
"Selamat siang!" ucap tamu wanita yang kini sudah memasuki ruangan Rahma,
"Selamat siang" jawab Rahma menoleh,
Deg....
Rahma seketika berdiri dari duduknya, saat mengetahui siapa tamu yang mendatanginya.
Suasana hening seketika, sepersekian detik mereka hanya saling beradu tatap.
"Mama..." gumam Rahma,
"Silahkan duduk Ma" kesadaran Rahma sudah kembali, dia menarik nafas panjang setelah mempersilahkan tamunya itu untuk duduk.
"Terima kasih" setelah cukup lama hanya berdiri di ambang pintu, tamu yang dipanggil mama oleh Rahma pun berjalan menuju kursi yang ada di depan meja kerjanya.
"Fitri, tolong bawakan minuman dan camilan untuk tamu ke ruangan saya ya" Rahma menyimpan kembali ponselnya setelah menghubungi salah satu karyawannya untuk menjamu tamunya.
"Apa kabar, Ma?" sapa Rahma, dia pun mengulurkan tangannya untuk menyalami tamunya itu.
Rahma memulai pembicaraan dengan menanyakan kabar, dari raut wajah tamunya itu Rahma yakin ada hal serius yang akan disampaikan wanita paruh baya yang tidak lain adalah mantan mertuanya, ibunya Anggara.
"Mama tidak baik" jawab ibu Anggara menohok, Rahma pun mengernyit menelisik wajah mantan mertuanya yang terlihat sangat berbeda dari terakhir dirinya bertemu beberapa bulan lalu.
__ADS_1
Rahma diam, bingung harus menanggapi apa mendengar jawaban dari Ibunya Anggara.
"Ada yang bisa saya bantu, Ma?" akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Rahma, dengan ramah Rahma menunjukan rasa empatinya.
Ibunya Anggara yang menunduk kemudian mendongakkan kepalanya, dia menatap dengan tatapan sayu wanita yang pernah menjadi menantunya itu.
"Mama mau meminta Athaya"
Jedder.....
Bagaikan mendengar petir di saat matahari sedang terik-teriknya Rahma seketika mematung. Tidak faham dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Maksud mama?" Rahma berusaha bersikap biasa, dia harap apa yang akan dijelaskan oleh mantan mertuanya itu berbeda dengan apa yang dipikirkannya.
Rahma terdiam, dia masih berusaha meresapi setiap kalimat yang disampaikan oleh mantan mertuanya itu.
"Maksud mama..." ucapan Rahma terjeda, karena mantan mertuanya yang langsung memotong.
"Mama mau hak asuh Athaya berpindah ke tangan Anggara, sudah cukup selama ini kamu bersama Athaya. Sekarang giliran Athaya tinggal dan hidup bersama ayah kandungnya."
Deg... jantung Rahma berdetak semakin cepat, ada kemarahan yang berusaha dia redam. Sejenak Rahma memejamkan matanya, dia menarik nafasnya dalam berusaha menghilangkan sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Rahma tidak ingin salah berucap walau bagaimanapun wanita yang ada di hadapannya adalah orang yang sangat di hormatinya di masa lalu hingga kini.
"Maaf Ma, jika maksud kedatangan mama untuk mengambil Athaya dari aku bahkan sampai akan mengambil alih hak asuh Athaya, maaf Ma aku tidak akan membiarkannya. Maaf sekali lagi, untuk hal ini aku tidak akan mengalah." tegas Rahma menjawab, dia tidak ingin terlihat lemah. Jika beberapa tahun lalu dia menyerah untuk memperjuangkan haknya sebagai istri sah dan istri pertama, tidak untuk kali ini.
__ADS_1
Bagi Rahma Athaya adalah sumber semangatnya dalam menjalani kehidupan yang tidak mudah. Bayangan bagaimana dulu dirinya melalui masa-masa kehamilan, melahirkan dan menyusui hingga membesarkan Athaya seorang diri kembali melintas. Saat itu tak ada satupun dari keluarga Anggara yang peduli padanya. Bahkan Anggara sendiri sudah bahagia dengan keluarga barunya.
"Kamu jangan egois Rahma" sentak mama Anggara,
"Kamu kan sudah menikah lagi dan mempunyai keluarga baru. Mama tidak ingin cucu mama hidup dalam keterasingan keluarga ayah tirinya"
"Egois? aku egois ma?" Rahma pun terpancing emosi, dia benar-benar tidak akan mengalah perihal Athaya.
