
Rahma menatap kotak hitam kecil persegi panjang yang diikat dengan pita berwarna gold di laci meja riasnya. Malam ini rencananya untuk memberi kejutan tentang kabar kehamilannya gagal total, yang ada dia yang mendapat kejutan besar jika dirinya sudah dimadu. Dia memutuskan untuk tidak memberi tahu kabar kehamilannya pada Anggara.
Rahma beralih menatap ke arah tempat tidurnya, suaminya tengah tertidur begitu lelap. Setelah perbincangan mereka yang cukup panjang, Rahma akhirnya mengalah. Dia bersedia menerima takdirnya dimadu. Suaminya berjanji akan berlaku adil, dia akan membuktikan jika dirinya sangat mencintai Rahma dan tidak ingin kehilangannya.
Pertimbangan lainnya adalah karena keadaan ayahnya Rahma, yang beberapa hari yang lalu dilarikan ke rumah sakit dan terindikasi memiliki penyakit jantung. Jika Rahma memilih mundur dari pernikahannya, dia takut hal ini akan membuat kesehatan sang ayah semakin memburuk. Rahma pun akhirnya menyerah, namun dia meminta agar kabar pernikahan kedua suaminya yang dilaksanakan secara siri itu jangan sampai diketahui keluarganya.
Lagi-lagi Rahma menjadikan keluarga adalah prioritas utamanya. Dulu dia memilih menikah dengan lelaki asing yang dikenalnya dalam satu kali pertemuan karena tidak ingin sang ibu terus kepikiran dirinya yang akan didahului nikah oleh sang adik, dia pun tidak ingin menjadi penghalang jodoh adiknya.
Rahma berharap dengan pernikahannya dapat memberikan kebahagiaan untuk orang-orang terkasihnya, walaupun pada akhirnya dia seakan terbelenggu dalam ikatan akad suci itu.
Untunglah kesabarannya berbuah manis, laki-laki yang dinobatkan menjadi imam hidupnya Allah lunakkan hatinya hingga akhirnya mencintai dan memperlakukan dia dengan sangat baik, syukur pun selalu Rahma panjatkan atas segala nikmat rumah tangga yang dirasakannya.
Namun ternyata ujian rumah tangganya tidak berhenti sampai di sana, masalah anak menjadi pemicu. Kepercayaan Allah untuk dirinya memiliki keturunan belum didapatkannya, membumikan ikhtiyar dan melangitkan do'a adalah usaha yang ditempuhnya. Hingga pada akhirnya usahanya kembali membuahkan hasil.
Tetapi di saat kebahagiaan diperkirakan akan segera menghampiri rumah tangganya, lagi-lagi Allah mengujinya dengan takaran ujian yang lebih pelik. Sekarang disaat dirinya berbahagia karena usaha dan do'anya untuk memiliki keturunan Allah kabulkan, justru dia dihadapkan pada kenyataan jika suaminya sudah menikah lagi bahkan sudah mempunyai keturunan dari madunya.
Anggara menyetujui permintaan Rahma dan berjanji semuanya akan baik-baik saja. Perihal pernikahan keduanya, sampai saat ini pun hanya keluarganya saja yang mengetahui. Sebagai seorang aparat dia tidak diperbolehkan untuk memiliki istri lebih dari satu. Untunglah Friska setuju dengan kesepakatan itu, walaupun awalnya dia menolak karena ingin pernikahan mereka diadakan dengan meriah. Tapi kembali Anggara memberi ultimatum jika dirinya bersedia menikahi Friska dengan syarat pernikahan dilakukan secara siri karena dia tidak mau melepaskan Rahma.
Sepertiga malam selalu menjadi waktu yang tepat untuk mengadukan segala isi hati. Bersimpuh di atas sajadah sembari bermunajat menjadi solusi awal dari setiap masalah yang menerpa kehidupan. Selama melibatkan Allah dalam setiap hal Rahma yakin tidak ada masalah yang hadir tanpa solusi.
Rahma menangis dalam diam, isakan tangis yang tertahan terdengar pilu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Tanpa sadar, dia akhirnya terlelap di atas sajadah hingga kumandang adzan subuh terdengar.
__ADS_1
Anggara terkesiap, alarm di ponselnya terdengar bersamaan dengan kumandang adzan subuh dari masjid komplek. Dia meraba tempat tidur sambil mengerjapkan matanys. Kosong, di sampingnya tidak ada siapapun. Anggara terbangun seketika, mencari-cari sosok yang semalam berhasil ditenangkannya setelah pengakuannya yang mengejutkan dan menyakitkan.
