Belenggu Akad

Belenggu Akad
Duka Keluarga Rahma


__ADS_3

Rahma segera turun dari motornya, setelah melepas helm tanpa menunggu sang adik yang masih memarkirkan motor di tempat yang cukup jauh dengannya. Dia segera berjalan setengah berlari menuju ruang instalasi gawat darurat di rumah sakit umum daerah dr. Slamet Garut yang tidak terlalu jauh dari tempatnya memarkirkan motor maticnya.


"Teh, teteh...." Yusuf berteriak memanggil sang kakak, melihat bagaimana tadi kakaknya menjalankan dan menuju ruang instalasi gawat darurat dengan berlari dia khawatir kandungannya.


"Apa, ayo Dek...." Rahma hanya menoleh sekilas dan kembali fokus menuju ruang IGD,


"Teteh, tenang...." sentak Yusuf akhir dapat mengejar Rahma dan menghentikannya.


"Bapak Dek....." langkahnya seketika terhenti setelah Yusuf mencekal tangannya, air mata membasahi pipinya.


"Iya teh aku tahu, tapi teteh harus ingat kalau teteh sedang mengandung. Tenang ya...." Yusuf kembali mengingatkan sang kakak akan kondisinya, sungguh Yusuf sangat khawatir. Rahma pun menganggukkan kepalanya, dia menunduk mengusap pipinya yang basah karena air mata yang tak tertahankan.


"Ayo..." Yusuf pun menggandeng Rahma menuju ruang IGD,


"Ibu...." Rahma setengah berlari ke arah sang ibu yang tengah duduk di kursi tunggu keluarga pasien bersama seorang perempuan paruh baya yang tidak Rahma kenal, di sana juga tampak beberapa orang diantaranya ada Pak RT, istrinya juga beberapa tetangga yang sepertinya tadi membantu membawa bapak ke rumah sakit.


"Teh....bapak Teh..." Ibu kembali menangis tersedu di pelukan anak sulungnya, dia tidak dapat menahan kesedihan dan kecemasannya saat melihat sang suami yang beberapa hari ini tampak kesehatannya membaik harus kembali terbaring lemah tak berdaya.


"Keluarga pasien...." seorang dokter laki-laki keluar dari ruang tindakan diikuti beberapa perawat.


"Saya anaknya dok" Yusuf segera menghampiri dokter diikuti oleh Rahma dan ibunya yang berdiri dari kursi tunggu pasien.


"Saya mohon maaf, bapak sudah tidak tertolong. Menurut prediksi kami beliau sudah tiada sejak dalam perjalanan"


Duaarrrr.......bagai dihantam batu besar untuk Rahma dan keluarganya mendengar berita yang disampaikan dokter. Kepergian bapak tidak disangka akan secepat ini, padahal beberapa hari kemarin beliau sudah tampak sehat dan mulai berjalan sesekali tanpa menggunakan kursi roda atau pun tongkat.


Beberapa bulan yang lalu penyakit hipertensi yang dialami bapak kambuh dan saat itu posisi beliau sedang berada di kamar mandi untuk mengambil wudhu menjelang dzuhur selepas beraktifitas di kebun yang tidak jauh dari rumah. Di masa pensiunnya bapak tidak ingin berhenti beraktivitas, pergi ke kebun dan ke sawah menjadi rutinitasnya dalam mengisi masa purna nya.

__ADS_1


Sejak saat itu beliau tidak lagi bebas beraktivitas karena stroke yang dialaminya. Kursi roda dan tongkat menjadi alat yang membantu beliau dalam beraktivitas.


Ibu yang juga memiliki riwayat penyakit jantung tidak sekuat dulu lagi, beliau terkadang kesulitan dalam mengurus bapak. Setiap minggu Rahma dan Maya bergiliran untuk menjaga bapak. Sedangkan kakak sulung mereka hanya bisa berkomunikasi melalui telepon karena jarak yang terbentang. Namun seiring dengan kewajiban yang juga harus dilaksankan Rahma dan Maya karena sudah berumah tangga, jadilah si bungsu Yusuf yang dengan sukarela memupus keinginannya untuk kuliah di Jakarta dan memilih kuliah di Garut agar bisa sambil menjaga bapak dan ibu mereka.


"Innalillahi wa innailaihi raji'un" serempak kalimah itu terucap dari lisan semua orang yang berada di ruangan itu, Rahma menutup wajah dengan kedua telapak tangan menahan tangis yang ingin sekali meledak namun dia harus menahannya,


Brakkk.....


"Ibu..." teriak Yusuf,


Di saat bersamaan, Rahma yang syok dengan kabar yang didebgarnya secara tidak sadar melepas rangkulannya pada ibu. Alhasil saat ibu pingsan dia kaget karena tak dapat menahan tubuh sang ibu, untunglah seseorang membantu menahan tubuh sang ibu sehingga tidak terlalu keras membentur lantai.


Prosesi pemulasaraan jenazah selesai hampir larut malam, berdasarkan amanah bapak yang pernah disampaikannya pada ibu beliau meminta jika dirinya meninggal agar segera dimakamkan. Ibu yang sudah sadar dan lebih tenang menyampaikan amanah bapak pada anak-anaknya.


