Belenggu Akad

Belenggu Akad
Pernikahan Rahma dan Tama (2)


__ADS_3

"Teruntuk suamiku Mas Pratama Ardhan Hakim" suara Rahma terdengar sendu dengan tatapan yang tak sedetikpun beralih dari memandangi wajah laki-laki yang telah sah menjadi suaminya itu.


"Mas, hari ini kita sudah menikah. Aku harap engkau tidak berubah dan tetap mengingatnya jika dirimu kini tidak hanya berkewajiban menjagaku tetapi juga putraku" ucap Rahma lirih, namun karena dia berbicara dengan menggunakan mic tetap saja apa yang dikatakannya dapat didengar semua orang yang hadir dan sungguh semua tampak haru melihat momen itu.


Rahma menoleh ke arah Athaya yang masih dia genggam erat tangannya. Anak laki-laki dengan stelan jas yang senada dengan kebaya yang dikenakan sang bunda pun membalas tatapan Rahma dengan seulas senyum manis.


"Dia putraku juga" Tama menyela sebelum Rahma kembali melanjutkan kalimatnya.


"Setelah kita menikah, aku ingin membangun cinta bersamamu. Melewati setiap suka dan duka, tangis dan tawa. Hingga menua dan renta." Rahma menarik nafas menjeda ucapannya, mengisi paru-paru dengan pasokan oksigen saat merasakan dadanya terasa sesak.


"Aku ingin menjadi rumah terbaik bagimu, yang selalu kamu rindukan saat kamu jauh, yang bisa menenangkanmu ketika kamu dekat, dan membuatmu tak sanggup jika harus berpisah lama dariku."


"Mas, aku ingin menjadi pasangan terbaik untukmu. Yang menghiburmu ketika kamu sedih, yang bisa merasakan kebahagiaan ketika kamu senang dan bisa bersama-sama berbagi momen terindah dalam hidup kita."


"Kelas, setelah anak-anak kita besar dan kita menua, kuharap kamu masih setia dan menjaga cintamu sebesar seperti saat awal kita menikah."


"Semoga saja semuanya bisa terwujud. Kamu dan aku tetap Allah persatukan hingga ke Surga-Nya yang abadi."


Rahma menyerahkan mic yang digenggamnya pada sang MC, dia mengalihkan Athaya ke sebelah kirinya dan kembali menggenggam tangan mungil itu. Tangan kanan Rahma pun terulur untuk menyalami Tama yang masih terpaku mendengar semua kalimat yang diucapkan istrinya itu.

__ADS_1


Perasaan bahagia dan haru berkecamuk dalam dada Tama. Dari setiap kalimat yang Rahma ucapkan meresap ke dalam sanubarinya, ada harapan dan trauma yang tersirat dalam setiap kata-katanya. Rasa cinta dan sayang pun semakin menggebu Tama rasakan untuk wanita sholehah yang kini sudah menjadi istrinya itu.


Dalam hati Tama berjanji untuk selalu berusaha membahagiakan wanitanya itu. Dia akan pastikan jika pernikahan itu indah, berharap luka dan trauma wanitanya itu hilang tak berbekas dan hanya kenangan indah tentang cinta mereka yang akan selalu menyertai.


Dengan takzim untuk pertama kalinya Rahma mencium punggung tangan Tama. Cukup lama, sang fotografer pun tidak menyia-nyiakan momen ini. Dia mengabadikannya melalui jepretan kamera.


Tangan Tama yang satunya lagi terulur, mengusap puncak kepala Rahma. Dia memegang kedua bahu Rahma setelah tangan mereka saling terlepas. Tama pun mendekat ke arah Rahma, mencium kening dengan dalam dan lama wanita yang baru beberapa menit yang lalu dihalalkannya itu.


"Naura Rahmania istriku, darimu aku belajar bahwa cinta adalah tentang rasa sabar yang benar-benar tulus. Seorang sahabat pernah berkata padaku, akan ada waktunya kamu merasakan begitu manisnya pertemuan dengan sosok yang tepat dan kamu idamkan. Ternyata dia benar, hari ini aku merasakannya." seulas senyum menghiasi wajah tampan Tama yang berbicara dengan penuh ketulusan dengan sorot mata penuh cinta untuk Nauranya.


