Belenggu Akad

Belenggu Akad
Pernikahan Rahma dan Tama


__ADS_3

Hari yang dinantikan pun tiba. Setelah shalat subuh tiga orang MUA sudah datang ke rumah dimana Rahma tinggal. Mereka diutus untuk terlebih dahulu merias calon mempelai pengantin wanita dan akan membawanya ke gedung tempat akad dan resepsi pernikahan berlangsung tepat pukul delapan pagi.


Kesibukan pun terjadi di rumah itu, semua orang bersiap untuk menunjukan penampilan terbaiknya di hari pernikahan orang tersayang mereka, Naura Rahmania. Warna rose gold menjadi dress code acara pernikahan Rahma. Tidak hanya keluarga inti yang memakai baju dengan warna yang sama. Tetapi seluruh keluarga besar pun sudah disiapkan pakaian khusus yang sama dengan mereka.


Meninggalkan kesibukan di kediaman keluarga Rahma.


Di waktu yang bersamaan di sebuah rumah mewah tepatnya di kamar yang memiliki nuansa putih abu tampak seorang pemuda yang sedang berjalan mondar-mandir dengan masih memakai baju koko dan kain sarung selepas shalat subuh. Bibirnya tidak berhenti komat-kamit, merafalkan kalimat sakral yang akan diucapkannya dalam akad nanti.


Dia adalah Tama, semakin dekat waktu untuknya mengucapkan ijab qabul, kegugupan semakin kentara di wajahnya. Hingga tak terasa waktu terus berjalan, sang mentari pagi tak disadari Tama sudah merangkak semakin naik menghangatkan semesta.


Tama terus merafalkan kalimat ijab qabul, dia tidak ingin ada kesalahan dalam pengucapannya. Sejak selesai shalat subuh, dilanjut dengan dzikir dan berdo'a juga tadarus dia terus mengulang-ulang rangkaian kalimat sakti itu. Kalimat yang akan membuatnya halal atas seorang Naura Rahmania.


"Saya terima..."


tok...tok...tok...


Entah latihan yang keberapa kali kalimat itu akhirnya terpotong oleh suara ketukan di pintu kamar Tama.


"Mama, ada apa?" tanya Tama dengan wajah polosnya, di tangannya selembar kertas bertuliskan kalimat ijab qabul masih digenggam.


"Astaghfirullah Tama, kenapa kamu belum siap? malah masih pake sarung gitu!" suara nyaring mama menyentak Tama yang hanya melongo melihat reaksi sang mama saat dirinya membuka pintu dan bertanya.


"Kamu tahu enggak ini jam berapa?" susul mama Tama masih dengan suara ngegas karena kesal melihat putranya yang masih berpakaian sama saat melaksanakan shalat subuh tadi.


"Hah? ini jam berapa ma?" Tama mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang menempel di dinding kamarnya.


"Hah, jam tujuh? kenapa mama gak ngasih tahu aku sih" dengan nada kaget Tama malah menyalahkan sang mama atas keterlambatannya bersiap padahal hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu olehnya.


"Kamu ini ya" ucapan mama Tama terhenti karena sang putra langsung melesat menuju kamar mandi setelah membuka sarung dan baju koko dengan terburu-buru.


Tiga puluh menit berlalu, Tama sudah siap dengan stelan jas yang didesain khusus untuk pengantin dengan warna yang senada dengan kebaya yang dikenakan oleh Rahma.


"Mama, cepetan dong nanti kita telat" kali ini Tama yang memburu-buru sang mama yang masih sibuk ke sana kemari mengecek setiap mobil yang akan berangkat menuju gedung tempat berlangsungnya pernikahan sang putra.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan mama Tama melakukan itu, beliau ingin memastikan tidak ada yang tertinggal. Untuk momen istimewa sang putra dia turun tangan langsung mengurus semua hal yang dibutuhkan. Mama Tama tidak ingin kehilangan momen berharga ini dalam hidupnya, mempersiapkan dan memberikan yang terbaik untuk hari bersejarah sang putra, anak semata wayangnya.


"Sebentar, satu lagi" teriak mama Tama dari mobil yang terparkir tepat di belakang mobil sedan mewah yang akan dinaiki calon mempelai pengantin pria dan kedua orang tuanya menuju gedung tempat akad berlangsung.


"Oke, semuanya sudah ready ya. Hati-hati di jalan ya Pak" pesan mama Tama pada sang sopir.


Terdapat tiga mobil yang terparkir di halaman rumah utama, satu mobil sedan sebagai mobil pengantin, dan dua mobil lainnya yang membawa barang-barang seserahan. Sementara di luar pagar rumah utama deretan mobil mewah keluarga besar Pak Hakim dan Ibu sudah siap menjadi pengiring sang calon mempelai pengantin pria.


"Bismillah" ucap Tama pelan, dia duduk di samping sopir, sementara di jok belakang Ibu dan Pak Hakim sudah siap membersamai sang putra.


Empat puluh lima menit waktu yang dibutuhkan Tama dan rombongan untuk sampai di tempat acara. Akad nikah akan berlangsung tepat pukul sembilan sesuai dengan yang sudah direncanakan.


Sesuai kesepakatan, resepsi pernikahan Tama dan Rahma pun akan dilangsungkan di hari yang sama, setelah akad sesi resepsi pun akan berlangsung.


