Belenggu Akad

Belenggu Akad
Resepsi


__ADS_3

Prosesi akad yang berlangsung hidmat dan penuh haru berakhir sudah. Kedua mempelai sudah berpindah tempat, pelaminan yang indah dan megah membuat takjub setiap mata yang memandang.


Ditambah pasangan pengantin baru yang selalu menebar senyum, sang pria gagah nan tampan bersanding dengan sang wanita nan cantik dan tampil elegan dengan balutan kebaya pengantin muslimah modern menyempurnakan kebahagiaan mereka hari ini. Kebahagiaan kedua mempelai itu bahkan turut menular pada semua yang hadir di sana.


"Selamat ya, aku sangat bahagia akhirnya Allah membawamu pada takdir ini" Lisna memeluk erat sahabatnya itu di atas pelaminan. Dia sengaja naik ke pelaminan itu paling akhir setelah akad agar lebih leluasa melepas rindu dengan sahabatnya itu.


"Terima kasih ya Lis, terima kasih selalu hadir dalam setiap momen berharga di hidupku" Rahma tulus mengucapkan terima kasihnya di balik punggung sang sahabat yang masih memeluknya erat.


"Tentu, aku akan berusaha untuk selalu ada untukmu, semampuku" balas Lisna tak kalah tulus, dia datang semalam bersama keluarga kecilnya. Di karuniai dua anak kembar dari pernikahannya bersama Regy membuatnya cukup kerepotan jika bepergian jauh. Pasalnya Regy dan Lisna sepakat untuk mengasuh mereka berdua tanpa bantuan babby sitter.


"Bunda, dilarang bersedih-sedihan sekarang sudah waktunya berbahagia" Regy yang berada di belakang Lisna menepuk pundak sang istri,


"Iya, kentara banget sih laparnya" sindir Lisna yang mengetahui jika sang suami menghentikan keharuannya dengan sahabatnya itu karena sudah lapar.


"Hehe, kamu tahu aja Bun, pengertian sekali" balas Regy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Duuh maaf ya...silahkan silahkan Pak, silahkan menikmati hidangannya" Rahma merasa tidak enak, dia pun mempersilahkan kedua orang yang selalu ada untuknya itu untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.


Tama hanya tersenyum melihat tingkah konyol sahabatnya itu, merekapun sareng beradu tos dan berpelukan.


"Selamat ya Bro, inilah hadiah istimewa yang Allah berikan untuk setiap perjuangan dan pengorbananmu selama ini. Tidak sia-sia kan menunggu bertahun-tahun? than, selamat menikmati surga dunia" Regy membisikan kalimat terakhirnya di telinga Tama karena tidak ingin orang lain mendengarnya.


Sayangnya sang istri yang berdiri di depannya dapat mendengar apa yang dia bisikan di telinga sahabat sekaligus atasannya itu. Alhasil satu geplakan tangan di bahunya dia dapatkan dari sang istri membuat Tama menertawakannya.


"Bunda, sakit" rengek Regy manja, dia mengusap bahu yang pukul istrinya pura-pura kesakitan.


"Jangan manja Ayah" tegas Lisna dengan sorot mata tajam menatap suaminya.


"Haha...." Tama dan Rahma pun kompak menertawakan pasangan di depannya itu.


Acara berlanjut pada resepsi dengan jeda hanya tiga puluh menit pasca akad para tamu dari berbagai kalangan sudah mengular memenuhi antrian di pelaminan untuk menyalami kedua mempelai. Di atas pelaminan Rahma didampingi A Budi dan kakak ipar, sementara Tama didampingi oleh kedua orang tuanya.


Break azan dzuhur menjadi momen untuk kedua mempelai sejenak beristirahat shalat dzuhur dan makan siang. Kru WO memberi mereka waktu tiga puluh menit untuk melaksanakan kewajiban dzuhurnya.


"Mas, kata WO nya kita shalatnya gantian" bisik Rahma pada Tama yang sudah siap menggandengnya untuk menuju ke ruang ganti.


"Hah...masa iya? kita barengan aja Yang" ucap Tama dengan wajah kecewa, kesempatannya untuk curi-curi keintiman dengan istrinya pupuslah sudah.

__ADS_1


"Tamunya masih banyak Mas, kasihan mereka kalau kita tinggal bareng." jelas Rahma dengan senyum terkulum, pasalnya dia tahu kemana arah tujuan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Sejak naik ke pelaminan Tama berusaha mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan. Beberapa kali satu tangannya berusaha menggamit pinggang Rahma, namun lagi-lagi harus terlepas karena kedua tangannya harus digunakan untuk bersalaman dengan para tamu.


"Yaah..." wajah kecewa Tama pun sangat kentara membuat Rahma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tama pun akhirnya mengalah membiarkan sang istri dibawa kru WO untuk melaksanakan shalat dzuhur.


"Mama, berapa tamu yang diundang? Kenapa ini terus banyak sih" Tama yang masih berdiri sendirian karena Rahma belum juga kembali setelah lima belas menit berlalu pun menyuarakan protesnya pada sang mama.


"Sedikit kok, cuman seribu orang" jawab mama Tama santai di sela-sela menyalami Tamu yang bukan hanya rekan bisnis tetapi juga semua karyawan dari hotel, butik dan restoran milik keluarga. Tidak lupa pimpinan dan karyawan yayasan pun turut serta diundang dalam hari bersejarah putra satu-satunya itu.


"Apa? seribu? tidak salah Ma? "pekik Tama namun tertahan karena kembali beberapa tamu menyalami mereka.


