
Tama sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia pun segera bergerak cepat. Jika hari ini dia berhadapan dengan orang yang dengan mudah disingkirkannya dari kehidupan Rahma. Entahlah untuk beberapa saat ke depan, dia tidak ingin kecolongan lagi. Cukup peristiwa lima tahun yang lalu menjadi pelajaran berharga untuknya kehilangan harapan.
Mobil Tama sudah terparkir di parkiran kantor pengadilan negeri Jakarta, kantor kakaknya Rahma bertugas, dia sudah membuat temu janji dengan Budi. Semalam Tama meminta nomor telepon kakaknya Rahma itu dari Yusuf. Sinyal dari Yusuf sudah dikantonginya, saat ini Yusuf bahkan menjadi sumber informasi siapa saja yang datang menemui Rahma.
Setelah dilihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri pertemuan Rahma dengan Arga, Tama menjadi lebih waspada. Dia meminta Yusuf untuk memberitahukan apapun hal yang berhubungan dengan Rahma padanya, dan Yusuf pun menurut.
"Terima kasih Mas sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya" Tama mengulurkan tangan setelah ucapan salamnya dijawab Budi saat memasuki ruang kerjanya.
"Sama-sama, maaf sebelumnya, saya merasa kita belum pernah bertemu jadi maaf kalau saya tidak mengenali anda" jelas Budi formal, dia mendapat telepon dari Tama tadi pagi dan mengatakan jika ada hal penting yang ingin dikatakannya terkait Rahma.
"Saya Tama, lengkapnya Pratama Ardan. Saya sudah mengenal Rahma dan bermaksud untuk mendekatinya" Tama pun menceritakan bagaimana dirinya mengenal Rahma sejak masih berada di Garut, semuanya Tama ceritakan dia merasa Budi harus mengetahui semuanya tanpa ada yang tertinggal. Instingnya sebagai ahli hukum pasti akan sangat peka terhadap siapapun, apalagi ini berhubungan dengan orang terdekatnya.
Budi menghela nafas panjang, setelah mendengar cerita Tama, dia pun menyimpulkan jika laki-laki yang ada di hadapannya benar-benar serius dengan niatnya untuk mendekati adiknya.
"Kamu sudah tahu banyak hal tentang adik saya rupanya" ujar Budi dengan mode pengacaranya, membuat Tama semakin serius menyimak.
"Alhamdulillah Mas," jawab Tama diiringi senyuman untuk menghilangkan ketegangannya, dia merasa sedang berhadapan dengan jaksa penuntut yang akan menuntut hukuman yang pantas untuk kesalahannya.
"Tapi apakah keluargamu juga sudah tahu tentang Rahma? apakah Rahma juga sudah tahu banyak tentang kamu dan juga keluargamu?" Budi balik memburu Tama dengan pertanyaan, dia benar-benar seperti sedang mengintrogasi seorang terdakwa dengan gayanya.
"Sa...saya...." Tama terlihat gugup, dia sendiri menyadari jika sampai saat ini belum berbicara apapun tentang Rahma pada keluarganya.
"Saya akan membawa Rahma dan Athaya pada keluarga besar saya. Saat ini yang lebih saya butuhkan adalah izin dari Mas Budi untuk saya bisa mendekati Rahma dan memenangkan hatinya dan Athaya " Tama menjawab tak kalah tegas, dia berhasil menguasai dirinya dan menjawab sesuai dengan niat hatinya.
"Baiklah jika itu rencanamu, saya tidak akan menghalangi. Saya akan bersikap terbuka, memberi kesempatan asalkan kamu tahu batasan dalam mendekati adik saya" jelas Budi memberi peluang sekaligus rambu-rambu yang harus Tama fahami selama menjalankan ikhtiyarnya.
"Terima kasih Mas, terima kasih banyak atas kesempatannya. Saya tidak akan menyia-nyiakannya dan akan berusaha semaksimal mungkin, semoga Allah meridhoi langkah saya ini" ucap Tama mantap, senyum bahagia menghiasi wajahnya, satu lagi sinyal dari kakak Rahma sudah didapatnya.
"Sebentar, ada yang saya lupa sampaikan" Tama yang sudah pamit dan akan berdiri meninggalkan ruang kerja Budi pun menghentikan gerakannya,
__ADS_1
"Ya Mas, ada apa?" tanya Tama kembali was was.
"Saya lupa menyampaikan hal ini" Budi terlihat lebih serius membuat Tama kembali duduk dan menyimak,
"Beberapa bulan yang lalu saya kedatangan sahabat dari Almarhum Bapak kami, dia berkata pada saya ingin sekali meminang Rahma untuk putranya. Tapi sampai saat ini saya belum mendapatkan kelanjutan kabar dari niatan beliau, saya harap dalam hal ini kamu bisa sportif dan benar-benar mendekati Rahma dengan jujur dan tulus. Saya harap kamu mengerti maksud saya" Budi menatap Tama yang langsung memudarkan senyumnya, dia mencerna apa yang dikatakan Budi. Artinya perjuangan Tama untuk mendapatkan Rahma tidak akan mudah, selain hati Rahma dan Athaya yang harus diraihnya, dia pun harus berhadapan dengan orang-orang yang bermaksud sama dengan dirinya.
"Baik Mas, saya akan ingat itu" balas Tama yakin, dia menganggukan kepalanya mantap dengan apa yang diucapkannya. Mereka pun bersalaman dan Tama pamit untuk kembali ke kantornya.
