Belenggu Akad

Belenggu Akad
Duka Keluarga Rahma (2)


__ADS_3

"Sebelumnya saya minta maaf, terutama pada Nak Rahma jika apa yang akan saya sampaikan ini akan membuat tidak nyaman. Saya hanya ingin melaksanakan amanah almarhum secepatnya, itulah permintaan dia dalam mobil sebelum tidak sadarkan diri berkepanjangan saat dalam perjalanan ke rumah sakit" Pak Hakim pun menjeda ucapannya, dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali melanjutkan bicaranya.


Pak Hakim menatap satu persatu anak-anak sahabatnya itu.


"Maaf Pak, kalau tidak salah saya pernah melihat bapak kemarin malam di rumah sakit" Rahma akhirnya membuka suara walau tampak ragu, sejak awal bertemu tamunya itu dia mengingat-ingat dimana pernah melihat wajah itu.


Keadaan di rumah sakit saat itu tidak memungkinkan Rahma untuk bertanya, kondisi ibu yang pingsan membuat dirinya fokus pada sang ibu sementara Yusuf mengurus administrasi kepulangan jenazah Bapak dari rumah sakit.


"Benar, saya yang membawa Bapak kalian ke rumah sakit. Bapak kalian pingsan saat saya masih berada di rumah ini" jelas Pak Hakim dengan tenang dan tetap berwibawa.


"Saya dan Bapak kalian adalah teman yang baik, kami berpisah saat saya memutuskan pergi ke Jakarta untuk bekerja. Saat pertemuan pertama kami beberapa tahun yang lalu setelah sekian lama berpisah, kami bertukar nomor telepon. Sejak saat itu komunikasi kami semakin baik. Awalnya kami hanya bertukar kabar dan membicarakan masa muda kami saat bersama dulu" Pak Hakim menghela nafas menjeda ucapannya.


Ditatapnya kembali satu persatu keempat anak almarhum sahabatnya itu.


"Tapi sebulan yang lalu bapak kalian menghubungi saya membicarakan tentang anak keduanya" Pak Hakim menatap Rahma yang khusuk menyimak apa yang sedang disampaikannya,


"Bapak kalian meminta saya untuk mencari tahu tentang suamimu, Nak Rahma"


Deg....Rahma merasa jantungnya sejenak berhenti berdetak. Dia menatap Pak Hakim dalam, mencari tahu lewat sorot mata teduh penuh wibawa itu kira-kira apa yang akan dikatakan Pak Hakim selanjutnya.


"Hampir setiap hari dia selalu mengirimi saya pesan menanyakan kabar hasil pencarian saya. Saat ini saya tinggal di Jakarta dan sedang berkunjung ke keluarga yang ada di Garut berdua dengan istri saya. Saya tidak tahu jika ternyata bapak kalian sakit parah. Dia hanya mengatakan jika sedang kurang sehat saat saya mengirimi pesan untuk menanyakan kabarnya"


"Ketika datang ke sini saya sempat ragu untuk mengatakan hasil temuan orang suruhan saya karena melihat kondisi kesehatan bapak kalian. Tetapi dia mendesak, beberapa minggu ke belakang katanya dia selalu bermimpi buruk tentang anak keduanya" Pak Hakim meraih gelas yang berisi teh hijau di hadapannya yang disuguhkan Rahma untuknya.


Semua orang menunggu, tidak hanya Rahma yang penasaran. Tapi Budi dan Maya juga tampak was was. Hanya si bungsu Yusuf yang terlihat lebih tenang seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan Pak Hakim.

__ADS_1


"Saya pun menyerahkan hasil temuan orang suruhan saya tentang suamimu, Nak Rahma" pungkas Pak Hakim, beliau pun menyodorkan amplop coklat besar ke hadapan Budi, anak sulung di keluarga ini.


Tanpa ragu Budi pun segera menerima amplop besar berwarna itu. Membuka dan mengeluarkan isinya. Lembar demi lembar dia mengamati foto-foto yang dikeluarkannya dari dalam amplop itu, terdapat pula beberapa lembar kertas yang berisi data-data.


Sebagai seseorang yang bekerja di bidang hukum dia tahu banyak tentang hal-hal seperti ini. Bukti-bukti yang ada di tangannya adalah hasil penyelidikan tenaga profesional. Hal itu terlihat dari keaslian dokumen yang dipegangnya. Budi yakin bahwa dokumen yang sudah dibacanya itu adalah asli.


Budi menarik nafasnya dalam, dia menatap adik perempuan pertamanya dalam. Ada kesedihan dan kemarahan yang terbungkus rasa kasih dan sayang dalam tatapannya pada Rahma.


"Naura Rahmania, jelaskan!" ucapnya tegas, tidak hanya Rahma yang tiba-tiba menciut mendengar panggilan sang kakak yang memanggilnya dengan nama lengkap, tapi Maya dan Yusuf pun merasakan hal yang sama. Seolah sudah menjadi kekhasan dari kemarahan kakak sulung mereka, jika memanggil mereka dengan nama lengkap artinya dia benar-benar marah.


Yusuf menoleh pada Rahma, dia lebih peduli pada keadaan kakak perempuan pertamanya saat ini dibanding dengan berkas-berkas dalam amplop coklat besar yang kini sudah berpindah tangan kepada Maya.


Maya menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Foto-foto itu memperlihatkan prosesi pernikahan Anggara dengan istri keduanya, kebersamaan mereka saat berada di rumah sakit, mall dan beberapa tempat umum lainnya yang diperkirakan itu berada di daerah Bandung. Beberapa lembar kertas yang dibacanya juga menunjukan informasi bahwa pernikahan mereka sah d mata agama dan hukum. Anggara yang sudah tidak menjabat sebagai aparatur sipil negara membuat pernikahan itu dengan mudahnya terdaftar di pengadilan agama.


