
"Kadang seseorang masuk ke dalam hidup kita cuma sebagai kembang api. Menyala, indah, redup lalu selesai" ucap Rahma dengan sorot mata yang menunjukkan kekecewaan dan luka, pengalaman hidup benar-benar telah membuatnya trauma untuk kembali memulai.
"Dan aku sudah mengalami itu, maaf ... bukan maksud menyamakan, namun untuk saat ini hati ini belum benar-benar siap untuk kembali percaya jika yang datang akan menetap, bukan hanya sekedar singgah"
Rahma menarik nafasnya panjang, kalimat yang sama yang pernah Rahma ucapkan pada beberapa pria yang pernah datang mengungkapkan isi hati padanya. Namun, entah mengapa terasa begitu berat untuk diucapkan Rahma saat ini. Ada sesuatu yang membuat hati dan pikirannya tidak sinkron, tapi Rahma tak ingin memastikan apa itu.
Bukannya tersinggung dan marah lalu menyerah yang terlihat dari ekspresi wajah Tama saat mendengar jawaban Rahma saat ini. Dia justru tersenyum penuh arti dengan tatapan yang tak lepas dari wanita yang duduk di hadapannya itu sekarang.
Jika hari ini usahanya gagal, dia tidak akan menyerah karena masih ada hari esok. Tama memupuk semangat dalam hatinya.
"Ingat Tama yang gagal itu usahamu, bukan hidupmu. Dan selama kau masih hidup, memaksimalkan ikhtiyar itu harus, ingatlah dengan rencana yang sudah kau buat. Kalaupun rencana itu hancur, bukan berarti masa depanmu juga hancur. Tenanglah yang dikehendaki Allah tidak akan bisa dihentikan manusia. Fighting Tama!"
Dalam hatinya Tama menyugesti dirinya sendiri untuk tidak putus asa dan pantang menyerah. Dari sini dia tahu seberapa dalam luka yang sudah ditorehkan mantan suami Rahma itu di hatinya.
"Maaf" ucap Rahma dengan kepala yang semakin menunduk,
" It's oke, terima kasih atas jawabannya. Namun, izinkan aku untuk meyakinkanmu bahwa aku tidak seperti yang kau takutkan, bahwa bersamaku tidak seperti yang kau bayangkan. Izinkan aku mengganti kenangan buruk masa lalumu dengan rangkaian kisah yang akan selalu ingin kau kenang. Hari ini, esok dan di masa yang akan datang" ucap Tama mantap, dia sedang menunjukkan kesungguhannya di hadapan bidadari hatinya itu,
"Pak Tama, saya...." belum tuntas Rahma merespon ungkapan Tama barusan, laki-laki itu sudah menjedanya,
__ADS_1
"Naura Rahmania... berjalanlah pelan-pelan, aku tidak akan memintamu untuk terburu-buru. Terkadang dengan berjalan pelan-pelan akan membuatmu lebih banyak melihat dan merasakan banyak hal. Tidak perlu terburu-buru untuk mencapai setiap pos, yang penting jalan yang kau tempuh tidak salah" ucap Tama menenangkan, azzam hatinya sudah kuat untuk terus memperjuangkan cintanya, hati Tama yakin feelingnya kali ini tepat. Rahma adalah wanita yang harus diperjuangkannya.
Rahma tertegun kembali mendengar kalimat yang begitu meyakinkan dan terdengar tulus diucapkan Tama. Dalam hati dia kembali merasakan getaran-getaran aneh yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.
"Pak, sebenarnya...." Rahma kembali menjeda ucapannya, ditatapnya laki-laki yang terlihat begitu bersinar wajahnya malam ini.
Setelah shalat maghrib Rahma memutuskan untuk menuntaskan semuanya malam ini. Beberapa kali kebersamaannya dengan Tama, dia tahu jika laki-laki itu ada maksud lain terhadapnya. Sebenarnya Rahma bisa merasakan ketulusan perhatian dan perlakuannya, hatinya bahkan menghangat dan terharu namun lagi-lagi logikanya kembali berjalan untuk tidak gegabah dalam menentukan keputusan.