"Aku bangga menjadi pemilikmu, terima kasih sudah hadir ke dalam hidupku. Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku, berdua kita jalani kehidupan ini dan hingga ke Jannah-Nya." untuk kedua kalinya, sebuah ciuman Tama daratkan di kening Rahma yang disambut dengan tepuk tangan riuh orang-orang yang hadir menyaksikan hari istimewa mereka berdua.


"Aku bantu kamu untuk taat kepada ibumu, katena syurgamu ada padanya. Dan kamu bantu aku untuk berusaha taat padamu, karena selepas menikah denganmu, surgaku ada pada keridhoanmu. Sepakat Mas?" Rahma tergelak kecil di akhir kalimat yang diucapkannya, begitupun orang-orang yang mendengarnya mereka ikut tergelak karena pertanyaan Rahma yang dianggap lucu.


"Sepakat, sayang. Aku setuju!" seru Tama penuh semangat dengan tersenyum lebar.


Selanjutnya Tama berjongkok, dia mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Athaya. Mengajak ber high five bocah tampan yang sudah menjadi putranya itu.


"Boy, kamu adalah putraku." ucap Tama mantap dan dibalas anggukan oleh Athaya.

__ADS_1


"Sekarang panggil aku Papi" pinta Tama dengan binar di matanya.


"Papi, terima kasih sudah datang. Mulai hari ini dan selanjutnya tolong jaga bunda dan aku, muliakan kami di dunia dan selamatkan kami di akhirat kelak" entah dari mana Athaya mendapat kalimat panjang yang baru saja di ucapkannya dengan lantang itu.


Semua orang terpaku pada posisinya masing-masing, kalimat romantis sekaligus haru itu membuat Tama bahkan semua orang tak mampu berkata-kata.


Tanpa mengatakan apapun, Tama langsung menarik tubuh bocah laki-laki itu ke dalam pelukannya. Bahu Tama berguncang, dengan mata terpejam air mata mengalir deras membasahi pipinya di balik punggung Athaya.


"Papi...kenapa menangis?" pertanyaan polos Athaya berhasil menghentikan Tama yang larut dalam tangis bahagianya.


"Papi bahagia sayang, papi adalah laki-laki beruntung karena telah menjadi papi kamu." Tama kembali memeluk bocah kecil itu, lalu berdiri dan menggendongnya. Satu tangannya kemudian merangkul bahu Rahma yang juga tak kuasa menahan air mata haru saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh putranya.


"Terima kasih sayang, kamu selalu menguatkan Bunda" bisik Rahma pada sang putra yang tentu saja juga terdengar jelas oleh Tama.


Tama kemudian menggiring Rahma menuju tempat yang tadi digunakan untuk akad.


Berkas-berkas pun selesai ditanda tangani oleh keduanya. Buku nikah sudah di tangan. Dengan senyum lebar yang menggambarkan kebahagiaan, mereka memamerkan buku nikah masing-masing dan tentunya langsung diabadikan oleh oleh sang fotografer dengan posisi Athaya yang berada di pangkuan Tama.


Tanpa mereka ketahui, momen yang membuat semua orang turut terharu itu pun telah mampu memporak porandakan hati seseorang yang sejak awal prosesi akad berlangsung sudah berdiri dan menyaksikan langsung semua momen itu. Dia mendengar dengan sangat jelas semua yang Rahma maupun Tama katakan saat itu. Bahkan saat Rahma maupun Tama tak menggenggam mic di tangannya, sang MC dengan senang hati mendekatkan mic itu ke arah mereka. Sehingga semua orang dapat dengan jelas mendengar setiap ungkapan hati Rahma, Tama maupun Athaya, bahkan merekapun turut larut di dalamnya.

__ADS_1


"Rahma, maafkan aku. Aku sungguh menyesal." ucapnya dengan berderai air mata.


__ADS_2