"Rahma , sayang..." teriak Anggara sambil menurunkan kakinya dari atas tempat tidur.
Baru saja dia melangkahkan kakinya, dia terkesiap mendapati di istrinya tengah tertidur di lantai tepatnya di atas sajadah dengan masih memakai mukena.
Anggara berjongkok, meraih wajah yang terlihat pucat. Dilihatnya dengan jelas wajah Rahma yang pucat dengan mata sembab. Dia yakin jika semalaman istrinya itu menangis.
"Maafkan aku sayang" gumamnya dalam hati,
"Sayang, sayang...Rahma sayang" Anggara sampai menggoyangkan bahu Rahma yang sepertinya tertidur sangat pulas. Dia bahkan tidak mendengar dirinya yang memanggilnya beberapa kali.
Rahma tak kunjung bangun, Anggara meraba keningnya. Panas, suhu tubuh Rahma sangat panas rupanya istrinya terserang demam.
"Rahma, sayang...bangun sayang. Kamu sakit? ini mas sayang, buka matamu" Anggara terlihat semakin panik, Rahma tak kunjung membuka matanya, badannya terus menggigil sementara suhu tubuhnya semakin panas.
"Ahhh...bagaimana ini" Anggara bingung sendiri, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Panik melihat kondisi istrinya, hingga tak mampu berpikir dengan benar.
Dia mengambil saputangan di dalam laci lemari pakaian, kemudian ke dapur menyiapkan air hangat untuk mengompres istrinya. Setelah melihat Rahma sedikit lebih tenang dari sebelumnya, dia pun memutuskan untuk segera membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban subuhnya.
"Assalamu'alaikum warohmatulloh...." ucapan salam menjadi pamungkas ibadah subuh Anggara, ucapan istighfar, dilanjutkan dengan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil membasahi lisannya.
__ADS_1
Semenjak hubungannya dengan Rahma membaik, Anggara menjadi pribadi yang lebih baik. Rahma yang selalu mengajaknya shalat berjamaah setiap kali dia pulang menyentuh hatinya untuk lebih baik lagi dalam beribadah. Terbukti, hatinya tersentuh.
Anggara mengangkat kedua tangannya, teringat semua dosa yang pernah dilakukannya. Bayangan wajah pucat dengan mata sembab Rahma melintas di pikirannya, perasaan bersalah semakin menyesakan dadanya. Takdir seolah mempermainkannya, di saat dirinya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik berkat Rahma, namun dirinya kembali menjadi laki-laki lemah yang tak mampu menolak apa yang menjadi permintaan kedua orang tuanya, terutama mamanya. Hingga akhirnya kembali dirinya menjadi lelaki tidak tahu diri yang berulang kali menyakiti wanita sebaik istrinya itu.
Do'a terbaik dia panjatkan khusus untuk Rahma, meminta agar diberikan jalan keluar dari permasalahan rumah tangganya. Sungguh dirinya tidak ingin kehilangan wanita sebaik Rahma.
"Astaghfirulloh...." terdengar gumaman pelan Rahma membuat Anggara mengakhiri munajatnya. Dia segera beranjak dari atas sajadah, mendekati sang istri yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Anggara saat melihat Rahma mulai mengerjapkan matanya,
"Ini jam berapa mas?" Rahma perlahan bangun dan dibantu Anggara agar dapat duduk dan bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"Jam lima sayang" jawab Anggara lembut, dia mengambilkan air putih hangat yang sudah disiapkannya saat ke dapur sebelum shalat tadi.
"Minumlah, kamu sakit sayang" Anggara menyodorkan gelas yang berisi air putih hangat itu mendekati mulut Rahma.
"Aku belum shalat subuh mas, tapi badanku sakit semua, dingin lagi" ucap Rahma pelan mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Aku mau bertayamum" lanjut Rahma dan diangguki Anggara,
Dia memperhatikan gerak gerik istrinya, hatinya menghangat merasa bahagia dan bangga memiliki wanita sholehah ini sebagai istrinya. Dirinya sungguh beruntung, namun saat terlintas kembali perbincangan semalam dan mata sembab istrinya, hati Anggara kembali serasa tertusuk. Dirinyalah yang menyebabkan mata wanita sholehah itu sembab.
__ADS_1
"Maafkan aku, istriku" batinnya, matanya tak beranjak, menatap Rahma yang terlihat begitu tenang dalam shalatnya.