
Prank......
Pecahan gelas berserakan, ruangan kerja yang sudah tampak rapi setelah dibereskan sang cleaning service kini bak kapal pecah.
Anggara melempar semua yang ada di atas meja kerjanya. Dia tidak peduli dengan berkas sepenting apapun. Kabar yang baru saja diterimanya benar-benar sudah membuatnya murka.
"Pak, sebaiknya anda tenang dulu" seorang pemuda berperawakan tinggi besar berusaha menenangkannya. Dia pun sempat kaget, tidak menyangka jika reaksi bossnya akan seperti itu setelah menerima kabar yang dibawa olehnya.
"Brengsek!" maki Anggara, dia kembali meraih amplof coklat yang beberapa saat yang lalu diserahkan oleh orang kepercayaannya.
"Sejak kapan mereka berhubungan?" tanya Anggara dengan mata memerah karena menahan amarah. Dia kembali menelisik setiap adegan di foto yang ada di tangannya.
Tampak Friska, istri yang selama ini selalu berlaku baik di hadapannya tengah berdua dengan seorang pria dengan sangat intimnya.
"Dari informasi yang saya terima, Bu Friska sudah berhubungan dengan laki-laki itu sejak tujuh tahun yang lalu" penjelasan pemuda itu kembali membuat Anggara terkejut untuk kedua kalinya dalam waktu yang hampir bersamaan.
Wajahnya semakin memerah menahan amarah yang siap membabi buta jika tak terbendung. Bagaimana Anggara tidak marah, beberapa bulan ini dia baru mengetahui jika pengeluaran uang bulanan yang harusnya masuk ke rekening atas nama Athaya putranya, ternyata malah masik ke rekening orang lain.
Sebagai mantan polisi Anggara tidak bertindak gegabah. Setelah mengetahui fakta itu, dia langsung menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki kejanggalan yang ditemukannya. Anggara memilih menyelidikinya sebelum meminta penjelasan langsung dari Friska.
Dan sekarang, fakta pertama yang ditemukan orang kepercayaannya tentang sang istri justru kenyataan yang membuat dirinya begitu marah dan terluka secara bersamaan.
Anggara tidak menyangka jika istrinya berselingkuh bahkan mereka memulainya sejak tujuh tahun yang lalu. Itu artinya saat Anggara masih berstatus suami dari Rahma.
"Kamu selidiki terus mereka berdua, laporkan setiap perkembangannya sekecil apapun. Jangan sampai tindakanmu mengundang kecurigaan lakukan semuanya dengan rapi. Saya ingin semua bukti yang terkumpul tidak terbantahkan" titah Anggara tegas, sebagai mantan anggota kepolisian wibawanya tak pernah luntur.
"Baik Pak, laksanakan" pemuda suruhan Anggara yang juga merupakan anggota kepolisian, mantan bawahannya saat masih bertugas dulu tak kalah tegas menjawab.
"Tega kamu Fris..." lirih Anggara setelah pemuda itu keluar dari ruangannya. Dia menjatuhkan bokong di atas kursi kebesarannya.
Kepalanya mendongak, menatap langit-langit dengan mata memerah. Tanpa disadari air mata meleleh dari sudut mata Anggara saat tiba-tiba bayangan Rahma dan Athaya melintas di pikirannya.
__ADS_1
Sementara di lain tempat, masih dalam waktu yang bersamaan.
Senyum terus terukir di wajah lelaki tampan itu. Dia tak berhenti menebar wajah cerahnya selama perjalanan. Haru bahagia menyeruak dalam dada tatkala melirik di sampingnya duduk wanita yang selama ini selalu menjadi bidadari hatinya. Satu minggu tidak melihatnya sungguh telah membuat hatinya merasakan rindu yang begitu besar.
Kebahagiaannya terasa semakin sempurna ketika dari jok belakang celotehan anak kecil seolah menjadi iringan musik di perjalanan mereka. Dia menceritakan hari-hari yang dilaluinya tanpa sang bunda. Sungguh inilah suasana yang dirindukan Tama, jika dulu hanya sebatas halusinasi hari ini semua terealisasi.
"Aku senang bunda jadi gak diejekin lagi sama Akbar" Athaya bertepuk tangan setelah menceritakan jika setiap pagi dan siang dia diantar dan dijemput oleh Tama.
"Lho memangnya Akbar suka mengejek kamu?" Rahma langsung berbalik, dia menatap sang putra dengan wajah khawatir.
"Iya" Athaya mengangguk, Tama pun tak kalah khawatir. Dia menatap Athaya dari kaca spion yang tergantung di atas kepala dan memelankan laju mobilnya.
