Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Setelah satu pekan menghabiskan waktu liburnya. Rahma dan Tama kembali menjalani rutinitasnya. Setelah sebelumnya menghabiskan waktu hanya dengan berada di apartemen, mengantar dan menjemput Athaya dan setelahnya jalan-jalan sambil belanja kebutuhan adalah kebahagiaan sederhana untuk keluarga kecil itu.


Sebenarnya sang mama sudah merencanakan bulan madu untuk mereka berdua, tapi keduanya menolak. Mereka sepakat untuk saling membiasakan diri hidup bersama dengan kebersamaan di rumah saja. Apalagi sebentar lagi Athaya akan menghadapi persiapan kelulusan sekolah Taman kanak-kanaknya dan akan memasuki sekolah dasar. Rahma mempersiapkan segalanya dengan baik, agar sang anak benar-benar siap menjalani sekolah barunya.


Hari Senin pun tiba, waktunya untuk kembali menjalani aktivitas rutin. Tama sudah dijadwalkan untuk kembali ke kantor, banyak pekerjaan yang sudah menunggunya. Begitupun Rahma, setelah mengantar Athaya dia akan kembali beraktivitas di toko kuenya.


Sudah menjadi kesepakatan antara dia dan suaminya, jika usaha toko kue akan tetap dijalankan langsung oleh Rahma, sedangkan untuk mengajar Rahma memilih resign dan tentu keputusan Rahma itu didukung penuh oleh Tama.


"Apapun yang membuatmu bahagia, lakukanlah sayang. Selama itu tidak bertentangan dengan syariat, aku percaya padamu dan aku akan selalu mendukungmu. Dirimu terlihat semakin bersinar jika berbahagia." ucap Tama kala itu.


Selepas subuh Rahma sudah berada di dapur, mempersiapkan sarapan untuk mereka sebelum memulai aktivitas di luar rumah.


"Sayang, aku kok males banget ngantor, pinginnya sama kamu terus di rumah" keluh Tama, tanpa disadari Rahma tiba-tiba tangan kekar sang suami sudah membelit pinggang rampingnya dan sekarang dia yang sedang menuangkan nasi goreng spesial buatannya kesulitan bergerak karena pelukan dan dagu sang suami yang bertengger di bahunya.


"Mas...aku lagi nyiapin sarapan lho, nanti berceceran nasi gorengnya" protes Rahma yang sudah berusaha melepaskan diri namun malah dipeluk semakin erat oleh Tama.


"Aku kangen" rengek Tama, suara manjanya membuat Rahma seketika tergelak. Tidak menyangka ternyata mantan atasannya yang jarang tersenyum dan selalu tampil cool dan berwibawa itu memiliki sisi manja yang menggemaskan.


"Kan kita selalu bersama Mas, jangan lebay deh mas, kangen dari mananya?" ucap Rahma sambil mencebikkan bibirnya,


"Kangen ininya..." tangan Tama sudah bergerilia menyentuh area favoritnya dan kini terparkir di sana tanpa menghiraukan Rahma yang salah tingkah karena kelakuan suaminya.


"Mass....ih" protes Rahma dengan menggoyangkan tubuhnya, dia kesulitan melepaskan diri karena kedua tangannya memegang piring dan spatula.


"Apa sayang, lanjutkan saja" sahut Tama tak peduli, dia malah menyusupkan wajahnya di leher jenjang sang istri yang terpampang menggoda karena rambut panjang yang digulung ke atas, tentunya dengan tangan yang tak beralih dari tempat favoritnya.


"Mas, Athaya datang lho" pekik Rahma tertahan,


"Bunda...." benar saja, teriakan Athaya yang mencari keberadaan bundanya seketika menghentikan aksi Tama, dia pun mundur beberapa langkah setelah mendengar langkah Athaya menuju dapur.


"Iya sayang, ini bunda di dapur" sahut Rahma sedikit berteriak,


"Pagi sayang, duh anak papi udah ganteng begini" Tama yang sudah berhasil menetralkan keadaannya segera menyongsong Athaya dan merentangkan tangan untuk memeluk putra sambungnya itu.


"Pagi papi, pagi bunda" Athaya pun menerima pelukan papinya, sekilas Athaya menoleh pada sang bunda yang sedang menaruh dua piring nasi goreng di atas meja makan.