Air mata pun tak dapat terelakkan mengalir begitu saja, tiga kakak beradik itu menangis tanpa suara dengan posisi Rahma yang dipeluk oleh kedua adiknya. Sementara Budi, dia hanya memalingkan wajahnya ke lain arah sambil mengusap ujung matanya yang juga sudah mengeluarkan air mata.


Sepuluh menit berlalu, setelah Rahma dapat menguasai kembali diri dan perasaannya dia pun menceritakan semuanya.


Tidak ada yang terlewat, mulai dari perkenalan dengan Anggara, kesiapan menikah, kesepakatan pasca akad, kejadian-kejadian di awal pernikahannya, rencana Rahma untuk menyerah, Anggara yang berubah dan berjanji memperbaiki dan memulai kembali semuanya sampai pengakuan Anggara perihal pernikahan keduanya pun Rahma ceritakan. Dia menghadiri acara syukuran empat bulanan kehamilan madunya hingga bertemu dengan Yusuf sampai informasi yang diperolehnya tentang Anggara yang tak kunjung datang padahal ayah mereka meninggal Rahma ceritakan.


Dari semua yang Rahma ceritakan dia pun menggaris bawahi jika kesehatan Bapak dan Ibunya menjadi pertimbangan prioritas mengapa dirinya memilih bertahan.


Rahma menceritakan semuanya dengan lancar, tak ada lagi air mata atau kesedihan yang terlihat di wajahnya saat dia menceritakan semua hal yang dialaminya dalam berumah tangga selama beberapa tahun ini.


Tidak ada yang menyela atau memotong pembicaraan Rahma, semua mendengarkan, menatap sendu saudara perempuan yang selalu membuat mereka bangga dan merenungi setiap kalimat yang Rahma ucapkan.

__ADS_1


"Huhhh..." Rahma membuang nafasnya kasar, seolah mengeluarkan sesak di dadanya saat mengakhiri ceritanya.


Suasana ruang tamu pun mendadak hening, semua larut dalam pikirannya masing-masing. Menatap penuh iba kepada Rahma yang terlihat berusaha tegar di hadapan mereka. Pak Hakim sampai berdecak kagum melihat ketegaran Rahma.


"Kenapa kamu bisa sekuat itu?" akhirnya Budi angkat bicara, dia menunduk tak kuasa menatap adiknya. Sebagai seorang kakak dia merasa gagal dalam melindungi adiknya. Budi pun tidak menyalahkan Rahma karena telah menutupi semua itu selama ini. Pertimbangan yang disampaikan Rahma terkait keadaan kesehatan orang tua mereka sangat difahami oleh Budi. Apalagi Budi tahu betul jika saat pernikahan Rahma terjadi secara tiba-tiba karena sang ibu tidak merestui jika Maya menikah lebih dulu sebelum Rahma.


"Maafkan aku A, jika Bapak meninggal karena memikirkan masalahku" ucap Rahma dengan kepala menunduk.


Sejak mendapat kabar bapaknya masuk rumah sakit perasaan Rahma sudah tidak menentu, hatinya tidak bisa dibohongi jika Bapak kemungkinan sudah mengetahui masalahnya.


"Dek....." Budi mendongak dengan air mata yang akhirnya berjatuhan membasahi pipinya, segera dia beranjak dari tempatnya bersila, meraih tubuh Rahma yang tampak lebih kurus dibanding beberapa bulan yang lalu saat dia bertemu dengan adiknya terakhir kali.


"Maafkan Aa dek, maafkan Aa....Aa gagal menjadi kakak yang baik, yang bisa melindungimu" isak tangis tertahan saat Budi mengucapkan kalimat demi kalimat permintaan maafnya untuk Rahma. Rasa bersalah menyelimuti hatinya membayangkan betapa menderitanya adik yang selalu menjadi kebanggaannya itu selama ini.


Tidak hanya Budi yang diliputi rasa bersalah, tetapi Maya merasakan jika dirinya turut andil dengan penderitaan yang dihadapi kakak perempuannya. Seandainya dia tidak menerima pinangan suaminya untuk segera menikah, mungkin Rahma tidak akan buru-buru menikah dengan Anggara. Orang asing yang tiba-tiba datang dan melamar kakaknya untuk dinikahi.


"Teteh, maafkan Maya.... semua yang teteh alami karena Maya. Maafkan Maya teh....." tangis Maya pecah, dia memeluk Rahma erat dengan tangis yang tak terhenti. Membuat Rahma pun kembali terpancing turut menangis.


Hampir lima belas menit mereka bertiga menumpahkan rasa masing-masing hati melalui tangisan. Yusuf hanya menjadi penyimak setia, dia lega akhirnya Rahma bersedia berbagi penderitaannya pada mereka.


Tapi... masih ada yang mengganjal di hati Yusuf, sampai saat ini Rahma belum menyinggung perihal kehamilannya. Ingin dia memberitahukan hal itu pada saudara-saudaranya namun dia merasa itu bukanlah kapasitasnya. Biarlah Rahma sendiri yang menyampaikan kabar kehamilannya.


Brakkk......


"Astaghfirullah..... uwa..." salah seorang sepupu Rahma yang pagi itu masih berada di rumah duka menjerit ketika mendapati uwanya yang merupakan ibu dari Rahma tiba-tiba tergeletak tak sadarkan diri di dekat pintu yang menghubungkan ruang tengah dan ruang tamu tempat Rahma dan saudara-saudaranya mengobrol bersama tamu yang merupakan sahabat mendiang ayah mereka.

__ADS_1


__ADS_2