
Seminggu berlalu....
Rencana pernikahan akan dilaksanakan satu bulan lagi. Setelah acara lamaran yang dilanjutkan dengan nge prank Tama, dua keluarga langsung mendiskusikan waktu yang tepat untuk pernikahan Tama dan Rahma.
Waktu sepertinya berjalan lebih lambat, satu bulan terasa begitu lama untuk Tama. Dia sempat melayangkan protes malam itu, awalnya rencana pernikahan akan dilaksanakan tiga bulan lagi agar persiapannya lebih matang, tetapi dengan tegas Tama menolak.
Dia tidak sungkan mengatakan jika itu tidak terlalu lama, dua minggu adalah waktu yang diajukan Tama untuk melakukan persiapan. Itu artinya dia menginginkan pernikahan dilaksanakan dua minggu lagi. Kedua orang tuanya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.
Jelas-jelas keinginannya itu ditolak oleh sang mama, dia tahu putranya itu sudah terlalu lama menantikan hari bahagianya tetapi justru karena alasan itu Bu Hakim ingin memberikan kenangan hari pernikahan yang tak terlupakan untuk sang putra satu-satunya itu.
"Kamu pikir semuanya bisa disulap?" Bu Hakim kembali meninggikan intonasi suaranya saat Tama keukeuh dengan keinginannya. Tapi Tama hanya nyengir saja saat tatapan mamanya sudah begitu mengintimidasi.
Atas kesepakatan dua keluarga mereka pun akhirnya mengambil jalan tengah. Setelah mendengar permintaan Rahma yang menginginkan pernikahannya dilaksanakan secara sederhana, semua pun sepakat waktu yang ada akan digunakan untuk persiapan semaksimal mungkin. Satu bulan lagi acara pernikahan Rahma dan Tama akan digelar.
Hari-hari yang Tama lalui terasa semakin beda. Setiap pagi dia selalu lebih bersemangat untuk pergi ke kantor. Tama bahkan lebih sering tinggal di kediaman orang tuanya sekarang. Sebelumnya, apartemen yang jaraknya lebih dekat dengan perusahaan kantor cabang Jakarta adalah tempat tinggalnya jika berada di Jakarta.
Rutinitas baru di pagi hari benar-benar menjadi moodbooster bagi Tama. Dia pergi lebih pagi, sebelum ke kantor dirinya akan mampir terlebih dahulu ke rumah kakak ipar Rahma untuk menjemput dan mengantarkan Athaya ke tempat belajarnya.
Selama satu minggu kemarin Rahma ada kegiatan di luar kota. Dia menjadi wakil lembaga tempatnya mengajar untuk mengikuti pelatihan. Yusuf sudah siap untuk mengantar jemput Athaya selama kakaknya tidak ada, tetapi ketika Rahma memberi tahu Tama sekaligus meminta izin, justru Tama yang menawarkan diri untuk mengantar dan menjemput Athaya. Bahkan saat weekend Athaya diajak Tama untuk menginap di rumah kedua orang tuanya dan dengan senang hati anak itu bersedia. Rahma dan kakaknya pun mengizinkan.
"Tidak sarapan dulu Nak?" Bu Hakim yang melihat Tama buru-buru menegur sang putra,
"Tidak Ma, aku gak mau telat. Hari ini rencananya aku akan mengajak Rahma untuk mencari cincin pernikahan. Semalam dia baru pulang daei Yogya" jawab Tama setelah duduk di kursi dan menikmati segelas teh yang sudah disediakan sang mama.
"Lho...kok kamu enggak bilang, mbak Rahma udah tahu?" tanya Bu Hakim menghentikan aktivitasnya yang akan mengambil nasi goreng untuk dirinya setelah sebelumnya menyiapkan sarapan untuk sang suami. Panggilan mbak masih melekat, sejak dulu dia memang menginginkan seorang anak perempuan dan Bu Hakim sudah berencana untuk memanggil putrinya itu dengan sebutan mbak.
"Tidak Ma, aku mau ngasih dia kejutan. Kalau di kasih tahu dia pasti menolak" jawab Tama enteng, dia mengelap kedua sudut bibirnya dengan tissu, setelah satu gelas teh itu tandas diminumnya. Siang ini Tama akan menjemput Rahma dan akan langsung membawanya untuk membeli cincin pernikahan.
