
Tama menghempaskan tubuhnya kasar di atas sofa yang berada di kamarnya, niatnya yang akan bergabung dengan kedua orang tuanya di teras belakang urung ketika melihat adegan romantis yang tengah dilakukan kedua orang tuanya itu.
Sudah sering Tama melihat keromantisan kedua orang tuanya, usia yang tak lagi mida dan rambut yang hampir memutih tidak lantas membuat sang papa berubah dalam memperlakukan mamanya.
Sejak dirinya masih kecil, Tama tahu betul bagaimana sang papa memperlakukan mamanya. Walaupun papa adalah seorang pengusaha sukses dengan banyak relasi dari sesama pebisnis maupun pejabat, hal itu tidak membuat papa berubah. Bagi papanya, sepenting apapun pekerjaan, sepenting apapun orang yang akan ditemui atau menemuinya. Buat papa, mama tetaplah menjadi prioritas utama.
Keromantisan dan keharmonisan yang sungguh patut ditiru olehnya. Dari kedua orang tuanya, Tama belajar bagaimana dirinya harus bersikap pada orang lain baik itu laki-laki maupun perempuan.
Ting .... notifikasi pesan masuk di ponselnya membuat Tama terlepas dari lamunannya. Dia meraih ponsel yang berada di atas meja tepat di hadapannya dan membuka pesan yang masuk ke ponselnya itu.
"Mas, hari ini kamu janji kalau kita akan makan siang bersama. Kamu tidak lupa kan?" pesan yang dibacanya mengingatkan Tama akan janji yang pernah terucap untuk gadis yang saat ini mengiriminya pesan peringatan, Tasya.
Tama menghela nafas, hampir saja dirinya melupakan apa yang sudah disanggupinya pada gadis itu.
Sejak kebersamaan mereka membersamai orang tua mereka nerbelanja, Tama dan Tasya kini jauh lebih dekat. Tama mulai terbiasa dengan kehadiran gadis itu dalam hari-harinya. Selalu saja ada alasan Tasya untuk datang ke kantornya. Beberapa karyawan bahkan sudah menyebut Tasya sebagai kekasih Tama. Tama tidak mau ambil pusing dengan gosip yang beredar, selama itu tidak mengganggu stabilitas perusahaan dia akan membiarkannya.
Hampir setiap hari Tasya selalu mengajaknya untuk makan siang bersama, tapi selalu saja ada halangan untuk Tama bisa menerima ajakan gadis itu, jika bukan karena ada pekerjaan luar kadang Tama sudah makan atau sudah ada janji dengan klien untuk makan siang bersama. Hingga akhirnya dia pun menjanjikan akan mengajak Tasya makan siang bersama di hari libur ini.
"Hampir saja aku melupakannya" gumam Tama sambil membalas pesan yang dikirimkan Tasya kepadanya.
"Iya, aku tidak lupa. Bersiaplah, jam sebelas siang aku akan menjemputmu" pesan balasan Tama pun terkirim dan langsung bercentang dua dengan warna biru.
"Oke Mas, aku akan bersiap" balas Tasya dalam pesannya, namun tidak dibalas lagi oleh Tama karena merasa sudah cukup dia mengirimkan pesan balasan pada gadis itu,
Tama melihat jam dinding yang tergantung di dinding tangannya, baru jam 9 dia memutuskan untuk terlebih dahulu bersantai menikmati hari liburnya dengan berselancar di dunia maya.
Tama membuka akun media sosialnya, akun dengan nama yayasan yang didirikan ayahnya di Garut berada pada jajaran teratas di berandanya. Rupanya admin baru saja memposting foto-foto dan video kegiatan yang dilaksanakan di sekolah milik yayasannya.
__ADS_1
Tama tertarik untuk membuka dan mengamati satu persatu foto-foto dan video yang diposting. Seulas senyum tampak di bibir Tama saat melihat aksi para guru dan siswa yang menampilkan kreasinya dalam rangka memperingati hari guru nasional.
Beberapa perlombaan antar peserta didik dilaksanakan di sana. Tidak kalah seru, tampilan kreasi seni pun digelar sebagai acara puncak dari rangkaian gebyar hari guru itu.
Para siswa bersuka cita, masing-masing dari mereka menampilkan kreasinya. Ada yang menyanyi, dance, membaca puisi, drama dan banyak lagi kreasi seni lainnya yang secara khusus digelar dalam acara puncak peringatan hari guru nasional itu dengan tema "Guru, Sang Pencerah Kemajuan Ilmu"
Tidak kalah serunya video tampilan kreasi seni itu juga memperlihatkan aksi para guru yang bangga akan profesinya. Dengan tema yang sangat memotivasi, semua tampilan mereka hadir sebagai inovasi untuk pembelajaran yang lebih baik. Tama bahkan tertawa saat Regi, sahabat yang dipercaya untuk mengelola yayasan itu pun tampil dengan kreasi seninya.
