
"Kamu sudah datang?" ibu pembeli di toko kue Rahma tampak sumringah menyambut kedatangan putranya, dia pun berdiri dari duduknya dan menerima uluran tangan sang putra yang datang menjemputnya untuk bersalaman.
"Iya Ma, mama sudah selesai?" putranya kembali bertanya,
"Sudah sayang, tapi pesanan mama masih ada yang kurang, enggak apa-apa ya nunggu sebentar lagi?" ibu itu menjelaskan,
"Oke" jawab sang putra singkat, dia kembali fokus pada ponselnya yang tiba-tiba bersuara karena tanda ada panggilan masuk.
Rahma yang hanya menjadi penonton percakapan dua orang di hadapannya itu hanya menunduk, ingin menyapa orang yang baru saja datang itu karena merasa mengenalnya tapi rasa tahu diri dan takut jika yang bersangkutan sudah tidak mengenalinya lagi karena sudah sangat lama mereka tidak lagi bertemu lebih mendominasi hati dan pikirannya. Akhirnya dia pun hanya menundukkan kepala, berpura-pura sibuk dengan pekerjaan untuk mengalihkan kegugupannya.
"Mbak, kira-kira berapa lama lagi ya kue pesanan saya datang?" ibu pembeli mendekat ke arah kasir dan bertanya pada Rahma, karena kedatangan sang putra beliau atau pun Rahma lupa dengan percakapan yang terjadi di antara mereka sebelumnya,
"Sebentar ya Bu, saya telepon lagi ke toko pusat" jawab Rahma dengan raut wajah yang terlihat sedikit gugup karena tiba-tiba ibu itu bertanya saat dirinya sedang tidak fokus,
"Sepertinya pak Tama memang sudah tidak mengenaliku, eh...kenapa memangnya, bukan masalah juga kan, toh aku bukan siapa-siapa. Lagian wajar kalau beliau sudah lupa padaku, aku hanya guru biasa yang pernah mengajar di yayasannya" sambil menunggu sambungan teleponnya terhubung, Rahma berperang dalam batinnya, ada rasa yang tak biasa saat melihat Tama tidak kunjung meliriknya.
Ya...laki-laki yang datang ke tokonya dan memanggil pembeli itu mama adalah Tama, laki-laki yang pernah menjadi atasan dan mengungkapkan cinta padanya beberapa tahun silam. Waktu yang terus berjalan memang mengubah banyak hal, termasuk membentuk pribadi Rahma menjadi seseorang yang lebih dewasa dan tegar.
Apa yang pernah dialaminya dalam kehidupan rumah tangganya pun membuat Rahma lebih hati-hati dalam membuka hati. Selama lima tahun ini bukan tidak ada laki-laki yang mendekati dan melamarnya, tapi hati dan pikirannya selalu menolak kehadiran mereka. Tak ada getaran apapun atau ketertarikan dalam hatinya terhadap lawan jenis, keinginan untuk kembali membangun rumah tangga masih tak muncul di hati dan pikirannya, dia hanya fokus dengan kehidupan barunya bersama putranya tercinta, Athaya.
Tapi entah mengapa, saat melihat Tama perasaan hatinya seketika berubah. Ada getaran yang membuatnya seketika merasa gugup.
"Bu...."
__ADS_1
"Ma..."
Bersamaan keduanya memanggil orang yang sama dengan sebutan yang berbeda membuat ibu pembeli itu tersenyum karena kekompakan keduanya. Namun senyumnya seketika memudar saat melihat Tama tak kunjung beranjak dari posisinya dan menatap wanita yang juga memanggilnya itu dengan lekat.
"Pak..." Rahma lebih dulu tersadar, dalam hitungan detik tatapan keduanya bertemu dan seolah saling menyelami satu sama lain, Rahma menundukkan sedikit kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya menyapa Tama.
"Hey ...sayang, kamu mengenal Mbak ini?" Ibu menepuk lengan Tama yang tidak kunjung merespon sapaan sopan Rahma, dia justru terus menerus menatap Rahma semakin dalam.