Tama sudah duduk menghadap meja yang khusus disediakan untuk prosesi akad. Setelah sebelumnya rangkaian acara serah terima antara kedua belah pihak, yakni penyerahan dari keluarga calon mempelai wanita dan penerimaan dari keluarga calon mempelai pria yang diwakili oleh masing-masing tokoh sebagai wakil kedua keluarga selesai dilaksanakan dengan terlebih dahulu diawali dengan alunan pembacaan ayat suci Al-Quran.


Di hadapannya Budi yang bertugas menjadi wali nikah Rahma pun sudah siap, di dampingi petugas Kantor Urusan Agama yang akan memandu prosesi akad tersebut pun sudah lengkap dengan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk menerbitkan surat nikah. Saksi-saksi dari kedua belah pihak sudah bersiap di posisinya. Tidak lupa beberapa anggota keluarga dekat pun bersiap agar dapat menyaksikan lebih dekat prosesi akad ini.


"Apakah calon mempelai pengantin wanitanya akan dihadirkan saat akad?" Pak Penghulu terlebih dahulu bertanya tentang kesiapan calon mempelai wanita sebelum akad dimulai.


"Mohon izin tidak Pak" Yusuf yang menjawab, dia menyampaikan apa yang sudah menjadi permintaan sang kakak jika akan hadir jika sudah terlaksana ijab qabul pernikahan.


"Baiklah, mari kita mulai" Pak penghulu pun memulai prosesi akad nikah dengan rangakaian do'a, tidak lupa khutbah nikah pun dilaksanakan sebagai salah satu syarat sebelum acara ijab qabul digelar.


"Saya nikahkan engkau, Adinda Pratama Ardhan Hakim bin Hakim dengan adik saya Naura Rahmania binti Hambali, dengan mas kawin seperangkat alat shalat ditambah 123 gram logam mulia, dibayar tunai." 123, Angka yang memiliki filosofi tersendiri bagi Tama.


"Saya terima nikahnya Naura Rahmania binti Hambali dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." dengan sigap dan dalam satu tarikan nafas Tama pun menjawab.


"Bagaimana saksi?" tanya Bapak Penghulu kepada kedua saksi,


"Sah!" seru keduanya bersamaan,


"Sah!"

__ADS_1


"Sah!"


"Sah!" disusul seruan dari para tamu yang turut hadir.


"Alhamdulillahirobbil'alamin...." rangkaian do'apun dipanjatkan sebagai pamungkas dari prosesi akad nikah ini.


"Silahkan pengantin wanitanya untuk dihadirkan" Penghulu pun meminta agar Rahma yang sudah sah menjadi istri dari Pratama Ardhan Hakim dihadirkan.


Deg


Rahma memejamkan matanya saat mendengar namanya disebut oleh penghulu dan memintanya untuk hadir.


Ruang yang disediakan khusus sebagai kamar ganti pengantin tidak jauh dari tempat akad berlangsung menjadi tempat Rahma menunggu. Dia mengusap dada dan menyugesti dirinya agar lebih rileks. Walaupun ini bukan pernikahan yang pertama untuk Rahma, tapi dia tetap saja merasa gugup saat harus memasuki ruang akad.


Balutan kebaya muslimah modern berwarna broken white menjadikan Rahma terlihat anggun dan elegan. Jilbab dengan warna senada dan riasan minimalis natural mampu mengekspose aura kecantikan Rahma yang selama ini memang jarang memakai make up.


Semua mata memandang ke arah pintu keluar sang pengantin yang berjalan dari arah belakang Tama berada. Dengan arahan dari crew WO Tama pun diminta berdiri dan balik kanan untuk menyambut kedatangan istrinya.


Tanpa kata, tatapan Tama langsung tertuju pada wajah cantik Rahma yang berjalan ke arahnya dengan mengulas senyum walau pandangan tetap tertunduk. Tidak lupa alunan musik romantis menjadi pengiring pengantin wanita yang didampingi oleh Maya dan kakak iparnya.


Jika pengantin lain menggenggam buket bunga saat berjalan menuju pelaminan, berbeda dengan Rahma yang sejak keluar dari ruang tunggunya tangan kanannya tidak lepas menggenggam erat tangan mungil Athaya.


Tibalah saatnya mereka saling berhadapan. Rahma mendongak, tatapannya kini tertuju pada laki-laki yang sudah halal untuknya. Mereka pun saling beradu pandangan, tidak ada apapun kata yang terucap dari keduanya. Mata dan pikiran mereka asik saling mengagumi satu sama lain. Crew WO pun memberikan mic kepada Rahma untuk menyampaikan isi hatinya.


"Mas Tama benarkah ini istri Mas Tama?" sebelum Rahma memulai, sang MC terlebih dahulu bertanya pada Tama disisipi godaan pada keduanya dan dijawab anggukan kepala oleh Tama,


"Alhamdulillah" ucap sang MC gembira,


"Mbak Naura, benarkan ini Mas Tama Pratama Ardhan, laki-laki yang baru saja menghalalkan Mbak untuk menjadi istrinya?" sambung sang MC dengan nada menggoda. Rahma pun hanya menganggukan kepala menjawabnya sambil tersipu.


"Baiklah, silahkan Mbak" MC pun mempersilahkan Rahma memulai berbicara.


"Teruntuk suamiku Mas Pratama Ardhan Hakim" suara Rahma terdengar sendu dengan tatapan yang tak sedetikpun beralih daei memandangi wajah laki-laki yang telah sah menjadi suaminya

__ADS_1


__ADS_2