Belenggu Akad

Belenggu Akad
Gas Tipis-Tipis


__ADS_3

"Sebuah lagu untuk istriku tercinta, Naura Rahmania" prolog Tama sebelum memulai bernyanyi.


Setiap manusia punya rasa cinta


Yang mesti dijaga kesuciannya


Namun ada kala insan tak berdaya


Saat dusta mampir bertakhta


Menjelang senja kedua keluarga besar berkumpul di depan panggung hiburan pengiring resepsi Rahma dan Tama sepanjang siang tadi, tidak lupa para sahabat pun masih membersamai kebahagiaan kedua mempelai karena mereka sengaja datang saat resepsi dan akan menginap di hotel yang sama sekaligus liburan, menghabiskan akhir pekan dengan keluarga dan sahabat.


Alunan musik dengan suara merdu membawakan lagu cinta yanag dinyanyikan dari hati yang paling dalam terdengar indah di telinga setiap orang. Mereka seakan larut pada setiap ketulusan lirik yang terucap dari lisan Tama.


Kuinginkan kamu yang punya setia


Dan mampu menjaga kemurnianmu


Saat ku tak ada ku jauh darimu


Amanah pun jadi penjagamu


Dengan mengubah sedikit lirik asli lagi itu, Tama meraih tangan Rahma dan mengecupnya penuh cinta, seketika wajah Rahma memerah karena perlakuan suaminya itu. Tentu saja hal itu sontak membuat semua orang berteriak histeris. Berbagai kalimat godaan bahkan di teriakan oleh sahabat-sahabat Tama.


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah bidadari surgaku


Melihat wajah Rahma yang semakin memerah membuat Tama semakin ingin menggoda istrinya itu. Dia kembali melancarkan aksinya dengan menggamit erat pinggang sang istri dan berhasil mengikis jarak antara tubuhnya dengan tubuh Rahma. Pasrah dan menundukkan pandangan, hanya itu yang bisa Rahma lakukan.


Tiada yang memahami s'gala kekuranganku


Kecuali kamu, bidadariku


Maafkanlah aku dengan kebodohanku

__ADS_1


Yang tak bisa membimbing dirimu


Kali ini tama mengarahkan tubuh Rahma agar menghadapnya. Dia meraih dagu istrinya yang sejak tadi berusaha menundukkan pandangan menghindari tatapan mata semua orang yang menyaksikan aksi romantis suaminya.


Melalui sorot mata penuh makna, Tama menyampaikan isi hatinya melalui lirik lagu itu.


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah bidadari surgaku


وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا


لِلْمُتَّقِينَ


إِمَامًا


إِمَامًا


إِمَامًا


Bidadari surgaku


Sumber: Musixmatch


Di akhir lagu dengan musik yang semakin pelan, Tama mengajak semua orang untuk bernyanyi bersama. Satu tangannya tetap memegangi mic sementara satu tangannya lagi tak lepas menggamit pinggang istrinya seakan tak ingin jauh walau sejengkal.


Suasana resepsi berakhir dengan kebersamaan keluarga yang penuh dengan kebahagiaan. Tiga puluh menit sebelum adzan Maghrib berkumandang semua sudah kembali ke kamarnya masing-masing.

__ADS_1


Tempat akad sekaligus resepsi yang awalnya akan dilaksanakan di gedung pilihan Rahma dan keluarga berubah H-5 menjelang acara karena mengingat banyak keluarga yang datang dari jauh dan akan menginap. Jadilah hotel yang tidak Rahma ketahui jika itu adalah milik keluarga suaminya menjadi tempat bersejarah untuk hari spesial mereka berdua.


Lantai lima belas, kamar president suite menjadi pilihan kamar yang disulap menjadi kamar pengantin. Tentu saja mama Tama yang menyiapkan semuanya, ternyata pernikahan sederhana versi Rahma dan sang mama mertua berbeda seratus delapan puluh derajat.


"Ayo..." Tama menuntun sang istri memasuki lift khusus yang akan membawa mereka ke lantai teratas.


"Mas, setelah shalat aku mau nyari Athaya ya" dengan sedikit sungkan Rahma meminta izin pada suaminya untuk mencari keberadaan Athaya. Sejak resepsi berakhir putranya itu sudah tidak kelihatan keberadaannya. Terakhir sang putra meminta izin untuk menikmati taman bermain yang masih termasuk area hotel bersama sepupu-sepupunya dan si kembar Akhtar dan Shanum junior tentunya.