"Papi hari ini enggak ngantor?" tanya Athaya, memindai penampilan papinya yang masih memakai baju rumahan,


"Ke kantor sayang, sebentar lagi papi bersiap" jawab Tama dengan senyum senang mendapat perhatian sang putra.


"Kalau begitu, Thaya tunggu dulu di sini ya. Bunda mau nyiapin baju kantor papi" Rahma menengahi, dia segera berjalan menuju kamar utama untuk menyiapkan keperluan suaminya setelah mendapat anggukan dari Athaya yang memilih membuka dulu tabnya sambil menunggu untuk sarapan bersama.


Merasa ada kesempatan emas Tama pun tak menyia-nyiakannya, dia segera mengikuti sang istri setelah memastikan sang putra anteng dengan kegiatannya.


Greppp......

__ADS_1


"Astaghfirullah" pekik Rahma kaget, lagi-lagi dia tidak menyadari kedatangan suaminya ke dalam kamar.


Rahma tengah anteng memilih dasi yang akan suaminya pakai hari ini dan tiba-tiba pelukan erat sang suami mengagetkannya.


"Mas ih, kaget aku" protes Rahma memukul pelan tangan sang suami yang membelit tubuhnya,


"Kamu kok kagetan terus sih sayang" tanya Tama tanpa melepas pelukannya,


"Ya enggak kaget gimana coba, mas datangnya diam-diam dan tiba-tiba main *****-*****...." jawab Rahma dengan mengerucutkan bibirnya membuat Tama yang melihatnya dari samping segera mengubah posisi membuat mereka berhadapan.


"Kan kita sudah halal sayang" tanpa menunggu respon dari Rahma, lagi-lagi tanpa aba-aba dia langsung ******* bibir sang istri yang sudah sangat menjadi candu untuknya.


"Heummmm......" tidak bisa menolak, Rahma akhirnya membiarkan apa yang ingin dilakukan suaminya.


"Hah..." dengan nafas yang masih tersenggal, Tama akhirnya melepaskan pagutannya. Dia menatap sang istri yang merona akibat ulahnya.


"Aku tahu kamu belum terbiasa sayang. Kamu ingat kan kalau sejak akad berlangsung dan ijab qabul terucap aku akan selalu berusaha memberikan kenangan bahagia untukmu. Aku ingin semua kenangan pahit yang kamu miliki dalam berumah tangga dulu terkikis oleh kenangan manis bersamaku" ucap Tama penuh kesungguhan.


Rahma mendongak, dia menatap lekat wajah suaminya, laki-laki yang masih hitungan hari sudah menghalalkannya. Menikah dan berumah tangga dengan Tama bukanlah yang pertama bagi Rahma. Pikirannya pun menerawang pada masa dimana dirinya pernah mengalami hal yang sama sebelumnya, namun sungguh kebahagiaan dalam pernikahan baru Rahma rasakan untuk pertama kalinya.


"Terima kasih Mas, terima kasih sudah membuat aku merasakan kebahagiaan ini. Terima kasih sudah mencintai aku dan menerimaku apa adanya. Terima kasih sudah memperlakukanku dengan sangat istimewa, terima kasih." kalimat panjang langsung terucap dari bibir Rahma, dan tanpa diduga dia pun langsung menempelkan bibirnya di bibir Tama dan melakukan hal yang sama seperti yang suaminya lakukan tadi.


Tentu saja kali ini Tama yang kaget, namun dalam hati dia tersenyum bahagia. Melihat Rahma akhirnya bisa menunjukan cintanya melalui perbuatan, Tama tidak menyia-nyiakan keadaan, masih dalam keadaan saling memagut dia menggiring sang istri ke atas tempat tidur mereka. Dan akhirnya apa yang terjadi semalam kembali terulang pagi ini.


Sekarang keluarga kecil itu masih ada dalam perjalanan, mereka sudah terlambat sepuluh menit dari waktu yang seharusnya karena berangkat dari apartement melebih waktu biasanya, ditambah jalanan yang macet alhasil Athaya pasti akan terlambat masuk kelas.


"Iya sayang, bunda akan antar Thaya sampai ke kelas. Bunda akan minta maaf pada Bu Guru dan teman-teman Thaya jika hari ini Bunda terlambat mengantar Athaya" jawab Rahma sambil menoleh ke jok belakang dimana Athaya duduk. Raut sedih bercampur galau terlihat jelas di wajah sang putra.


