
"Maafkan aku Mas jika akhirnya semua keluargaku mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tangga kita" Rahma berbicara dengan wajah tertunduk, saat ini mereka tengah duduk berhadapan setelah pembicaraan Budi dengan Anggara selesai.
Anggara menatap Rahma dengan tatapan yang sulit diartikan,
"Rahma, bolehkah aku semakin egois?" tanya Anggara tanpa menanggapi perkataan Rahma.
Rahma mendongak, menatap wajah sendu laki-laki yang masih sah sebagai suaminya itu.
"Aku tahu aku salah, sejak awal pernikahan kita aku adalah pihak yang paling bersalah. Aku yang memanfaatkan pernikahan kita untuk kepentingan diriku sendiri. Aku yang sejak awal sudah menyakiti kamu dan sampai hari ini aku terus menyakiti kamu. Bahkan aku mungkin suami paling jahat yang mengabaikan kamu sendirian menghadapi hari-hari terberatmu karena kehilangan kedua orang tuamu" Anggara berbicara dengan suara yang parau, sepertinya dia menahan dengan sekuat tenaga air mata yang akhirnya menyentuh pipinya juga, dia pun memalingkan wajahnya.
"Aku tahu aku sangat egois jika membiarkan kamu terus terluka seperti itu. Tapi..." Anggara menunduk, dia tak kuasa lagi menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya,
"Tapi...aku sungguh tidak ingin kehilangan kamu. Andai aku bisa mengembalikan waktu aku ingin memulai semuanya bersamamu, hanya bersamamu" isak tangis tertahan terdengar pilu di telinga Rahma, dia pun tak kuasa menahan air matanya yang lolos begitu saja.
"Maafkan aku Mas, salah satu alasan kenapa aku bersedia bertahan dalam pernikahan ini adalah karena kedua orang tuaku. Sekarang mereka sudah tiada, sebelum mereka tiada mereka pun sudah tahu seperti apa keberadaan rumah tangga kita sebenarnya. Rahma berbicara lembut, sebesar apapun kekecewaannya terhadap Anggara tapi Rahma berusaha untuk tetap bicara dengan tenang dan tegar.
Anggara menganggukan kepalanya, dia tahu alasan itu. Dia pun menyadari sebesar apa kesalahannya, tapi entah mengapa hati kecilnya masih ingin berusaha mempertahankan rumah tangganya dengan Rahma.
"Aku tahu itu Rahma...." ucapnya sendu,
"Kalau begitu izinkan aku mundur dari pernikahan ini, aku belum mampu jika harus berbagi dirimu dengan wanita lain. Aku juga tidak ingin menjadi orang ketiga diantara hubunganmu dengan istri keduamu. Walaupun secara hukum dan agama aku adalah yang pertama menjadi istri sah mu, tetapi pada kenyataannya akulah orang baru yang hadir dalam hubungan kalian. Setelah ini aku berharap mas lebih tenang dan bahagia menjalani kehidupan rumah tangga dengannya. Bukankah ini adalah hal yang kalian inginkan sejak dulu? Aku do'akan semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah, sehidup sesurga" Rahma menarik nafas panjang, ada kelegaan di hatinya setelah mengatakan semua itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Rahma, Anggara terlihat begitu sedih mendengar semua yang dikatakan wanita yang masih sah menjadi istrinya itu. Dia menatap dalam Rahma, Anggara beranjak dari tempat duduknya mendekati Rahma. Tanpa aba-aba, dia pun memeluk Rahma dan menangis menumpahkan semua perasaannya dalam pelukannya.
Seminggu waktu yang diminta Anggara untuk tetap bersama Rahma. Kedua orang tuanya datang ke Garut melayat, ayah dan ibu mertua Rahma itu pun meminta maaf kepadanya dengan apa yang telah terjadi di antara mereka.