"Hari ini mama dan Mbak Rahma sudah janji mau beli buat seserahan Nak" Bu Hakim memberi tahu rencananya hari ini.
"Mama susah payah mengajak mbak Rahma akhirnya dia bersedia. Dari kemarin-kemarin dia selalu bilang terserah mama, enggak mau kalau disuruh milih sendiri" jelas Bu Hakim dengan terkekeh, pasalnya dulu saat mempersiapkan pernikahan Tama yang gagal, calon mempelai pengantin wanitanya begitu bersemangat ketika diajak belanja untuk seserahan.
"Kenapa mama tertawa sendiri?" Tama merasa aneh dengan tawa sang mama,
"Enggak apa-apa, mama cuman inget Tasya. Dulu dia begitu bersemangat ketika diajak belanja, apalagi disuruh pilih barang sendiri, tapi mbak Rahma beda" jelas Bu Hakim, dia mengambil sesendok nasi goreng untuk disuapkan ke mulut sang putra,
"Bedanya apa Ma?" dengan mulut penuh Tama kembali bertanya, penasaran dengan perkataan namanya yang menurutnya menggantun. Tama tidak sadar jika dirinya sedang disuapi sarapan padahal tadi menolak dengan alasan buru-buru,
__ADS_1
"Mbak Rahma kalau diajak belanja dia gak pernah mau dibelanjain. Waktu kemarin-kemarin mama ajak buat milih baju seragam keluarga dia hanya membantu memilihkan. Mama suruh milih sekalian buat seragam keluarganya, dia bilang sudah dihandle sama Maya, mama suruh milih buat dia sendiri juga nolak karena katanya bajunya masih banyak di lemari" jelas bu Hakim sambil kembali menyuapi sang putra.
"Benarkah Ma?" tanya Tama dengan binar bahagia di matanya, rasa kagum menyeruak dalam hatinya. Dia memang tidak salah pilih, gumamnya dalam hati.
"Iya, mama sampai maksa dia tetep menolak dengan sopan. Mama jadi malu waktu bilang kalau mama paling suka belanja, dia hanya tersenyum saja" lanjut mama masih tentang cerita calon menantunya,
"Idaman..." Pak Hakim menimpali, satu kata yang membuat Bu Hakim langsung mendelik ke arahnya,
"Jadi kalau mama bukan idaman papa?" pembahasan beralih, Bu Hakim tidak terima dengan komentar suaminya.
"Eh...ma...mama...idaman papa dong mah" jawab Pak Hakim terbata, dia baru sadar jika salah berucap.
"Buat papa hanya mama yang jadi idaman" Pak Hakim mengusap sebelah pipi sang istri penuh sayang sambil mengerlingkan sebelah matanya. Keromantisan suami istri yang hampir senja itu tetap terlihat jelas, dan Tama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mamanya merajuk dan lagi-lagi papanya selalu bisa dengan mudah menenangkannya.
"Apaan sih malah mesra-mesraan" ketus Tama dia meraih gelas yang berisi air putih untuk mengakhiri sarapannya yang tanpa sadar sudah hampir menghabiskan setengah piring karena disuapi sang mama.
"Kenapa? iri, bilang boss" Pak Hakim justru menggoda putranya, dia semakin menunjukkan kemesraannya dengan sang istri di depan putranya.
"Sudah ah aku mau menjemput Athaya, hari ini dia ada kelas pagi. Mau latihan buat persiapan lomba katanya" Tama beranjak dari tempat duduknya, dia meraih tangan mamanya dan menciumnya dengan takzim. Seminggu ini dia memerankan peran seorang ayah dengan baik.
"Pa, aku pergi dulu" hal yang sama pun dia lakukan pada sang papa.
"Iya ma, pa. Assalamu'alaikum" pamit Tama, dan dijawab kompak oleh kedua orang tuanya.
Kurang dari empat puluh menit mobil yang dikendarai Tama sudah terparkir di halaman rumah Budi, sampai saat ini Rahma dan Athaya memang masih tinggal di rumah kakaknya. Budi dan istrinya tidak mengizinkan ketika Rahma meminta izin untuk pindah rumah dan tinggal berdua dengan Athaya.
Perjalan yang ditempuh Tama lebih lancar karena dia pergi bahkan saat matahari masih malu-malu untuk menunjukkan dirinya.
"Assalamu'alaikum" Tama sudah berdiri di depan pintu utama rumah itu. Di samping rumah, toko kue yang dikelola kakak iparnya Rahma sudah menampakkan aktivitas beberapa pegawai.
