
"Baiklah, dimana kami harus menemui Anggara?" tanya Tama tidak ingin menunda lagi, dia ingin segera menyelesaikan urusannya.
"Dia ada rumah sakit jiwa XYZ" jawab Friska membuat Tama dan Rahma saling beradu tatap, tidak menyangka keadaan Anggara sudah separah itu.
"Maksud kamu....?"
"Mas Anggara depresi berat, papanya memutuskan untuk membawanya ke pusat rehabilitasi" jelas Friska dengan wajah sendu,
Tidak hanya Rahma yang tersentak mendengar penjelasan Friska, Tama pun tak kalah terkejut. Dia tidak habis pikir mengapa seorang Anggara dapat mengalami hal seperti itu, seberat apa beban hidupnya sampai dia tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
"Mama sempat menolak, dia tidak terima mas Anggara divonis gangguan mental. Tapi papa berusaha meyakinkan mama bahwa itu yang terbaik. Papa tidak bisa membiarkan Mas Anggara terus seperti itu di rumah" lanjut Friska dengan air mata yang kembali membasahi pipinya,
"Aku turut prihatin, semoga dia segera sembuh" ucap Tama sambil merangkul bahu istrinya, dia tahu Rahma sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Kita akan menemuinya sayang" bisik Tama tepat di telinga Rahma.
"Mas, aku..."
"Aku tidak apa-apa, aku akan membersamaimu menemuinya. Semoga kedatangan kita memberi dampak positif untuk perkembangan kesehatannya" ucap Tama bijak.
☘️☘️☘️
Di sebuah ruangan dengan cat serba putih yang hanya terdapat sebuah ranjang pasien, rak kecil dan satu kursi kayu, seorang laki-laki tinggi kurus dengan rambut yang sudah tampak gondrong terlihat sedang memandang ke arah jendela.
Tatapannya terlihat kosong, sesekali senandung kecil terdengar dari mulutnya. Kadang ada gelak kecil pula yang terdengar, namun kemudian dia menunduk dengan bahu yang berguncang.
"Selamat siang Pak, sekarang waktunya minum obat ya." seorang perawat pria berbaju serba putih memasuki ruangan itu, dia menyapa dengan ramah laki-laki yang tidak lain adalah Anggara.
Sudah seminggu Anggara berada di tempat itu, keadaannya masih sama dia asik dengan dunianya sendiri. Awal kedatangannya ke tempat itu dia cukup merepotkan karena harus bertemu dengan orang-orang baru, tak jarang Anggara berusaha kabur dengan berteriak-teriak. Namun setelah seminggu berlalu, dia mulai bisa beradaptasi dan menerima kehadiran orang-orang baru yaitu perawat dan dokternya.
"Maafkan Anggara, Rahma. Jangan membencinya" suara seorang perempuan yang tidak asing di telinga Rahma membuat fokus tiga orang yang sedang memerhatikan Anggara dari jarak yang cukup jauh beralih pada sumber suara.
Saat ini Rahma, Tama dan Friska sudah sampai di rumah sakit tempat Anggara dirawat. Sesuai kesepakatan awal jika kedatangan mereka memantau situasi terlebih dahulu. Dan di saat mereka tengah mengamati keadaan Anggara dari jarak jauh tiba-tiba kedua orang tua Anggara datang.
"Mama..." ucap Friska dan Rahma bersamaan,
__ADS_1
Friska tampak sedikit terkejut, dia takut idenya membawa Rahma ke tempat ini membuat mantan mertuanya itu semakin membencinya. Selama ini, mama mertuanya itu menyalahkan dia sebagai sumber masalah yang terjadi pada putranya. Sementara Rahma, dia pun tak kalah terkejut, genggaman tangannya di lengan Tama semakin erat saat melihat keberadaan mantan mertuanya itu.
Tama mengusap tangan yang memeluk lengannya erat itu, dia tahu istrinya dalam keadaan ketakutan saat ini. Walau bagaimanapun, Rahma masih belum bisa melupakan kejadian beberapa hari yang lalu dimana mantan ibu mertuanya itu datang menemuinya dan mengancam akan mengambil hak asuh Athaya.
"Terima kasih kalian sudah datang kemari" melihat reaksi kedua mantan menantunya yang tampak tegang, papa Anggara mulai angkat bicara. Beliau pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Tama dan tentu saja diterima Tama dengan uluran tangan yang sama dan mereka pun saling berjabat tangan.
"Sama-sama, Pak. Kami tutut prihatin atas apa yang sudah menimpa putra Bapak" balas Tama dengan tersenyum ramah, dan dibalas anggukan kepala oleh Papanya Anggara.
Setelah berbincang dengan dokter yang khusus menangani Anggara mereka bernafas sedikit lega karena sekarang Anggara sudah mulai bisa merespon beberapa instruksi yang diberikan dokter atau perawat. Walau pun tidak sering tapi itu adalah kemajuan yanag cukup baik, semuanya berharap Anggara bisa kembali seperti semula.
"Kalau boleh tahu, siapa di sini yang bernama Rahma?" tanya dokter itu di akhir penjelasannya,
Semua orang terdiam, tidak terkecuali Rahma. Dia sendiri sungkan untuk menjawab.
"Ini dok, dia istri saya" akhirnya Tama yang menjawab, dia kembali mengeratkan genggaman tangannya pada Rahma.
