Belenggu Akad

Belenggu Akad
Keputusan Tama


__ADS_3

Seorang pria dengan tatapan kosong tengah berdiri di depan jendela kaca ruang kerja kepala sekolah yang berada di lantai dua dari deretan gedung yang terdapat di komplek pendidikan itu. Dengan sengaja dia berdiri terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang.


Selang beberapa menit akhirnya dia bisa melihat kedatangan seseorang yang selalu dia rindukan. Orang itu berjalan tampak terburu-buru, sesekali dia berhenti untuk membetulkan jilbab yang menutupi bagian depan tubuhnya tersingkap karena tertiup angin.


Cuaca pagi itu sangat cerah, matahari bahkan sudah terasa menyengat dengan angin yang berhembus cukup kencang padahal waktu baru saja menunjukkan pukul tujuh pagi. Sepertinya cuaca mulai memasuki musim kemarau, sehingga matahari lebih cepat memanasi bumi.


"Kesiangan Bu?" Lisna menepuk pelan bahu Rahma setelah berhasil mensejajarkan langkah karena Rahma yang berjalan cepat.


"Iya, aku mengantar dulu suamiku ke stasiun. Dia sedang malas membawa mobil jadi memutuskan untuk naik kereta ke Bandung dan aku mengantarnya tadi sehabis shalat subuh karena mengejar jadwal kereta yang berangkat jam enam. Nyantai-nyantai, taunya jam segitu jalanan di kota macet parah" jawab Rahma dengan napas terengah-engah karena berbicara dengan kecepatan berjalan yang tidak berkurang sedikit pun.


Dia harus mengajar kelas dua belas hari ini, kelas dua belas berada di gedung paling belakang. Banyak gedung yang dilewatinya termasuk gedung yang terdapat ruang kepala sekolah yang berada di lantai duanya, sementara di lantai satu adalah ruang tata usaha sekolah.


"Beuh.....baru tahu ya kalau jam segitu jalanan kota macet? tapi kamu kan bawa motor emang gak pake jalan alternatif gitu?" tanya Lisna penasaran, mereka mengobrol sambil terus berjalan.


"Enggak, aku bawa mobil. Mas Angga meninggalkan mobilnya di sini, dia bilang aku harus memakainya biar mobil terawat harus dinyalakan tiap hari jangan hanya dibiarkan"


"Apa? jadi hari ini kamu bawa mobil ke sekolah?" tanya Lisna dengan mata terbelalak, dan diangguki oleh Rahma tanpa menoleh. Dia masih berjalan dengan cepat dan pandangan lurus ke depan.


"Sejak kapan kamu belajar mengemudi?" lanjutnya tak percaya,


"Sejak beberapa minggu yang lalu, Mas Angga sengaja pulang seminggu sekali biar bisa ngajarin aku bawa mobil. Alhamdulillah sekarang sudah lancar, makanya dia berani memercayakan mobilnya dipake sama aku" jawab Rahma dengan senyum lebar terukir di bibirnya, tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat interaksi mereka karena saat ini mereka sedang melintas di depan gedung tata usaha.


Mereka terus berjalan, sapaan beberapa guru membuat mereka beberapa kali berhenti. Saat melewati gedung yang merupakan gedung yang digunakan untuk bagian tata usaha dan lantai duanya merupakan kepala sekolah, mereka berhenti karena tiba-tiba bertemu dengan Regy yang merupakan kepala sekolah mereka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, wilujeung enjing Pak" sapa Rahma sopan, diikuti oleh Lisna yang sama-sama menganggukan kepala saat berpapasan dengan Regi.


"Wa'alaikumsalam, wilujeung enjing juga ibu-ibu guru. Ada jadwal ya? buru-buru sekali?" tanya Regi dengan menyelidik penampilan Rahma yang terlihat buliran keringat tumbuh di kening dan ujung hidungnya,


"Iya Pak, saya ada jadwal di kelas XII. Maaf pagi ini saya terlambat karena ada sedikit keperluan dulu, Pak'' Rahma menjawab pertanyaan kepala sekolahnya apa adanya, sekaligus diapun menjelaskan dan meminta maaf kepada Regy karena dirinya terlambat.


"Tapi semuanya baik-baik saja kan? aman terkendali?" tanya Regy menunjukkan perhatian dan kepeduliannya kepada Rahma sebagai bawahannya, bukan hanya pada Rahma Regy berlaku seperti itu tapi juga pada semua guru dan karyawan yang berada di bawah kepemimpinannya.


Bawaannya yang humble membuat bawahannya nyaman dan berani untuk para guru dan karyawan menyampaikan apapun yang mereka ingin sampaikan namun masih dalam batas kewajaran, tetap ada rasa sungkan dan penghormatan lebih untuk laki-laki yang masih muda dari segi usia namun memiliki kecerdasan dan jiwa kepemimpinan yang luar biasa itu mereka hadirkan. Hal yang pantas jika semua guru dan karyawan sangat menyukai dan menghormatinya, begitu pun dengan para siswa.


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, terima kasih atas perhatiannya, Pak" ucap Rahma sopan sambil membungkukkan sedikit badannya dengan senyum ramah kepada kepala sekolahnya itu.