"Ma, mama bilang aku egois? luar biasa sekali. Atas dasar apa mama mengatakan jika aku egois?" Rahma berbicara dengan nada rendah, berusaha meredam amarah, tidak ingin berlaku tidak sopan dengan berbicara meninggikan suaranya pada mantan mertuanya itu.
"Ma, kalau aku egois mungkin saat ini kehidupanku dan Athaya tidak akan seperti ini. Kalau aku egois, saat mengetahui perselingkuhan mas Anggara dulu aku sudah ingin menghancurkan karir mas Anggara, kalau aku egois aku tidak akan melepaskan mas Anggara untuk wanita itu, karena aku yang lebih berhak atas suamiku dulu. Kalau aku egois, aku akan menjadikan kehamilanku alasan untuk membuat mas Anggara menentang keinginan mama agar menikahi Friska. Tapi aku tidak begitu ma, coba mama ingat-ingat dimana egoisnya aku? Dulu keadaan rumah tanggaku dengan mas Anggara baik-baik saja, kami menjalani kehidupan kami dengan bahagia. Mas Anggara sudah terbuka pikiran dan hatinya dengan melepaskan Mbak Friska dan hidup bersamaku, karena itu yang memang seharusnya dilakukan Mas Anggara. Tapi kemudian kehadiran Mbak Friska yang tiba-tiba, kembali mengubah segalanya. Dan yang aku tahu dari mas Anggara, semua yang terjadi pada rumah tangga kami tidak lepas dari peran mama. Coba mama pikirkan kembali siapa yang sebenar yang egois?" Rahma berbicara panjang lebar, dia mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini hanya dipendamnya sendiri.
Kedatangan mantan mama mertua dengan maksud untuk mengambil Athaya membuatnya berani untuk bertindak tegas. Walaupun Rahma berbicara dengan nada pelan, tapi pada setiap kata yang diucapkannya penuh dengan penekanan.
"Jadi kamu menuduh mama yang egois?" sentak mama Anggara masih tak mau mengalah.
"Aku tidak bilang begitu ma, namun aku rasa sebagai seorang wanita mama bisa merasakan jika ada di posisi aku dulu dan saat ini."
"Aku yakin mama tidak setega itu untuk mengambil alih hak asuh Athaya dan memisahkan aku dengan putraku setelah apa yang terjadi pada kami di masa lalu. Kalau mama menyebutku egois dengan alasan karena aku menikah lagi, perlu mama tahu, jika pernikahanku terjadi atas persetujuan Athaya. Dia yang memintaku untuk menikah, bahkan Athaya sendiri yang meminta Mas Tama untuk menjadi ayahnya. Menyedihkan kan Ma? Di saat ayah kandungnya masih ada, dia justru meminta laki-laki lain untuk menjadi ayahnya" lanjut Rahma masih dengan penuh penekanan dan raut wajah yang berusaha keras menahan air mata.
"Di saat ayah kandungnya hidup bahagia dengan istri dan anak-anaknya, Athaya justru menjadi anak yang tidak pernah merasakan semua itu. Walaupun Mas Anggara secara rutin mengirimi uang untuk Athaya, tapi hakikatnya bukan hanya itu yang dibutuhkan Athaya sebagai bentuk perhatian. Selama ini Mas Anggara tidak memberikan hak Athaya untuk hadir sebagai sosok ayah. Saya yakin mama pun mengetahui itu" dengan air mata yang tak mampu ditahannya lagi Rahma terus mengeluarkan isi hatinya. Kali ini dia tidak lagi memikirkan perasaan orang lain dan mengorbankan perasaannya sendiri. Untuk Athaya apapun akan dilakukannya, termasuk bertindak tegas pada Anggara dan keluarganya.
"Mama tidak mau tahu, pokoknya mama akan ke pengadilan untuk menuntut hak asuh Athaya agar berpindah pada Anggara." tanpa pamit, setelah mengatakan itu ibunya Anggara pergi begitu saja meninggalkan Rahma di ruangannya.
__ADS_1
Sepeninggal mama mertuanya, Rahma kemudian bersimpuh dilantai, mengeluarkan kemarahan, sakit dan semua hal yang menyesakkan dadanya dalam tangisan yang terdengar pilu mengiris hati bagi siapa saja yang mendengarnya.