"Wa'alaikumsalam, Kak..." Yusuf yang membuka pintu, malam tadi dia pulang ke rumah kakaknya.
"Kamu di sini?" tanya Tama yang sudah mengetahui jika adik bungsu Rahma itu sudah tinggal terpisah di apartemen yang disediakan oleh perusahaan tempatnya bekerja.
"Iya Kak, semalam menjemput teteh larut" jawab Yusuf, semalam Rahma pulang menggunakan kereta dari Yogya dan sampai di stasiun sekitar pukul sebelas malam. Seperti biasa, Yusuflah yang menjemputnya.
"Lho....Naura sudah pulang?" Tama meninggikan intonasi suaranya, dia yang mau duduk pun menghentikan gerakannya, kembali berdiri karena kaget mendengar jawaban Yusuf.
__ADS_1
"Iya Kak" jawab Yusuf singkat,
"Omm ganteng ..." belum juga wajah terkejut Tama berubah, Athaya datang dari arah dapur. Dia sudah menyelesaikan sarapannya,
"Hallo boy, gimana sudah siap?" tanya Tama seketika mengubah nada bicaranya. Kehadiran Athaya mampu merubah suasana hatinya yang sempat terkejut karena ternyata Rahma sudah kembali tanpa memberinya kabar.
"Hari ini aku diantar bunda omm" Athaya langsung memberi pemberitahuan.
"Bunda sudah pulang ya, omm baru tahu" ujar Tama, dia membetulkan rambut Athaya yang hampir menutupi matanya.
"Maaf Pak, kemarin acaranya dipadatkan. Alhamdulillah sore sudah selesai, jadi langsung pesan tiket" suara wanita yang beberapa hari ini sangat dirindukannya itu akhirnya mengisi telinga dan hatinya. Selama beberapa hari berpisah mereka hanya berkomunikasi lewat chat, Rahma menolak untuk menerima telepon apalagi video call.
"Alhamdulillah..." Tama terpaku melihat wajah yang terlihat semakin bersinar. Beberapa hari tidak bertemu membuat Rahma terlihat pangling.
"Apa kabar Pak?" pertanyaan Rahma membuyarkan lamunan Tama, dia kelabakan sendiri ketahuan sejak tadi hanya fokus menatap Rahma.
"Alhamdulillah baik, kamu? Kenapa tidak menghubungiku?" Tama balik bertanya, rasa khawatir sekaligus kecewa terlihat dari raut wajahnya.
"Rencana pulang lebih awalnya mendadak" jawab Rahma santai,
Tama tidak lagi menjawab, dia hanya fokus pada wajah dengan senyum yang selalu menghiasi sejak tadi.
"Bunda, aku mau ambil dulu pensil warna ada yang ketinggalan di kamar ya..." Athaya pamit setelah mengecek tasnya ternyata ada yang tertinggal.
"Terima kasih beberapa hari ini sudah mau direpotkan dengan mengantar Athaya. Padahal saya tahu Pak Tama pasti sangat sibuk" ucapan terima kasih tulus Rahma sampaikan, terdengar lembut dengan tetap mengulas senyum.
"Kamu tidak merindukanku?" Tama mengabaikan ungkapan terima kasih Rahma, kesempatan perginya Athaya dia gunakan untuk mengungkapkan isi hatinya.
Rahma tertegun mendapat pertanyaan itu. Dia menatap Tama dalam tanpa kata.
"Kamu merindukanku?" pertanyaan yang sama namun dengan intonasi yang berbeda, Tama kembali mengulangnya.
"Bapak merindukan saya?" bukan jawaban dari pertanyaannya yang Tama dengar, Rahma justru balik bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Tentu, aku sangat merindukanmu" jawab Tama mantap tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari wajah putih yang seketika memerah mendapat jawaban tak terduga akan dengan mudahnya Tama ucapkan.
"Kita hanya beberapa hari tidak bertemu" ujar Rahma akhirnya bersuara,
__ADS_1
"Sebenarnya rindu tidak diciptakan oleh jarak namun oleh perasaan. Aku merindukan kamu bukan karena kamu jauh, namun karena kamu telah ada dalam hati dan jiwaku" ucap Tama masih dengan tatapan yang menyiratkan kerinduan yang begitu dalam. Dia betah memandang wajah yang semakin tersipu.