Belenggu Akad

Belenggu Akad
Pengajian Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Keesokan harinya acara pengajian pun di gelar, halaman rumah dan juga toko sudah disulap menjadi tempat yang nyaman untuk digelar pengajian sebelum pernikahan.


Beberapa tamu undangan yang terdiri dari rekan mengajar Rahma, beberapa pelanggan tetap toko, relasi A Budi dan kakak ipar juga. Tidak lupa karyawan toko dan tetangga dekat juga turut hadir pada acara pengajian itu.


Seorang pemuda yang didaulat untuk menjadi MC pada acara pengajian ini pun mulai membuka acara dengan sapaan salam dan do'a.


Rahma tampak anggun dengan gaun berwarna putih dan jilbab berwarna senada. Di samping kanannya tampak Athaya memakai gamis putih dan peci hitam, tampak gagah dan begitu menggemaskan. Hari ini Athaya bertugas menjadi pembaca ayat suci Al-Qur'an menjelang acara inti yaitu tausiyah.


Di sebelah kiri Rahma sudah ada Maya bersama suami dan anak-anaknya yang mendampingi. Di sebelah Athaya pun duduk kakak ipar dan A'Budi beserta keponakan Rahma yang lainnya. Mereka semua kompak memakai baju berwarna putih di pengajian menjelang pernikahan ini.


Rasa haru menyelimuti Rahma ketika tiba pada sesi permintaan izin dirinya untuk menikah kepada sang kakak dan kakak ipar yang merupakan pengganti Almarhum Bapak dan Ibunya. Bayangan kenangan bersama kedua orang tuanya menari-nari di benak Rahma. Dia pun menarik nafas dalam dan sejenak memejamkan mata sebelum memulai menyampaikan isi hatinya.


"Bismillaahirrahmaanirrahim, Aa dan Kakak yang Rahma cintai dan hormati, Maya dan Yusuf juga adik ipar yang teteh cintai dan sayangi"


"Syukur alhamdulillah Rahma panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala bahwa pada sa’at ini Rahma diberi kesempatan untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya karena telah terlahir sebagai bagian dari keluarga ini."


"Terima kasih atas semua cinta dan semua kasih sayang yang tulus, yang ikhlas dan tanpa pamrih yang telah diberikan kepada Rahma sampai saat ini. Sehingga Rahma tetap dapat merasakan hangatnya kehidupan keluarga walaupun tanpa kehadiran dan sentuhan Ibu dan kehadiran bapa yang selalu sabar, melindungi, menafkahi dan setia memimpin keluarga dengan penuh tanggungjawab sampai saat ini.


"Tak terhitung lagi berapa banyak cinta kasih dan kebaikan yang Rahma terim dari kalian. Rahma memohon ma’af yang sedalam-dalamnya atas semua kekhilafan dan dosa Rahma selama ini. Mohon keridhoan kalian untuk Rahma atas segala kesulitan dan kerepotan yang sudah Rahma bebankan pada kalian"


"A Budi dan Kakak ipar, terima kasih telah menjadi kakak yang baik bagi Rahma, kalian mampu menjadi pengganti Ibu dan Bapak yang telah tiada bagi Rahma, hingga Rahma tetap merasa kehadiran sosok orang tua karena kalian. Orang tua yang selalu mengingatkan agar selalu memperbaiki perbuatan yang salah. Terima kasih telah membantu Ibu dan Bapak untuk menjaga Rahma. Ma’afkan Rahma jika masih belum bisa menjadi adik yang baik. Ma’afkan Rahma yang selalu merepotkan  dan menyusahkan. Rahma memohon maaf yang sebesar besarnya untuk semua kesalahan dan kekhilafan Rahma."

__ADS_1


"A, Kakak ipar, disaat yang baik ini, Rahma memohon izin dan restu untuk dinikahkan dengan pria yang Rahma cintai. Pria yang insyaallah bisa menjadi imam yang baik, yang bijak, bertanggungjawab dan penuh kasih sayang. Izinkan Rahma menikah kembali dan membina rumah tangga dengan kekasih pilihan Rahma yang bernama Pratama Ardhan Hakim."


"Sebagai hamba, Rahma mengabdi kepada Allah Subhanahu wata'ala. Namun tanpa ridha dan keikhlasan kalian sebagai pengganti orang tua kita maka Allah pun tidak akan ridho kepada Rahma. Insyaallah dengan ridha dan do’a restu Aa, kakak ipar dan adik-adik pernikahan Rahma dan Mas Tama diberikan kelancaran, penuh ketenangan, kedamaian, kebahagiaan serta Sakinah, mawaddah wa rahmah. Aamiin ya rabbal alamin.   


Tidak ada kata yang terucap dari Budi maupun yang lainnya. Dia merangkul sang adik yang bersimpuh di hadapannya penuh kasih, hal yang sama pun dilakukan kakak ipar pada Rahma. Mereka.saaling berpelukan dan saling memberi kekuatan.


"Kami ridho Dek, Aa ridho padamu. Jemputlah kebahagiaanmu, sudah saatnya kamu hidup bahagia setelah banyak luka dan air mata yang kamu alami, Dek" Budi semakin mengeratkan pelukannya pada sang adik, bahunya berguncang tanda tangis tak mampu lagi dia hadang.