Setelah perbincangan Anggara dan Rahma waktu itu, akhirnya Anggara luluh. Dia bersedia untuk melepas Rahma dengan syarat Rahma mengizinkannya untuk membersamainya selama seminggu ini di rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Anggara membantu Budi dan Yusuf membereskan urusan keluarga yang harus diselesaikan pasca kepergian kedua orang tua Rahma. Dia bahkan mengabaikan protes istri keduanya yang bilang jika waktu satu minggu terlalu lama untuknya tinggal di Garut.
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk bersamamu di hari-hari terakhir dirimu halal untukku" Anggara berbicara lembut menatap dalam Rahma yang duduk tepat di hadapannya. Ini adalah malam terakhir keberadaan Anggara di rumah itu, kebersamaan terakhir pula bersama Rahma sebagai pasangan halalnya.
Demi membuktikan kesungguhannya dalam mencintai dan menyayangi Rahma dia akhirnya bersedia melepas wanita yang sudah dinikahinya beberapa tahun yang lalu itu walaupun dalam hati kecilnya sungguh dia tidak rela melepaskan wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta melalui pernikahan itu, dia berharap suatu saat bisa kembali berjodoh dengan Rahma entah seperti apa caranya, biarlah Allah yang mengaturnya.
Satu minggu berada di rumah itu Anggara tidur di ruang tamu dan Rahma tidur dengan keponakan-keponakannya. Barulah malam ini dia berkesempatan untuk berada di kamar istrinya setelah dengan mengumpulkan keberaniannya dia meminta langsung pada Rahma untuk bisa tidur di kamarnya karena ada yang ingin dibicarakan.
"Huuhh....." terdengar Anggara membuang nafasnya kasar, kata-kata perpisahan selalu membuat dadanya terasa sesak.
Waktu semakin larut, obrolan dua insan yang memutuskan untuk berpisah baik-baik itu pun masih berlanjut. Apa yang akan dilakukan setelah berpisah adalah salah satu topik menyenangkan dari obrolan mereka.
"Boleh aku jujur?" tanya Anggara di sela-sela obrolannya,
"Tentu, bukankah seharusnya memang seperti itu dari dulu" jawab Rahma dengan nada menyindir.
__ADS_1
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku harap malam ini tidak pernah berakhir. Jika memang takdir perpisahan kita tak bisa terelakkan, aku berharap suatu saat nanti aku bisa bersamamu lagi" ucap Anggara dengan wajah sendu, ada harapan besar di matanya. Berharap dirinya akan bisa kembali bersama Rahma.
"Sudahlah mas, mari kita hidup dengan baik setelah hari ini" hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Rahma sebelum akhirnya dia menutup mata karena rasa kantuk yang menyerang.
Anggara menatap wajah teduh Rahma yang terlelap, mereka tidur dengan posisi saling berhadapan. Rahma memeluk guling sebagai pembatas di antara mereka, walaupun statusnya masih sebagai istri sah Anggara. Dia sudah meminta maaf jika tidak mampu lagi melaksanakan kewajibannya sebagai istri di tempat tidur setelah pengakuan Anggara tentang pernikahan keduanya. Anggara pun menerima keputusan Rahma sebagai konsekuensi dari keputusannya.
"Sayang, kamu sudah tidur?" Anggara memberanikan diri mengusap pipi istrinya,
"Heumm..."
"Kamu terlihat semakin cantik, terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi suamimu walaupun hanya luka yang aku torehkan di hatimu" Anggara kembali berbicara, walau dia tahu jika istrinya sudah hampir tak mendengarnya.
"Heumm..." Anggara tersenyum mendengar Rahma yang masih menyahut ucapannya walaupun hanya dengan kata heum,
"Sayang, bolehkah aku memelukmu?"
"Heumm..." Rahma masih merespon, Anggara pun tersenyum, dia menggeser tubuhnya membuat mereka semakin dekat,
Anggara menarik tubuh Rahma ke dalam pelukannya, satu tangannya dijadikan bantal dan satu tangannya lagi melingkar di tubuh Rahma. Anggara mengecup puncak kepala Rahma yang berbalut jilbab, dia menghirup dalam aroma tubuh perempuan yang sebentar lagi tidak halal untuknya.
"Sayang, kamu gemukkan ya?"
__ADS_1