
Satu bulan berlalu, Rahma seperti biasa menjalani harinya dengan produktif. Mengajar, menulis dan menjalankan tugas rumah tangga adalah hal-hal yang menyenangkan untuk Rahma. Dia mengawali harinya dengan do'a dan giat, menjalani setiap detiknya dengan semangat berharap selamat dan berkat dalam hidupnya.
Setiap weekend Rahma habiskan waktunya di rumah atau sekedar jalan-jalan bersama suaminya. Anggara seperti biasa, pulang setiap weekend dan menghabiskan waktu liburnya di Garut bersama Rahma.
Semenjak Rahma mendengar obrolan Anggara dengan tantenya, dia memilih diam dan bersikap seolah-olah tidak pernah mendengar apa-apa. Anggara pun bersikap seperti biasanya, dia tetap baik dan nampak tidak terpengaruh dengan hasutan tantenya. Rahma selalu berdo'a semoga hati suaminya diistiqamahkan.
"Aku tidak bisa Tan, aku lagi di Garut" terdengar suara Anggara yang sedikit berbisik sedang berbicara di telepon.
"....."
"Maaf Tan aku sudah menentukan pilihan, lebih baik tante urungkan apapun rencana tante" ucap Anggara tegas, dia berbicara dengan intonasi sedikit meninggi.
"...."
"Iya, iya...terserah tante saja. Sekarang aku tutup teleponnya, aku sedang di Garut enggak enak sama Rahma kalau aku terus teleponan"
"...."
"Ya" pungkas Anggara di ujung teleponnya, entah apa yang dia obrolkan dengan tantenya di ujung telepon. Dan lagi-lagi Rahma sudah berada di belakangnya entah sejak kapan.
"Sayang, ada apa?" tanya Anggara dengan wajah kagetnya yang tidak bisa dia sembunyikan mendapati Rahma sudah berdiri di hadapannya.
"Aku hanya mau mengajak mas sarapan, makanannya sudah siap" ucap Rahma santai, dia sama sekali tidak menunjukkan kecurigaannya terhadap suaminya.
"Ouh...kalau begitu ayo kita makan" Anggara pun merangkul bahu Rahma dan mengajaknya keluar dari kamar menuju dapur .
....
Begitulah waktu berlalu, hari-hari Rahma terlihat baik-baik saja. Sampai suatu hari obrolan yang awalnya biasa dan tidak berpengaruh apapun menjadi hal sensitif untuknya dan Anggara.
"Mama sudah menanyakan lagi perihal kamu, apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil?" ucap Anggara di tengah-tengah makan malam yang biasa mereka lalui dengan penuh kehangatan saling menumpahkan kerinduan setelah satu pekan terbentang jarak namun tidak untuk malam ini.
Sejak kepulangannya Jumat malam Rahma merasakan ada sesuatu yang berbeda dari suaminya. Mungkin karena banyak pekerjaan sikap Anggara sedikit dingin kali ini. Rahma tetap berhusnudzon, tidak mau jika dia bertanya akan membuat suaminya tidak nyaman.
"Belum Mas, kemarin aku baru datang bulan" jawab Rahma apa adanya, dia masih santai menikmati makan malamnya walau sebenarnya dalam hati berkecamuk banyak tanya yang tak mampu terucap tentang perubahan sikap suaminya.
__ADS_1
Sejak malam itu Anggara tak lagi menjadi suami yang selama satu tahun ini membuat Rahma bahagia. Dulu Rahma menyimpulkan jika dirinya tidak salah dengan memberi kesempatan pada Anggara untuk berubah dan memperbaiki semuanya karena nyatanya selama satu tahun ini Anggara benar-benar menjadi suami idaman. Tapi sejak perbincangan mereka malam itu suaminya kembali bersikap dingin.
Sejak saat itu weekend tidak lagi menjadi hari yang dinanti Rahma, suaminya kini sudah tidak beraturan pulang. Dinas luar menjadi alasan jika dirinya tidak bisa pulang. Terbersit di benak Rahma mungkinkah Anggara kembali bersama kekasihnya, namun bukan Rahma jika semuanya harus dipikirkan dengan matang. Dia tidak ingin bertindak gegabah dengan menuduh tanpa bukti pada suaminya. Dengan kesabarannya Rahma masih berharap rumah tangganya baik-baik saja dan Anggara kembali bersikap hangat seperti sebelumnya.
Waktu berlalu, perubahan sikap Anggara semakin terasa oleh Rahma. Masalah anak ternyata menjadi alasan perubahan sikap suaminya itu. Dengan dalih selalu ditekan oleh Mamanya Anggara semakin menunjukan perubahannya.
"Mas, masalah anak itu bukan kuasa kita Aku rasa mas tahu itu. Mama pun pasti mengerti" ucap Rahma dalam percakapan yang dilakukan melalui telepon ketika menanyakan keadaan suaminya yang sudah dua minggu ini tidak pulang.