Sore yang cukup cerah untuk dinikmati dengan jalan-jalan, menghilangkan penat setelah melalui pagi hingga siang ini dengan setumpuk pekerjaan. Rahma melipat mukena dan sajadah yang baru dipakainya shalat Ashar. Dia sedikit terlambat karena harus menuntaskan obrolan dengan pengunjung tokonya yang akan memesan snack sebanyak seribu porsi untuk lusa.
Rahma bersyukur, semakin hari tokonya semakin banyak yang mengunjungi. Semua postingannya di akun media sosial banjir like dan komen yang menanyakan tempatnya, bahkan sebagian komentar berisi testimoni konsumen yang sudah pernah berbelanja aneka kue di tokonya.
"Teh, ada tamu" Fita yang merupakan salah satu karyawan Rahma mengetuk pintu dan mengabari jika ada tamu.
"Siapa? yang mau pesen lagi?" tanya Rahma yang hanya menoleh sekilas dan berlanjut dengan membereskan mainan Athaya karena sebentar lagi waktunya pulang. Hari ini toko akan tutup lebih cepat.
"Siapa?" Rahma kembali bertanya sambil bercermin merapikan kerudungnya.
"Katanya dia....ayahnya Athaya" ucap Fita akhirnya, dia menatap Rahma menunggu reaksi atasan yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri.
"Ayahnya Athaya?" tanya Rahma memastikan, menatap Fita dari pantulan cermin dan dijawab anggukan kepala oleh Fita.
"Baiklah, siapkan teh dan beberapa kue ya" Rahma berusaha bersikap biasa. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun Anggara datang menemuinya, biasanya dia hanya akan mengirimi uang bulanan untuk Athaya dan mengiriminya pesan jika dia sudah mentransfer.
"Assalamu'alaikum" Rahma menghampiri Anggara yang sedang duduk dan memainkan ponselnya.
"Wa'alaikumsalam" Anggara mendongak dan menghentikan aktivitasnya setelah mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Sendirian Mas? Friska dan anak-anak gak datang?" Rahma bersikap biasa saja, dia berusaha menjalin silaturahmi dengan baik dengan mantan suaminya itu,
__ADS_1
"Iya aku sendiri" jawab Anggara lirih, ada yang terlihat berbeda dari Anggara entah apa itu, sekilas Rahma memerhatikan mantan suaminya itu namun kemudian dia memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Ada yang bisa aku bantu Mas? Athaya sedang dibawa Yusuf. Hari ini dia pulang cepat jadi mengajak Athaya untuk jalan-jalan" Rahma menjelaskan keberadaan Athaya tanpa diminta.
"Iya, aku tahu. Tadi kami sempat bertemu di mall. Aku ada pertemuan bisnis di sana dan tidak sengaja melihat Athaya dengan Yusuf dan mantan atasanmu di yayasan dulu" ucap Anggara sedikit ketus saat mengatakan kalimat terakhirnya.
"Pak Tama?" tanya Rahma mengernyit, dia tidak tahu kalau Yusuf dan Athaya pergi bersama Tama.
"Iya, sepertinya dia semakin terang-terangan mendekati Athaya. Mungkin maksudnya supaya bisa mendekati kamu" Anggara masih berbicara ketus, dia tampak tidak senang mengetahui kedekatan Athaya dengan Tama.
"Mas, ini pertama kalinya mas datang menemuiku bukan untuk bertemu Athaya. Sebenarnya ada keperluan apa mas datang? jika mas datang hanya untuk mengatakan itu aku rasa itu tidak penting" Rahma mulai terpancing emosi namun masih bisa berbicara normal, sejak tadi yang dibahas mantan suaminya itu hanya seputar Tama.
"Kamu tidak nyaman aku membicarakannya? atau mungkin kamu memang sudah ada sesuatu dengan dia?" Anggara semakin tidak tahu diri, dia datang hanya untuk mengintrogasi Rahma. Sepertinya dia lupa dengan status mereka saat ini.
"Mas, aku rasa itu pun bukan urusanmu. Di antara kita pun sudah tidak ada hubungan apapun, aku harap mas bisa menghargai apapun tentang privasiku" Rahma menegur dengan intonasi sedikit meninggi, dia tidak habis pikir dengan maksud kedatangan mantan suaminya dan berkata demikian,
Deg....Anggara tersentak dengan respon mantan istrinya itu, dia yg tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu dari Rahma.
"Kamu berubah ya" ungkap Anggara dengan nada melemah, dia menatap Rahma dengan tatapan yang sulit diartikan,
"Selalu ada sebab di balik perubahan sikap seseorang" balas Rahma tegas, membuat raut muka Anggara kembali berubah semakin sendu.
"Kalau tidak ada hal lain untuk dibicarakan aku pamit. Aku masih punya pekerjaan" pungkas Rahma melemah, dia hendak berdiri dan meninggalkan Anggara,
"Rahma tunggu" cegah Anggara, dia baru menyadari jika sikapnya sudah keterlaluan. Walau bagaimana pun di antara mereka sudah tidak ada apa-apa lagi, hanya terikat dengan Athaya itu pun dirinya yang mengabaikan.
Rahma pun menghentikan pergerakannya, namun tanpa menoleh.
"Maafkan aku, mungkin aku terlalu merindukanmu padahal aku sadar kalau kita hanya sebatas masa lalu"
__ADS_1