Bawa sendiri aja Kak. Kasihan Mang Ade juga harus istirahat" Mang Ade adalah sopir toko yang juga tinggal di sana.
Kakak iparnya pun mengangguk setuju, karena diapun tahu jika hari ini pesanan snack box di tokonya sangat banyak dan membuat Mang Ade cukup kewalahan mengantarkan setiap pesanannya.
"Baiklah, hati-hati kalau begitu. Jangan lupa kabari kakak kalau sudah sampai dan jangan pulang terlambat. Katanya tamunya akan datang jam delapan nanti malam" ucap kakak ipar dengan tatapan yang hangat.
Deg...mendengar itu Rahma sejenak membeku. Dia ingat obrolan dengan sang adik beberapa malam yang lalu, jika akan ada sahabat almarhum bapak yang akan datang secara khusus untuk bertemu dengannya.
"I...iya Kak, Insya Allah" hanya kalimat itu yang kemudian terucap dari bibir Rahma, dia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja.
Rahma melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya kini bercabang antara fokus pada jalanan yang dilaluinya dan memikirkan tentang pertemuan nanti malam. Rahma rahu jika maksud kedatangan sahabat almarhum bapaknya adalah untuk memintanya agar berta'aruf dengan putranya.
"Bunda, nanti Ayah mau datang" Athaya memecah keheningan,
"Heumm" jawab Rahma tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus ke depan,
"Kemarin ayah datang ke toko uwa" lanjut Athaya.
"Hah?" Rahma mulai menyadari isi pembicaraan Athaya, sejak tadi dia terlalu fokus menyetir dan memikirkan hal lain.
"Ayah datang ke toko uwa?" Rahma memastikan kembali informasi yang didengarnya dari sang putra.
"Iya Bunda, tadi malam ayah datang dan melihat Thaya latihan. Ayah tanya buat apa Thaya latihan, Thaya bilang buat tampil hari ini. Jadi ayah mau datang dan menyaksikan Thaya" Athaya menjelaskan dengan rinci dan didengarkan secara seksama oleh Rahma yang merasa heran sekaligus ragu. Benarkah mantan suaminya itu akan menepati janjinya.
"Oke, kalau begitu sekarang ayo kita turun. Sebentar lagi adzan Ashar kita langsung ke Mesjid ya" ajak Rahma.
__ADS_1
Suara lantang khas anak kecil tengah menggema memenuhi seantero yayasan. Tak ada yang tidak tertarik untuk menuju ke panggung utama. Acara inti hari ini dibuka dengan penampilan spektakuler seorang da'i cilik yang menjadi juara pada lomba pilihan da'i cilik yang diadakan TPQ Baitur Rahmah dalam rangka peringatan hari besar Islam Isra dan Mi'raj tahun ini.
Athaya mampu menyulap suasana riuh dengan hening seketika ketika ucapan salam dan do'a pembuka berhasil disampaikannya dengan lantang dan lancar.
Para hadirin masih berdecak kagum dengan kepiawaian Athaya dalam berbicara. Ekspresi wajah yaang menggemaskan, gestur tubuh yang lucu, intonasi yang teratur dan alami membuat orang-orang memusatkan perhatiannya pada Athaya. Mereka masih terpesona dengan penampilan Athaya bahkan ketika Athaya mengucapkan salam pamungkas yang diawali dengan pantun.
"Orang tua harus dihormati"
"Cakep..." serempak semua menjawab,
"Jangan sesekali menjadi anak durhaka"
"Cakep..." sahutan kedua para penonton tak kalah seru,
"Mohon maaf ceramah ini harus diakhiri. Mari angkat tangan berdoa bersama" pungkas Athaya mengakhiri pantunnya.
Serempak semuanya turut mengangkat tangan seperti yaang dilakukan Athaya di atas panggung.
"Allahummaghfirlii Wa Liwaa Lidhayya Warham Humaa Kamaa Rabbayaa Nii Shaghiraa. Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, serta berbelas kasihlah kepada mereka berdua seperti mereka berbelas kasih kepada diriku di waktu aku kecil." Aamiin
"Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil-aakhirati hasanah wa qina ‘adzaabannaar. Wassalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh" Athaya mengakhiri ceramahnya yang berdurasi sepuluh menit itu dengan salam penutup.
Deretan tamu undangan yang duduk di barisan paling depan kompak berdiri memberikan standing applause ketika Athaya mengucapkan salam pamungkas mengakhiri ceramahnya.
Rahma yang berdiri di barisan orang tua santri TPQ yang sama-sama hadir tak kuasa menahan air mata haru melihat sang putra yang mendapatkan apresiasi begitu besar dari semua orang.
Tanpa di duga, seorang pria yang duduk di kursi VIP maju ke depan menghampiri Athaya dan langsung menggendongnya.
Rahma mengusap air mata yang masih menggenang di matanya. Dia menajamkan penglihatannya untuk memastikan siapakah orang yang menggendong Athaya. Dia masih ada di posisi membelakangi penonton lainnya.
Tepuk tangan kembali terdengar riuh ketika orang yang memangku Athaya berbalik dan langsung menyerahkan sebuah kado pada Athaya sebagai hadiah.
"Pak Tama...." ucap Rahma lirih,
__ADS_1