
Rahma masih terpaku ditempatnya duduk, tatapannya mengarah pada kepala yang masih menunduk di pangkuannya. Tangannya masih digenggam erat, tidak ada tanda-tanda akan dilepaskan.
Suasana hening, Anggara masih mengeluarkan suara isak tangis yang tertahan. Rahma mengambil inisiatif, setelah sebelumnya menarik nafas dalam menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi setiap kantung alveolus di paru-parunya.
"Semuanya sudah terjadi dan menjadi masa lalu. Selama mas dan dia menyesali semua perbuatan yang telah kalian lakukan di masa lalu dan bertaubat, aku akan berusaha untuk sekedar cukup tahu, tidak akan mempertanyakan apapun lagi. Biarlah semuanya tetap berada di masa lalu. Waktu kita adalah hari ini, kemarin sudah berlalu dan esok belum tentu. Kamu sudah menjadi suamiku, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu aku akan ikhlas menerimanya" Rahma berbicara tenang, membuat kepala yang sejak tadi menunduk itu seketika mendongak dengan mata yang sembab.
"Sayang, sampai kapanpun aku tidak ingin kehilanganmu" Anggara mencium tangan Rahma bergiliran.
"Aku mohon, apapun yang terjadi jangan pernah pergi dariku" Anggara menghela nafas, menjeda ucapannya. Tatapannya mengarah pada sang istri, meminta jawaban. Rahma pun menganggukan kepalanya.
"Sayang, dia kembali untuk menagih janjiku. Janji untuk tidak pernah meninggalkannya setelah semua yang terjadi di antara kami. Aku sudah menolaknya dan mengatakan bahwa bukan aku yang meninggalkannya tapi dia yang memilih pergi. Tapi..." Anggara kembali menjeda ucapannya,
"Tapi apa Mas?" Rahma mulai kembali penasaran dengan apa yang akan diungkapkan suaminya, rupanya masih ada yang disembunyikan suaminya.
"Tapi dia mendatangi Mama dan mengatakan semuanya. Dia bahkan mengatakan pada mama dan papa bersedia menjadi istri kedua" Anggara menarik dalam nafasnya, dia menatap mata Rahma yang tersirat kepenasaran pada tatapannya.
"Maafkan aku Rahma, atas permintaan mama, aku terpaksa menikahinya"
Deg ....Rahma membeku seketika, kabar yang didengarnya bagaikan sengatan listrik ditubuhnya. Dadanya bergemuruh, pikirannya melayang entah kemana. Tidak ada kata yang terucap, tubuhnya pun bergeming. Tatapannya tiba-tiba kosong entah apa yang dipikirkannya. Di telinganya terus berdenging kalimat 'atas permintaan mama, aku terpaksa menikahinya'.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang" Anggara merengkuh tubuh Rahma ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. Kata maaf terus terlontar dari bibirnya diiringi isak tangis. Sementara Rahma masih bergeming.
"Lepaskan aku Mas" setelah beberapa menit berlalu akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibir Rahma dengan nada datar.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu" Anggara terus berusaha meyakinkan Rahma jika di hatinya wanita itu telah menempati tempat tertinggi, dia tidak ingin kehilangan Rahma dan tidak akan melepas Rahma.
"Jika aku hamil, apakah kamu akan melepaskan dia Mas?" pertanyaan itu tiba-tiba terucap setelah keheningan tercipta cukup lama. Rahma berpikir jika alasan Anggara menikahi mantan kekasihnya itu karena menginginkan seorang anak.
Seorang ulama besar menjelaskan kondisi darurat yang dengannya seorang laki-laki dibolehkan berpoligami adalah karena seorang suami yang menginginkan keturunan, akan tetapi ternyata istrinya tidak dapat melahirkan anak disebabkan mandul atau penyakit.
"Sayang...." perlahan Anggara mengurai pelukannya, dia menatap sang istri yang dengan penuh tanya.
Rahma menarik nafasnya dalam, berusaha menetralkan perasaannya agar bisa berpikir dengan benar menghadapi peliknya masalah rumah tangganya.
"Aku tahu sudah lama kamu menginginkan anak, begitupun dengan mama dan papa. Sepertinya bukan hanya karena masa lalu kalian saja yang membuat mama dan papa memintamu untuk menikahi mantan kekasihmu itu tapi karena aku yang belum juga mampu memberimu keturunan. Sekarang, sekali lagi aku tanya apakah kalau aku hamil kamu akan melepaskan dia?" Rahma bertanya dengan tatapan cukup tajam, ada luka sekaligus harapan yang tersirat dari intonasi bicara dan bahasa tubuhnya.
"Sayang, maafkan aku...." Anggara kembali bersimpuh di hadapan Rahma.
"Jawab saja Mas" sela Rahma to the point,
__ADS_1
Anggara kembali menundukkan kepalanya, dia membuang nafasnya kasar. Otaknya berputar, keinginannya untuk membuat pengakuan memang sudah sejak lama dia rencanakan, tapi ternyata tetap saja dibutuhkan keberanian dan mental yang kuat untuk mampu menyampaikan semuanya dengan benar.
Anggara masih belum bersuara, dia masih memilih dan memilah kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan istrinya. Walau bagaimana pun dia tahu jika apa yang akan disampaikannya tetap saja akan sangat melukai hati Rahma.
"Aku tidak bisa melepaskan dia" jawab Anggara telak, membuat Rahma menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Sekarang.....sekarang dia sedang hamil"
Duarrrrr......fakta baru yang membuat Rahma kembali merasa tersambar petir. Mengetahui jika madunya sedang mengandung itu berarti pernikahan mereka sudah berlangsung cukup lama.
"Apa maksud kamu Mas?" tanya Rahma dengan bibir bergetar.
"Maafkan aku sayang" Anggara kembali meraih tangan Rahma, namun ditepis olehnya.
"Jelaskan semuanya Mas" ujar Rahma tegas,
"Friska sedang hamil, usia kandungannya menginjak empat bulan. Kami sudah enam bulan menikah, Friska sekarang tinggal di rumah mama karena mama khawatir terjadi apa-apa jika dia harus sendiri. Aku sering meninggalkannya bukan hanya untuk tugas dinas tapi di saat aku harus mengunjungimu. Sudah sejak lama mama dan Friska meminta aku untuk jujur padamu, tapi sungguh aku tidak cukup keberanian untuk itu. Aku takut kamu terluka, aku takut kehilangan kamu, aku sangat mencintaimu Rahma."
"Namun hari ini akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan semuanya, Friska dan mama terus mendesak, acara syukuran empat bulanan kehamilannya akan segera dilangsungkan. Dia ingin semua anggota keluarga dan tetangga hadir, dan dia pun menginginkan kehadiranmu. Dengan hadirnya kamu itu berarti jika kamu merestui pernikahan kami, dan Friska bukanlah seorang pelakor" jelas Anggara panjang lebar, dia mengatakan semua yang diminta istri kedua dan mamanya tanpa ada yang terlewat.
__ADS_1