Belenggu Akad

Belenggu Akad
Permintaan Maaf Anggara


__ADS_3

Di rumah sakit yang sama namun berbeda ruangan dengan sebelumnya, Anggara tergolek lemah di atas ranjang serba putih. Beberapa selang terhubung ke tubuhnya. Keadaannya sungguh mengkhawatirkan, siapapun yang mengetahui dirinya di masa lalu tidak akan menyangka jika yang sedang terbaring lemah saat ini adalah laki-laki yang sama.


"Assalamu'alaikum" Rahma menjadi orang pertama yang memasuki ruang rawat Anggara diikuti Tama yang menuntun Athaya setelah sebelumnya bertemu dengan Friska di luar.


Hening, tidak ada sahutan dari dalam ruangan itu. Anggara tampak tertidur tidak menyadari kehadiran mereka di ruangannya.


Ceklek...


Suara pintu kamar mandi membuat tiga orang yang baru memasuki ruangan itu menoleh, mama Angga baru saja keluar tampak kaget melihat keberadaan mereka bertiga di sana.


"Mama, Assalamu'alaikum" Rahma pertama kali menyapa, namun keterkejutan wanita paruh baya yang masih tampak bugar itu namun masih belum menghilang, terbukti tidak ada kata apapun yang terucap dari bibirnya, bahkan sekedar menjawab salam dari Rahma.


"Nenek" panggilan Athaya langsung mengalihkan fokus Mama Anggara, wajah datar yang sedang terkejut itu langsung berhiaskan senyum saat melihat cucu kesayangannya.


"Cucu nenek..." Mama Anggara langsung memburu sang cucu dan memeluknya erat.


"Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau datang" ucap mama Anggara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Thaya mau menjenguk ayah, Nek" Athaya berkata sejujurnya,


"Iya sayang, terima kasih" balas mama Anggara mengurai pelukannya dan tidak lupa mencium kening sang cucu yang sangat dirindukannya itu.


"Eummmhh..." dalam suasana haru terdengar Anggara bergumam, membuat semua yang berada di sanah menoleh ke arah ranjang tempat Anggara terbaring.


"Nak, kamu sudah bangun?" Mama Anggara segera menyongsong sang putra. Dia berharap kali ini sang putra meresponnya.


"Aku mau pulang, aku mau pulang ke Garut" gumam Anggara tanpa membuka matanya, lirih namun masih terdengar jelas di telinga semua orang yang berada di sana.


Rahma menoleh ke arah sang suami, dalam hati dia sangat cemas takut jika yang dikhawatirkannya selama ini ternyata benar. Pikiran Anggara kembali ke masa lalu, masa dimana masih saat bersamanya.


"Iya Nak, kamu harus sembuh dulu" sahut mama Anggara dengan mengusap ujung mata yang kembali berair.

__ADS_1


Sejak sadar dari pingsannya, hanya itu yang Anggara igaukan, dia bilang mau pulang ke Garut karena Rahma menunggunya. Menurut keterangan dokter, depresi yang dialami Anggara membuat sebagian ingatannya hilang. Bahkan bisa jadi dia seolah-olah menarik diri dari dunianya saat ini, berusaha keluar dari penyesalan yang sedang menjeratnya saat ini.


Setelah sadar dari pingsannya waktu itu Anggara hanya tidur dan tidur, dia sepertinya enggan sekali membuka mata. Tidak ada lagi Anggara yang melamun, tertawa, berbicara sendiri atau mengamuk. Dia hanya tertidur dengan gumaman-gumaman kecil seperti tadi. Obat dan asupan nutrisi pun hanya bisa diberikan melalui selang infus, sehingga bobot tubuhnya turun drastis dan lemah selama seminggu ini.


Benar menurut penjelasan Friska di telepon sebelumnya, sejak sadar dari pingsan seminggu yang lalu keadaan Anggara benar-benar drop. Dia tidak mau lagi mengonsumsi obat dan makanan apapun.


"Tenang sayang, kita bantu dia bersama-sama" bisik Tama di telinga sang istri pelan, Tama seolah tahu kecemasan yang sedang mendera istrinya.


Rahma pun hanya mengangguk, dia menggenggam erat tangan Athaya dan menuntunnya mendekati ranjang Anggara setelah mendapat anggukan dari Tama.


"Coba panggil ayah, Nak" bisik Rahma di telinga Athaya yang juga tampak ketakutan,


"Tapi Bun..."


"Jangan takut ada papi di sini" Tama meraih tangan mungil Athaya yang satunya, dia pun menggenggamnya erat seolah mengalirkan kekuatan agar sang putra berani.


Sebelum memasuki ruangan Tama dan Rahma sudah berkonsultasi dengan dokter yang menangani Anggara dibersamai Papa Anggara yang menyambut kedatangan mereka setelah diberi tahu Friska jika Rahma dan Tama akan datang.


"Ayah..." suara lembut Athaya terdengar lantang di ruangan rumah sakit itu, mata Anggara yang mengerjap-erjap perlahan terbuka mendengar suara itu.


"Ayah..." Athaya kembali memanggil sang ayah yang mulai terbangun dari tidur panjangnya. Mata yang terbuka itu berputar-putar mencari sumber suara.


"Ayah, ini Thaya. Cepat sembuh ya!" seru Athaya yang kini berada di pangkuan Tama, dia pun mendekat ke arah ranjang Anggara dengan satu tangan yang menggenggam tangan Rahma.