Tawa Tama tiba-tiba terhenti, saat video terakhir yang diputarnya adalah seseorang yang selama setahun lebih ini sangat ingin dia lupakan. Video itu menampilkan para guru wanita dengan tampilan parade sajaknya yang ditampilkan dengan sangat apik dan memukau.
Tepuk tangan terdengar menggema memenuhi gedung olah raga tempat dilaksanakannya acara tersebut saat salah seseorang yang tak lain adalah Rahma tampil ke depan dengan elegannya. Dia bahkan mendengar dengan jelas teriakan para siswa laki-laki "Bu Rahma, I love you".
Seketika Tama menghentikan pemutaran video itu tepat saat layar menampilkan Rahma yang sedang melakukan closing aksinya di atas pentas. Tama mengscreenshoot gambar itu dan menjadikan sebagai wallpaper ponselnya.
"Maaf, jika aku masih belum bisa melupakanmu. Semoga kamu bahagia selalu" ucapnya lirih, suasana tiba-tiba berubah sendu, Tama bahkan tak bisa menahan dirinya lagi saat menzoom gambar wanita itu. Dia melihat ada yang berbeda dari Rahma, entah apa itu dirinya pun tidak mengerti. Tetapi dari wajah yang tengah ditatapnya itu seolah menunjukkan ada sesuatu yang terjadi padanya.
Tuuut.....hanya satu kali sambungan, panggilan itu pun terhubung.
"Assalamu'alakum, juragan!" suara Regi terdengar jelas di telinga kanan Tama, diapun menjawab ucapan salam itu dengan sedikit tergelak karena panggilan sahabatnya itu,
"Ada apakah gerangan dengan juragan menghubungi hamba di hari libur ini?" Regi menanyakan kepentingan sahabat sekaligus atasannya itu masih dengan cara bercanda,
"Ckk.....masih bisa bercanda rupanya" balas Tama dengan nada kesal dan hanya direspon dengan gelak tawa di seberang teleponnya.
"Ada apa Bro, pagi-pagi gini sudah menelepon?" Regi mengulangi pertanyaannya, kali ini lebih serius.
"Aku melihat postingan akun yayasan di media sosial" ucap Tama mulai serius,
__ADS_1
"Iya, gimana? keren gak acaranya?" tanya Regi dengan nada berbangga.
"Tentu, acaranya sangat keren. Apalagi kreasi seni yang ditampilkan guru-guru keren banget terutama...." Tama menghentikan ucapannya tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya,
Mendengar Tama malah terdiam membuat Regi mengambil inisiatif melanjutkan apa yang urung Tama ucapkan.
"Terutama parade puisi, iya kan?" Regi seolah bisa menerka jika apa yang akan disampaikan Tama adalah tentang Rahma, Naura Rahmania.
"hhaah....'' Tama tidak bisa mengelak dari rasa gugup yang tiba-tiba menyergap.
"Tau aja lu" Tama akhirnya berkata jujur membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Selama ini Regi adalah orang yang paling tahu tentang keadaan hatinya.
"Itu adalah penampilan dia terakhir kalinya. Kemarin setelah acara selesai dia pamit pada semua siswa dan guru untuk berhenti sebagai tenaga pendidik di sekolah kita" jelas Regi, yang menangkap dengan jelas arah pembicaraan Tama yang menginginkan informasi tentang Rahma,
"Apa?" terus lu izinin?" Tama kaget, seketika dia bangun dari rebahannya dan bertanya dengan intonasi yang meninggi,
"Ya iya lah, alasannya kuat. Aku tidak bisa untuk tidak mengizinkannya" jawab Regi apa adanya,
"Memangnya apa alasannya mengundurkan diri?" tanya Tama penasaran,
"Mengikuti suami, berat kan? gak ada alasan untuk aku mempending pengunduran dirinya walaupun kegiatan belajar mengajar semester ini belum selesai. Tetapi keputusan sudah dibuat, dia juga minta maaf karena tidak profesional dengan tugasnya. Tapi keadaan tidak memungkinkan untuk dia tetap bertahan walaupun akhir semester tinggal beberapa minggu lagi" Regi menjelaskan panjang lebar tentang kabar terbaru wanita yang ingin diketahui Tama, tak ada suara setelah Regi mengakhiri laporannya, Tama hanya diam mendengarkan.
"Bro...bro... lu masih di sana kan?" teriak Regi yang merasa tidak ada respon dari seberang sana,
"Ya, gue dengar" jawab Tama singkat.
Regi pun melanjutkan laporannya tentang kegiatan-kegiatan lainnya di yayasan sekalian mumpung Tama menelepon, sayangnya sasaran penerima laporan sudah tidak fokus mendengarkan. Pikirannya sudah dipenuhi dengan bayang-bayang seorang Naura Rahmania.
__ADS_1