Rencananya jenazah akan dimakamkan setelah kakak Rahma yang merupakan anak pertama di keluarga itu datang. Menurut kabar terakhir saat ini dia sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Garut, setelah sebelumnya menggunakan jalur udara untuk sampai di Jakarta. Namun mendengar permintaan almarhum semasa hidup, semua sepakat untuk memakamkan bapak malam ini juga setelah sebelumnya Yusuf menelepon A Budi dan menyampaikan amanah Bapak. A Budi pun mengerti dan mempersilahkan untuk melanjutkan prosesi pemakaman bapak tanpa harus menunggu dirinya.


Tiga bersaudara itu duduk berdampingan bersama ibu mereka, suasana pilu menyelimuti rumah duka. Alunan ayat suci al-Qur'an tak henti dilantunkan, tidak hanya oleh keluarga dan tetangga terdekat tetapi juga para pelayat yang ingin turut mengantar Bapak ke tempat peristirahatannya yang terakhir.


Semakin malam semakin banyak tamu yang berdatangan, Rahma bahkan tidak tahu siapa saja yang menyalaminya selain keluarga dan para tetangga. Karena jika di perhatikan banyak wajah yang tidak dikenalinya. Mereka mengaku jika mereka adalah murid bapak.


Deg .... saat tamu yang datang agak lenggang, Rahma teringat jika dirinya belum mengabari Anggara perihal meninggalnya Bapak. Walau bagaimana pun saat ini statusnya masih sebagai suaminya. Perlu kiranya dia mengetahui kabar duka keluarga Rahma, pikir Rahma.


"Assalamu'alaikum... Mas bapak meninggal tadi sore dan malam ini akan langsung dimakamkan"


Singkat, padat dan jelas pesan yang dikirimkan Rahma kepada suaminya. Dia pun kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jaketnya dan bersiap untuk mengikuti prosesi pemakaman bapak yang akan dimakamkan di area makam keluarga yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Pagi menjelang, prosesi pemakaman bapak alhamdulillah lancar dan selesai tepat pukul satu dini hari. Semua pelayat sudah pulang semalam, tinggal keluarga jauh yang memutuskan untuk menginap karena waktu terlalu larut jika harus pulang.


"Teh, ada tamu..." Bi Asih yang merupakan sepupu jauh Bapak memberi tahu Rahma yang saat ini sedang memasak di dapur untuk sarapan seluruh anggota keluarga dibantu keluarganya yang lain. Sementara ibu ditemani Rahma masih berada di kamarnya.


"Siapa, Bi?" tanya Rahma,


"Enggak tahu Teh, dia bilang mau bertemu anak-anaknya almarhum" jelas Bi Asih yang kemudian mengambil alih pekerjaan Rahma.


"Assalamu'alaikum" Rahma menyapa tamu yang datang, mereka tengah duduk lesehan di ruang tamu karena kursi tamu sengaja semalam di keluarkan dan belum dirapihkan kembali.


"Wa'alaikumsalam" jawab seorang pria yang sepertinya seusia dengan almarhum bapak Rahma,


"Ada yang bisa saya bantu, Pak? kata bibi saya bapak mau bertemu saya?" tanya Rahma sopan, dia menatap tamunya dan berusaha mengingat-ingat barangkali dia kenal dengan tamu tersebut.


"Ini pasti Rahma" tebak tamu itu,


"Iya Pak, saya Rahma. Anak kedua bapak. Maaf, kalau boleh saya tahu bapak siapa ya?" Rahma akhirnya memberanikan diri menanyakan siapa tamunya itu,


"Perkenalkan saya Hakim. Saya adalah sahabat bapakmu sejak sekolah menengah atas. Kebetulan selepas SMA saya merantau ke kota untuk bekerja dan melanjutkan sekolah di sana. Sudah lama kami tidak bertemu, dua tahun yang lalu kami kembali dipertemukan. Saat itu bapakmu belum lama pensiun, dia sedang membeli pupuk di pasar dan tidak sengaja kami bertemu. Alhamdulillah sejak saat itu komunikasi kami terus terjalin dengan baik" Laki-laki paruh baya yang mengaku bernama Pak Hakim itupun bercerita tentang hubungannya dengan bapak.


Rahma hanya manggut-manggut, mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan Pak Hakim.


"Bolehkan saya bertemu dengan semua anak-anaknya? ada yang mau saya sampaikan kepada kalian semua" pinta Pak Hakim,


"Tentu Pak, sebentar saya mau memanggil dulu kakak dan adik saya" jawab Rahma, dia segera pamit untuk memanggil saudara-saudaranya.


Tidak lama, keempat bersaudara sudah duduk melingkar bersama Pak Hakim. A Budi sebagai anak tertua menanyakan perihal maksud dan tujuan kedatangan Pak Hakim.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf, terutama pada Nak Rahma jika apa yang akan saya sampaikan ini akan membuat tidak nyaman. Saya hanya ingin melaksanakan amanah almarhum secepatnya, itulah permintaan dia dalam mobil sebelum pingsan saat dalam perjalanan ke rumah sakit" Pak Hakim pun menjeda ucapannya, dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali melanjutkan bicaranya.


__ADS_2