"Sama-sama Bu Rahma. Kalau Bu Lisna, bagaimana kabarnya? semua baik-baik saja kan?" tanya Regy beralih pada Lisna yang bersama dengan Rahma saat ini.


"Kalau begitu silahkan lanjutkan tugas ibu guru berdua, mohon maaf jika saya mengganggu aktivitas ibu-ibu guru ini' pungkas Regy dengan senyum ramahnya dia mempersilahkan pada Rahma dan Lisna untuk melanjutkan langkah.


"Baik Pak, kalau begitu kami permisi. Assalamu'alaikum" ucapan salam bersamaan diucapkan Rahma dan Lisna yang melanjutkan perjalanannya menuju gedung tempat kelas dua belas melaksanakan kegiatan belajar mengajar.


Regy tersenyum tipis melihat mereka pergi dan berjalan cepat. Diapun membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dalam gedung itu dan naik ke lantai dua untuk kembali ke ruangannya.


Sebelumnya dia sempat mendongakkan kepala ke arah jendela kaca besar ruangan tempatnya berkutik dengan berbagai pekerjaan sebagai kepala sekolah dan dia melihat jika Tama sahabatnya masih dengan setia menatap ke luar jendela, Regy tahu kemana sebenarnya arah pandang Tama.


"Bagaimana, puas melihatnya?" tanya Regy saat dirinya sudah kembali memasuki ruang kerjanya tempat dimana Tama berada.

__ADS_1


Bukan tanpa sengaja Regy menahan Rahma dan Lisna saat melintas tepat di depan gedung tempatnya bertugas. Dia berbasa-basi dengan menanyakan kabar Rahma dan Lisna, agar kedua gadis itu berhenti lebih lama di depan gedung TU karena ada seseorang yang sangat merindukannya, Regy tahu jika keberadaan Tama di ruangannya adalah untuk melihat Rahma saat dia lewat. Dia yakin sahabatnya itu belum mampu menghapus nama gadis yang sudah membuatnya jatuh hati dan menjadi pemilik rindunya.


"Ckk..." Tama berdecak, dia memutar badannya dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu kemudian menjatuhkan tubuhnya dengan punggung yang bersandar ke sandaran sofa dan mata yang dipejamkannya seolah merasakan kelelahan.


"Kau selalu tahu apa yang aku mau, terima kasih friend" ucap Tama tanpa menatapnya, dia asik memijat pangkal hidungnya dengan mata yang masih terpejam.


"Move on boss, ayolah. Dia sudah bahagia dengan suaminya" Regy kembali memperingatkan sahabat sekaligus bosnya itu agar tidak larut dalam lautan perasaan yang tidak layak.


"Tenang saja, aku tidak akan lagi mengganggunya, aku cukup senang melihatnya bahagia dengan pasangannya meskipun itu bukan aku" ucap Tama dengan wajah datar, mendongak masih bersandar pada sandaran sofa dan menatap langit-langit dengan mata yang menghangat.


"Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk selalu mencintai sendirian dan selamanya akan sendiri, esok lusa dan selamanya hanya sendiri" gumam Tama namun masih terdengar oleh Regy,


Regy menghentikan gerakan tangannya yang akan membubuhkan tanda tangan pada salah satu berkas yang menumpuk di atas mejanya. Dia menyimpan ballpoin dan beranjak dari kursi kebesarannya menuju sofa dimana Tama duduk,


"Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi!" hardik Regy sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa tepat berhadapan dengan Tama.


"Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum terwujud dan tidak memiliki rasa dan warna. Yang jelas hari esok masih berada di alam gaib dan belum turun ke bumi. Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Gak apa-apa kalau enggak beruntung hari ini, mungkin besok" Petuah Regy untuk sahabat tercintanya terdengar sangat tulus.


"Semoga Allah membantu hatimu untuk ikhlas, meskipun kamu tahu berat rasanya untuk rela dan menerima. Semoga Allah menggantinya dengan kemudahan dan keberhasilan untuk setiap pengorbananmu dalam merelakan apapun yang kamu inginkan. Meski pada akhirnya kamu harus mengalah, kamu tak sepenuhnya kalah. Sebab kamu sebenarnya telah menang atas egomu" ucap Regy lagi, seperti biasa dia selalu bisa menjadi oase di saat Tama sedang berada di tengah gurun kering dan panas,


"Saat kamu belajar berdamai atas setiap yang terjadi, saat-saat itu adalah saat-saat kamu belajar memupuk rasa percaya bahwa Allah adalah pemilik skenario indah yang sebenarnya" pungkas Regy mengakhiri petuahnya pagi ini untuk Tama, sahabat sekaligus atasannya itu.


"Kamu benar, aku mengerti itu. Sekarang aku sudah memutuskan untuk pergi. Mulai saat ini aku serahkan semua urusan yayasan padamu, aku tidak ingin menginjakkan kakiku di tempat ini lagi karena semua yang ada di sini mengingatkanku akan dia. Aku akan pergi sampai waktunya tiba aku benar-benar ikhlas dan menerima" ucap Tama terdengar pilu, Regy tertegun mendengarnya. Berat rasanya untuk mengiyakan keputusan yang diambil Tama, tapi jika itu demi kebaikan sahabatnya dia harus mendukungnya.

__ADS_1


__ADS_2