"Dia mengejek kamu apa memangnya?" Rahma semakin penasaran, dia tidak menyangka jika ternyata putranya menerima perlakuan tidak baik dari salah satu temannya.
"Akbar bilang kalau aku tidak punya ayah"
Deg....Rahma tersentak, bagaimana bisa anak kecil berkata seperti itu.
"Sudah, tapi Akbar bilang kalau aku punya ayah harusnya dia mengantarkan aku sekolah. Tiap hari Akbar selalu dianterin sama ayahnya ke sekolah" penjelasan Athaya seketika membuat Rahma membisu. Dia pun tidak tahu harus berkata apalagi. Karena selama ini Anggara memang tidak pernah mengantar atau menjemput putranya sekolah.
"Jadi sekarang Thaya sudah tidak di ejekin lagi?" Tama yang melihat Rahma membisu dengan raut wajah yang berubah sendu segera mengambil alih pembicaraan.
"Iya, karena omm selama seminggu ini selalu mengantar dan menjemput Thaya sekolah. Akbar kira kalau omm adalah ayahnya Thaya" jawab Athaya dengan sumringah.
"Benarkah? mulai sekarang omm akan sering-sering mengantar Athaya sekolah" ujar Tama membuat Athaya kembali bertepuk tangan heboh.
"Kalau begitu mulai sekarang Thaya jangan panggil omm lagi ya" pinta Tama, sekilas dia melirik ke samping dimana Rahma berada. Tama ingin melihat respon calon istrinya saat dia mengatakan itu.
"Jadi omm mau jadi ayahnya Thaya?" tanya Athaya yang belum mengerti sepenuhnya maksud perkataan Tama.
Tama semakin memelankan laju mobilnya, dia memilih menepi terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Athaya.
__ADS_1
"Iya, omm mau jadi ayahnya Athaya. Sebentar lagi omm akan menikah dengan bunda, jadi mulai sekarang Thaya jangan panggil omm lagi ya, Thaya panggil ayah" jelas Tama setelah mobilnya terparkir di tepi jalan. Bia membuka seatbell dan membalikan tubuhnya menghadap Athaya.
"Pak...."
"Kamu juga, mulai sekarang jangan panggil aku seperti itu" ucapan Rahma terjeda karena Tama yang tiba-tiba menyambar.
"Hihi...." Athaya yang melihat Rahma bengong menjadi terkikik sendiri.
"Tapi kalau bisa Thaya panggilnya papi aja ya, jangan ayah. Kan ada ayah Anggara yang Thaya panggil ayah" Tama me request panggilan untuknya, walau bagaimana pun dia ingin menghargai Anggara sebagai ayah kandung Athaya.
"Heumm" Athaya mengangguk patuh, dia setuju dengan permintaan calon papinya itu.
"Bunda aku punya papi" pekik Athaya senang, dia berhigh five dengan Tama sebagai bentuk selebrasi.
"Dan bunda juga mulai sekarang harus mengubah panggilan ke papi ya ..." Tama beralih menggoda Rahma yang masih belum berbicara karena sejak tadi dua lelaki beda generasi di hadapannya itu selalu mendominasi.
"Baik papi..." jawab Rahma dengan senyum manis yang selalu menenangkan. Membuat Tama justru menjadi salah tingkah mendengar panggilan Rahma padanya dengan intonasi berbeda.
"Sepertinya aku ingin sekali langsung menculikmu ke KUA sekarang juga" geram Tama pelan namun masih terdengar oleh Rahma hingga membuatnya tergelak,
"Papi mau menculik bunda? jangan dong, nanti aku sama siapa?" Athaya yang juga mendengar perkataan Tama langsung pasang badan.
"Hahaha...." Tama dan Rahma kompak tertawa mendengar perkataan Athaya yang sigap merentangkan tangan melindungi sang bunda.
"Tidak sayang, papi tidak akan menculik bunda" jelas Tama dengan tawa yang masih tersisa.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah yang berada di bawah naungan yayasan milik Tama dengan bergembira.
"Aku bahagia sekali, terima kasih sudah memberiku kebahagiaan ini, ini indah sekali. Andai ini terjadi sejak dulu, aku pasti akan lebih bahagia" ucap Tama dengan melemparkan senyum yang menawan ke arah Rahma yang sedang menatapnya.
"Qadarullah...inilah yang terbaik, semuanya sudah Allah atur dengan sempurna. Tidak ada yang lebih indah dari dua raga yang saling menjaga, tidak bertemu namun saling menunggu, tidak berpapasan namun saling memantaskan" jawab Rahma bijak, dia pun tersenyum manis membalas Tama.
__ADS_1
"Jadi selama ini kamu juga menungguku?" goda Tama yang membuat seketika wajah Rahma merona.