Rahma pun mendelik ke arah suaminya yang berada di balik kemudi, Tama hanya mengulum senyum mendengar obrolan istri dan anaknya itu. Dia sadar semua kekacauan pagi ini adalah karena ulahnya.


"Papi juga akan mengantar Thaya sampai ke kelas, papi akan minta maaf sama bu Guru dan teman-teman Thaya" Tama pun menimpali.


Setelah berhasil mengembalikan mood sang putra agar kembali ceria dan bersemangat menjalani harinya, Tama dan Rahma kini sudah kembali berada dalam perjalanan menuju toko.


"Kenapa senyum-senyum, Mas?" tanya Rahma saat mendapati suaminya tersenyum sendiri. Dia mengambil botol minum berisi air putih yang dibawanya dari rumah.


"Aku bahagia sayang" jawab Tama santai,


"Kenapa?" Rahma menutup kembali botol itu setelah dirasa cukup membasahi tenggorokannya.


"Pagi ini adalah pagi yang sangat luar biasa" jawab Tama penuh makna,


"Mas bahagia karena kekacauan yang terjadi pagi ini?" tanya Rahma dengan intonasi sedikit meninggi,


"Bisa dikatakan begitu" tanpa rasa bersalah Tama seolah mengiyakan.

__ADS_1


"Bahagia apanya, gara-gara Mas menambah kegiatan tak terduga, jadwal pagi jadi kacau. Mas gak lihat tadi guru-guru Athaya memandang kita sambil menahan tawa saat mas bilang Athaya kesiangan karena kita bangun kesiangan?" protes Rahma,


"Hahaha....mereka bilang kan mereka juga mengerti kalau kita pengantin baru sayang, wajar lah" sahut Tama santai,


"Pokoknya lain kali gak ada lagi ya pagi-pagi ada agenda tak terduga kayak tadi" ucap Rahma menegaskan,


"Tapi kamu suka kan sayang" goda Tama yang justru gemas dengan protes istrinya itu.


Tidak terasa mereka pun sampai di tujuan kedua, Tama memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk toko.


"Alhamdulillah" ucap Rahma saat menyadari mereka sudah sampai,


"Aku pamit ya Mas, hati-hati di jalan dan kabari kalau sudah sampai kantor" Rahma mengulurkan tangannya untuk bersalaman,


"Tentu sayang, kamu jangan terlalu capek ya" jawab Tama menerima uluran tangan Rahma, dan tentu saja Rahma pun tidak bisa dengan mudah lolos begitu saja setelah berpamitan karena sang suami tak kunjung melepaskan tangannya.


Barulah setelah sepuluh menit berlalu Rahma keluar dari mobil setelah merapihkan kembali jilbabnya karena ulah sang suami.


Hari pertama kedatangan Rahma kembali ke toko disambut antusias oleh para karyawannya. Setelah menerima kejutan kecil dari para karyawannya, Rahma pun memasuki ruang kerjanya. Satu minggu lebih dia meninggalkan toko tentu banyak hal yang harus dilakukannya.


Rahma memeriksa secara detail laporan harian selama ketidakhadiran dirinya. Alhamdulillah, semakin hari omset tokonya pun semakin meningkat.


Tok..tok..tok..


"Masuk" titah Rahma tanpa mengalihkan pandangannya dari layar datar di hadapannya, waktu sudah hampir menunjukan jam makan siang.


"Mbak!" salah satu karyawan Rahma menyapa,


"Ada apa?" Rahma mendongak, saat karyawannya sudah berdiri di depan meja kerjanya.


"Di depan ada tamu yang ingin bertemu Mbak Rahma" ucap karyawan itu menyampaikan tujuannya,


"Siapa? pelanggan kita? laki-laki atau perempuan?" tanya Rahma beruntun,


"Tidak tahu Mbak, saya juga baru melihatnya, dia perempuan tapi sepertinya bukan pelanggan kita deh" jelas karyawan itu


"Baiklah, persilahkan dia masuk" titah Rahma, dia pun merapikan berkas-berkas laporan dia atas mejanya,


"Selamat siang!" ucap tamu wanita yang kini sudah memasuki ruangan Rahma,


"Selamat siang" jawab Rahma menoleh,


Deg....


Rahma seketika berdiri dari duduknya, saat mengetahui siapa tamu yang mendatanginya.

__ADS_1


__ADS_2