"Katakan apapun yang ingin kamu katakan, ungkapkan semua yang ingin kamu ungkapkan" ucap Tama dengan tatapan lembut,
"Terima kasih sudah mau mengungkapkan perasaan dan perhatian bapak yang terasa begitu tulus bagi saya dan Athaya. Namun, satu hal lagi yang harus bapak tahu, bahwa pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua hati yang saling tertaut, menyatukan dua raga yang saling tertarik, namun lebih jauh dari itu adalah menyatukan dua keluarga yang berbeda kultur dan pemikiran" Rahma menghela nafas menjeda ucapannya,
"Dan pada akhirnya bukan tentang siapa yang menarik, namun siapa yang bisa menerima kekurangan dengan baik" lanjut Rahma,
"Selama ini, menikah bukan lagi prioritas hidup saya bahkan rasanya tidak termasuk dalam daftar rencana yang akan saya tempuh dalam hidup. Yang terpenting untuk saya adalah memastikan Athaya hidup dan tumbuh dengan baik dan benar. Maaf jika saya berlebihan, tapi saya tidak mau mengorbankan kebahagiaan Athaya untuk kebahagiaan saya. Selama ini kehadirannya dalam hidup saya sudah menjadi obat dan penenang yang tiada tanding" jelas Rahma mantap, tatapannya tak beralih sedikitpun dari Tama saat dia berbicara, bahkan dari bahasa tubuhnya dia menampilkan ketegasannya.
"Kamu takut keluarga saya tidak bisa menerima status kamu dan Athaya?" tanya Tama lembut,
"Heumm" dan dijawab anggukan kepala oleh Rahma,
__ADS_1
"Huftt..."Tama membuang nafasnya,
"Ketakutan kamu berlebihan Naura" ucap Tama, dia menyeruput teh yang sudah hampir dingin di atas meja.
"Saya rasa tidak Pak, perlu bapak tahu juga jika ketakutan saya ini pun berdasarkan pengalaman. Salah satu penyebab perpecahan dalam rumah tangga yang pernah saya jalin adalah karena adanya tuntutan pihak keluarga tentang keturunan, dimana saat itu kami belum dipercaya Allah untuk memilikinya. Makanya tadi saya bilang, ujung-ujungnya bukan tentang siapa yang menarik, tetapi tentang siapa yang mampu menerima kekurangan dengan baik" Rahma kembali mengulangi ucapannya,
Deg....detak jantung Tama berdetak lebih kencang mendengar apa yang dikatakan Rahma di awal, hatinya pun merasakan perih membayangkan tekanan apa yang diterima Rahma saat itu.
"Maaf, bukannya aku menyepelekan. Namun aku ingin meyakinkanmu, aku akan pastikan bahwa aku akan memperjuangkanmu di hadapan keluargaku. Tugasmu hanya tetap berdiri sampingku dan temani aku selamanya."
Nyess...serasa ada yang mengguyur gersangnya hati Rahma, apa yang dikatakan Tama membuat hatinya tersentuh. Namun logika kembali menyadarkannya.
"Maaf Pak, saya tidak mau menaruh harapan lebih pada manusia, karena akhirnya kecewa yang akan lebih mendominasi. Jika hari ini saya segalanya bagi seseorang, bisa jadi esok bukan lagi siapa-siapa" Rahma tahu dirinya sudah dewasa, waktu sudah membentuknya untuk dapat menentukan pilihan yang bijak dalam memutuskan.
"Naura, kita bukan lagi anak baru gede yang baru mengenal cinta. Kita sudah sama-sama dewasa dan faham akan kebutuhan masing-masing. Bagiku pernikahan adalah ibadah termahal. Pahalanya separuh agama dan menjalankannya sepanjang usia maka dibutuhkan syukur dan sabar dalam menjalaninya. Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikannya" Tama masih berusaha menampilkan keseriusannya,
"Setelah mendapat izin darimu, biarkan aku yang memperjuangkanmu di hadapan keluargaku. Percayalah, aku sungguh-sungguh. Kamu sudah tahu kan seperti apa kehidupanku setelah kepergianmu? aku rasa Lisna dan Regy sudah menceritakan semuanya, dan anggaplah itu sebagai dedikasi yang ku persembahkan untuk cintaku"
Rahma menarik nafas dia merasa tidak menang berbicara dengan Tama. Laki-laki itu selalu punya jawaban untuk setiap kekhawatirannya.
__ADS_1
"Pak ... tolong beri saya waktu" ucap Rahma akhirnya dan diangguki oleh Tama dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Hatinya yakin, usahanya akan berbuah manis.
"Sekarang tinggal jalur langit yang harus dikencengin" ucap Tama dalam hati,