"Nama Mbak selalu diucapkan oleh Pak Anggara, saya rasa jika Mbak dan Mas berkenan untuk menguji ingatannya bersediakah Mbak menemuinya?" lagi-lagi dokter bertanya pertanyaan yang terasa sulit untuk Rahma jawab, dalam hati ada rasa iba pada mantan suaminya itu.
Sejujurnya dia sangat sedih melihat keadaan Anggara seperti itu, walau bagaimanapun dia adalah ayah kandung dari putranya. Tapi di lain sisi diapun ingin menjaga batasan, statusnya sebagai perempuan yang telah bersuami tentu tidak bisa semaunya bertindak, ada hati yang harus dia jaga dan ada ridho yang harus dia raih sebelum melakukan sesuatu.
"Terserah Mas..." jawab Rahma lirih, .
"Kamu siap? Jika kamu siap aku akan mengizinkan" jelas Tama meyakinkan dan dijawab anggukan oleh Rahma,
"Jika mas mengizinkan, aku bersedia menemui Mas Anggara" jawab Rahma membuat tiga orang yang sejak tadi harap-harap cemas menunggu jawabannya bernafas lega,
"Tapi tolong mas temani aku" lanjut Rahma yang dijawab anggukan kepala dengan senyum oleh Tama, dia pun tidak sungkan mengecup punggung tangan Rahma di hadapan semua orang.
"Tentu, aku akan selalu menemanimu" jawab Tama menenangkan.
Melihat perlakuan Tama pada Rahma semua orang yang berada di sana menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda. Entahlah apa yang ada dipikiran mereka, tapi bagi Tama apa yang dilakukannya adalah tulus dari hati. Bagi dia Rahma adalah wanita yang istimewa, sudah selayaknya diperlakukan sangat istimewa pula.
"Terima kasih Nak, terima kasih" hanya papa Anggara yang menimpali obrolan pasangan baru itu, dia turut bahagia atas apa yang dilihatnya saat ini.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Pintu kamar rawat yang terbuka tidak membuat Rahma melupakan kebiasaannya mengetuk pintu sebelum meminta izin untuk masuk.
Tidak ada respon, Anggara yang baru saja selesai makan siang dan diberikan obat itu masih anteng menatap ke arah jendela yang terbuka lebar di hadapannya.
"Assalamu'alaikum" ucap Rahma akhirnya, dia memerhatikan sekecil apapun respon yang akan diberikan Anggara pada setiap yang dilakukannya. Sesuai pesan dokter dia berusaha bersikap tenang, walaupun sebenarnya rasa gugup dan takut sedang melanda hatinya saat ini.
"Assalamu'alaikum" bukannya jawaban salam yang Rahma dengar tapi Anggara justru kembali mengucapkan salam, hal itu tentu saja di dengar oleh semua orang yang melihat interaksi mereka termasuk dokter yang memberi isyarat pada Rahma untuk menjawab salam Anggara.
"Wa'alaikumsalam, Mas" jawab Rahma dengan bibir sedikit bergetar,
Anggara menoleh ke sumber suara, dia menatap Rahma dengan intens tanpa bersuara. Cukup lama, membuat tangan Rahma semakin bergetar karena takut.
"Rahma, Mas pulang" ucapnya setelah beberapa saat menatap wanita berhijab yang saat ini berdiri di ambang pintu.
Rahma membeku, dia bingung harus menjawab apa. Dari jarak yang cukup dekat, dia bisa melihat tatapan Anggara dalam mata lelahnya, tatapan yang sama yang pernah tertuju untuknya setiap kali mantan suaminya itu pulang ke Garut.
"Mas apa kabar?" masih dari jarak yang sama Rahma kembali mengikuti arahan dokter untuk bersikap tenang dan mengajak Anggara berkomunikasi.
Tidak ada jawaban, Anggara masih terus menatapnya dengan tatapan yang mulai fokus tidak seperti tadi yang tampak kosong. Dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu saat menatap Rahma.
"Rahma, mas pulang. Mas mengambil cuti lama" kalimat yang cukup panjang yang diucapkan Anggara selama ini, membuat dokter tersenyum senang melihat perkembangan pasiennya saat ini. Anggara masih berada di posisinya, begitupun dengan Rahma.
"Mas, apa kabar?" Rahma kembali mengulang pertanyaannya. Tangannya masih bergetar karena takut, taku tiba-tiba Anggara melakukan sesuatu di masa lalu yang biasa dia lakukan jika pulang.
"Aku.." Anggara merespon, namun terhenti karena tiba-tiba dia tak sadarkan diri.
Bruuk....tubuhnya yang semakin mengurus itu terjungkal begitu saja ke lantai.
"Angga...." teriak mamanya yang sejak tadi membekap mulut menahan tangis melihat interaksi sang putra dengan mantan istrinya.
Dua orang perawat pun memasuki ruangan itu dan mengangkat tubuh Anggara untuk dipindahkan ke atas ranjang.
Sementara itu, tubuh Rahma semakin bergetar dia benar-benar ketakutan. Tama segera memburu istrinya, dia membawa Rahma ke dalam pelukannya. Rahma pun langsung menumpahkan tangis yang sejak tadi dia tahan dalam pelukan suaminya.
"Sudah sayang, tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja" Tama mencoba menenangkan sang istri yang memeluknya semakin erat.
__ADS_1