"Tenang sayang, dia aman. Athaya sedang menikmati kebersamaannya dengan saudara-saudaranya. Lihatlah!" Tama merogoh saku jas yang dikenakannya, dia membuka ponselnya dan memperlihatkan foto dan video kebersamaan Athaya dan saudara-saudaranya sedang asik bermain di area taman bermain hotel.


"Lho...Mas dapat itu dari mana?" Rahma membulatkan matanya, melihat beberapa video yang ada di galeri ponsel suaminya. Bahkan video terakhir diterima sang suami lima menit yang lalu.


"Tenang sayang, aku sudah meminta orang untuk menjaga Athaya. Jangan khawatir walaupun kita larut dalam kebahagiaan pernikahan kita tapi aku tidak akan melupakan putra kita." Tama mengusap puncak kepala Rahma penuh kasih.


Lagi-lagi Rahma dibuat terharu dengan perlakuan Tama, dia tidak menyangka dirinya dan Athaya akan diperlakukan seistimewa ini oleh suaminya.


"Terima kasih, Mas" dengan suara bergetar dan mata yang mulai berkaca Rahma berucap dengan lirih. Rasa hangat seketika menjalar di dadanya, ucap syukur pun tak urung terus terucap dalam hati.


"Sssttt...sayang" Tama meraih tubuh Rahma membawanya ke dalam dekapan, dia tahu jika perasaan istrinya sangat mudah tersentuh jika berurusan dengan Athaya.


Jauh sebelum pernikahan Tama sudah berjanji akan berusaha menghilangkan trauma yang dimiliki Rahma karena belenggu pernikahan pertamanya. Tama juga berjanji akan memperlakukan Athaya seperti putra kandungnya. Dalam hati dia bertekad untuk mengganti setiap momen yang hilang dari kehidupan Rahma dan Athaya selama enam tahun ke belakang.


Dengan bekal tekad yang kuat, keyakinan yang mantap dan ilmu yang terus dipelajari Tama akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi suami sejati untuk Rahma dan ayah idaman untuk Athaya dan putra putri mereka kelak.


"Jangan menangis sayang, aku tidak ingin air mata kembali keluar dari matamu kecuali air mata kebahagiaan. Jangan pernah sungkan padaku, katakan apapun yang ingin kamu katakan, lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Selama aku mampu aku akan berusaha mewujudkannya dan selalu membersamaimu dan Athaya" ucap Tama tulus, hal itu tentu saja semakin membuat Rahma tersentuh dan tak mampu lagi menahan laju air mata bahagianya.


"Mas...hikss" isak tangis semakin terdengar setelah Tama berkata dengan perkataan dan intonasi yang terdengar begitu tulus.


"Lho..lho..lho..kok semakin menjadi-jadi nangisnya. Entar orang kira aku ngapa-ngapain kamu lho" Tama menjauhkan tubuh sang istri dari dekapannya, dia meraih dagu Rahma yang terus menghindar karena malu jika harus memperlihatkan wajah yang penuh dengan air mata.


"Atau kamu memang mau di apa-apain ya? mau coba dalam lift?" goda Tama menaik turunkan alisnya setelah berhasil membuat wajah Rahma mendongak dan mereka beradu tatap.


"Ish...apaan sih" Rahma yang mengerti arah pembicaraan suaminya pun memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa memanas.


"Hahaha...." sontak hal itu membuat Tama melepas tawanya,


"Regy bilang, aku harus mempersiapkan energi untuk mendaki malam ini. Akhtar bilang, jangan langsung tancap gas, katanya bolehlah gas tipis-tipis dulu" bisiknya di telinga Rahma.


Keberadaan mereka yang hanya berdua di dalam lift membuat Tama bebas mengatakan apapun dan melancarkan aksi apapun. Dia pun mulai mengusap bibir ranum sang istri yang tampak menggoda di matanya dengan ibu jarinya.


Perlahan wajah Tama mendekat, pelan tapi pasti aksinya berhasil mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Rahma. Tinggal beberapa senti lagi, bibir ranum yang selama ini hanya sebatas halusinasi kini nyata ada di hadapannya dan siap dilahap sesukanya.

__ADS_1


Namun....


Ting...bunyi pintu lift yang siap terbuka pertanda mereka sudah sampai di lantai yang dituju membuat semua harapan Tama ambyar seketika.


__ADS_2