"May, Yusuf, terima kasih ya sudah menjaga teteh dan Athaya selama ini" Rahma beralih memeluk Maya dan Yusuf bersamaan, mereka pun tak kuasa menahan lajunya air mata yang membasahi pipi. Tangis mereka semakin tak tertahan saat mereka saling berpelukan.


Semua orang yang hadir menyaksikan momen yang penuh keharuan itu turut merasakan haru. Semua orang tampak mengusap sudut mata mereka yang.


Acara pun dilanjutkan dengan acara inti pengajian hari ini yaitu Tausiyah. Sang MC mempersilahkan Pak Ustadz untuk menyampaikan tausiyah dan nasihat pernikahan.


"Tidak akan mungkin tertukar apa yang sudah Allah takar. Setiap manusia akan mendapatkan apa yang menjadi haknya, hak yang sudah Allah takar untuknya. Rezeki, jodoh, maut, semua sudah tertakar. Tidak ada kemampuan sedikitpun untuk manusia mengatur sesuai keinginannya sendiri."


Semua orang tampak khusus mendengarkan setiap tausiyah dan nasihat yang disampaikan Pak Ustadz.


"Perihal jodoh, setiap orang pasti menginginkan pasangan terbaik. Jika kamu ingin mendapatkan yang terbaik maka tidak perlu sibuk untuk mencari yang terbaik, tapi cukup dengan memperbaiki diri. Maka Allah akan datangkan yang terbaik menurutnya, jangan khawatir jodoh pasti bertamu, oleh karena itu siapkan diri dengan ilmu"


"Ketika dua orang berjodoh, maka Allah akan menggerakkan hati keduanya dan dalam hadisnya Rasulullah saw bersabda ''saya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah", hadis riwayat Ibnu Majah" Pak Ustadz mengedarkan pandangannya, tampak semua orang mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar hadis yang disampaikan olehnya.

__ADS_1


"Khusus untuk Mbak Rahma yang akan melangsungkan pernikahan, menjalani kehidupan rumah tangga semoga Allah berikan kemudahan dan kelancaran dalam mewujudkannya. Kita semua do'akan, semoga rumah tangga yang akan dibangun oleh Mbak Rahma tumbuh menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah." ucapan Aamiin terdengar menggema dari lisan semua orang.


"Semoga Allah menuntun Mbak Rahma menjadi istri yang shalehah, istri yang beruntung. Siapakan istri yang paling beruntung?" Pak Ustadz melempar pertanyaan kepada para hadirin disela-sela ceramahnya.


"Ya, bagaimana Bu, ada yang mau menjawab?" tanya Pak Ustadz lagi dan hanya dibalas tawa kecil dan bisik-bisik dari para ibu-ibu yang hadir.


"Istri yang paling beruntung adalah dia yang dikaruniai Allah seorang suami yang penyabar dan juga penyayang. Penuh kehangatan dan kelembutan, suka menolong dan berhati tulus. Jika dia pergi istri merindukannya, jika dia ada istri ingin berdekatan" jelas Pak Ustadz,


"Dan semoga di pernikahan kali ini Mbak Rahma menjadi istri yang paling beruntung." sambung Pak Ustadz, sebagai orang yang cukup dekat dengan kakaknya Rahma beliau sedikit banyak mengetahui tentang kisah adik dari rekannya itu.


"Tenang Mbak Rahma, semua orang punya cerita tentang rumitnya perjalanan hidup dan dahsyatnya badai ujian dunia. Likuan terjal kerap kali mematahkan langkah. Namun nyatanya, hingga kini semuanya masih bisa terlewati. Kuncinya satu, kita jalani saja apapun yang sudah Allah takdirkan untuk kita."


"Hanya dua hal yang harus kita lakukan dalam hidup ini agar menjadi manusia yang Allah tinggikan derajatnya di dunia dan Allah selamatkan di akhirat, yaitu bersabar dan bersyukur. Bersabar ketika mendapat ujian dan bersyukur ketika mendapat nikmat kebahagiaan."


Enam puluh menit berlalu, tepat pukul 11 siang acara pengajian selesai dan dilanjutkan dengan ramah tamah, serta ucapan selamat dan do'a dari para tamu yang datang untuk kelancaran acara pernikahan Rahma esok hari.


Semua momen mengharukan dan syarat makna itu tidak terlepas dari pantauan seseorang yang sengaja menyuruh orang kepercayaannya untuk menyiarkan secara live momen pengajian. Dia duduk di kursi kebesarannya yang berada di ruang kerja rumah mewah orang tuanya, menatap laptop yang menayangkan siaran langsung acara pengajian di rumah calon istrinya.


Sejak awal, tatapannya tak lepas dari wajah anggun berkerudung putih yang tampak berseri dengan aura kecantikan yang alami.


"Aku janji tidak akan pernah menyia-nyiakanmu Naura, hanya lelaki bodoh yang rela melepaskan bidadari sepertimu. Dan esok adalah waktu dimana kamu seutuhnya akan menjadi milikku dan aku bangga menjadi pemilikmu, Naura Rahmania." di ruang kerjanya Tama berbicara sendiri sambil terus menatap ke arah laptop yang masih terus menyiarkan acara pengajian di kediaman kakaknya Rahma.

__ADS_1


Tausiah yang menjadi acara inti dari pengajian ini disampaikan oleh seorang ustadz yang merupakan kenalan Budi. Semua orang pun hidmat menyimak nasihat pernikahan yang disampaikan sang penceramah.


__ADS_2