"Hai bro, selamat ya. Sorry kita telat, gegara ada sedikit trouble nih anak bujang" Akhtar, sahabat sekaligus rekan bisnis Tama dari Garut datang bersama keluarga dan rombongan teman-teman yang selalu saling support dalam segala hal. Ada Ghifar, Ahsan dan Arga yang berjalan beriringan.


"Terima kasih bro, aku kira bakal hadir dari pagi" Tama membalas pelukan sahabatnya,


"Sorry, ada sesuatu yang tidak bisa dicancel. Tapi tenang do'a kita sudah lebih dulu nyampe" ujar Akhtar sambil melepas pelukan mereka.


"Thanks Bro"


"Teh Rahmanya dimana Kang?" Shanum istri Akhtar pun menanyakan keadaan Tama.


"Ngedip Bro..." Ghifar yang dari tadi hanya menyimak obrolan mereka menggoda pengantin baru dan sontak semua orang tertawa melihat Tama yang langsung memerah karena ketahuan menatap sang istri dengan tatapan kagum dan penuh cinta.


"Gue bener-bener dapet bidadari Bro" tukas Tama disela-sela rasa malunya.


"Alhamdulillah ya Kang, kalau jodoh tidak kemana" Shanum menimpali, dia menjadi orang yang tahu bagaimana perjuangan Tama untuk meluluhkan kasih tak sampainya itu.


"Alhamdulillah Teh" balas Tama singkat dalam hatinya tak berhenti bersyukur telah berkesempatan menjadi laki-laki halal seorang Naura Rahmania.


"Assalamu'alaikum" sapa Rahma saat sudah dekat dengan pelaminan, disambut jawaban salam yang kompak dan Shanum yang sudah merentangkan kedua tangannya memeluk Rahma.


"Barakallahu laka wabaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir. Selamat ya, sakinah, mawaddah warahmah. Sehidup sesurga" untaian do'a terucap tulus dari Shanum dan di aamiinkan oleh Rahma dan semua yang mendengar.


"Si kembar mana teh?" tanya Rahma, mengalihkan pembicaraan. Mereka sedikit leluasa mengobrol karena belum ada tamu lain yang datang.


"Tuh, langsung mengeksekusi di ganteng" Shanum menunjuk kedua anaknya yang sedang tertawa bersama Athaya tidak jauh dari pelaminan.

__ADS_1


"Oalah....langsung disandera sama juragan rupanya" mereka pun tertawa melihat keakraban anak-anak mereka.


Giliran Ghifar yang memberi selamat, diiringi Hasna calon istrinya.


"Selamat ya Bro" ucap Ghifar selepas saling adu tos dan berpelukan,


"Thanks Bro, semoga cepat menyusul ya" balas Tama tulus dan tentu saja diaminkan oleh Ghifar dan juga Hasna.


"Congratulation Bro" selanjutnya Arga yang memberi ucapan selamat, mereka pun tak lupa berpelukan dan saling mendo'akan.


"Thanks Bro" balas Tama,


"Lu beruntung banget Bro, jaga dia baik-baik. Langka tuh" pesan yang diucapkan Arga membuat Tama tersenyum lebar, dia tahu jika sahabatnya itu dulu pernah hampir mendekati Rahma.


"Gue yakin Allah juga sudah siapkan jodoh terbaik buat lu" Tama memberi motivasi, dia tahu sampai saat ini sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu masih sendiri.


"Aamiin, do'ain aja Bro" balas Arga dengan senyum optimis menghiasi wajahnya.


"Kak....Kak....Kak Ahsan!" suara Shanum mengalihkan fokus rombongan para sahabat Tama itu pada sosok yang paling terakhir mengantri diantara mereka.


"Hah...eh..ya..apa-apa?" Ahsan langsung salah tingkah, dia benar-benar tidak fokus karena tatapannya tengah tertuju pada seseorang yang tidak asing untuknya.


"Itu lihat antriannya makin panjang, ayo cepet" Shanum mengingatkan jika antrian tamu yang akan menyalami mempelai pengantin sudah kembali mengular. Tadi mereka bisa berlama-lama di pelaminan mengucapkan selamat dan saling mendo'akan sekalian melepas rindu karena tamu sedang sepi dan sekarang kembali berdatangan semakin banyak.


"Hah, iya-iya ...selamat ya Mbak, bro selamat mendaki ya..." ucap Ahsan sekaligus pada kedua mempelai.


"Terima kasih Mas"


"Thanks Bro" ucap keduanya bersamaan.


Ahsan pun berlalu dari atas pelaminan. Dia tampak buru-buru, bukan untuk menyusul teman-temannya yang susah mulai menikmati aneka hidangan namun untuk memastikan kebenaran penglihatannya.


Dengan jelas tadi dia melihat seseorang yang selama ini dirindukannya.


"Liani, kamukah itu?'' gumam Ahsan dalam hatinya.


Acara resepsi berakhir tepat pukul empat sore. Acara terakhir diisi dengan kebersamaan seluruh anggota keluarga untuk berfoto-foto dan menyanyi bersama menghibur kedua mempelai. Tama dan Rahma bahkan dipaksa untuk naik ke atas panggung dan didapuk untuk bernyanyi.

__ADS_1


Tanpa Ragu Tama pun mulai menunjukan bakat terpendamnya. Suara emas yang pernah jadi idola saat jadi vokalis band ketika di kampus kini dia persembahkan untuk wanita halalnya.


"Sebuah lagu untuk istriku tercinta, Naura Rahmania" prolog Tama sebelum memulai bernyanyi.


__ADS_2