Anggara hanya menatap datar pada anak yang memanggilnya ayah itu, bibirnya bergerak-gerak seperti ingin berkata namun terlihat seolah kelu.


"Apa kabar Anggara? Aku membawa Athaya untuk menjengukmu, dia Athaya putra kandungmu" Tama mulai angkat bicara, dia berharap Anggara kembali pada kesadarannya.


"Kamu..." suara Anggara membuat semua orang tersentak, terutama sang ibu, ayah dan juga dokter yang baru memasuki ruangan itu pun tampak berbinar, mereka melihat Anggara merespon apa Tama dengan baik, bahkan tatapaan matanya kini tak lagi kosong. Sebelumnya papa Anggara yang sedang berkonsultasi dengan dokter mendapat kabar dari Friska yang berjaga di pintu kamar rawat Anggara bahwa Anggara sudah bangun.


"Aku Tama, Pratama Ardhan" lanjut Tama menegaskan namanya,

__ADS_1


"Kamu atasan Rahma kan?" tanya Anggara setelah beberapa saat dengan suara lemahnya namun mulai mengenali orang yang ada di hadapannya.


"Benar, dan sekarang aku sudah menjadi suaminya" tegas Tama membeberkan kenyataan, berharap Anggara benar-benar sadar.


"Maksud kamu, kamu sudah menikah dengan Rahma?" tanya Anggara lagi, kali ini responnya lebih cepat dari sebelumnya. Posisi Anggara saat ini tengah duduk di atas ranjangnya dengan badan tegak.


"Iya" jawab Tama singkat, dia fokus menatap Anggara yang tatapannya hanya tertuju padanya, dia terlihat masih tidak peduli dengan sekitarnya.


"Jadi aku benar-benar sudah menceraikan Rahma?" tanya Anggara lirih, kepalanya menunduk, wajahnya langsung berubah sendu.


"Sudah lama Mas, kita sudah lama berpisah, bahkan kita bercerai saat kamu sudah menikah lagi dengan Mbak Friska" kali ini Rahma yang bersuara, mama Anggara yang mendengar apa yang dikatakan Rahma membulatkan matanya ke arah Rahma karena takut apa yang dikatakan mantan menantunya itu akan membuat sang putra kembali mengamuk seperti sebelumnya, Anggara selalu mengamuk ketika mendengar nama Friska disebut.


"Rahma..." Anggara mendongak, tatapannya kini beralih pada Rahma yang berdiri tepat di samping Tama.


"Iya Mas, ini aku. Aku dan suamiku datang membawa Athaya untuk menjengukmu. Cepatlah sehat, putramu dan juga anakmu yang lain masih sangat membutuhkanmu." Rahma mulai berani berbicara panjang lebar, sesuai arahan dokter jika Anggara memang perlu disadarkan oleh orang-orang dari masa lalunya untuk merangsang kembali ingatannya.


"Rahma, maafkan aku..hikss..." tiba-tiba Anggara menangis, dia kembali menunduk dengan bahu berguncang.


Suasana seketika mencekam, antara takut, iba dan haru, semua orang merasa tersayat hayinya saat mendengar tangisan Anggara yang penuh dengan penyesalan.


"Rahma..." ucap Anggara setelah sedikit tenang, dia benar-benar menumpahkan air matanya cukup lama.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, maafkan aku tidak bisa melindungimu, aku tidak bisa mempertahankanmu, maafkan aku tidak bisa menjadi laki-laki tegas yang bisa menentukan pilihan terbaik bahkan untuk hidupku sendiri. Aku sadar selama ini aku sudah banyak menyakitimu, aku bahkan tidak pantas mendapat limpahan cinta dan pengabdianmu, kamu terlalu baik untuk menjadi istriku, maafkan aku Rahma...hiks.." suara isakan tangis kembali terdengar setelah Anggara berbicara panjang lebar, dia sedang mengeluarkan semua yang mengganjal dalam hatinya selama ini.


"Aku salah Rahma, bertahun-tahun aku memendam rasa bersalah ini, bahkan aku terlalu malu untuk bertemu dan meminta maaf padamu. Aku terlalu hina untuk mendapatkan maafmu" Anggara kembali melanjutkan kata-katanya,


"Sekarang Tuhan sedang menghukumku Rahma, hiks...." tangisnya kembali pecah, kini Anggara memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya itu.


"Aku malu padamu Rahma, aku sangat malu. Bahkan hanya sekedar untuk menatapmu aku sungguh sangat malu. Aku bukan laki-laki yang baik, aku tidak pantas menjadi suami, aku tidak pantas menjadi ayah" ucap Anggara di sela-sela tangisannya. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi pada rumah tangganya.


"Maafkan aku Rahma, maafkan aku. Maafkan aku Rahma, maafkan aku..." kalimat permohonan maaf terus terucap dari lisan Anggara, diiringi isakan tangis yang tak kunjung berhenti dia semakin menenggelamkan wajahnya dalam.

__ADS_1


Tidak hanya Anggara yang menangis tersedu dengan pengakuan rasa bersalahnya, sang mama juga Friska bahkan tak kuasa membendung air matanya. Mereka berdua tidak menyangka Anggara menanggung beban seberat itu padahal buka sepenuhnya kesalahan Anggara sendiri.


__ADS_2