"Entahlah, aku hanya ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Kamu tahu sendiri kan mereka sangat mendambakan kehadiran seorang cucu" jawab Anggara di seberang telepon.
"Aku...." ucapan Rahma terjeda karena Anggara tiba-tiba memotong.
"Aku ada tamu, aku tutup teleponnya ya" tanpa menunggu jawaban Rahma, Angga pun mengakhiri sambungan teleponnya dengan Rahma, sementara Rahma hanya menarik napas dalam menghadapi sikap suaminya.
Tidak hanya Anggara yang berubah sikapnya, sang mama mertua yang di awal pernikahannya hingga beberapa bulan ke belakang bersikap begitu hangat kini pun tidak lagi. Mama selalu berkata yang membuat Rahma tidak nyaman ketika mereka berteleponan, maupun bertemu dalam acara keluarga.
"Woy, melamun aja. Ngelamunin apaan sih?" Lisna yang mendapati Rahma sedang bengong sendiri di samping ruang guru setelah berteleponan dengan Anggara mengagetkan Rahma dengan kehadirannya.
"Astagfirullah, Lisna ... kamu tuh ya, bikin kaget aja" sentak Rahma yang terlihat sangat kaget karena kehadiran sahabatnya yang tiba-tiba. Wajah kesal Rahma pun membuat Lisna mengernyit.
"Ada apa?" nada bicara Lisna berubah lebih serius. Dia melihat raut wajah Rahma yang berbeda kali ini tidak seperti biasanya.
Lisna menarik kursi di belakang mejanya, kini posisinya tepat di depan Rahma yang tampak menyibukkan diri dengan memeriksa tugas anak-anak didiknya.
"Nawnaw...." sentak Lisna yang tak kunjung mendapat respon dari Rahma,
"Apa sih?" jawab Rahma santai,
"Kamu kenapa? cerita dong" rengek Lisna sambil memegangi tangan Rahma menghentikannya yang sedang menuliskan catatan di buku tugas siswanya.
"Enggak ada apa-apa ko" jawab Rahma dengan tersenyum membalas tatapan sahabatnya yang penuh tanya, kini dia sudah bisa kembali menguasai hatinya.
"Beneran?" Lisna masih belum percaya, dari perubahan ekspresi Rahma dia bisa menebak jika sedang terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Apalagi akhir-akhir ini Lisna memang melihat perubahan ada yang berubah Rahma.
"Iya, beneran" tegas Rahma menenangkan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Suamimu pulang gak minggu ini?" tanya Lisna yang dijawab gelengan kepala oleh Rahma,
"Heummmh" gumam Lisna, kini dia bisa menyimpulkan apa yang menyebabkan Rahma berubah akhir-akhir ini. Dia sudah beberapa kali mendengar jika Anggara tidak pulang, padahal sebelumnya suami sahabatnya itu selalu pulang setiap akhir pekan.
*
*
*
"Apa kabar?" tante Anggara datang menghampiri Rahma yang sedang menata makanan di meja parasmanan. Saat ini dirinya tengah berada di rumah mertuanya di Bandung.
Acara pertemuan rutin keluarga besar yang dilakukan secara bergilir kini tiba gilirannya dilaksanakan di rumah orang tua Anggara. Semua anggota keluarga hadir, mereka tampak berbaur satu dengan yang lainnya penuh keakraban dalam suasana kebersamaan.
Tidak ada yang berbeda yang Rahma rasakan saat berada di tengah-tengah keluarga itu, semuanya baik-baik saja. Semua anggota keluarga memperlakukan Rahma begitu hangat dan baik, sampai kedatangan tante yang merupakan adik bungsu dari ayah mertuanya mulai membuat Rahma tidak nyaman.
"Alhamdulillah baik tante, tante apa kabarnya?" Rahma menyalami tante Anggara dan mereka pun bercipika cipiki.
"Baik, tante baik sekali" jawabnya dengan senyum ramah,
Tante Anggara terus memerhatikan apa yang dilakukan oleh Rahma yang melanjutkan menata puding coklat buatannya di meja.
"Ini buatan kamu?" tanya tante sambil mengambil satu cup puding itu untuk dicicipinya,
"Iya tante, tadi pagi aku bikinnya. Silahkan dicoba tante" jawab Rahma sambil menyodorkan sendok kecil khusus puding.
"Enak, kata mama mertua kamu masakan kamu enak. Pantesan Anggara luluh juga" ucapnya sedikit menohok hati Rahma, kalimat pujian yang dilontarkannya berakhir dengan kalimat yang membuat tanya di benak Rahma.
Namun Rahma tidak mau ambil pusing mungkin tantenya itu tahu seperti apa awal pernikahan mereka, karena setahunya Anggara memang cukup dekat dengan tantenya itu.
"Terima kasih, tante" balas Rahma sambil kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
"Tapi percuma ya bisa masak juga kalau enggak bisa ngasih anak"
Deg.....
__ADS_1
Rahma sontak menghentikan gerakannya.