"Aah...mama..." Tama mengaduh saat tepukan sang ibu di lengannya semakin keras untuk kedua kalinya,
"Sakit Ma..." Tama mengusap-usap lengan yang dipukul mamanya dengan wajah meringis, sementara Rahma ikut meringis dengan senyum terkulum melihat interaksi ibu dan anak yang tampak begitu akrab itu,
"Kamu kenal Mbaknya?" Ibu itu pun mengulang pertanyaannya,
"Iya Ma, aku mengenalnya...sangat mengenalnya" jawab Tama yakin dengan tatapaan kembali pada wanita yang ada di hadapannya.
Kalimat terakhir yang dikatakan Tama jujur membuat jantung Rahma berdetak semakin kencang.
"Saya pernah mengajar di yayasan Pak Tama, Bu" Rahma lebih dulu memperkenalkan diri, sementara Tama kembali fokus menatap Rahma dengan tatapan yang sulit diartikan,
"Kamu terlihat semakin cantik, rupanya kamu hidup dengan baik selama ini. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu" batin Tama,
Sementara Tama sibuk dengan pikirannya sendiri, ibu terlihat antusias bertanya banyak hal pada Rahma setelah mengetahui bahwa ternyata Rahma pernah mengajar di yayasan miliknya.
__ADS_1
"Di yayasan yang mana pernah mengajar Mbak? tanya ibu,
"Di Garut Bu, saya asli orang Garut" jawab Rahma, dia terlihat salah tingkah karena Tama terus menatapnya,
"Oh begitu, Alhamdulillah saya senang bertemu Mbak. Suami saya juga aslinya orang Garut. Saya asli orang Jakarta, dulu kami pernah tinggal lama di Bandung dan kembali ke Jakarta sudah cukup lama" Ibu pun menjelaskan perihal dirinya yang direspon oleh Rahma hanya dengan anggukan kepala.
"Kamu bekerja di sini?" Tama mengedarkan pandangannya, mengamati bagian dalam toko kue itu dan bertanya to the point tanpa memikirkan hal lain. Rahma hanya mengangguk dan tersenyum sekilas menjawab pertanyaan Tama karena para pembeli kembali mengantri untuk membayar.
Tidak lama pesanan bolu pisang ibu pun datang, Rahma menyerahkan pekerjaannya pada karyawannya dan keluar dari kubikel kasir untuk mengantar ibu pembeli itu.
"Kamu apa kabar?" Tama bertanya pelan saat dirinya berkesempatan berdiri dekat dengan Rahma sebelum memasuki mobil, sementara sang mama masih sibuk mengarahkan karyawan Rahma menata kue yang dibelinya di bagasi mobil.
"Alhamdulillah baik Pak" jawab Rahma singkat tanpa melihat ke arah Tama, dia fokus mengawasi karyawan yang menata kue-kue pesanan ibu.
"Alhamdulillah semuanya sudah selesai, terima kasih ya Mbak atas pelayanannya, sekarang saya pami. Oya kalau boleh saya mau minta nomor telepon ya, biar nanti kalau mau pesan bisa menghubungi Mbak dulu" ibu merogoh ponsel di dalam tasnya, bermaksud menyerahkan ponselnya pada Rahma.
"Nomor telepon yang bisa dihubungi sudah ada di kemasan kue Bu. Jika ibu mau memesan, silahkan hubungi kami melalui nomor yang tertera di sana" jelas Rahma,
"Oh begitu, baiklah" ibu urung mengeluarkan ponselnya, dia pun pamit untuk pulang karena akan menghadiri sebuah acara di tempat lain.
"Ayo sayang, sebentar lagi acara mama mulai" ibu pun mengajak Tama untuk pergi,
"Iya Ma, sebentar..." Tama masih tampak ragu untuk menyusul mamanya yang sudah lebih dulu masuk mobil setelah bersalaman dengan Rahma,
__ADS_1
"Kamu...." ucapan Tama terjeda,
"Bunda...." sebelum Tama melanjutkan perkataannya, seorang anak laki-laki tiba-tiba berlari ke arah mereka berdiri dan berteriak memanggil Bunda.